Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Didalam panas, diluar mendung


__ADS_3

Bryan terusik dalam tidurnya, kakinya dia gerak-gerakkan, di tendangnya sesuatu yang membuat kakinya terasa geli. Tak hanya itu, telinga juga hidungnya pun tak luput dari rasa geli dan gatal, namun dia enggan untuk membuka matanya.


Hatchiii


Bryan mengusap hidungnya yang terasa gatal itu, dengan terpaksa dia membuka matanya yang masih terasa berat itu. Dia tadi tidur setelah subuh sekitar jam 5 pagi karena semalam dirinya juga Freya merayakan kemenangan Maura secara virtual di tempat mereka masing-masing.


Tak sampai disitu, tengah malamnya Freya menghubungi dirinya dan terus merengek ingin ketemu dirinya. Namun di saat dia sudah sampai di sana bukannya ketemu Freya tapi langsung dihalangi dan diusir Mama Marisa juga Anelis. Bahkan saat melakukan panggilan telephone ataupun vidio call istrinya itu harus sembunyi-sembunyi dari Mama Marisa juga Anelis.


"Oma...Bisa nggak sih nggak usah ganggu Bryan!!"


"Bryan baru tidur ini, Oma." Bryan menarik kembali selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya saat tahu Oma Ami lah yang mengganggu ketenangan dalam tidurnya.


Oma Ami yang geram pada cucunya itu yang tidak bisa membawa cucu menantunya kembali pulang dan tak kunjung bangun juga mengingat jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi. Dengan kesal, Oma Ami kembali menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Bryan dengan sisa tenaga yang beliau miliki.


"Akkkhhhhh..Oma!! Lepas Oma!! Sakit Oma!!!" teriak Bryan saat telinganya ditarik begitu kencang oleh Oma Ami.


Dengan mengusap telinganya yang memerah Bryan akhirnya bangun juga meski matanya terlihat menyipit karena rasa kantuk yang masih menderanya. Terasa begitu berat meninggalkan kasur juga bantal.


"Kamu itu ya!!"


"Cepat bangun dan jemput cucu menantu Oma."


"Ini sudah empat hari dan hari ini jadi hari kelima Freya pergi dan jangan membuat cucu menantu Oma beneran pergi."


"Jadi lelaki itu yang jantan, jangan klemar klemer."


"Lelet." Bryan membuka matanya lebar sambil menatap Omanya itu. Apa tadi Omanya bilang? nggak jantan, klemar klemer, lelet. Wahh....Oma Ami belum tahu siapa Bryan, berani-beraninya nenek-nenek bilang dia tidak jantan. Apa perlu dibuktikan.


"Maksud Oma apa Bryan tidak jantan?"


"Bryan jantan ya, buktinya Maura jadi walau hanya sekali tanam dan sekarang Freya juga sedang hamil lagi anak Bryan."


"Itu sudah membuktikan kalau Bryan jantan dan kuat."


"Terlebih lagi bibit yang Bryan miliki itu kualitas super, unggulan, the best pokoknya tiada yang menandingi." ujar Bryan dengan tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi. Sungguh, dia tidak suka direndahkan ataupun dilecehkan, apalagi sama Omanya sendiri yang sudah berumur namun masih terlihat cantik dan masih bugar.


"Kalau itu Oma juga sudah tahu." Oma Ami menonyor kepala Bryan dengan kesal.


"Sudah bawaan dari Opa kamu."


"Sudah cepat bangun dan pergi jemput Freya kembali dan bawa pulang."


"Awas kalau sampai Maura sudah pulang dan Freya tidak kunjung kamu bawa pulang."


"Oma tidak akan segan meminta Papa kamu untuk mencoret kamu dari ahli waris keluarga Abrisam."


"Dan kamu pergi tanpa membawa uang sepeserpun juga semua fasilitas yang kamu miliki akan Oma sita." ancam Oma Ami pada cucu lelaki yang memiliki sikap arogan, sombong, dan percaya diri juga dingin itu.


Bryan mendengkus saja dan kembali merebahkan tubuhnya yang masih terasa lelah dan ngantuk itu setelah melihat Oma Ami sudah keluar dari kamarnya.


Bryan mengingat empat hari terakhir ini dia sudah berusaha meyakinkan Mama Marisa juga Anelis untuk memaafkan dirinya. Bahkan dia juga sudah rela, keluar malam-malam mencari makanan yang Freya inginkan meski susah didapatkannya. Namun tetap saja Mama mertua dan juga iparnya itu tidak memberinya izin untuk bertemu Freya setelah mengantarkan makanan.


"Bukannya kamu kesini cuma untuk mengantarkan makanan yang dipesan Freya?"


"Makanannya sudah saya terima dan kamu sebaiknya pergi."


"Terima kasih."


Bryan mengingat saat Anelis menerima makanan yang dia belikan untuk Freya dan dia langsung disuruh pergi begitu saja.


"Kenapa aku tidak berdaya melawan mereka ya?"


"Ya ampun!!" Bryan menggusar rambutnya kasar hingga membuat rambutnya semakin acak-acakan. Kalau saja dia berani melawan Mama Marisa juga Anelis, pasti Freya sudah berada disisinya. Tapi yang lebih parahnya lagi, meski Freya berada disisinya, istrinya itu pasti akan semakin membenci dirinya karena berani melawan Mama Marisa juga Anelis.


"Apa aku harus menyamar saja supaya bisa ketemu sama Freya?" Bryan terlihat berfikir menentukan ide penyamaran seperti apa supaya mereka tidak ada yang curiga pada dirinya.


"Kurir?!"


Tidak, nggak mungkin seorang Tuan Muda Abrisam menjadi seorang kurir makanan. Walau kenyataannya dirinya sudah menjadi kurir khusus pengantar makanan selama empat hari buat sang istri, Freya yang saat ini berada di apartemen Mama Marisa juga Anelis.


"Tukang ledeng?!"


Itu juga tidak mungkin. Membedakan mana obeng mana tang saja tidak bisa. Dan itu bukan profesi seorang Bryan banget. Jauh sekali, yang ada nanti dia bakal membuat unit apartemen Mama Marisa kebanjiran.


"Tukang kredit?!"


Cocok saja dengan profesi Bryan saat ini, tapi apa yang akan ditawarkannya dan itu pasti akan sangat aneh. Meski Bryan sudah sering mempromosikan perusahaannya di banyak para pebisnis, tapi kenyataannya itu dulu dan sekarang dia hanya duduk manis di kursi kebesarannya untuk menerima laporan management dan sesekali meeting dan pertemuan dengan klien. Sekarang dia tidak pusing seperti dulu untuk menawarkan dan mempromosikan perusahaannya, yang ada dirinya yang ditawari kerjasama oleh beberapa pebisnis.


Huffftttt


Bryan menghembuskan nafas panjang karena tidak menemukan ide untuk bisa bertemu Freya secara langsung. Dia sudah rindu berat sama istrinya itu dan dia juga tahu kalau istrinya itu juga sama seperti dirinya, rindu.


"Benar kata Dilan, rindu itu berat."


Pernah suatu malam Bryan tengah menerima panggilan vidio call dari Freya disaat keduanya sama-sama merindu. Bryan tiba-tiba menginginkan sesuatu saat melihat penampilan Freya malam itu yang hanya memakai dress tidur berbahan satin yang tipis dan tembus pandang tanpa adanya penyangga di kedua squishy kembar milik istrinya.


Flashback On


"Sayang, kamu tidur sama siapa?" tanya Bryan karena biasanya Freya tidur sama Mama Marisa kalau tidak sama Anelis.


"Tidur sendiri. Kenapa memangnya Mas?" tanya Freya sambil menyatukan rambutnya dan dibawanya ke samping kanan.


"Tutup dan kunci pintu kamarnya terlebih dulu." pinta Bryan dengan menatap lekat Freya.


"Sebentar!" Freya turun dari ranjang dan segera melakukan apa yang Bryan minta.

__ADS_1


"Sudah Mas. Ada apa?"


"Kenapa Mas Bryan dikamar mandi?" tanya Freya heran karena melihat Bryan yang ada di dalam kamar mandi dan sudah melepas kaosnya.


"Buka baju kamu sayang." pinta Bryan yang sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya


"Hah..kenapa Freya harus buka baju segala?"


"Disini hujan, Mas. Dingin."


"Nggak mau." tolak Freya mengingat saat ini memang hujan lebat, namun dirinya merasa kalau suhu ditubuhnya panas, makanya dia memakai baju tidur yang tipis dan hanya sebatas paha.


"Disini juga hujan."


"Dan justru dingin-dingin enak dibuat olahraga."


"Please, cepat buka sayang."


Eghhh


"Mas Bryan ngapain itu?"


"Mas Bryan tidak melakukan hal aneh-anehkan." pekik Freya saat mendengar lenguhan suaminya itu. Dilihatnya suaminya itu juga terlihat memejamkan matanya.


Akkhhhhhhh...Freya berteriak saat Bryan mengarahkan kamera handphone pada 'si rosi' yang sudah berdiri tegak itu.


"Sayang cepat!!! Aku sudah tidak tahan." Bryan terlihat benar-benar ingin segera menuntaskan hasratnya. Sudah berapa hari ini dirinya menahan hasrat itu, hingga akhirnya dia tak kuasa melihat penampilan Freya malam itu dan bersolo karir dengan melakukan phone se ks.


Dengan perlahan Freya membuka matanya dan mengintip kearah layar handphone. Dia menggigit bibir bawahnya. Nafasnya tiba-tiba sesak setelah melihat 'si rosi' yang sudah bangun tegak berdiri itu. Sudah lama dia tidak melihat benda itu bangun dan merasakan benda itu dilubang nya.


"Mas!!" Freya tiba-tiba merasakan lubangnya berkedut dan tangannya tanpa sadar menarik kebawah baju tidurnya.


"Arahkan pada kedua squishy kamu sayang." kata Bryan saat Freya sudah membuka baju tidurnya. Dan terlihatlah dua squishy kembar yang tidak terbungkus sehelai benangpun yang saat ini ukurannya sudah terlihat membesar itu semenjak hamil. Ditambah dirinya juga sering meremas squishy kembar itu.


Freya hanya menggigit bibir bawahnya saat mendengar suara erangan Bryan yang seperti ya tengah membayangkan bermain dengan kedua squishy kembarnya.


Andai dirinya tidak malu, mungkin saat ini dia juga tengah melakukan hal yang sama seperti Bryan. Bermain dengan lubangnya sendiri.


"Sayang, bisa kamu arahkan ke lubang kamu?" pinta Bryan yang terdengar nafasnya sudah semakin memburu. Freya yakin suaminya itu sebentar lagi akan sampai kepuncak nya.


"Mas Bryan nggak usah aneh-aneh deh."


"Udah ini sama yang atas saja."


"Cepat tuntaskan."


"Freya sudah kedinginan ini." kilah Freya, padahal dia sendiri malu karena lubangnya sudah basah hanya dengan melihat dan mendengarkan suara merdu Bryan.


Bryan yang memang sudah tidak tahan lagi akhirnya menurut saja. Meski lama dan tidak begitu puas, dia terlihat menikmati pelepasannya seorang diri lewat bantuan phone se ks dengan sang istri.


"FREYA!!!!! Kamu melakukan apa sama Bryan!!!"


Flashback Off


Bryan terkekeh sendiri mengingat kejadian malam itu, apalagi saat mendengar teriakan Mama Marisa.


"Shitt!!" umpat Bryan saat tanpa disadarinya 'si rosi' bangun sendiri saat dirinya mengingat kejadian malam itu saat melakukan phone se ks dengan Freya.


"Semoga Freya di rumah sendirian." harap Bryan saat untuk pertama kalinya menghubungi Freya terlebih dahulu setelah dilarang Mama Marisa untuk menelephone Freya.


"Pagi, sayang ku, istri ku tercinta." sapa Bryan setelah panggilannya langsung diangkat sama Freya. Berarti Freya di rumah sendirian, batin Bryan yang merasa senang, satu langkah untuk menuju kepuasan akan segera didapatnya.


"Mas juga Mas Bryan, suami ku." Bryan memejamkan matanya mendengar suara Freya yang begitu lembut tiap kali memanggil 'suami ku'.


"Kurang lengkap sayang."


"Biar semangat suami kamu ini." Bryan mendengar suara tawa dari Freya diseberang sana.


"Selamat pagi juga suami ku sayang, Mas Bryan Alvaro." Bryan tersenyum puas setelah Freya menuruti keinginannya.


"Mas Bryan tidak kerja?"


"Tumben pagi-pagi telephone Freya."


"Untung Mama sama Kak Ane tidak ada di rumah."


"Yes!!!" seru Bryan dengan semangat. Selangkah lagi menuju kepuasan.


"Mas Bryan kenapa?" tanya Freya diseberang sana.


Ekhem


"Nggak apa sayang."


"Kamu mau aku belikan apa hari ini?" tanya Bryan yang tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya. Dia bergegas ke kamar mandi dan hanya membasuh muka juga gosok gigi saja tanpa mandi.


"Freya nggak tahu."


"Freya tidak ingin dibelikan apa-apa sama Mas Bryan."


"Tapi Freya ingin dinner romantis di sebuah restoran mewah dengan alunan musik piano juga biola."


"Dan menunya nanti berbau caviar."


"Semua harus ada caviar nya juga taburan emas." Bryan tersenyum mendengar keinginan istrinya itu. Dia baru sadar kalau selama ini dia tidak pernah mengajak Freya dinner romantis. Bryan segera berkumur dan membasuh wajahnya.

__ADS_1


"Iya nanti kalau Mama Marisa sudah memberi maaf dan izin untuk membawa kamu kembali ke pelukan aku."


"Aku akan mengajak kamu dinner romantis sesuai keinginan kamu." ujar Bryan sambil berganti pakaian dan tidak lupa memakai parfum ke semua anggota tubuhnya, dari kepala sampai kaki.


"Mas Bryan tidak bohong?"


"Benar sayang, untuk apa aku berbohong sama kamu."


"Sudah dulu ya. Aku mau lanjut kerja dulu."


"Iya suami ku. Muachh." tut..tut..tut..panggilan diputus sepihak oleh Freya.


Bryan tersenyum dan melangkah cepat menuju garasi mobilnya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu Freya.


Bryan mengeluarkan sepeda motornya, dia memilih sepeda motor untuk mempersingkat waktu. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya itu.


"Mas Bryan!!" pekik Freya saat melihat siapa yang datang.


Bryan tersenyum melihat istrinya yang terlihat kaget itu. Lucu dan gemas, apalagi kelopak matanya yang berkedip-kedip itu membuat bulu matanya yang lentik itu terlihat indah meski tidak memakai bulu mata palsu.


"Ma-Mas Bryan kok ad-da di sini?"


"Na-Nanti kalau Mama sama Kak Ane lihat bagaimana?" Freya terbata karena gugup dan takut. Bukan takut ketahuan Mama Marisa juga Anelis, tapi takut kalau dia nanti terbawa suasana mengingat dirinya saat ini sangat merindukan Bryan.


"Tidak akan."


"Aku hanya sebentar."


"Boleh aku masuk?" Bryan mengangkat sebelah alisnya. Freya mengangguk ragu.


"Janji Mas Bryan janmmppphhh." belum selesai Freya berucap, Bryan langsung membungkam bibir Freya dengan penuh napsu setelah pintu tertutup rapat.


"Aku merindukanmu sayang." ucap Bryan dengan nafas memburu setelah melepas ciumannya.


Freya membuka matanya perlahan dan menatap mata Bryan yang jaraknya begitu dekat dengan dirinya. "Freya juga merindukan Mas Bryan."


Bryan tersenyum, tanpa menunggu lama lagi, Bryan kembali meraup bibir ranum Freya dengan rakus. Dituntunnya tubuh Freya tanpa melepas ciuman mereka masuk ke sebuah kamar yang terbuka.


Freya yang sudah terbawa suasana karena merindukan suaminya mengikuti saja permainan yang Bryan lakukan pada tubuhnya.


"Tunggu Mas." ucap Freya cepat menahan tubuh Bryan dengan nafas memburu, dadanya terlihat naik turun mengatur nafas.


"Kenapa sayang?" kening Bryan mengkerut saat dirinya akan masuk ke dalam lubang milik istrinya namun di stop begitu saja sama Freya.


"Jangan dimasukkan."


"Apa???" mata Bryan membulat sempurna. Apa-apa ini, batinnya. Sudah mau masuk dan keluar tapi dilarang untuk masuk. Tidak mungkin kan dikeluarkan diluar.


"Kemarin Freya ke dokter, dan kata dokternya kalau berhubungan harus pakai pengaman supaya tidak terjadi sesuatu pada janinnya."


Bryan mengusap kasar wajahnya, peraturan macam apa itu, batinnya mengumpat pada dokter yang mengatakan hal aneh pada Freya.


"Nanggung sayang. Nggak mungkin aku harus keluar untuk beli pengaman sedangkan ini masih On."


"Atau kamu mau, main sama 'si rosi' menggunakan mulutmu?" Bryan mencoba memberi Freya penawaran khusus. Tidak bisa masuk lubang bawah, masuk mulut pun siap saja daripada bersolo karir.


Freya menggigit bibir bawahnya, dia masih ragu meski dia sudah pernah mengemut batang 'si rosi'. Hanya mengemut, tidak lebih.


"Bagaimana sayang."


"Aku sudah tidak tahan lagi ini." Freya mengangguk dan mengiyakan tawaran Bryan. Dirinya juga sudah hampir tidak bisa menahan dirinya.


Bryan tersenyum dan kembali memberi rangsangan pada kedua squishy kembar milik Freya. Dia menggeser tubuhnya dan berubah posisi.


"Bersiaplah, kau akan masuk ke lubang atas." gumam Bryan saat memegang batang 'si rosi'.


"Astagfirullah!!! BRYAN!!! FREYA!!!"


Belum sempat Bryan menempatkan posisinya, sebuah pekikan bercampur teriakan menggema dari luar kamar yang mereka tempati.


"Kemarin phone se ks dan sekarang 69."


"Ohhh....Kenapa udara didalam apartemen jadi panas begini padahal diluar mendung."


Anelis juga Andre saling pandang melihat Mama Marisa yang tidak jadi masuk ke dalam kamar dan justru meneriaki nama Bryan juga Freya.


"Maksud Mama tadi apa?" tanya Anelis pada Andre


"Phone se ks, 69?"


Anelis langsung menutup mulutnya saat menyadari sesuatu. Dia melihat ke arah kamar Mama Marisa dan beralih melihat dapur dimana Mama Marisa terlihat meneguk air dingin beberapa kali.


"Nggak nyangka Kak Bryan senekat itu."


"Maniak juga ternyata dia."


"Alamat makin parah ini mah hukumannya."


"Aku kasih tau Oma sama Opa pasti akan semakin seru ini." Andre menyeringai, kapan lagi bisa mengerjain kakak sepupunya itu.


"Bersiaplah Kak Bryan, makin panjang daftar hukumanmu."


🍁🍁🍁


have a nice day

__ADS_1


big hug 🤗🤗🤗


__ADS_2