Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Jangan Hanya Janji, Tapi Buktikan


__ADS_3

Dengan langkah pelan Bryan memasuki rumah setelah menenangkan diri dan merenungi semua kesalahan yang telah dia lakukan terhadap istrinya, Freya. Begitu lama dirinya merenungi semua kesalahan yang telah diperbuatnya di kandang Dragon, nama harimau benggala yang sudah dirawatnya dari Dragon masih bayi. Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul satu tengah malam. Dirinya sengaja kembali tengah malam menunggu Freya tidur. Dirinya belum siap bertatap muka dengan Freya atas kesalahan dirinya yang tidak pernah memenuhi keinginan Freya juga bayinya. Tidak seperti janji yang dia ucapkan dulu setelah mendapatkan Freya.


Langkah Bryan berhenti dan mengerutkan keningnya saat melihat lampu dapur menyala. Dia hanya melihat saja dan tidak peduli siapa yang ada di sana. Dia hanya ingin kembali ke kamarnya, memastikan istrinya tidur dengan nyenyak.


Klontang!!


Akkhhhhh!!!


Bryan menoleh kearah dapur saat mendengar suara ribut dari dapur, "Kenapa suara itu seperti suaranya Freya?" batin Bryan.


Bryan lantas mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga, dia melangkah mendekati dapur memastikan kalau itu bukan suara Freya dan yang pastinya itu bukan maling. Kalau sampai ada maling yang berani masuk kedalam rumahnya, sudah dipastikan maling itu sedang mengirim nyawa mereka secara suka rela.


"Siapa disana?"


Freya yang tengah terduduk dilantai sambil mengusap-usap kakinya yang terkena air panas mendongak saat mendengar suara Bryan.


"Mas Bryan." gumam Freya dengan berusaha berdiri sambil menahan rasa panas di kaki kanannya. Dirinya tidak mau suaminya melihatnya terluka. Dirinya tidak mau nantinya suaminya akan melarangnya masuk ke dapur lagi.


"Arrgghhh!!" rintih Freya saat menahan rasa sakit dan panas pada kaki kanannya.


"Itu benar suara Freya." gumam Bryan dan mempercepat langkahnya mendekati dapur saat terdengar suara rintihan dari Freya.


"Freya!!" pekik Bryan saat melihat Freya berdiri sedikit menunduk sambil memegangi kakinya yang terasa perih dan panas.


Bryan melewati meja mini bar dan mendapati kaki istrinya yang memerah dan terdapat juga panci teflon yang sepertinya bekas dipakai untuk memasak air tergeletak di lantai. Ditatapnya Freya yang menunduk menahan sakit, tidak berani membalas tatapannya. Bryan mendekati Freya dan tanpa banyak tanya dan mengomel, Bryan lantas membawa Freya kedalam gendongannya.


Freya sendiri hanya diam saja berada di gendongan suaminya yang akan membawanya ke kamar. Dia begitu takut suaminya itu akan memarahinya. Apalagi tadi suasana hati suaminya tengah tidak menentu setelah disindir Opa Surya.


Setelah Bryan mendudukkan dirinya di ranjang, Freya hanya diam saja melihat suaminya yang dengan telaten mengobati luka bakar di kakinya. Mata Freya berembun saat melihat suaminya yang bisanya mengomeli dirinya kalau berbuat ceroboh. Tapi sekarang, suaminya itu hanya diam tanpa menatap dirinya saat mengobati lukanya.


"Maafin Freya!!" suara Freya terdengar serak dan parau karena menahan air matanya untuk tidak jatuh. Dirinya merasa bersalah pada suaminya yang tadi tidak membela suaminya saat suaminya dicerca dan disindir Opa Surya.


Bryan melihat Freya sekilas dan menghembuskan nafas pelan dan melanjutkan mengolesi salep krim obat bakar pada kaki Freya.


"Apa yang kamu lakukan tadi di dapur?" tanya Bryan yang tidak menghiraukan ucapan maaf dari istrinya.


Freya hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya, dirinya merasa kalau suaminya tengah marah pada dirinya. Apalagi suaminya tidak menghiraukan ucapan maafnya tadi.


Bryan memejamkan matanya sejenak dan membereskan kembali peralatan obat sebelum disimpannya kembali.


"Kalau tidak ada kenapa kamu tadi di dapur tengah malam seperti ini?" tanya Bryan dan melihat botol air minum di atas nakas masih terisi tiga perempat.


"Air minum juga masih banyak."


"Apa kamu lapar?"


"Makanya kamu di dapur dan berniat untuk masak." tebak Bryan yang sudah menyimpan kembali kotak perlengkapan obat pada tempatnya.


Dengan masih menunduk, Freya menaik turunkan kepalanya dua kali secara perlahan. Dirinya tadi memang ke dapur berniat ingin masak karena lapar. Dirinya tadi sangat ingin masak spaghetti, padahal di dalam almari pendingin masih ada sisa makanan yang bisa dipanaskan lagi, tapi dirinya ingin makan yang lain, yaitu spaghetti.


"Kamu mau apa? Biar aku yang bikinkan."


Freya lantas mengangkat kepalanya dan menggeleng cepat. Dirinya tidak mau suaminya itu membuat kerusuhan di dapur lagi seperti waktu dirinya minta dimasakkan sapo tofu. Apalagi nanti kalau hasil masakannya yang justru membuat perutnya mulas karena tidak bisa dimakan.


"Tidak..tidak..!! Tidak usah."


"Aku tidak ingin makan apa-apa." tolak Freya yang tidak mau sakit perut kalau sampai Bryan yang masak untuknya.


"Aku tadi hanya masak air, aku hanya ingin minum air hangat saja tadi." kilah Freya mencari aman saja daripada harus jujur dan berakhir makan masakan Bryan yang pasti rasanya tiada tara enaknya sampai tidak bisa ditelan.


"Minum air hangat!" Freya mengangguk cepat dengan senyum tipis saat Bryan mengulangi perkataannya.


"Kan ada dispenser khusus air panas."


"Kenapa harus repot-repot masak air?"


"Dan kenapa tadi aku melihat ada bungkus pasta yang sudah terbuka di dekat piring?"


"Tidak mungkin kan minum air pakai piring."


Freya menelan salivanya susah payah. Suaminya itu ternyata sudah melihat jelas kondisi di dapur tadi. Mau berkilah seperti apapun pasti suaminya akan terus bertanya karena kondisi yang Bryan lihat tadi tidak seperti apa yang Freya katakan.


Bryan memicingkan matanya melihat Freya yang panik dengan menggerakkan pupil nya kekiri dan kekanan seperti sedang mencari jawaban yang pas. Juga kedua tangan yang jarinya saling bertautan dengan erat. Bryan yakin istrinya itu berbohong kalau hanya ingin minum air hangat saja, pasti ada yang ingin dimasaknya.


"Apa kamu tadi ingin masak pasta?"


"Jujur saja kalau kamu lapar dan ingin makan pasta, biar aku yang buatkan." kata Bryan yang beranjak dari duduknya.


"Tidak perlu. Aku tidak lapar." Freya memegang salah satu tangan Bryan dengan gemetaran menahan lapar juga sakit di kakinya.


"Yakin??" Bryan menatap lekat pada Freya yang terlihat sedikit pucat dan berkeringat juga tangan yang memegang tangannya terasa bergetar.


Freya mengangguk ragu bersamaan dengan perutnya yang berbunyi "Kruuukkk!!".


"Kenapa tidak bisa diajak kompromi sih kamu dek???" gerutu Freya dalam hati saat perutnya berbunyi menandakan kalau dirinya lapar. Anaknya itu tidak bisa diajak kerjasama. Bagaimana nanti kalau mereka berdua makan hasil masakan Ayahnya dan membuat perutnya sakit dan mulas? Kan kasihan dedek bayi yang masih di dalam perut.


Bryan menghembuskan nafas perlahan dan melepas tangan Freya yang memegangi tangannya. "Tunggu disini! Aku akan membuatkan pasta untuk mu."


"Tapi....!!" Freya terlihat ragu suaminya itu bisa memasak spaghetti untuknya mengingat suaminya yang tidak bisa memasak.


"Nurut saja dan lihat nanti hasilnya."


Freya menatap Bryan yang berlalu pergi meninggalkan dirinya sendiri dan menuju dapur.

__ADS_1


"Aku takut nanti Mas Bryan bukannya masak tapi justru membangunkan orang-orang yang sudah tidur." gumam Freya yang khawatir suaminya itu akan membuat kekacauan di dapur.


"Aku lihat saja, aku akan membantunya."


"Aku takut apa yang aku khawatirkan akan terjadi."


Freya turun perlahan dari ranjang dan berjalan sambil menahan rasa perih pada kakinya menuju dapur menyusul suaminya yang katanya akan memasakkan spaghetti untuk dirinya.


Freya mengintip dari balik dinding, melihat Bryan yang terlihat lihai membuat spaghetti untuk dirinya. "Kenapa beda banget dari waktu itu? Malam ini Mas Bryan terlihat tampan dengan celemek warna peanut." gumam Freya yang mengagumi ketampanan suaminya. Jarang sekali dirinya melihat pemandangan seperti malam ini. Pemandangan dimana suaminya dengan lihai meracik dan mengolah spaghetti.


Freya memejamkan mata saat hidungnya mencium aroma yang begitu menggugah seleranya dan membuatnya sungguh semakin lapar. Dihirupnya aroma wangi dari hasil masakan suaminya itu, "Mas Bryan tahu banget kalau aku ingin makan spaghetti aglio olio." gumam Freya yang senang karena apa yang diinginkan dibuatkan langsung dengan tangan suaminya sendiri, padahal dirinya tadi tidak bilang ingin makan spaghetti aglio olio. Tapi ternyata suaminya itu sudah mempunyai feeling yang kuat dengan dirinya juga anak yang masih didalam kandungannya.


"Bau masakannya enak, kira-kira hasilnya enak juga tidak ya."


"Atau jangan-jangan tidak bisa dimakan lagi." pikir Freya yang merasa ragu dengan hasil masakan suaminya bisa dimakan apa tidak dan seenak baunya apa tidak.


"Sudah dibilangin nggak udah turun, kenapa turun."


Freya tersadar dari lamunannya, dia terperanjat kaget saat Bryan sudah berada dihadapannya. Dia meringis saat kakinya terasa perih sambil mengusap dadanya yang kaget karena mendengar suara suaminya yang kini terlihat menatapnya tajam dan kesal.


"Aku...Aku tadi ingin akkkhhh!!!"


Freya tidak melanjutkan ucapannya karena Bryan tiba-tiba menggendongnya dan didudukkan nya dirinya di kursi meja makan.


"Ini!! Aku masakan khusus buat kamu dan Bryan junior untuk menebus semua rasa bersalahku karena tidak menghiraukan keinginan kalian berdua, yang tidak pernah menuruti keinginan kalian."


"Ayah persembahkan spaghetti aglio olio untuk Bunda dan Bryan junior sebagai tanda maaf Ayah pada kalian." ucap Bryan dengan tulus sambil membungkukkan sedikit badannya pada Freya.


Mata Freya berkaca-kaca menatap bergantian Bryan dan sepiring spaghetti aglio olio yang berbentuk love. Dengan bibir yang bergetar membentuk senyum dan air mata yang entah kapan sudah jatuh itu, Freya berdiri dan memeluk suaminya dengan erat.


"Terima kasih!! Terima kasih karena sudah membuatkan spaghetti aglio olio untuk Freya."


"Mas Bryan tahu saja kalau Freya ingin makan spaghetti aglio olio?" tanya Freya yang sudah melepas pelukannya pada suaminya itu.


Bryan tersenyum dan menghapus air mata yang jatuh di pipi istri cantiknya itu. "Aku tadi mendapat kiriman sinyal telepati dari Bryan junior yang mengatakan kalau Bundanya ingin makan spaghetti aglio olio. Makanya aku buatkan itu khusus buat kamu."


Freya berdecak sebal mendengar jawaban narsis dari suaminya meski bibirnya tidak mampu untuk tidak tersenyum senang. "Ck..Pasti rasanya tidak enak dan pastinya nanti tidak bisa digigit dan dikunyah. Bikin sakit perut saja." ejek Freya dan duduk kembali menatap sepiring spaghetti aglio olio berbentuk love yang begitu menggoda imannya untuk segera disantap hingga habis.


Bryan terkekeh kecil melihat Freya yang membasahi bibirnya sendiri dan juga terlihat beberapa kali menelan salivanya. Dia duduk disamping Freya dan menggeser segelas air hangat supaya lebih mudah Freya mengambilnya.


"Banyak banget itu air liurnya yang sudah menetes keluar." Sontak saja Freya mengusap ujung bibirnya yang dikiranya apa yang Bryan katakan tadi benar.


Bryan menertawakan aksi istrinya itu yang begitu menggemaskan. Padahal dirinya tadi hanya menggoda saja, tapi istrinya itu menganggap serius kalau benar air liurnya keluar.


"Dasar suami menyebalkan." gerutu Freya dan mengambil garpu untuk mengambil spaghetti yang sedari tadi melambaikan tangannya meminta untuk segera dimakan.


Bryan menatap Freya yang tidak melanjutkan menguyah saat sesuap spaghetti masuk ke mulutnya. "Apa tidak enak ya spaghetti nya? Sudah lama aku tidak bikin spaghetti dan sejenisnya, terakhir setelah lulus S3." batin Bryan yang merasa gagal lagi membuatkan makanan untuk istrinya.


"Jangan." Freya menahan piringnya itu dengan kedua tangannya dan mulutnya menguyah cepat spaghetti yang baru saja dia masukkan kedalam mulutnya.


"Ini enak. Kata siapa tidak enak?"


"Ini enak banget tahu tidak Mas." Freya merebut kembali piringnya dan diletakkan di dekat Bryan.


"Freya mau Mas Bryan yang menyuapi Freya makan."


"Spaghetti aglio olio buatan Mas Bryan sungguh enak." puji Freya yang tidak menyangka kalau suaminya itu bisa bikin spaghetti aglio olio seenak di restoran mewah. Dan baru kali ini dirinya makan spaghetti yang begitu enak dan lezat.


"Baru tahu kamu kalau suami kamu yang tampan, smart and baik hati ini jago masak." kata Bryan dengan sombongnya membanggakan dirinya sendiri sambil menyuapi Freya. Dia seakan lupa kalau tadi dirinya begitu tidak percaya diri dengan masakannya saat Freya tak kunjung menguyah makanan yang dimasaknya.


"Ck...Baru dipuji segitu saja sudah besar kepala."cibir Freya yang menyesal telah memberi pujian untuk suami narsisnya itu.


"Aku bukannya besar kepala, sayang."


"Aku memang jago kalau hanya membuat beberapa jenis pasta."


"Karena hanya itu yang bisa aku masak dulu waktu kuliah dan tinggal sendiri di London." jelas Bryan yang memang dulu dirinya hanya makan pasta, pasta, dan pasta saja saat kuliah dan tinggal di London.


Freya mengangguk saja karena mulutnya begitu penuh hingga dirinya kesulitan untuk menguyah. Terlalu banyak tadi suapan yang Bryan berikan pada dirinya hingga membuatnya lama menguyah.


Bryan memberikan gelas yang berisi air hangat pada Freya saat istrinya itu tersedak dengan makanannya sendiri. "Pelan-pelan kalau makan." tegur Bryan


Freya mengangguk dan kembali meminta suapan dari Bryan. Hingga piring yang tadinya penuh berisi


spaghetti aglio olio berbentuk love habis tanpa meninggalkan isi sisa dari makanan tersebut.


"Lagi Mas!! Aaaa..." Freya minta disuapi lagi, perutnya masih terasa lapar. Belum kenyang.


Kening Bryan mengkerut dan menatap piring yang sudah habis isinya, sudah kosong tinggal bekasnya saja.


"Sudah habis sayang. Kamu masih lapar?"


Freya mengangguk dan melihat piring yang ada di dekat Bryan dan benar saja sudah habis tak tersisa spaghetti nya.


"Ya sudah, kamu disini dulu biar aku buatkan lagi." kata Bryan yang beranjak dari duduknya dengan membawa piring kotor untuk diletakkannya di wastafel.


"Tidak usah. Aku sudah kenyang." cegah Freya dengan memegang tangan Bryan, membuat suaminya itu duduk kembali.


"Katanya tadi masih lapar."


"Aku akan membuatkan spaghetti aglio olio lagi untuk kamu." Freya menggeleng cepat.


"Tidak usah Mas, ini sudah jam dua lewat. Lebih baik kita tidur saja."

__ADS_1


"Mas Bryan besok kan kerja."


"Tapi aku ingin membuat kamu senang."


"Aku ingin menuruti semua keinginan ngidam kamu dan juga Bryan junior."


"Aku janji sama kamu akan selalu menuruti keinginan dan kemauan kamu selagi itu batas wajar."


"Entah itu barang mewah ataupun murah."


"Entah itu makanan mahal ataupun murah"


"Aku akan berjanji sama kamu untuk membelikannya."


"Aku janji."


Freya tersenyum mendengar ucapan Bryan yang terlihat begitu tulus saat menatapnya. Diraihnya tangan sang suami dan diciumnya tangan kanan sang suami bolak balik dari punggung tangan dan telapak tangan bergantian sebanyak yang dia inginkan.


"Freya tidak ingin Mas Bryan membuat janji sama Freya."


"Freya ingin lebih baik Mas Bryan membuktikan janji-janji Mas Bryan pada Freya selama ini."


"Ingat Mas, wanita itu hanya butuh bukti bukan janji."


"Karena janji bisa diingkari, tapi kalau pembuktian itu lain kisah."


"Pembuktian adalah wujud asli kalau kita memang serius dan yakin untuk melakukan itu buat orang yang kita sayangi dan kita cintai."


"Jadi Mas Bryan tahukan apa yang Freya inginkan saat ini?"


Bryan membalas senyum Freya dan mengangguk pelan. Diciumnya kedua tangan Freya bergantian dengan sayang.


"Baiklah, aku tidak akan membuat janji-janji manis lagi sama kamu, tapi akan langsung aku buktikan sama kamu." Bryan membawa Freya kepelukannya. "Kalau aku sayang dan cinta sama kamu." bisik Bryan sambil mencium leher Freya.


Freya tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Bryan. "Freya juga akan sayang dan cinta sama Ayah Bryan kalau Ayah Bryan mau menuruti keinginan Bunda Freya."


"Kok gitu." protes Bryan melepas pelukannya dan menatap Freya yang tersenyum manis itu. Bryan memicingkan matanya, perasaannya sudah tidak enak. Pasti sekarang istrinya itu akan meminta dan menginginkan sesuatu di luar nalarnya lagi.


"Kenapa? Katanya tadi mau menuruti semua keinginan Freya juga debay."


"Kenapa sekarang jadi protes?"


Bryan meraup wajahnya kasar, dirinya lagi-lagi salah ngomong dengan istrinya. Iya dirinya akan menuruti semua keinginan Freya juga Bryan junior, tapi saat melihat senyuman istrinya itu Bryan jadi tidak yakin kalau istrinya itu menginginkam sesuatu yang wajar.


Bryan menghembuskan nafas perlahan, "Memang apa yang kamu inginkan?" tanya Bryan pada akhirnya. Dirinya lebih baik mengalah daripada dicap sebagai suami yang tidak tahu diri, bisanya hanya membuat adonan tanpa memberi servis tambahan untuk membuat adonan itu jadi lebih sempurna lagi.


Freya tersenyum dan berdiri dari duduknya, berpindah duduk dipangkuan sang suami. Dikalungkanya kedua tangannya pada pundah Bryan dan ditautkannya kedua tangannya di belakang leher Bryan.


"Freya ingin besok kita pergi ke makam Bapak."


"Freya kangen sama Bapak."


"Freya ingin ketemu sama Bapak." suara Freya terdengar serak dengan mata berkaca-kaca. Dirinya memang sungguh sangat merindukan Bapaknya. Setelah dirinya pindah ke kota J, dirinya belum lagi mengunjungi makan Bapaknya sama sekali.


Dibawanya tubuh Freya kedalam dekapannya. Bryan merasa bersalah pada Freya, seharusnya sebelum menikah kemarin dirinya membawa Freya mengunjungi makan Bapak Armand. Atau seengaknya setelah menikah dirinya dan Freya mengunjungi makam Bapak Armand daripada liburan.


"Baiklah, besok kita pergi ke kota S."


"Kita kesana untuk bertemu sama Bapak." ucap Bryan sambil mengelus rambut kepala juga punggung Freya.


"Benar?? Mas Bryan tidak bohong?" tanya Freya begitu antusias.


Bryan tersenyum dan mencium singkat bibir Freya dengan gemas. "Iya sayang, tapi sebelum pergi besok kamu harus periksa terlebih dahulu ke dokter. Aku tidak ingin nantinya terjadi hal buruk pada kalian berdua."


"Oke!!" Freya tersenyum dan kembali memeluk Bryan dengan perasaan yang begitu bahagia. Akhirnya dirinya besok bisa bertemu Bapaknya lagi setelah hampir setengah tahun dirinya tidak mengunjungi makan Bapaknya.


"Sayang!!" panggil Bryan dengan suara serak.


"Hemmm!!" Freya hanya berdehem sambil menciumi leher Bryan dan menghembuskan nafas hangat beberapa kali di leher juga telinga Bryan.


"Kamu telah membuatnya bangun."


"Apa kamu mau bertanggung jawab?" nafas Bryan terasa memburu saat hanya membayangkan saja saat ini Freya dalam keadaan tanpa busana tengah menggodanya.


"Tidak." jawab Freya cepat dan meloloskan diri dari Bryan.


"Freya ngantuk! Freya mau tidur!" seru Freya dan berlalu pergi menjauh dari Bryan menuju kamar mereka. Dirinya menahan senyum juga tawanya saat melihat ekspresi Bryan yang seperti orang bego saat dia tinggal dan tidak mau tanggung jawab.


"Sial!! Kenapa aku jadi seperti lelaki murahan yang hanya disentuh sedikit saja langsung berdiri tegak."


"Awas kau Freya!! Aku tak akan melepaskanmu!" gerutu Bryan yang lantas mengambil langkah seribu mengejar Freya yang sudah hampir menapaki anak tangga.


Akkhhhhhh


"Mas Bryan!! Turunin Freya.." Freya begitu kaget saat Bryan tiba-tiba membawanya dalam gendongannya. Dirinya begitu takut kalau saja suaminya itu meminta jatah, mengingat sudah beberpa hari hampir seminggu tidak memberikan jatah pada Bryan.


"Tidak akan. Aku tidak akan membuatmu tidur malam ini." Bryan dengan tenangnya membawa Freya masuk kedalam kamar.


"Arrggghhhh....Mamaaaa..tolongin Reyaaa."


"Mauraaa!!!!!!"


"Mamaaa!! Anak Mama nakal!!!"

__ADS_1


__ADS_2