
Dengan membawa beberapa tentengan di kedua tangannya, Bryan masuk ke dalam rumah yang dibelinya secara mendadak sebelum tinggal di Swiss untuk beberapa bulan kedepan. Bisa jadi untuk tinggal selama setahun di sana. Diletakkannya tentengan yang dibelinya tadi diatas meja makan sebelum dirinya mencari keberadaan sang istri.
"Sayang!!! Bunda!! Kamu dimana?" teriak Bryan karena tidak mendapati sang istri di ruang perapian. Karena tadi saat dia pergi, Freya tengah menghangatkan tubuhnya di dekat perapian sambil vidio call bersama Maura.
"Freya!!"panggil Bryan sekali lagi dan melangkahkan kakinya mendekati kamar.
Bryan bernafas lega karena mendapati Freya berada di dalam kamar dan terlihat tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telephone. Bryan mendekat dan duduk disamping Freya, lantas dipeluknya tubuh sang istri dari samping.
"Siapa?" tanya Bryan dengan berbisik di telinga sang istri dan tidak lupa memberi kecupan di pipi Freya juga menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu membuatnya candu.
Freya tersenyum kecil pada Bryan, "Mutia. Tunggu sebentar lagi dan jangan berisik."
Bryan mengangguk patuh namun dengan masih memeluk tubuh Freya sambil mengelus perut Freya yang tinggal menunggu hari lagi akan segera melahirkan.
"Pulanglah, jangan menghindar seperti itu. Kasihan Rendy. Pasti dia saat ini tengah mencari mu kemana-mana. Apalagi dia tidak tahu kalau kamu masih menyimpan kunci apartemen kita dulu." ujar Freya saat tahu Mutia kini tengah berada di apartemen mereka dulu yang sudah jadi atas namanya.
"Aku capek Frey. Aku merasa jadi wanita yang tidak sempurna. Aku merasa tidak pantas untuk Rendy." suara Mutia terdengar serak karena tengah menangis.
"Kamu bukan tidak sempurna. Kamu itu pilihan. Kamu harus kuat. Diluar sana tidak hanya kamu sendiri yang mengalami itu, banyak juga yang mengalami seperti kamu."
"Kamu baru beberapa bulan menikah dan mereka bahkan sudah ada yang sampai bertahun-tahun menikah dan menantikan buah hati."
"Kamu seharusnya belajar dari mereka yang masih tegar sampai saat ini." Mutia di seberang sana hanya terdiam mendengar semua yang Freya katakan dengan air mata yang terus mengalir.
"Kamu diskusikan baik-baik dengan Rendy, pasti dia akan mengerti."
"Jangan menghindar seperti itu. Jangan seperti aku yang suka kabur dan menghindar tiap kali ada masalah."
"Selesaikan dengan baik-baik, dan bicarakan dari hati ke hati." Mutia mengangguk di seberang sana seolah Freya mengetahuinya.
"Kamu dengarkan Mut?" Mutia berdehem menjawab pertanyaan Freya.
"Aku tidak bisa membantu apa-apa. Aku hanya bisa mendoakan semoga kamu sama Rendy selalu bersama, bahagia dan hidup tentram dan semoga segera diberi dedek bayi untuk menemani Bryan Junior nantinya."
"Kalau kelak anak kamu pria, mereka akan jadi sahabat seperti orang tuanya dan kalau sebaliknya akan aku jadikan dia menantuku untuk Bryan Junior." Bryan menatap Freya dengan mata melotot saat anaknya yang sebentar lagi akan launching sudah dijodohkan dengan anaknya Rendy yang belum diproses sama sekali.
Freya tersenyum geli pada Bryan dan mengusap wajah Bryan supaya mata suaminya itu tidak melotot lagi. Dia tahu kalau suaminya saat ini tengah protes dengan apa yang baru saja dia katakan pada Mutia tentang omong kosong perjodohan.
Terdengar di seberang sana Mutia tertawa dan itu sungguh membuat hati Freya sedikit lega karena bisa menghibur Mutia meski saat ini keduanya sedang berada di benua yang berbeda.
"Janji ya!? Nanti kalau anakku perempuan harus jadi menantu kamu. Biar anakku nanti jadi istri seorang billionaire." kata Mutia yang terdengar semangat lagi seperti Mutia yang Freya kenal dulu.
"Iya gampang itu." jawab Freya yang langsung membuat Bryan meradang dan merebut handphone Freya.
"Tidak bisa. Anak kamu saja belum diproses minta dijodohkan dengan Tuan Muda. Diproses dulu dengan benar baru nanti bisa dijodohkan dengan Tuan Muda. Itupun kalau Tuan Muda memilih anak kamu sebagai istrinya." sahut Bryan dengan emosi karena putranya akan dijodohkan dengan anaknya Rendy yang belum diproses kapan jadinya dan bergenre apa.
"Mas Bryan ihh!!!" Freya yang gemas dengan Bryan lantas mencubit lengan kekar Bryan dan kembali merebut handphone nya dari tangan Bryan.
"Hallo Mut!! Maaf ya, jangan dengerin omongannya Mas Bryan barusan. Dia hanya takut anaknya nanti diberi tantangan sama Rendy." kata Freya setengah mengejek suaminya.
"Kamu!!" geram Bryan yang tidak terima dibilang takut sama Rendy. Karena yang ada Rendy lah yang takut sama dirinya.
__ADS_1
Freya menjulurkan lidahnya pada Bryan yang terlihat geram bercampur kesal itu. "Sudah dulu ya Mut. Pulang dan bicarakan baik-baik dengan Rendy." pesan Freya sebelum mengakhiri panggilan telephone dari Mutia.
"Uluh..uluh...Ayah ngambek ya!! Bunda kan bercanda tadi Ayah." Freya menoel-noel lengan Bryan yang saat ini duduk membelakanginya dengan bersedekap tangan.
"Ayah!! Sayang!! Suamiku!!" Freya terus menoel lengan Bryan yang terlihat tidak meresponnya sama sekali.
"Ya sudah kalau ngambek. Berarti nanti malam tidak ada acara tengok debay nya lagi sampai debay nya lahir." ucap Freya dengan santainya dan berdiri dari duduknya untuk menikmati makanan yang tadi dibeli oleh Bryan.
"Berani ya ngancam suami tidak boleh nengok Bryan Junior." geram Bryan yang menarik pelan tubuh Freya hingga jatuh kepangkuan nya.
"Freya tidak merasa mengancam Mas Bryan. Memangnya tadi Freya ngomong apa? Bukannya tadi Freya bilang mau makan ya." kata Freya dengan menggelayutkan kedua tangannya pada pundak Bryan.
"Kamu ini ya?! Ngeles aja bawaannya." dengan gemas Bryan menarik pelan hidung mancung Freya.
"Perlu kamu ingat, suami kamu ini tidak takut sama yang namanya Rendy. Yang ada Rendy lah yang takut sama suami kamu."
"Suami kamu bisa membuat Rendy dan sahabat kamu itu terlantar dalam satu kali dua belas jam dari sekarang."
"Jadi jangan pernah bilang suami kamu itu takut sama Rendy."
Freya mengerutkan keningnya mengingat apa yang dia katakan tadi. Perasaannya mengatakan kalau dirinya tadi tidak pernah bilang kalau Bryan takut sama Rendy. "Kapan Freya bilang begitu? Perasaan tadi Freya bilangnya tidak begitu."
"Kamu memang tidak mengatakan seperti yang aku katakan, tapi intinya tetap saja kamu mengatakan kalau suami kamu ini takut sama Rendy." Freya tertawa mendengar apa yang Bryan katakan. Dirinya paling suka tiap kali melihat Bryan yang tidak terima bilang dibilang takut ataupun penakut.
"Mas Bryan merasa tersindir ya dengan omongan Freya tadi? Kalaupun tidak merasa takut ya jangan sewot seperti itu dong Ayah sayang."
"Kesannya Mas Bryan beneran takut sama Rendy." ucap Freya seraya turun dari pangkuan Bryan.
"Mas Bryan ayuk!! Dedeknya mau disuapin sama Ayahnya ini." rengek Freya dengan menarik dan menggoyangkan tangan Bryan.
"Minta maaf dan minta tolong yang benar, baru nanti aku suapin." Freya mendengkus kesal saat Bryan memintanya dengan cara yang benar. Dia tahu apa maksud dari suaminya itu.
"Tapi tidak boleh meminta lebih." ucap Freya dengan menatap Bryan waspada.
"Tergantung performa yang kamu berikan." kata Bryan dengan senyum liciknya.
Freya mendengkus dengan wajah cemberut, "Tutup mata dulu." pinta Freya yang langsung dituruti oleh Bryan.
"Nggak boleh ngintip." imbuh Freya dan hanya diangguki oleh Bryan.
"Dasar modus." gumam Freya sebelum akhirnya mencium Bryan.
"Kok dipipi!!" protes Bryan saat merasakan bukan bibirnya yang dicium melainkan pipinya yang dicium oleh Freya.
"Sama-sama dicium juga. Udah ih aku lapar." Freya berjalan terlebih dahulu keluar dari kamar.
Bryan hanya tersenyum saja melihat istrinya yang sekarang badannya semakin berisi semenjak hamil tua. Begitu menggemaskan dan ingin sekali tiap hari mencubit maupun menjembel lengan Freya.
"Mas Bryan belikan aku pancake kan?" tanya Freya saat belum menemukan pancake pesanannya.
"Ini pankek apa? Kok beda sama yang sering aku makan."
__ADS_1
"Hmm....Lembut banget!! Ini dari kentang ya." tanya Freya saat merasakan gigitan pertama yang begitu lembut.
"Iya..Itu pancake kentang. Makanan khas sini. Enakkan?" Freya hanya mengangguk dan terus melanjutkan makannya. Makanan yang belum pernah dimakannya.
"Makan yang banyak, biar Bryan Junior nya sehat dan kuat. Biar nanti bisa Ayah ajak balapan." kata Bryan sambil mengusap perut Freya yang sudah semakin besar dan diciumnya.
"Bara mana Mas? Kok nggak kelihatan." tanya Freya saat tidak mendapati asisten suaminya.
"Bara tadi menjemput Alex ke bandara. Dia tahu kita disini, makanya dia langsung terbang kesini." jawab Bryan dan memasukkan bircher muesli kedalam mulutnya. Makanan khas Swiss yang seperti sereal.
"Memangnya Alex tadinya ada dimana? Enak banget jadi Alex bisa keliling dunia."
"Suami aku saja yang katanya orang kaya, seorang billionaire tidak bisa ajak aku keliling dunia." dumel Freya yang belum pernah merasakan keliling dunia.
"Kau ini ya.." Bryan yang gemas dengar Freya, menjembel pelan pipi Freya.
"Kalau kamu belum hamil lagi aku akan ajak kamu keliling dunia sepuas kamu."
"Berhubung kamu saat ini hamil, aku hanya bisa mengajak ke sini dulu. Nanti kalau Bryan Junior sudah agak besar, kita keliling dunia sekeluarga."
"Semuanya kita ajak tanpa terkecuali."
"Semuanya!" seru Freya dengan mata berbinar.
"Termasuk para readers yang membaca kisah kita termasuk authornya?" tanya Freya dengan semangat.
"Hmm..sesuai permintaan Yang Mulia Ratu." jawab Bryan dengan santainya tanpa memikirkan berapa banyak biaya yang bakal dikeluarkan nantinya.
Akkhhhhh
Freya yang begitu senang lantas memeluk erat suaminya tanpa lupa memberikan kecupan-kecupan singkat di wajah Bryan.
"Aucchhhh.!!" rintih Freya sambil memegang perutnya.
"Sayang, kenapa? Kamu tidak akan melahirkan sekarang kan?" Bryan terlihat panik sendiri saat Freya merintih kesakitan pada perutnya.
Freya menggeleng sambil tersenyum meringis, "Dedeknya nendang kencang banget." kata Freya sambil memegang tangan Bryan yang mengusap perutnya.
"Pasti dia ingin segera keluar, karena tidak sabar untuk keliling dunia."
"Melihat betapa indahnya dunia yang penuh dengan sandiwara ini. Yang semua bisa dibeli dengan uang." kata Bryan yang selalu membanggakan betapa banyak uang yang dimilikinya.
"Iya itu benar, dan aku tidak ingin nanti Maura ataupun Bryan Junior melakukan apapun menggunakan uang tanpa mencoba dan berusaha dulu."
"Aku tidak ingin mereka mengikuti sikap Mas Bryan yang apa-apa menggunakan uang. Mereka hanya boleh mengikuti kepintaran, kegigihan dan keberaniannya Mas Bryan. Tidak dengan sikap dan tingkah buruk Mas Bryan." ujar Freya panjang lebar yang tidak menginginkan Maura ataupun Bryan Junior mengikuti sikap dan tingkah buruk suaminya.
"Iya iya, terserah kamu. Mereka harus kita didik bersama-sama dalam hal kebaikan. Semua hal buruk yang pernah aku lakukan dulu akan aku pendam dan singkirkan jauh-jauh dan dijadikan pelajaran." Freya mengangguki perkataan Bryan.
"Aku mau Mas Bryan membelikan aku peternakan sapi seluas dua hektar disini sebagai kado ulang tahunku besok lusa."
Bryan melebarkan kedua bola matanya mendengar permintaan istrinya. Bukan masalah membelikan peternakan sapi seluas dua hektar, tapi dia lupa kalau istrinya dua hari lagi ulang tahun. Dia lupa kalau ini akhir bulan Desember dan berarti mendekati ulang tahun istrinya di tanggal 1 Januari.
__ADS_1
"Mampus, aku belum menyiapkan apa-apa lagi."