Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Anelis Iri


__ADS_3

Saat ini Freya dan yang lainnya sudah ada di tempat peristirahatan terakhir Bapak Armand, Ayah kandungnya. Freya datang kesana untuk berziarah juga meminta maaf karena menikah tanpa memberitahu Bapaknya terlebih dahulu juga tanpa meminta restu secara langsung dengan datang ke makam tempat Bapaknya istirahat dalam tidur panjangnya.


"Maafkan Freya yang baru bisa menjenguk Bapak lagi."


"Freya kali datang bersama Mama juga Kak Ane, Bapak."


"Apa Bapak bahagia di sana bisa bertemu dengan cintanya Bapak juga Putri pertama Bapak?" batin Freya, dirinya tersenyum dalam tangisnya.


"Freya juga membawa cucu Bapak juga, Maura dan calon adiknya Maura."


"Freya juga membawa suami Freya."


"Namanya Abrisam Bryan Alvaro, dia suaminya Freya, Ayahnya Maura."


"Dia tampan kan Bapak? Dia sangat serasi dengan putri Bapak yang cantik seperti bidadari ini."


"Dan dia..????" Freya menoleh sedikit mendongak melihat suaminya yang diam dan masih dalam posisi berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Dia orang yang menabrak Bapak waktu itu."


"Suami Freya yang menabrak Bapak juga Laras." Freya mencoba menahan untuk tidak larut dalam tangisnya.


"Maafkan suami Freya, Bapak."


"Restui lah pernikahan kami."


"Izinkan kebahagian selalu menyertai keluarga kecil Freya bersama Mas Bryan."


Begitupun dengan Bryan, ini kali pertama baginya mengunjungi makam Bapak mertuanya sekaligus orang yang ditabraknya sepuluh tahun yang lalu. Begitu banyak kata maaf dia lontarkan dalam hatinya untuk mendiang Bapak Armand. Maaf karena dirinya dulu yang menabrak beliau hingga meninggal juga maaf karena telah merusak anaknya hingga melahirkan anak diluar nikah. Bryan juga meminta restu akan pernikahannya dengan Freya selalu bahagia dan langgeng hingga maut memisahkan keduanya.


"Assalamualaikum Bapak Armand."


"Saya Abrisam Bryan Alvaro, suaminya putri Bapak, Freya."


"Saya datang kesini untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang telah saya perbuat di masa lalu."


"Dan saya kesini juga untuk meminta restu atas pernikahan saya dengan Freya."


"Tolong restui kami supaya keluarga kami selalu diberikan kebahagiaan dan kedamaian." ucap Bryan dalam hati dengan masih dalam posisi berdiri di dekat makam Bapak Armand.


Berbeda dengan Mama Marisa juga Anelis, keduanya terlihat menangis dalam diam. Entah apa yang keduanya rasakan saat ini, yang pasti ini adalah moment keduanya bertemu lagi dengan Bapak Armand yang sudah tiada setelah belasan tahun tidak mereka jumpai.


"Bisakah kalian tinggalkan Mama sebentar disini?" pinta Mama Marisa dengan suara lirih dan serak karena menangis tanpa menatap anak-anaknya.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan menunggu di gubuk itu." jawab Freya yang sudah selesai dengan doa juga curhatnya bersama mendiang Ayah kandungnya. Dia dengan menunjuk gubuk yang tidak jauh dari makam Bapak Armand.


"Kita tunggu di sana ya Ma." sahut Anelis yang juga sudah menumpahkan rasa rindunya pada sang Papa. Dia dengan mengusap bahu Mama Marisa sebelum pergi.


Mama Marisa hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun sampai kedua anaknya juga menantu dan cucunya pergi dari hadapannya.


"Ayah..Kita tunggu di mobil saja." pinta Maura yang saat ini tengah digandeng sama Ayah Bryan.


"Bunda kan nunggu Oma Mama disini. Kenapa kita tidak disini saja sama Bunda juga aunty Anelis?" Maura menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Ayah Bryan.


"Maura mau rebahan di mobil Ayah."


"Ayo Ayah temani Maura." rajuk Maura dengan menarik-narik tangan Ayahnya.


"Temani saja Mas, sebelum nanti Maura tambah menangis." saran Freya sebelum akhirnya Maura semakin merajuk dan menangis.


"Tapi aku tidak mau ninggalin kamu sendirian."


"Apalagi ini masih diarea makam dan kamu tengah hamil." Bryan begitu terlihat khawatir pada Freya, takut terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Kan Freya tidak sendirian disini, ada Kak Ane juga."


"Sudah, lebih baik Mas Bryan temani Maura saja."


Anelis hanya diam saja mendengar dan melihat interaksi adik juga mantan tunangannya itu. Begitu banyak perubahan yang Anelis lihat dari diri Bryan yang tidak sekaku dan sedingin dulu waktu mareka masih memiliki hubungan. "Sebucin itukah Bryan saat ini?" batin Anelis yang merasa Bryan sudah begitu bucin pada adiknya.


"Mama pasti sangat sedih setelah 25 tahun lamanya tidak bertemu Bapak dan sekarang Mama bertemu Bapak lagi yang sudah tinggal di alam yang berbeda." gumam Freya yang sudah duduk di sebelah Anelis setelah suami juga putrinya kembali ke terlebih dahulu ke parkiran. Dia menatap dimana Mama Marisa terlihat menangis sambil memeluk nisan Bapak Armand.


"Iya, apalagi Mama sampai detik ini masih begitu mencintai Papa."


"Begitu besar rasa cintanya sampai rela berkorban dan berpisah demi keselamatan putrinya." sahut Anelis yang ikut mengarahkan pandangannya pada sang Mama.


"Maafkan Freya, kak."


"Kalau seandainya Freya tidak lahir, mungkin Mama sama Bapak tidak akan terpisah."


"Dan Kak Ane bisa mendapatkan kasih sayang dari Bapak." ucap Freya yang merasa bersalah karena perpisahan kedua orang tuanya disebabkan oleh dirinya. Dimana kedua orang tuanya ingin menyelamatkan hidupnya.


Anelis tersenyum mendengar ucapan rasa bersalah dari adiknya itu. Diambilnya kedua tangan Freya yang ada dipangkuan Freya dan digenggamnya erat dengan kedua tangannya.


"Ini bukan salah kamu."


"Bukan kelahiran kamu yang membuat Mama sama Papa berpisah."

__ADS_1


"Tapi karena memang sebelumnya mereka dipaksa berpisah karena keluarga Papa yang tidak mau menerima Mama."


"Dan kelahiran kamu lah yang akhirnya dijadikan alasan Mama sama Papa untuk berpisah."


"Mama sama Papa ingin kamu tetap hidup."


"Makanya Mama meminta Papa membawa kamu karena waktu itu Mama mengira hanya keluarga Papa lah yang bisa menyelamatkan kamu."


"Tapi nyatanya, keluarga Papa justru membuat kamu juga Papa hidup menderita." ucap Anelis dengan mata yang memancarkan kebencian pada keluarga Papanya, Bapak Armand.


"Kami tidak menderita Kak, justru kami hidup tenang dan damai waktu itu."


"Bapak selalu mengajari Freya untuk hidup cukup, mensyukuri nikmat rezky yang Allah berikan. Entah itu bernilai kecil ataupun banyak, kita harus tetap bersyukur." ujar Freya apa adanya, dulu dia selalu diajari Bapak Armand untuk selalu bersyukur atas apapun yang Allah berikan atau ambil darinya.


"Aku iri sama kamu. Pasti Papa banyak memberi pelajaran berharga buat kamu hingga kamu bisa melewati ujian yang Allah berikan untuk kamu waktu mengandung dan membesarkan Maura." Anelis begitu iri dengan Freya yang bisa membesarkan anak seorang diri, berbeda dengan dirinya yang selalu mengeluh atas sakit yang diderita Michel waktu itu. Dia selalu menyalahkan Michel meski putranya itu tidak berbuat salah padanya. Hingga akhirnya ajal menjemput Michel dan itu sungguh membuat Anelis merasa kehilangan.


"Kak Ane tidak perlu iri pada Freya."


"Sejatinya Freya awalnya tidak sanggup menanggung malu waktu hamil Maura dulu."


"Banyak hal yang membuat Freya down, hingga akhirnya memilih meninggalkan kota ini." mata Freya menerawang jauh kejadian dimana dirinya pergi meninggalkan Kota S setelah kejadian yang menimpa dirinya juga Ibu Arini.


"Apa istri Papa yang merawat kamu itu baik sama kamu?" tanya Anelis penasaran. Karena tidak mungkin seorang istri sah mau menerima dan merawat anak dari selingkuhan suaminya yang ternyata istri sirinya, yang aslinya istri pertama namun tidak diakui oleh keluarganya Bapak Armand.


Anelis tahu karena semalam, setibanya di Kota S Mama Marisa membuka kenangan lamanya saat bersama Bapak Armand. Kenangan yang seperti kaset kusut yang begitu susah untuk diperbaiki. Apalagi sekarang lawannya sudah berada dialam yang berbeda semua.


"Ibu baik sama Freya. Bahkan Ibu lah waktu itu yang menguatkan Freya saat mengandung Maura." jawab Freya dengan tersenyum mengingat Ibu Arini yang begitu baik pada dirinya tanpa membedakan dirinya dengan Laras.


Anelis sungguh iri dengan Freya yang mendapat kasih sayang penuh dari Bapak Armand juga Ibu tirinya, Ibu Arini. Apalagi sekarang Freya begitu disayang dan dimanja oleh Bryan, mantan tunangannya dulu. Bahkan Bryan terlihat begitu mencintai Freya dan begitu mencemaskan adiknya itu.


"Apa aku bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang Freya rasakan saat ini?"


"Meski aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang utuh dari Mama juga Papa, apa boleh aku menginginkan suami yang akan memberi ku kebahagian penuh dengan rasa sayang dan cintanya?" batin Anelis yang mengharapkan kebahagian dalam hidupnya bersama pasangannya kelak.


"Maafkan aku Andre."


"Aku tidak bisa kembali lagi bersama kamu."


🍁🍁🍁


have an nice day


big hug

__ADS_1


__ADS_2