Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Menidurkan belut


__ADS_3

Tiga hari paska insiden dirinya yang terbangun dalam keadaan kacau, berantakan bahkan tanpa sehelai benangpun yang melekat ditubuhnya, hanya selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya, Mutia akhirnya menampakkan dirinya lagi di hadapan semua orang. Terutama Rendy, laki-laki yang sudah melihat seluruh tubuhnya, bahkan sudah mencicipinya.


Awalnya Mutia tidak ingin ikut menemani Maura ke Singapura selepas kejadian itu. Tapi mengingat Maura sendiri yang memintanya dan dia sendiri mengiyakan, akhirnya dia ikut juga meski sedikit telat. Bukan maksudnya dia telat, dia hanya tidak tahu kalau jadwal penerbangan dimajukan dan dia sudah dua hari ini tidak mengaktifkan ponselnya juga menenangkan diri di hotel untuk melupakan kejadian dirinya yang bangun tidur sudah ada di kamar Rendy yang berada di apartemen.


Dan untungnya dia bertemu dengan Evan saat menunggu taxi. Evan juga menawarkan diri untuk mengantarkan dirinya ke bandara dan memberi tahunya kalau jadwal penerbangan dimajukan.


"Darimana kamu tahu?" tanya Mutia yang Evan dengan lancarnya mengatakan kalau keberangkatan rombongan yang mengantarkan Maura akan terbang jam sembilan pagi.


"Dari Caca." jawab Evan dengan santainya dan fokus dengan kemudinya.


Mutia mengerutkan keningnya menatap Evan bingung bercampur penasaran.


"Kamu kenal Caca adiknya suaminya Freya?" tanya Mutia dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.


"Jangan bilang mahasiswa yang kamu bilang waktu itu Caca." tebak Mutia mengingat saat dirinya meminta tolong pada Evan untuk menjadi pacar pura-puranya namun Evan menolak karena sedang dekat dengan seorang mahasiswa.


"Hmm...." Evan berdehem dan menganggukkan kepalanya.


Mutia menggelengkan kepalanya dengan bertepuk tangan, "Hebat..Nggak dapat Freya sekarang justru berpacaran dengan iparnya Freya." Mutia salut akan keberanian Evan. Padahal Evan tahu kalau Bryan tidak menyukainya dan dia nekat berpacaran dengan Caca, adiknya Bryan.


Sesampai di bandara, Mutia sama sekali tidak melirik ataupun bertegur sapa dengan Rendy. Meski sebenarnya Mutia tahu kalau Rendy sedari tadi memperhatikannya, namun dia cuek saja dan seperti tidak mengenal Rendy.


Hingga saat sudah masuk pesawat Mutia tetap saja menggandeng Maura. Alasannya hanya satu, dia tidak ingin mengingat kejadian malam itu kalau tidak ada teman yang mengajaknya mengobrol. Apalagi saat ini ada Rendy, pasti pikirannya akan mengingat kejadian yang sungguh tidak pernah dia bayangkan sama sekali dalam hidupnya. Marah, malu, nikmat dan kecewa, itu yang Mutia rasakan malam itu.


"Maura sini!!! Katanya tadi mau duduk sama Aunty." Caca yang sudah duduk di dekat jendela memanggil Maura yang masih berdiri bersama Mutia.


Ini pengalaman pertama bagi Maura naik pesawat, dan Maura juga sudah diberi tahu sama Ayahnya untuk duduk bersama Aunty Caca atau Paman Rendy. Dan Maura lebih memilih duduk bersama Aunty Caca.


"Mama duduk sama Paman Robot saja ya."


"Maura tadi sudah janjian akan duduk sama Aunty Caca." kata Maura dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke Aunty Caca yang sudah duduk.


Mutia menatap sekeliling, dia bingung harus duduk dimana. Ini juga pengalaman pertamanya naik pesawat dan ini yang dia naiki adalah privat jet dan penumpangnya hanya mereka saja tidak ada yang lain.


"Cepat ambil duduk dimana pun yang kamu suka."


"Sebentar lagi pesawat akan take off." kata Rendy tegas dan terkesan dingin di telinga Mutia.


Rendy lantas mengambil duduk di bangku belakang Kevin yang duduk berseberangan dengan bangku yang diduduki Caca juga Maura.


"Permisi Nona!!" seorang pramugari mendekati Mutia yang masih berdiri dengan bingung


"Silahkan duduk dan pakai sabuk pengaman anda."


"Sebentar lagi pesawat akan take off." Mutia tersenyum kecut pada pramugari itu.


"I-iya..." ucap Mutia terbata.


Mutia melirik Rendy yang duduk sendiri juga Kevin yang duduk sendiri. Mutia melangkah mendekati bangku yang diduduki Kevin.


"Permisi!!"


"Apa saya boleh duduk disini?" tanya Mutia dengan sopan juga tersenyum dengan paksa.


Kevin menatap Mutia dan tas yang berisi buku disamping tempat duduknya bergantian. Kevin juga melihat masih ada bangku yang kosong.


"Maaf sebelumnya, Nona."


"Saya harus mengerjakan beberapa rumus untuk dipelajari Nona Maura."


"Jadi anda bisa duduk di bangku lainnya yang kosong." ujar Kevin yang memang tidak suka kalau bekerja ada yang mengganggunya, apalagi saat ini dia diamanati Bryan untuk membimbing dan mendampingi Maura.


"Cepat duduk kak!! Nanti Kak Mutia jatuh lagi saat sudah take off." kata Caca membuat Mutia ketakutan sendiri.


Mutia terpaksa duduk sendiri di belakang bangku yang Caca juga Maura duduki. Dia melirik Rendy yang terlihat duduk tenang sambil melihat keluar jendela.


Mutia memejamkan matanya sambil kedua tangannya memegang erat sandaran tangan saat pesawat sudah mulai take off.


"Aku belum mau mati."


"Aku belum mau mati."


Mutia mengucapkan itu berulang kali saat dia merasakan tubuhnya terdorong ke belakang.


Tangan Mutia yang tadi memegang erat sandaran tangan sontak beralih memegang dan menggenggam erat sebuah tangan yang tiba-tiba memegang tangannya.


Mutia membuka matanya saat pesawat mulai tenang terbang di atas awan. Dia melihat tangannya yang saling menggenggam dengan tangan seseorang. Mutia mengangkat kepalanya, melihat siapa yang menggenggam tangannya.


"Rendy." gumam Mutia dalam hatinya saat tahu yang menggenggam tangannya adalah Rendy. Matanya berkaca-kaca menatap wajah lelaki itu yang terlihat datar saja tanpa ekspresi dan tidak menatapnya sama sekali.


"Terima kasih." ucap Mutia lirih dan melepas genggaman tangan keduanya.


Mutia melihat ke arah luar jendela dengan kedua tangan saling bertautan. Pikirannya melayang kemana-mana.


"Jangan pergi!!" Mutia menahan tangan Rendy saat Rendy beranjak dari duduknya.


"Aku takut." Mutia menggigit bibir bawahnya. Dia benar-benat takut saat ini.


"Ini pengalaman pertama ku naik pesawat."


"Aku mohon, temani aku." pinta Mutia yang tidak berani menatap wajah Rendy. Dia terlalu malu, apalagi mengingat kejadian malam itu.


"Hm.." Rendy berdehem dan kembali duduk dengan tenang.

__ADS_1


"Terima kasih." ucap Mutia lagi dan melepaskan tangannya yang tadi menahan tangan Rendy, namun dengan cepat Rendy memegang kembali tangan Mutia dan ditautkannya dengan jari-jari tangannya.


"Jangan dilepas. Biarkan rasa takutmu berkurang." kata Rendy dan menautkan jari tangannya dengan jari tangan Mutia dengan erat.


Mutia menatap jari-jari tangan Rendy yang panjang dan lentik itu. Jari-jari yang malam itu menari dengan indahnya dan membuatnya melayang entah kemana.


"Jangan dilihat terus."


"Nanti kamu akan terbayang akan malam itu." Mutia memalingkan wajahnya saat Rendy tahu dirinya memperhatikan jari tangan Rendy.


"Dan akan sulit bagiku untuk bisa menahannya seperti kemarin." Mutia menggigit bibir bawahnya mendengar perkataan Rendy. Mutia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding


"Aku menerima perjodohan itu." ucap Mutia setelah keheningan melanda keduanya. Dia kemarin sudah bilang ke Paman juga Bibi nya kalau dia menerima perjodohan dengan Yudha.


Rendy menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum tipis.


"Kamu yakin?"


"Aku sudah mencicipi setiap jengkal tubuhmu dan kamu justru menerima perjodohan itu."


"Malang sekali nasib pria itu."


Mutia mencibir, dia tahu Rendy tengah mengejek Yudha yang mendapatkan bekas darinya. "Seenggaknya aku masih perawan." desis Mutia tertahan.


"Itu jauh lebih baik."


"Mau coba lagi?"


"Disini ada kamar pribadinya juga."


"Dan aku akan kembali membuatmu melayang."


"Benar-benar melayang di atas awan." bisik Rendy di telinga Mutia dan diberinya sedikit gigitan dicuping telinga itu.


"Bagaimana?" Rendy menyeringai sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Kau gila." desis Mutia.


"Aku memang gila Tia."


Mutia memejamkan matanya saat Rendy menciumnya. Lembut dan hangat itu yang Mutia rasakan dalam ciuman itu.


"Terima kasih kamu sudah mau menerima perjodohan itu." ucap Rendy setelah melepas ciuman mereka.


Rendy tersenyum melihat wajah Mutia yang nampak bingung. Diusapnya bibir Mutia yang basah karena ciuman tadi.


Mutia menggigit bibir bawahnya saat jari tangan Rendy berada dibibirnya. Bayangan malam itu muncul dengan sendirinya di otaknya.


FLASHBACK ON


Mutia yang saat itu tengah dalam pengaruh obat laknat menyambut ciuman Rendy dengan liar dan menggebu. Lidah keduanya saling membelit dan menghisap.


Mutia terus melenguh dalam ciuman panas itu saat tangan Rendy tiada hentinya meremas kedua bukit kembarnya membuat hawa panas ditubuhnya semakin meningkat.


Rendy melepas paksa ciuman itu saat telinganya mendengat suara sirine mobil polisi. "Sial!!" umpat Rendy saat dirinya juga sudah terbakar aliran listri bertegangan tinggi di tubuhnya.


"Ren..kenapa dilepas??"


"Cium aku lagi."


Rendy tidak memperdulikan rengekan Mutia, dia melajukan kendaraannya cepat menuju apartemennya yang letaknya jauh lebih dekat daripada ke apartemen Mutia.


Rendy menutupi tubuh Mutia dengan jas miliknya dan digendongnya menuju unit apartemennya. Rendy terus menggeram saat Mutia tiada hentinya mencium dan menghisap kulit lehernya.


"Kau begitu tampan dan wangi." Mutia memegang kedua pipi Rendy dan menatap Rendy dengan tatapan sayunya.


"Tia, hentikan!!! Ini masih di dalam lift." geram Rendy mengingat didalam lift terdapat kamera CCTV nya.


"Aku mau kamu, Rendy sayang." suara Mutia terdengar begitu merdu ditelinga Rendy saat Mutia memanggilnya 'Rendy sayang.'


"Habis kau, Tia." gumam Rendy setelah sampai ke unit apartemennya.


Rendy yang sudah tidak bisa menahan godaan di depan matanya kembali mencium bibir Mutia dengan penuh napsu. Rendy terus mencium bibir Mutia bergantian atas bawah dengan lidah saling membelit kuat dan dibawanya menuju kamar tanpa melepas tautan bibir mereka.


Eghhhh


Mutia melenguh ketika Rendy menciumi leher jenjangnya dan memberi tanda merah di setiap inci leher jenjang itu. Rendy semakin bersemangat saat mendengar lenguhan keluar dari mulut Mutia yang seperti melodi yang indah.


Suara lenguhan dan erangan memenuhi kamar apartemen yang berbau maskulin itu. Keduanya saat ini sudah dalam keadaan tanpa sehelai benangpun yang melekat ditubuh keduanya.


"Rendy!!!" tangan Mutia memegang kedua tangan Rendy yang tengah meremas kedua bukit kembarnya.


"Kenapa? Apa kamu sudah sadar?" tanya Rendy menatap lekat netra hanzel milik Mutia.


"Aku tidak tahu."


"Tapi aku ingin lebih dari ini."


"Bisa tolong bantu aku, Rend." pinta Mutia dengan tampang yang begitu sayu.


"Tapi aku tidak ingin merusak kamu." ucap Rendy.


"Tapi kamu sudah bermain dengan tubuh atasku."

__ADS_1


"Aku mohon tuntaskan, Rend."


"Bantu aku menuntaskan ini."


"Aku sudah tidak kuat, Rend." Mutia kembali meletakkan kedua tangan Rendy di atas kedua bukit kembarnya.


"Rend!!!!"


"Tidak Mutia." Rendy bangkit dari atas tubuh Mutia dan duduk disamping Mutia, membelakangi Mutia.


"Aku tidak mau menyakitimu."


"Aku juga tidak ingin kamu nantinya membenciku kalau aku sampai berbuat jauh pada dirimu." ujar Rendy yang tidak ingin menyesal dan semakin jauh hubungannya dengan Mutia.


"Kalau kamu tidak mau menyakitiku, kenapa kamu tadi menikmatinya." katanya Mutia yang sudah duduk dibelakang Rendy.


"Bahkan sekarang kamu juga sudah tidak memakai apapun." Mutia memeluk Rendy dari belakang.


Rendy memejamkan matanya saat merasakan kedua bukit kembar itu menempel dipunggungnya. Dan kedua tangan Mutia juga mengelus dada dan perut sixpack nya.


"Mutia stop!!" Rendy membuka matanya saat tangan Mutia hampir saja memegang belutnya yang masih bangun itu.


"Rend!! Ayo bantu aku."


"Aku sudah tidak tahan lagi."


Secepat kilat Mutia berpindah duduk di atas pangkuan Rendy dan mencium bibir Rendy. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Obat yang Alex berikan kepadanya membuatnya ingin menikmati sesuatu yang belum pernah dia rasakan.


Aghhh


Rendy melenguh saat belutnya bergesekan dengan goa milik Mutia. "Ini tidak bisa dibiarkan." batin Rendy. Otaknya masih warah, dia tidak ingin merusak Mutia, wanita yang di cintainya.


Eghhh


Mutia mendongak mengangkat kepalanya saat dia merasakan jari tangan Rendy bermain digoanya dan tangan lainnya meremas salah satu bukit kembarnya.


Jari-jari tangan Mutia meremas rambut kepala Rendy yang sudah terlihat acak-acakan. Mutia semakin melenguh saat tak hanya satu jari saja yang dimasukkan Rendy ke dalam goanya hingga dia merasakan sesuatu keluar dari mulut goanya.


Rendy merebahkan Mutia secara perlahan tanpa melepas jarinya itu dari mulut goa milik Mutia. Rendy menggerakkan jarinya lagi perlahan dan kembali mencium bibir Mutia.


Mutia menekan kepala Rendy yang tengah menghisap ujung bukit kembarnya bersamaan itu dia melenguh panjang karena merasakan kenikmatan untuk kedua kalinya.


Nafas Mutia terdengar memburu setelah pelapasan kedua. Dia menatap Rendy yang juga tengah menatapnya.


"Hanya itu yang bisa aku bantu."


"Kalau kamu masih ingin."


"Aku akan membawamu ke kamar mandi." kata Rendy sambil menyingkirkan rambut yang basah karena keringat dari wajah cantik Mutia.


"Kenapa? Kamu masih mau?" tanya Rendy yang melihat Mutia hanya diam saja menatapnya.


"Kenapa tidak kamu masukkan."


"Aku ingin sesuatu yang bisa membuat milikku puas."


"Aku minta, tolong masukkan milikmu." Rendy menggelengkan kepalanya mendengar permintaan Mutia.


"Itu tidak akan pernah aku lakukan." kata Rendy dengan tegas meski dirinya menahan sekuat tenaga hasratnya sendiri.


"Kenapa? Bukannya kamu menyukaiku?" Rendy terdiam mendengar pertanyaan Mutia. Dia memang menyukai Mutia bahkan dia mencintai dan ingin memiliki wanita dihadapannya saat ini, tapi bukan dengan cara seperti ini.


"Apa kamu yakin belum puas?" tanya Rendy dengan nada suara yang terdengar begitu rendah dan dingin.


Mutia mengangguk ragu. Dia sedikit takut melihat perubahan raut wajah Rendy. Tapi dia memang belum puas. "Alex sialan." umpat Mutia.


"Baiklah..Dan nikmati semuanya sampai engkau puas."


Rendy kembali memberi rangsangan pada setiap titik sensitif di tubuh Mutia. Rendy juga meraba-raba kembali goa milik Mutia dengan jari tangannya.


Ciuman Rendy semakin turun dan turun hingga sampai di perut Mutia. Dia mendongak menatap Mutia.


"Apa kamu siapa?" Mutia hanya mengangguk, dia sudah menginginkan lebih, dia sudah tidak tahan dengan pemanasan yang Rendy berikan kepadanya.


Rendy mengelus kedua paha mulus Mutia, dia turun dari ranjang dan menarik kaki Mutia hingga menjuntai. Dia berjongkok dengan bertumpu kedua lututnya. Ditekuk nya kedua kaki Mutia dan diletakkan di tepi ranjang, dibukanya lebar kedua paha Mutia. Rendy menyeringai, dia melirik Mutia sebelum akhirnya dia memainkan lidahnya di goa milik Mutia.


Mutia..Dia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, ini lebih nikmat dari yang pertama tadi. Rendy sungguh membuatnya puas dan melenguh berkali-kali juga sudah berkali-kali pelepasan juga. Mutia menikmati permainan Rendy yang terakhir hingga dia akhirnya lelah dan terlelap begitu saja tanpa memperdulikan Rendy masih menahan gejolaknya sedari tadi.


"Untung masih punya sabun batangan." gumam Rendy saat ingin menidurkan belutnya.


Dengan bantuan sabun dan membayangkan lekuk tubuh Mutia, Rendy sukses bersolo kari untuk menidurkan belut di dalam kamar mandi meski membutuhkan waktu lama.


FLASHBACK OFF


🍁🍁🍁


Kurang hot yaa 😄😄


Authornya takut tidak lulus review


Bayangin sendiri saja yaaa 🤭🤭🤭


Have a nice day

__ADS_1


Big hug 🤗🤗🤗


__ADS_2