
Bryan menggeliat dalam tidurnya saat tangan Maura mengenai wajahnya. Perlahan matanya terbuka dan menyingkirkan tangan Maura yang bertengger dengan pewenya di atas wajahnya.
"Cantiknya Ayah kalau tidur tidak bisa diam." dengan gemas Bryan mencium pipi Maura dan membenarkan posisi tidur Maura kemudian dia selimuti kembali tubuh Maura.
Bryan melihat sisi kiri Maura yang sudah kosong, ditatapnya sekeliling kamar dan melihat lampu di walk-in closet menyala. Bryan tersenyum dan segera turun dari ranjang. Bryan melangkahkan kakinya perlahan menuju walk-in closet dan melihat istrinya tengah memilihkan pakaian juga jam tangan yang nanti akan dia kenakan.
"Astagfirullahalazim!!" pekik Freya yang kaget saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
"Mas Bryan ihh...Jatuhkan jam tangannya." seru Freya saat melihat jam tangan yang baru saja dia ambil jatuh begitu saja ke lantai.
"Mana baru Freya buka dari boxnya lagi."
"Itu jam baru yang Mas Bryan beli minggu kemarin jatuh, mana belum pernah dipakai lagi." Freya mendelik menatap Bryan dari pantulan cermin kecil yang ada di atas meja penyimpanan jam tangan.
"Biarkan saja. Nanti kalau rusak beli yang baru saja."
"Kan yang lain masih banyak. Tinggal ambil saja." Bryan melihat Freya yang mendengkus kesal mendengar perkataannya.
"Mentang-mentang banyak uang. Apa-apa bisa dibeli pakai uang, termasuk hukum juga dibeli." gumam Freya dalam hati.
"Aku kira kamu tadi pergi. Aku bangun kamu sudah tidak ada di samping aku." Bryan mengendus leher Freya dan dikecupnya.
"Inginnya juga seperti itu." gumam Freya namun masih bisa didengar oleh Bryan meski samar dan kurang jelas.
"Apa sayang?"
"Kamu tadi bicara apa?"
"Kamu tadi ingin apa?" tanya Bryan dengan tangan yang tadinya di perut Freya semakin naik keatas.
"Mas Bryan ihhh..Tangannya itu loh bisa diam tidak!"
"Sudah ih lepas!! Sana mandi terus sholat."
"Hapus dosa-dosa Mas Bryan, terlalu banyak minta maaf pasti banyak dosa dan kesalahan yang sering Mas Bryan perbuat." Bryan terdiam mendengar ucapan Freya. Hatinya terasa tersentil dengan ucapan istrinya. Dia memang banyak melakukan kesalahan, teruma kepada istrinya dan keluarga istrinya. Bryan melepas pelukannya dari tubuh Freya dan memutar tubuh Freya menghadap dirinya.
Freya menatap Bryan yang terlihat diam itu. "Apa Mas Bryan barusan merasa tersindir akan ucapanku tadi." batin Freya dalam benaknya sedikit merasa bersalah pada suaminya.
"Terima kasih kamu selalu mengingatkan ku sayang."
"Terima kasih kamu masih berada disisi ku sampai saat ini."
"Terima kasih untuk semuanya." Bryan tersenyum tipis sambil mengusap lembut pipi Freya dan menyingkirkan anak rambut yang jatuh di pipi Freya.
Bryan mengambil kedua tangan Freya dan diciumnya lama. "Maafkan semua kesalahanku dan tetaplah berada disisi ku untuk selamanya."
"Memang Mas Bryan punya salah apa sama Freya?" tanya Freya berusaha tenang dan mencoba memancing Bryan supaya mengatakan dengan jujur masalah dan kesalahan yang telah diperbuatnya.
"Banyak banget..sampai aku sendiri bingung harus mulai dari mana."
"Karena kalau diceritakan bisa sampai berhari-hari."
"Dan panjangnya sepanjang sungai Nil." Freya mendengkus dan mendorong pelan dada Bryan. Dia mengambil jam tangan yang tadi terjatuh di lantai. Bukan itu jawaban yang dia inginkan.
Bryan terkekeh melihat Freya yang kesal padanya. Dia belum berani bercerita pada Freya tentang kesalahan apa yang telah dia perbuat. Bryan masih menunggu waktu, mungkin setelah Maura berangkat ke Singapura dan berarti hari ini atau mungkin besok Bryan akan menceritakan semua pada Freya, karena Maura hari ini akan berangkat ke Singapura.
"Ya ampun Mas Bryan!!!" pekik Freya saat melihat jam yang tadi dia jatuhkan tanpa sengaja itu tergores pinggirnya dan Freya tahu itu jam mahal.
"Lihat ini!!" Freya menunjukkan goresan kecil pada jam tangan itu.
Bryan mengambil dan melihatnya, dia tersenyum tipis.
"Cuma sedikit, tidak banyak."
"Nanti aku akan pesan lagi."
"Yang couple sama kamu sekalian."
"Kita belum punya jam tangan couple, punyanya baru cincin pernikahan yang couple."
Mata Freya membola, mulutnya menganga mendengar Bryan yang bicara dengan mudahnya akan beli lagi seperti membeli gelang tali dipasaran.
"Mas Bryan tahukan harga jam tangan merk Hybris Mechanica Grande Sonnerie?" tanya Freya dengan suara pelan sambil menunjuk jam tangan yang di pegang Bryan.
Bryan menggelengkan kepala, "Nggak tahu, kemarin Rendy yang pesankan."
"Ini tuh harganya 2,5 juta dolas AS dan kalau di rupiahkan itu mencapai Rp. 36 milyar lebih, Mas Bryan." Freya terlihat geram pada suaminya itu.
"Ini tuh bisa buat bangun rumah beserta interiornya, beli mobil, buka usaha dan masih ada sisa uangnya lagi."
__ADS_1
"Dan Mas Bryan dengan mudahnya bilang tidak apa nanti beli lagi."
"Itu namanya pemborosan, dan itu tidak baik."
"Lebih baik uangnya disumbangkan dan dikasih ke yang lebih membutuhkan."
"Daripada dihamburkan tidak jelas seperti itu."
"Sudah sana mandi, sholat, hapus itu semua dosa Mas Bryan." Freya mendorong Bryan masuk ke kamar mandi dan segera ditutupnya pintu kamar mandi itu supaya si manusia sombong itu tidak keluar lagi.
"Sayang!! Kamu nggak mau mandi bareng?" teriak Bryan dalam kamar mandi.
"Aku sudah mandi."
"Sana cepat, sudah mau jam lima."
Freya mengambil nafas dalam setelah tidak ada sahutan dari Bryan. Dipegang dan diputar-putarnya cincin pernikahannya. Freya bersandar di pintu kamar mandi dan memejamkan matanya sejenak.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Freya yang merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Ingin marah, tapi tidak bisa saat melihat Bryan yang begitu perhatian dan sayang pada dirinya. Ingin menerima semuanya dengan berbesar hati, tapi setiap melihat wajah Bryan bayangan Bapak yang berlumur darah muncul di depan matanya.
Freya menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Dia menghembuskan nafas pelan dan kembali menyiapkan keperluan Bryan yang belum selesai dia siapkan.
"Bunda!!!"
Freya menoleh saat mendengar suara serak Maura, dilihatnya Maura bersandar di pintu masuk walk-in closet dengan matanya yang masih terlihat berat untuk terbuka dan rambut yang acak-acakan.
"Maura lapar!!"
Freya terkekeh pelan dan mendekati putrinya itu yang baru bangun tidur namun langsung minta makan karena lapar.
"Memangnya semalam Maura mimpi apa kok bangun tidur langsung minta makan?" tanya Freya dan menggandeng Maura keluar dari walk-in closet menuju kamar Maura
"Maura mimpi main kejar-kejaran sama harimau milik Ayah." Freya mengerutkan keningnya mendengar cerita mimpi Maura. Ada-ada saja, pikirnya.
"Bunda!! Maura mau makan nasi goreng, sama udang krispi."
"Tapi Bunda yang masakin ya."
"Maura kangen masakannya Bunda." Maura memeluk Bundanya sambil berjalan menuju kamarnya.
"Ayo sekarang cuci muka dulu terus gosok gigi."
"Mandinya nanti saja." Freya keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaian yang nanti akan Maura pakai.
"Ayo Bunda kita masak." Maura sudah terlihat segar setelah keluar dari kamar mandi.
"Sini, ikat dulu rambutnya." Maura mendekat ke Bundanya dan Freya mengikat rambut Maura.
Ibu dan anak itu akhirnya menuju ke dapur dan membuat menu nasi goreng juga udang krispi request Maura.
Bryan yang sudah selesai dengan kegiatannya dikamar menuju kamar Maura. Dia pikir Freya juga Maura ada disana untuk bersiap, namun ternyata di kamar Maura tidak ada seorangpun.
"Kemana mereka?" Bryan keluar dari kamar Maura dan mencari istri dan anaknya.
"Sayang!! Maura!!" teriak Bryan yang mencari istri dan anaknya di lantai dua.
"Freya!!!"
Bughhh
Sebuah bantal sofa mendarat tepat di kepala Bryan. Bryan menoleh kebelakang melihat Mama Lea yang berdiri dengan tangan kirinya membawa secangkir kopi menatap tajam pada Bryan. Bryan mendengkus kesal melihat Mamanya itu yang dia yakini bantal yang mendarat di kepalanya tadi adalah ulah sang Mama.
"Kamu ini ya..Masih pagi sudah teriak-teriak."
"Memang ini hutan apa." geram Mama Lea yang mendengar suara teriakan Bryan di pagi hari.
"Itu...anak sama istri kamu di dapur sedang masak."
"Nggak usah teriak-teriak, macam di hutan saja."
"Berisik." Mama Lea lantas masuk kamar setelah tadi membuatkan kopi buat Papa Abri. Makanya dia tahu kalau Freya juga Maura ada di dapur.
Bryan segera turun dan melihat Freya di meja makan sedang menyuapi Maura makan.
"Tumben pagi-pagi Maura sudah makan."
"Maura kelaparan ya..Memangnya tadi habis ngapain?" Bryan mengambil duduk di samping Maura.
__ADS_1
"Iya Ayah, Maura lapar."
"Soalnya semalam Maura main kejar-kejaran sama Harimau punya Ayah. Aaaa..." Maura bersiap menerima suapan lagi dari sang Bunda.
"Udangnya juga Bunda!!" seru Maura saat didalam sendok itu tidak ada udang krispi nya.
"Ohh..Bunda lupa." Freya mengambil lagi dan kembali menyuapi Maura.
"Main kejar-kejaran sama Harimau?" Maura mengangguk karena mulutnya masih mengunyah.
"Bukannya Maura takut sama Harimau?" karena seingat Bryan, Maura takut sama kucing besar itu saat dia ajak main ke kandang Harimau.
Maura mengangguk, "Iya Ayah, tapi kan semalam hanya mimpi saja."
"Lagi Bunda." Maura terlihat benar-benar kelaparan, dia begitu lahap makan disuapi Bunda Freya.
"Ayah juga mau disuapi dong. Aaa..." Bryan membuka mulutnya meminta Freya juga menyuapi dirinya.
"Ayah nggak boleh ganggu Bunda."
"Ayah makan sendiri."
"Itu nasi gorengnya masih ada dan itu piringnya juga sudah ada."
"Ayah bisa ambil sendiri."
"Nggak boleh ganggu Bunda yang sedang menyuapi Maura."
"Hari ini Bunda milik Maura."
"Sana jauh-jauh." Maura mendorong tubuh Ayahnya supaya sedikit menjauh dari dirinya juga sang Bunda. Karena nanti dia sudah berangkat ke Singapura tanpa sang Bunda. Makanya Maura ingin bermanja dulu sama sang Bunda sebelum dia berangkat nanti.
Freya hanya tersenyum saja melihat Maura yang ingin bermanja pada dirinya. Dia sebenarnya juga tidak tega membiarkan putrinya pergi jauh dari dirinya walau sudah ada yang menemani dan menjaga Maura. Tapi mau bagaimana lagi, dokter masih belum mengizinkan dirinya untuk berpergian jauh, apalagi harus naik pesawat. Dirinya belum diizinkan sebelum usia kandungannya menginjak 4 sampai 5 bulan keatas.
"Iya Rend.."
Freya melirik Bryan dan mencuri dengar pembicaraan Bryan yang sedang menerima panggilan telephone dari Rendy.
"Baiklah..Kami akan bersiap sekarang dan jangan lupa kasih tahu Mutia juga Kevin sekalian."
"Kenapa Mas?" tanya Freya yang tidak begitu mendengar suara Rendy di telephone.
"Jadwal keberangkatannya dimajukan."
"Ada sedikit trouble di bandara, dan pilotnya minta dimajukan keberangkatannya daripada diundur."
"Kita bersiap, jam 9 pesawatnya sudah take off."
"Apa keperluan Maura sudah siap semua?" Freya mengangguk, memang dia sendiri yang menyiapkan semua keperluan Maura dan itu sudah jadi kebiasaan Freya sejak Maura lahir.
"Lanjutkan makannya, pelan-pelan saja nggak usah buru-buru."
"Baru jam 6 lewat sedikit." ucap Bryan dan memanggil Surti untuk membangunkan Caca untuk segera bersiap karena jadwal penerbangannya dimajukan.
Tepat pukul tujuh lewat duapuluh menit, Maura juga Caca sudah siap dan bersiap berangkat ke bandara. Bahkan Mama Marisa juga Anelis datang pagi-pagi untuk mengantar keberangkatan Maura diantar Andre.
"Cicit grandma yang cantik dan pintar..baik-baik disana."
"Nanti kalau Mora sudah kembali dari sana, grandma akan memberi hadiah buat Mora."
"Grandma tidak peduli Mora menang atau kalah, grandma akan tetap memberi Mora hadiah."
"Selamat berjuang cicit grandma yang cantik." Oma Ami mencium dan memeluk Maura yang dipanggilnya Mora.
"Makasih grandma." Maura membalas mencium Oma Ami.
Semuanya memberi semangat kepada Maura bahkan hampir semuanya akan memberikan Maura hadiah nantinya setelah Maura kembali dari kompetisi.
"Dadah semuanya!!"
"Assalamualaikum." pamit Maura sebelum mobil yang membawanya melaju meninggalkan rumah mewah tiga lantai yang memiliki halaman luas layaknya sebuah taman kota.
"Marisa!! Anelis!! Ada yang ingin kami bicarakan pada kalian."
Mama Marisa juga Anelis saling pandang dan menatap bingung pada Papa Abri. Apa kira-kira yang akan Papa Abri bicarakan pada meraka. Setahu Anelis, Tuan Abrisam itu tidak menyukai dirinya sampai detik ini. Dan kenapa sekarang beliau ingin berbicara dengannya juga. Kenapa tidak dengan Mama Marisa saja.
🍁🍁🍁
have a nice day
__ADS_1
big hug 🤗🤗🤗