Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Apa kamu bersedia Freya?


__ADS_3

Bryan POV


Aku begitu khawatir saat Freya menelepon ku dalam keadaan menangis berbicara mengenai kondisi Maura. Dia memintaku untuk segera kembali ke rumah sakit.


Aku melangkahkan kaki ku cepat untuk sampai ke ruangan rawat Maura. Ku lihat Freya yang duduk menangis sendirian di kursi tunggu.


Aku semakin cemas dan khawatir saat Freya yang menangis sesenggukan saat memelukku. Pikiran ku selalu terbayang akan kondisi putriku, Maura.


Apa dia baik-baik saja?


Apa kondisi Maura semakin memburuk?


Aku bahkan belum memberinya kasih sayang sepenuhnya sebagai seorang Ayah. Jangan pisahkan kami dulu ya Allah.


Disaat aku menenangkan Freya, suster keluar dan minta kami masuk ke ruang rawat Maura karena Dokter Gery ingin berbicara.


Aku langsung menanyakan bagaimana kondisi Maura saat ini, namun hanya senyuman yang Dokter Gery berikan.


"Bunda!!"


Hatiku begitu membuncah bahagia saat mendengar suara lirih dari anak kecil yang beberapa hari ini sangat aku rindukan kecerewetannya yang begitu menggemaskan di mataku. Putri ku sudah sadar, batinku yang begitu bahagia saat melihat Maura sudah membuka matanya.


"Sayang, ini Ayah." aku mendekat dan menggenggam tangannya erat. Aku tersenyum bahagia menatap wajah putriku yang masih terlihat pucat itu.


Namun senyum bahagia yang menghiasi wajahku perlahan sirna saat putri ku sendiri tidak mengenaliku dan memanggilku 'Paman'.


Sakit, itu yang aku rasakan saat Maura tidak mengenaliku. Rasanya seperti tertusuk ribuan anak panah yang tepat menghunus mengenai hati ku.


Dan ternyata Maura saat ini mengalami amnesia retrograde, kehilangan ingatan yang baru saja dialaminya dan hanya mengingat ingatan lamanya. Dan aku tidak ada di ingatan lama putriku sendiri. Kenapa baru sekarang aku menemukan mereka. Sesal itu yang aku rasakan saat ini selain sakit karena putriku tidak mengenaliku.


Ku tatap nanar wajah pucat Maura. Baru sekitar seminggu aku mengetahui kalau dia adalah anakku. Belum juga aku memberikan kasih sayangku sebagai seorang Ayah. Kini putriku sendiri tidak mengenali ku karena kecelakaan jatuh dari tangga yang menimpa Maura.


Aku hanya diam saja meratapi nasibku yang tidak dikenal sama anakku sendiri. Anak yang baru ku ketahui seminggu yang lalu.


Ingin rasanya aku memeluk dan menenangkan Maura saat dia merengek pada Bundanya karena merasakan sakit di bekas luka jahitan bekas operasinya kemarin. Aku benar tidak tega melihat putri ku yang kesakitan seperti itu.


Aku begitu senang saat dia sudah mulai tenang dan menanyakan kembali siapa aku kepada Bundanya. Aku mendengar Freya yang terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan dari Maura. Namun akhirnya Freya bilang kalau aku Ayah dari Maura.


Maura menatapku disaat aku juga sedang menatapnya. Netra biru yang kami miliki saling bertatap lama. Aku tersenyum saat melihat Maura yang tidak berkedip menatapku.


Aku mendekat dan mengusap pipi Maura lembut, namun gerakanku langsung berhenti mematung saat lagi-lagi Maura tidak menanggapi ku sebagai Ayah dan justru menanyakan orang lain.


Aku yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit dihatiku karena tak dikenali anakku sendiri akhirnya memilih pergi dari sana untuk menenangkan diri.


Duduk di roof top seorang diri dengan terpaan angin yang begitu kencang juga cuaca yang sangat terik. Begitu banyak pertanyaan yang aku pikirkan di dalam benakku.


Apa nanti Freya bakal membawa Maura pergi lagi dari kehidupan ku?

__ADS_1


Apa Maura nantinya benar-benar melupakan ku atau kembali mengingat ku?


Apa yang akan Mama lakukan kalau dia tahu Maura hilang ingatan dan tidak mengenali ku sebagai Ayahnya?


Apapun yang akan Mama lakukan nantinya aku akan menjaga Freya dan Maura. Aku tak peduli kalau harus melawan Mama ku sendiri. Aku hanya ingin menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.


Selain itu aku juga sudah jatuh hati pada Freya dan ingin memilikinya seutuhnya.Apapun akan aku lakukan demi mereka walau harus melawan Mama kandungku sendiri. Aku tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali.


Aku harus mencari pengawal untuk menjaga mereka supaya tidak pergi jauh dariku juga supaya mereka aman dari orang yang ingin berbuat jahat.


Drrrtttt


Dengan malas aku mengambil handpone yang ada di saku kemaja dan melihat siapa yang menelepon. 'Papa'


"Kamu dimana sekarang? Papa tunggu di kamar rawat Maura."


Papa sudah tahu dan pasti Rendy yang memberitahu kabar ini sama Papa.


Aku segera kembali ke ruang rawat Maura takut kalau ada Mama juga dan membuat ulah lagi nantinya.


Author Pov.


Bryan masuk ke kamar rawat Maura dan benar saja, Mama Lea juga ada di sana duduk dengan angkuhnya di sofa bersama Papa juga Freya.


Bryan melirik Maura yang ternyata sedang tidur. Bryan duduk berhadapan dengan Freya yang sedari tadi diam dengan wajah menunduk dan jari kedua tangan saling bertautan.


"Kenapa Freya harus menunjukkan sisi lemahnya sekarang? Seharusnya dia menunjukkan sikap tenangnya saat ini." batin Bryan geram melihat Freya yang tidak mau menuruti omongannya.


"Papa senang saat Rendy memberi kabar kalau Maura sudah sadar dan kondisinya membaik." kata Papa Abri menatap Maura penuh dengan rasa bahagia.


"Tapi Papa juga begitu syok saat Gery memberi tahu kalau Maura kehilangan ingatannya walau hanya untuk sementara." sambung Papa Abri.


"Bryan, Freya-" Papa Abri menatap Bryan dan Freya bergantian, "-ada yang ingin Papa bicarakan pada kalian berdua." Papa Abri menatap Freya yang kini sudah mengangkat kepalanya.


"Freya, selepas apa yang terjadi dengan Maura dan juga kamu dengan Bryan di masa lalu."


"Saya sebagai orang tua Bryan, Papa dari Bryan ingin minta maaf sama kamu atas apa yang Bryan lakukan pada mu waktu itu." Freya hanya diam mendengar apa yang Papa Abri bicarakan. Dia sudah memaafkan, tapi untuk melupakan itu semua Freya tidak bisa. Karena itu sudah begitu membekas dihatinya.


"Saya, Abrisam Brata Yuda ingin melamar kamu untuk anak saya yang bernama Abrisam Bryan Alvaro sebagai suami kamu juga ayah untuk Maura."


Semua menatap Papa Abri dengan pikirannya masing-masing, mereka bertiga, Bryan , Freya juga Mama Lea begitu terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari mulut pria paruh baya yang masih terlihat berwibawa dalam pembawaannya dan juga tegas.


"Papa apa-apain sih. Bryan itu hanya akan menikah dengan Manda tidak dengan yang lainnya." protes Mama Lea tanpa rasa takut sama sekali mendapat tatapan tajam dari Papa Abri juga Bryan.


"Lagian Maura juga hilang ingatan dan tidak mengingat siapa kita. Jadi biarkan saja mereka pergi dari kehidupan keluarga Abrisam." sambung Mama Lea menatap Freya sinis. Dia tadi begitu senang mengetahui kalau Maura hilang ingatan dan berarti Freya sama Maura akan pergi dari kehidupan Bryan. Tapi apa? suaminya justru melamar Freya untuk Bryan sebagai rasa bertanggung jawabnya.


"Kenapa tidak ambil saja Maura dan biarkan wanita itu pergi jauh dari kehidupan kita." kata Mama Lea tanpa perasaan.

__ADS_1


Freya mengangkat kepalanya menatap tak percaya apa yang baru saja keluar dari mulut Mama Lea. Dengan mudahnya dia meminta Maura dari tangan Freya yang sudah menanggung malu selama kehamilan, bahkan sampai sekarang pun mereka yang dulu tahu tentang kehidupan Freya pun masih saja menghina dan mencaci maki dirinya.


"Jaga omongan Mama." bentak Bryan yang kesal bercampur marah pada Mamanya itu. Nafasnya memburu menatap tajam Mama Lea.


"Bagaimana perasaan Mama berada di posisi Freya kalau anak Mama diambil keluarga Papa dan meminta Mama untuk pergi menjauh." kata Bryan dengan nada rendah begitu dingin.


"Papa akan tetap menikahkan mereka tanpa restu dari Mama." Papa Abri menatap tajam istrinya itu.


"Papa ingin Bryan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab akan perbuatannya." Papa Abri melirik Bryan yang diam menatap lurus kedepan memandang Freya.


"Dan Papa tak akan segan menjalankan rencana Papa kalau Mama terus saja meminta Bryan menikah dengan anak dari keturuan Hertanto." Papa Abri kembali memberikan ancaman kepada istrinya yang langsung membungkam mulut istrinya itu. Karena Papa Abri tahu istrinya tidak bisa hidup tanpa uang dan fasilitas yang sekarang dia miliki.


Apalagi kalau harus dikirim di sebuah pulau terpencil. Big No. Mama Lea pernah merasakannya walau hanya seminggu. Dulu Mama Lea pernah dihukum suaminya saat Bryan stress dan hampir bunuh diri karena dia pergi, karena ulah Mama Lea juga.


"Apa kamu bersedia Freya?" tanya Papa Abri pada Freya.


Freya menatap Papa Abri sejenak kemudian menatap Bryan dan Maura bergantian.


"Untuk saat ini saya belum siap Tuan. Saya ingin melihat Maura sembuh terlebih dahulu dari paska kecelakaannya kemarin." ucap Freya berusaha tenang walau hatinya begitu sakit mendengar perkataan Mama Lea. Karena prioritasnya saat ini adalah kesembuhan putrinya. Freya belum memikirkan ke arah sana.


Papa Abri juga Bryan terlihat kecewa dengan jawaban yang Freya berikan,namun tidak dengan Mama Lea, berarti dia masih bisa mendekatkan Manda dengan Bryan.


"Baiklah tidak apa-apa. Soal Maura kamu tenang saja."


"Saya sudah meminta Dokter terbaik disini untuk menangani cucu saya." ujar Papa Abri.


Freya mengangguk, "Terima kasih Tuan, anda sudah begitu perhatian terhadap Maura." ucap Freya sopan.


Papa Abri menyunggingkan senyumnya, "Maura cucu saya, dan itu sudah menjadi tugas saya sebagai seorang kakek untuk memberikan yang terbaik untuk cucunya selain kedua orang taunya tentunya." Kata Papa Abri.


Freya membenarkan perkataan Papa Abri, dan dia sebagai Ibu dari Maura tidak bisa memberikan apa-apa disaat kondisi Maura seperti sekarang. Yang mampu dia berikan hanya doa kepada sang Khaliq untuk kesembuhan Maura.


"Baiklah, Papa pulang dulu." Papa Abri berdiri dari duduknya diikuti Mama Lea juga Freya.


"Pikirkan baik-baik apa yang saya minta tadi." kata Papa Abri sebelum pergi.


Freya tersenyum kecut menanggapi perkataan Papa Abri. Dia menutup pintu dan terkejut saat Bryan sudah ada di belakangnya.


"Aku ingin berbicara."


🍁🍁🍁


Assalamualaikum kakak-kakak reader yang masih setia menantikan kelanjutan cerita Maura juga Bunda Freya dan Ayah Bryan.


Maaf ya sekarang sudah mulai sibuk dengan pekerjaan, jadi hanya bisa up nya satu bab saja sehari. Tapi Insha Allah akan selalu up tiap hari meski hanya satu bab.


Terima kasih buat reader semua, beri like vote dan dukungan buat author supaya lebih semangat lagi menghalunya.

__ADS_1


Have a nice day


😘😘😘


__ADS_2