Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Abrisam Bucin Alvaro


__ADS_3

"Mama!!"


Bryan mengerutkan keningnya saat samar-samar dia mendengar suara Freya yang begitu lirih memanggil "Mama". Mama yang mana, pikir Bryan yang tiba-tiba otaknya ngeblank. Karena di sana ada Mama Lea juga Mama Marisa. Dan siapa yang dipanggil Freya tadi, Bryan tidak tahu.


Apalagi Freya yang tadinya menariknya buru-buru pergi dari sana karena tidak ingin terlalu lama melihat Marisa juga Anelis justru menghentikan langkah mereka secara tiba-tiba saat mendengar nama "Reya" dipanggil.


"Siapa Reya?" batin Bryan penasaran karena nama itu mampu membuat Freya langsung menghentikan langkahnya bahkan menangis.


Bryan semakin merasakan genggaman tangan Freya pada tangannya semakin erat saat nama "Reya" kembali dipanggil untuk kedua kalinya dari suara yang sama.


"Freya!!! Reya!!!" Bryan mengulang nama itu di dalam benaknya.


Bryan menoleh ke belakang melihat Marisa dengan tatapan penuh kerinduan memandang Freya yang ada dihadapannya dengan posisinya membelakanginya.


"Apa Bibi Marisa tadi memanggil Freya?" batin Bryan karena suara tadi benar adanya suara Marisa.


Freya semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Bryan. Dia memejamkan matanya ketika nama "Reya" kembali dipanggil dari orang yang sama. Dia yakin kalau itu suara Marisa, Mama kandungnya.


Bayangan wajah Bapak terlihat begitu jelas di matanya. Beliau tersenyum dan mengangguk, meminta Freya untuk memutar tubuh ke belakang untuk memeluk Mamanya dengan gerakan tangan tanpa berbicara apapun. Dan bayangan itu semakin memudar dengan tatapan sedih saat Freya menggelengkan kepalanya menolak permintaan Bapaknya.


"Freya!! Kamu tidak apa?" tanya Bryan saat Freya memegang kepalanya sambil menggeleng pelan. Terlihat kalau saat ini kepalan Freya terasa pening.


"Mau pulang sekarang?" tawar Bryan. Dia tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada istrinya itu.


Freya mengangguk pelan, dia ingin menenangkan diri dulu sebentar sebelum akhirnya menerima mereka sebagai keluarga. Iya...dia masih memiliki Mama dan Kakak.


Bryan lantas membawa Freya pergi dari area pemakaman. Digenggamnya terus tangan istrinya itu selama perjalanan kembali ke rumah. Freya hanya bersandar di bahu Bryan dalam diam dengan mata terpejam. Dia hanya ingin melupakan kejadian yang baru saja terjadi di pemakaman dan Bryan membiarkan itu selama Freya tidak menangis.


"Sayang, kamu masuk sendiri tidak apa kan?" tanya Bryan sesaat setelah mobil berhenti tepat di depan teras rumah.


"Memang Mas Bryan mau kemana?" tanya Freya balik menatap curiga suaminya. Karena mengingat Rendy tadi yang menemui Bryan dalam keadaan panik. Dan dia tidak ingin suaminya itu melakukan sesuatu yang membahayakan tubuhnya.


"Aku ada kerjaan sebentar di kantor."


"Ada masalah."


"Kasihan Rendy tadi kebingungan tidak bisa menyelesaikannya."


"Apalagi urusan kantor tanggung jawab ku."


"Rendy hanya membantu sebisanya."


"Kalau ada masalah, aku juga harus ikut turun tangan." kata Bryan dengan setenang mungkin dan sebisa mungkin membuat Freya percaya. Dia tidak ingin membuat Freya mencurigainya, apalagi mencemaskan dirinya.


Freya menatap manik biru Bryan sebentar sebelum akhirnya mengangguk mengizinkan Bryan pergi ke kantor walau waktu sudah menunjukkan hampir sore.


"Hati-hati dan jangan pulang larut malam."


"Aku nanti tidak bisa memeluk Mas Bryan untuk meredam mual dan muntah ku." ucap Freya dengan wajah sedikit tertekuk mengingat selama di rumah sakit dan di rumah kemarin, selama dia merasakan mual dan muntah pasti akan mencari Bryan dan memeluk tubuh tegap suaminya dan menghirup wangi tubuh suaminya yang belum mandi. Menurut Freya, bau tubuh Bryan yang belum mandi itu begitu wangi dan alami dan dia sangat menyukainya. Apalagi bisa membuat mual dan muntahnya sedikit berkurang.


Bryan terkekeh pelan mendengar ucapan Freya. Dia jadi ingat kalau dia dilarang mandi sama Freya kalau sudah sore atau malam. Dia boleh mandi kalau Freya sudah tidak mual dan muntah lagi atau sudah tidur.


Bryan mengacak rambut Freya pelan dan dibawanya tubuh Freya ke pelukannya sebentar dan tidak lupa meninggalkan kecupan di puncak kepala Freya dengan lembut.


"Aku akan hati-hati dan aku usahakan sebelum maghrib sudah ada di rumah." Cup. Bryan mengecup sekilas bibir Freya sebelum istrinya itu turun dari mobil.


Freya melambaikan tangannya sambil tersenyum membalas hal yang sama seperti apa yang suaminya lakukan padanya. Freya segera masuk kedalam untuk melupakan kejadian tadi saat di pemakaman. Apalagi Maura langsung merajuk saat melihat Bundanya baru saja pulang.


"Kenapa Bunda baru pulang?"


"Maura kan di rumah sendirian nggak ada temannya." keluh Maura dengan wajah cemberut sambil memeluk boneka teddy bear dengan erat mojok di sudut sofa.


Freya mendudukkan tubuhnya di samping Maura.


"Maaf ya sayang!!"


"Perjalanannya kan jauh, jadi lama." Freya mengelus kepala Maura dengan pelan.


"Bukannya Maura tadi ditemani Aunty Caca?" Freya mengingat Caca yang ada di rumah dan di minta Bryan untuk menemani Maura.


Maura mengangguk mengiyakan. Dia memang ditemani Caca dari tadi. Tapi Caca sibuk sendiri dengan handphone nya tanpa memperdulikan Maura yang ingin mengajaknya main. Kalau Maura belajar terus, dia akan terasa pusing dan bisa-bisa dia nanti tidak akan ikut kompetisi matematika di Singapura.


"Terus sekarang dimana Aunty Caca nya?"


"Kenapa Maura sendirian duduk disini?"


"Kenapa juga wajahnya cemberut seperti ini? hemm..." direngkuhnya tubuh mungil Maura dan diciuminya wajah Maura hingga membuat Maura mau tidak mau harus tersenyum karena merasa geli juga merasa Bundanya begitu sayang pada dirinya.


"Stop Bunda!!! Maura geli!!!" teriak Maura sambil tertawa karena wajahnya diciumi tanpa henti sama sang Bunda.

__ADS_1


"Ampun Bunda!!!"


Freya akhirnya menghentikan kegiatannya yang paling dia sukai sejak Maura lahir dan menemani hari-harinya. Yaitu, mencium, menjembel ataupun menoel pipi Maura.


"Ayah mana, Bunda? Terus Oma sama Opa mana?" tanya Maura yang tidak melihat Ayah dan juga Oma sama Opanya.


"Ayah tadi langsung pergi ke kantor terus Oma sama Opa masih di sana."


"Sudah yuk temani Bunda ke kamar."


"Daripada Maura sendirian saja disini." Freya berdiri dan mengulurkan tangannya pada putri kecilnya.


"Ayo Bunda!!!" dengan semangat Maura menerima uluran tangan Freya.


**********


Mobil yang ditumpangi Bryan berhenti di sebuah bangunan lama yang masih terawat dengan apik. Bryan membenarkan dasi juga jam tangannya sebelum akhirnya dia turun dari mobil setelah pintu dibukakan oleh pengawal. Bryan mengancingkan kembali jasnya dan berjalan memasuki bangunan lawas itu diikuti beberapa pengawal yang datang bersama dirinya.


Aura dingin dan mencekam begitu terasa saat Bryan masuk ke markas khusus yang ada di bawah tanah di dalam bangunan lawas tersebut. Beberapa anak buah Rendy juga Papa Abri yang ada di lorong markas menunduk saat Bryan berjalan melewati mereka.


"Selamat datang, Tuan." Rendy sedikit menundukkan kepalanya saat Bryan masuk ke ruangan yang tercium bau anyir darah yang sangat menyengat.


"Bagaimana?" tanya Bryan.


Bryan menatap dua wanita yang tampak kacau dan menyedihkan itu dengan tatapan dingin dan tajam. Dia melirik Bara yang juga ada di sana yang terlihat syok, dan terkejut mungkin.


"Apa kamu juga termasuk komplotan mereka, Bara?" tanya Bryan dengan nada rendah namun begitu mengintimidasi.


"Atau kamu otak dibalik semua ini." tatapan Bryan begitu tajam dan dingin membuat Bara tak mampu menelan salivanya dengan cepat.


Bryan semakin mendekat ke Bara yang hanya diam di tempat itu. "Kenapa??" Bryan benarkan kerah kemeja Bara dan menepuk bahu Bara pelan. Bryan menyeringai mendapati wajah Bara yang tiba-tiba pucat.


"Dia dalangnya Bryan. Dia yang merencanakan ini semua."


Bryan menoleh perlahan dan matanya yang tajam dengan wajah dingin itu menatap wanita yang baru saja mengeluarkan suaranya.


"Percaya padaku Bryan. Dia dan istrinya yang meminta ku melakukan itu semua." imbuh wanita itu.


Sedangkan wanita yang ada di sebelahnya yang tidak kalau kacau dan menyedihkan penampilannya melotot tidak terima dengan apa yang dikatakan lintah di sebelahnya.


"Jangan asal kamu kalau bicara." geramnya.


"Ckk..!! Jawab Bara!"


"B-bukan Tuan. Saya tidak tahu sama sekali."


"Saya sudah pisah dengan Shelin seminggu setelah pernikahan anda dengan Nona Freya."


Bryan memicingkan matanya menatap Bara. Dia tidak tahu sama sekali tentang kabar perpisahan Bara dengan Shelin dan padahal dia sendiri juga tidak mau tahu karena itu bukan urusannya.


Rendy hanya menaik turunkan kedua bahunya tanda dia juga tidak tahu saat Bryan meliriknya. Karena dia juga tidak mengurusi kehidupan Bara.


"Kalau anda tidak percaya, anda bisa mengecek handphone juga laptop saya."


"Saya juga siap kalau anda akan membunuh saya." ucap Bara yang terdengar tenang meski sebenarnya hatinya bergemuruh ketakutan.


Bryan melirik Rendy yang memberi kode aman kalau Bara tidak melakukan kesalahan apapun ataupun menghianati dirinya.


"Saya tidak akan membunuhmu sebelum kamu sendiri yang memberi hukuman pada istri mu it_."


"Dia sudah bukan istri saya lagi." sargah Bara cepat tanpa memperdulikan tatapan tak suka dari Bryan yang beraninya memotong perkataannya.


"Saya tidak peduli itu." Bryan menatap tajam pada Bara memperingatkan Bara kalau apa yang dikatakannya itu adalah benar dan perintah yang tidak boleh di tolak.


"Beri hukuman istrimu sesuai yang kau inginkan."


"Setelah kau puas segera lempar dia ke penangkaran buaya."


Shelin yang meringkung dilantai yang begitu dingin dengan tangan dan kaki diikat mendadak memucat seketika, keringat sebesar butiran jagung keluar membasahi dahi dan pelipisnya saat mendengar apa yang Bryan katakan barusan.


"Aku bukan ayam. Aku Shelin. Aku wanita paling cantik dan sek si di muka bumi ini."


"Enak saja mau melempar aku begitu saja ke penangkaran buaya."


"Kenapa bukan Manda saja yang di lempar ke penangkaran buaya."


"Karena Manda selama ini yang melakukan kejahatan bukan aku " teriak Shelin yang beringsut mundur karena takut dijadikan santapan oleh buaya.


"Hai wanita jadi-jadian.!!!"

__ADS_1


"Kau ya yang menjadi dalang semua ini."


"Dan semua ini terjadi karena ide konyol mu." balas Manda dengan berteriak karena tak mau disalahkan. Dia juga tidak mau jadi santapan buaya.


Bryan yang jengah dan kupingnya mulai terasa panas mendengar teriakan dua wanita yang sebentar lagi menjemput ajal mereka akhirnya mengambil sesuatu dari balik punggungnya.


Dorrr


Manda dan juga Shelin sontak mengatupkan mulutnya rapat-rapat dengan keringat bercucuran saat tembakan yang baru saja Bryan lepaskan tepat berada diantara mereka yang tengah beradu mulut.


"Itu baru peringatan buat kalian berdua."


"Aku tidak akan membunuh kalian."


"Tapi mereka lah yang akan membunuh kalian dan melempar kalian berdua ke penangkaran buaya."


Manda juga Shelin melihat beberapa pengawal yang berdiri di sisi kanan dan kiri mereka yang tadi Bryan tunjuk. Mereka berdua menelan saliva susah payah melihat pria bertato, bertindik, badan besar dan terdapat beberapa bekas luka di wajah maupun tubuh mereka.


"Manda biar saya saja mengurusnya."


Bryan dan juga Rendy dan yang lainnya melihat ke arah pintu saat ada orang secara lantang dan terang-terangan menawarkan diri untuk menghabisi Manda.


"Andre." gumam Bryan yang heran kenapa Andre bisa tahu tempat ini. Kemudia dia menyeringai menatap sepupunya yang berjalan ke arahnya.


"Pasti Papa yang memberi tahu Andre." batin Bryan.


"Bagaimana Tuan Muda Abrisam?"


"Apa boleh saya yang mengurus wanita yang hidupnya penuh tipu muslihat itu." Andre menatap tajam pada sosok Manda. Wanita yang menurutnya selalu melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan kepuadan. Dan Andre sudah mengenalnya dari dulu siapa sosok Manda sebenarnya.


"Dengan senang hati aku serahkan dia untukmu."


"Dan ingat!!!"


"Buayanya sudah tidak aku beri makan."


"Kalau kamu mau melempar dia,aku akan berterima kasih pada mu karena membuat mereka kenyang."


"Dan aku harap kau melemparnya ke penangkaran buaya."


Andre mengangguk paham dengan apa yang Bryan katakan. Dia hanya ingin menghabisi nyawa Manda yang telah berani merencanakan pembunuhan pada anaknya yang baru saja dia lihat. Bahkan dia belum melihat warna mata anaknya, senyuman anaknya juga pelukan dari anaknya. Namun takdir berkata lain, anaknya sudah pergi terlebih dahulu untuk selamanya.


"Baguslah kalau seperti itu." Bryan menepuk pundak Andre pelan. Dia tahu Andre pasti marah saat tahu Manda lah yang jadi dalang meninggalnya Michel, anaknya.


"Dan kau Bara."


"Lakukan seperti yang Andre lakukan pada Manda."


"Aku percaya kau tidak akan menghianati bosmu."


Bara mengangguk, "Terima kasih Taun Bryan masih mempercayai saya." ucap Bara dengan tulus.


"Selamat bersenang-senang."


Setelah mengucapkan itu Bryan lantas keluar dari ruangan itu diikuti Rendy dan beberapa pengawal yang tadi datang bersama Bryan.


Bryan menyeringai mendengar teriakan, jeritan juga tangisan dari ruangan yang baru saja di tinggalkan. Dia begitu senang karena dirinya tidak perlu repot-repot mengotori tangannya untuk membasmi kadal-kadal itu.


"Tangkap!!"


Bryan melempar pistolnya kebelakang dan dengan sigap Rendy menangkapnya.


"Kita pulang sekarang."


"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu istri cantik ku."


"Dan menghabiskan malam berdua dengannya."


Rendy yang baru saja menutup pintu mobil buat Bryan merubah ekspresinya menjadi jijik saat mendengar ucapan Bryan.


"Dasar Taun Muda Abrisam Bucin Alvaro."


Awas kau Rendy...akan kami pantau seberapa bucin kau kelak pada Mutia yang semakin dekat dengan Alex.


🍁🍁🍁


have a nice day


thanks for like, comment, vote and gift

__ADS_1


big hug from far away 🤗🤗🤗


dewi widya


__ADS_2