
Mobil yang ditumpangi Bryan juga Freya telah berhenti di depan lobby sebuah apartemen. Apartemen yang dulu sempat Freya tempati beberapa bulan setelah menetap di kota J dan bersembunyi dari Bryan. Dan di lobby apartemen itu juga Freya menerima lamaran dari Bryan.
"Freya turun dulu ya Mas!" pamit Freya sambil mencium tangan kanan Bryan dengan takzim
"Mas!!" panggil Freya lirih sambil menatap Bryan yang juga tengah menatapnya.
"Apa sayang??" tanya Bryan sambil menampakkan senyum tipis menaikkan kedua alisnya bersamaan.
"Lepas tidak!" ucap Freya tegas dengan menatap Bryan tajam.
Bryan yang ditatap seperti itu justru tertawa. Istrinya itu sungguh lucu kalau sudah menampilkan mimik wajah serius, tegas dengan tatapan tajam. Gemas, seperti saat istrinya merajuk ataupun kesal pada dirinya. Bukannya Bryan akan kasihan dan mengalah, justru dirinya semakin gencar menggoda istrinya hingga menangis.
"Apanya yang dilepas?" tanya Bryan dengan tangan kirinya terulur memainkan ujung rambut panjang Freya yang berada didepan. Digulungnya di jari tangan terus ditariknya perlahan hingga membentuk seperti curly.
"Tangannya Mas Bryan ini loh lepas dulu."
"Freya mau turun ini." dengan menggunakan tangan kirinya, Freya mencoba membuka genggaman tangan Bryan yang memegang tangan kanannya begitu erat.
"Kalau aku tidak mau bagaimana." ujar Bryan sambil menghirup aroma kopi yang berasal dari rambut Freya. Istrinya itu kalau keramas selalu mencampur shampo dengan bubuk kopi hingga dirinya mengikuti kebiasaan istrinya itu. Dan hasilnya sungguh mengagumkan, rambutnya sekarang jauh lebih lembut tanpa harus melakukan perawatan. Jadi tidak perlu mengeluarkan uang untuk perawatan rambut.
"Sayang, bagaimana kalau kita memproduksi shampo sendiri dengan aroma kopi?" Bryan menyampaikan idenya yang tiba-tiba muncul di otaknya pada Freya.
"Kita memproduksi shampo, lulur juga masker yang sering kamu pakai itu."
"Yang sering kamu racik sendiri dekat bahan-bahan herbal."
"Bagaimana? Bagus tidak ide suami kamu ini." Bryan menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum senang karena kalau sampai terwujud, pundi kekayaannya akan semakin bertambah.
"Kita kerja sama apa bikin brand sendiri?"
"Karena kalau harus membuat dalam partai besar Freya tidak tahu takarannya."
"Kita harus konsultasikan ini pada pakarnya."
"Takut nantinya justru membuat kecewa pelanggan kalau menggunakan takaran asal." Freya menyampaikan pendapatnya, karena tidak semudah itu membuat brand kecantikan. Berbeda dengan pakaian yang mengikuti trend anak muda jaman sekarang sudah bisa bikin brand sendiri. Tapi kalau soal produk kecantikan, harus dipikirkan lebih matang lagi.
"Benar juga yang kamu katakan."
"Bagaimana kalau kita bikin brand sendiri dengan menggandeng dokter kecantikan?"
"Mama ada teman seorang dokter kecantikan."
"Temannya Andre kalau tidak salah."
"Bagaimana sayang?" Freya terlihat masih menimbang ide suaminya itu. Sebenarnya ide itu bagus juga dan pasti banyak yang suka dan membelinya. Apalagi pakai bahan herbal ditambah dirinya juga Bryan yang meluncurkan brand itu. Pasti akan langsung booming mengingat saat ini mereka berdua menjadi trendsetter kalangan anak muda juga para mamacan (mama mama cantik)
"Boleh juga sih idenya."
"Freya setuju saja."
"Tapi untuk lebih lanjutnya, kita bahas nanti di rumah."
"Saat ini cepat lepaskan tangan Freya!"
"Ini sudah hampir siang."
"Freya tidak mau nanti Maura marah karena terlalu lama aku meninggalkannya." geram Freya pada Bryan yang tak juga melepaskan tangan kanannya dan sekarang justru senyum-senyum sendiri sambil menciumi rambutnya.
"Kalau Mas Bryan tidak mau melepaskannya juga, berarti hukumannya Mas Bryan tidak hanya sehari, tapi dua hari dikurung di penangkaran buaya." sungut Freya yang sudah mulai terasa risih karena suaminya itu tidak hanya menciumi rambutnya, tapi juga lehernya. Dirinya begitu malu karena didalam mobil tidak hanya dirinya saja, ada supir juga.
"Berarti aku tidak jadi membantu mu."
Aghhh
__ADS_1
"Mas Bryan!!!" Freya memukul lengan Bryan dengan kesal karena lehernya dihisap dan digigit oleh suaminya.
"Ihh..merah kan!!"
"Dasar drakula." dengus Freya saat melihat lehernya dari spion didalam mobil menampakkan adanya tanda mereh dilehernya.
Bryan hanya terkekeh saja, suka sekali melihat Freya yang marah dan kesal pada dirinya. Ditariknya tubuh Freya hingga kini berada didekapan nya.
"Kalau kamu marah dan juga menambah hukuman ku, berarti aku juga tidak jadi membantu mu."
"Aku tidak jadi meminta Rendy untuk datang ke kantor hari ini." ucap Bryan sambil menyapukan bibirnya di puncak kepala Freya. Dia masih begitu merindukan Freya, karena semalam Freya tidak tidur bersama dirinya. Siapa lagi pelaku yang membuat dirinya tidak bisa tidur dengan Freya kalau bukan Maura.
"Ayah malam ini tidur sendiri ya."
"Maura mau quality time sama Bunda juga Oma Mama."
"Awas kalau Ayah berani menganggu waktu kami bertiga."
"Maura tidak akan mengizinkan Ayah untuk tidur sama Bunda lagi."
"Tapikan Mas Bryan sudah janji sama Freya semalam." gumam Freya dengan muka cemberut. Semalam dirinya sudah meminta tolong untuk menjauhkan Rendy dari rumah sakit tempat dimana Mamanya Rendy dirawat untuk sementara waktu dan suaminya itu sudah mengiyakan dan berjanji akan membantunya.
"Aku tahu." jawab Bryan singkat.
"Kalau seperti itu Mas Bryan harus menepati janji Mas Bryan untuk membantu Freya." kata Freya dengan kepalanya sedikit mendongak melihat wajah Bryan dari bawah.
Hufftttt
Bryan menghembuskan nafas panjang setelah melepaskan dekapannya pada Freya.
"Rendy itu ada-ada saja."
"Kenapa juga harus mencium mantannya itu?"
"Nggak bisa apa mencium wanita yang masih single." Bryan terlihat geram dengan apa yang Rendy lakukan kemarin meskipun dirinya tidak melihatnya secara langsung, hanya mendengar cerita dari Freya. Dan dirinya begitu kaget saat mengetahui kalau Rendy dan Mutia itu sama-sama dijodohkan oleh orang tua mereka. Pantas saja Rendy menghajar habis Alex waktu itu, batin Bryan.
"Ck...Padahal yang ngomong lebih parah dari itu."
"Nggak sadar diri banget." gumam Freya mencibir omongan Bryan barusan. Sungguh tidak berkaca, batin Freya.
"Kan beda konsep sayang."
"Aku hanya merangkul dan tidak mencium seperti yang Rendy lakukan pada Mantannya itu." protes Bryan yang tidak terima disamakan oleh Rendy. Dirinya kan kemarin tidak mencium Anelis, hanya merangkul saja. Beda banget sama Rendy yang mencium dulu istri orang, mantan pacarnya sendiri.
"Sama saja. Kamu sama Rendy itu sama saja."
"Tidak pernah menghargai perasaan pasangannya."
"Lihat wanita aduhai, bahenol langsung main sosor."
"Dasar buaya buntung." sungut Freya yang entah kenapa tiba-tiba dirinya emosi mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat dirinya melihat Bryan merangkul Anelis.
"Ehhhh kenapa kamu jadi yang marah!!" Bryan menahan Freya yang akan membuka pintu mobil.
"Kamu boleh turun kalau mobil kamu sudah sampai." kata Bryan tegas saat Freya tetap berusaha membuka pintu mobil.
"Pak!! Buka pintunya tidak!" seru Freya setengah berteriak pada supir. Dirinya ingin segera keluar dari dalam mobil itu. Dia tidak ingin emosinya semakin menjadi saat mengingat kejadian itu walau sebenarnya Bryan juga Anelis tidak memiliki hubungan apapun lagi, tapi entah kenapa dirinya ingin marah saja.
"Ta-tapi Non..." Supir itu takut apalagi melihat tatapan Bryan yang tajam pada dirinya.
"Cepat buka, Pak!!" teriak Freya lagi.
"Tidak sebelum mobil kamu datang." ucap Bryan tegas dengan wajah dingin.
__ADS_1
Freya menoleh cepat pada Bryan. Matanya berkaca-kaca mendengar suara Bryan yang tegas dengan aura dinginnya. "Apa salah Freya?"
Bryan bingung sendiri karena tiba-tiba istrinya itu menangis kencang. Dibawanya tubuh Freya kedalam pelukannya. Diusapnya dan digoyangkan kekiri dan kekanan perlahan untuk menenangkan istrinya. "Apa aku tadi membentak Freya?" batin Bryan yang merasa bersalah saat melihat istrinya itu menangis.
"Kamu tidak salah."
"Bundanya Freya tidak pernah salah."
"Sudah ya berhenti nangisnya." Bryan berusaha membujuk Ibu hamil yang saat ini lebih sensitif itu.
"Freya tahu, Freya tidak pernah salah."
"Yang sering salah itu Ayahnya Maura." Bryan memejamkan matanya dan mengangguk pelan mendengar perkataan Freya.
"Iya...Ayahnya Maura yang sering buat salah." Bryan mengalah saja walau kenyataannya memang tidak semuanya benar. Tapi kalau diingat-ingat memang benar juga kalau dirinya yang sering membuat kesalahan.
"Iya..Mas Bryan memang banyak salah sama Freya." dengus Freya melepaskan diri dari pelukan Bryan.
"Baru sadar kamu Mas? hosttt.." Bryan meringis melihat Freya yang membuang ingusnya. Untung ada tisu, jadi baju yang dia kenakan tidak jadi korban tempat Freya membuang ingus.
"Sudah ah, Freya mau turun dulu." lagi-lagi Bryan mencegah dirinya untuk segera turun dari mobil.
"Mas Bryan ihhh..." ingin rasanya Freya mengacak-ngacak wajah suaminya itu. Sedari tadi dirinya ditahan terus didalam mobil tidak boleh keluar. Kan kasihan supirnya jadi obat nyamuk.
"Tunggu mobil kamu sebentar lagi akan sampai." Freya diam saja saat Bryan kembali menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.
"Aku masih kangen sama kamu."
"Semalam aku tidak bisa memeluk kamu seperti ini."
"Padahal kita baru berkumpul lagi." dapat Freya rasakan pelukan suaminya itu semakin erat pada tubuhnya. Kalau boleh jujur sekarang, dirinya juga kangen banget sama suaminya ini. Tapi dia tahan, nanti kalau dia jujur sekarang, yang ada dirinya bakal diserang saat ini juga. Kan kasihan supirnya yang masih lajang itu.
"Kan nanti malam Freya bisa Mas Bryan peluk sesuka hati Mas Bryan."
"Sabar ya.." Freya membalas pelukan Bryan dan mengusap lembut punggung Bryan.
"Tutup pembatasnya!!" perintah Bryan dengan tegas pada sang supir.
"Mas Bryan mau ngapain??" Freya panik sendiri saat pembatas kursi pengemudi dan kursi belakang sudah tertutup rapat.
"Aku kangen." ucap Bryan dengan suara serak dan mencium bibir Freya dengan begitu rakusnya seakan dirinya sudah begitu lama tidak pernah merasakan manisnya bibis sang istri.
Egghhhh
"Untung aku tadi bawa headset."
"Coba kalau tidak."
"Sudah ternodai ini telinga aku."
"Emang lah Tuan Muda itu selalu lepas kendali kalau sudah bersama Nona Freya."
"Dimanapun tempatnya kalau sudah tidak tahan ya langsung digasak sampai habis."
"Hufttt...Derita jomblo."
"Sabar banget itu Tuan Rendy kalau saat bersama Tuan Muda juga Nona Freya."
"Patut diacungi jempol kalau sampai tidak terpancing."
🍁🍁🍁
have a nice day
__ADS_1
big hug 🤗🤗🤗