Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Tidak ingin menjadi orang tua egois


__ADS_3

Baby Attar terlihat mengejar bola yang tengah dimainkan sama Mutia. Bayi mungil dan gembul itu merangkak cepat ke arah Mutia untuk mengambil bola miliknya. Sudah semakin dekat dengan Mutia, baby Attar menghentikan langkahnya dan duduk dengan melihat sekelilingnya seperti mencari sesuatu.


"Ayo sini calon mantu! Ini bolanya ambil dari Mama!" seru Mutia saat melihat baby Attar tak kunjung mendekatinya.


Bayi yang kini berusia delapan setengah bulan hanya menatap Mutia sekilas dan tertawa sambil bertepuk tangan saat apa yang dicarinya sudah terlihat dan tidak terlalu jauh dari jangkauan matanya.


"Hai tampan, mau kemana? Ini bolanya!."


Baby Attar tidak menghiraukan seruan calon ibu bayi kembar yang katanya salah satu dari mereka akan menjadi calon istrinya. Bayi mungil dan gembul itu justru merangkak mendekati sofa dan berusaha berdiri sendiri dengan berpegangan pinggiran sofa.


Baby Attar berseru senang saat berhasil berdiri dengan susah payah. Dia lantas meraih sesuatu yang sedari tadi berbunyi yang ada di atas sofa. Dipegangnya benda pipih berbentuk persegi panjang itu dengan hati gembira.


"Yah Yah on.."


Celotehan tidak jelas dari baby Attar membuat Mutia tertawa. Lucu dan menggemaskan. Ingin sekali dia mengangkat tubuh gembul baby Attar, namun mengingat saat ini dia tengah hamil tua dan sudah begitu besar karena hamil bayi kembar. Mutia hanya bisa mencium dan memegang baby Attar saja tanpa mengangkat dan menggendong calon menantunya.


"Memangnya siapa sih yang telephone?"


Mutia mendekati baby Attar yang masih mengusap layar ponsel yang sudah mati. Memang sedari tadi ponsel milik Freya yang tergeletak di atas sofa berbunyi terus dan itu yang membuat baby Attar yang mengenali suara itu langsung mencari keberadaan ponsel milik sang Bunda.


"Hun..."


Mutia mengangkat sebelah alisnya bingung dengan apa yang diucapkan oleh baby Attar. Sungguh, dia tidak tahu dan mengerti bahasa bayi. Mutia lantas mengambil ponsel yang tadi diulurkan baby Attar untuk dirinya.


"Freya!!! Suami kamu telephone!!"

__ADS_1


Mutia berteriak saat menyalakan layar ponsel milik Freya dan ternyata yang sedari tadi memanggil itu Bryan, suami sang pemilik ponsel. Ayah dari bayi gembul dan tampan, baby Attar.


"Angkat saja!! Bilang kalau aku lagi sibuk!!"


Freya membalas dengan berteriak juga karena saat ini dia tengah membuat camilan buat baby Attar. Muffin rasa blueberry dan stroberi adalah camilan kesukaan baby Attar saat ini.


"Iya nanti kalau dia telephone lagi!!"


Sahut Mutia lagi dengan teriakan yang tidak mendapat balasan dari Freya. Mungkin Ibu dua anak itu tengah kembali sibuk atau mungkin tidak mau diganggu.


Baby Attar sudah terlihat merangkak mendekati mainannya kembali yang sudah berhamburan di lantai. Dia tidak merengek sama sekali ditinggal Bundanya yang sibuk membuat camilan untuk dirinya.


Semua makanan yang masuk ke mulut baby Attar adalah makanan khusus yang Freya buat sendiri dengan kedua tangannya tanpa bantuan orang lain meski di rumah sudah ada koki.


Menurut Freya, makanan yang dibuat olehnya itu nanti akan membuat sang anak selalu mengingat Bundanya dan selalu rindu untuk pulang ke rumah kalau tengah tinggal jauh untuk menempuh pendidikan. Jadi harus diperkenalkan dari kecil makanan yang dimasak oleh kedua tangan Bundanya sendiri.


Freya datang dengan membawa muffin buatannya yang baru saja keluar dari oven dan dua cangkir teh serta air mineral didalam botol minum bayi.


Mutia menoleh mantap Freya dengan menyengir kuda. Memang benar adanya. Semenjak dia hamil, dia jarak menemui Freya. Dia justru yang meminta Nyonya Bryan itu untuk datang ke tempatnya dengan membawa baby Attar.


Dan hari ini Mutia sendiri khusus datang ke rumah kediaman Abrisam setelah melakukan pemeriksaan kehamilan bersama suaminya. Tadi sepulang dari rumah sakit, Mutia meminta Rendy mengantarnya ke rumah Freya dan meminta dijemput siang sekalian makan siang di luar sebelum bayi yang dia kandung nanti lahir.


"Nggak boleh apa aku main ke rumah besan aku sendiri?!"


Tanpa permisi dan dipersilahkan terlebih dahulu, Mutia mencomot muffin yang harumnya begitu menggoda lambungnya untuk segera dimakan dan dicerna.

__ADS_1


"Huuffff..Panas."


Freya hanya menggeleng kepalanya saja saat muffin yang Mutia ambil jatuh di atas karpet karena masih panas. Ya iyalah panas. Kan baru keluar dari oven dan Freya tidak memberi tahu sahabatnya itu kalau muffin nya masih panas.


"Besan..Besan...Besan...Ngebet banget pengen jadi besannya Nyonya Bryan."


Freya mencibir sahabatnya yang sebentar lagi mau lahiran itu. Karena setiap bertemu pasti yang dibahas tentang menantu dan besan. Sungguh membuat Freya merasa jengah dibuatnya.


Perjalanan baby Attar masih panjang. Masih harus melewati beberapa dekade lagi untuk melaju ke jenjang yang serius, yaitu pernikahan. Karena pernikahan adalah ibadah yang paling lama.


Freya tidak ingin nanti kalau buru-buru dan hanya mementingkan keinginan orang tua justru membuat kehidupan pernikahan anaknya tidak bahagia. Freya tidak ingin menjadi orang tua yang egois.


"Biarlah surat perjanjian itu hanya untuk mengingatkan kita saja. Namun untuk kebahagiaan anak kita, aku tidak ingin menjadi orang tua yang egois. Kalau memang nanti Attar memang suka dan cinta sama anak kamu tanpa adanya pemaksaan dari pihak luar. Berarti memang Attar berjodoh dengan anak kamu. Tapi kalau tidak, aku harap kita tidak memaksa anak-anak kita nanti. Karena suatu hubungan atas dasar keterpaksaan itu tidak menjamin kita untuk bisa bahagia."


Mutia terdiam mendengar perkataan Freya yang begitu panjang itu. Apa yang dikatakan sahabatnya itu memang benar adanya. Tidak boleh menjadi orang tua yang egois untuk anak dan tidak boleh memaksakan kehendak untuk menjalin hubungan.


Apa dia terlalu tergesa untuk menjalin perjodohan antara anaknya dengan anaknya Freya?


Atau dia hanya terobsesi untuk menjadikan Attar sebagai menantunya?


Atau bahkan lebih parahnya lagi dia iri karena Freya memiliki lebih dari apa yang dia sendiri miliki saat ini?


Entahlah, Mutia sendiri juga tidak tahu. Yang dia rasakan saat ini, dia begitu down setelah mendengar perkataan Freya tadi. Meski apa yang Freya katakan itu benar adanya, tapi dia tetap ingin kelak Attar menjadi menantunya.


"Kamu benar. Kita lihat saja 20 tahun kedepan mereka bagaimana?"

__ADS_1


Setelah lama terdiam akhirnya Mutia kembali mengeluarkan suaranya dan memberi tanggapan pada sahabatnya.


Freya tersenyum sambil menyuapi baby Attar muffin blueberry kesukaan bayi gembul itu. Ya..Kita lihat saja nanti kalau Attar sudah dewasa. Siapa wanita yang akan dipilihnya untuk menjadi pasangannya kelak. Apakah anaknya Rendy dan Mutia atau justru wanita lain yang tidak mereka kenal.


__ADS_2