
Freya segera turun ke bawah saat tidak melihat suaminya ada disampingnya waktu membuka matanya di pagi buta. Tadi setelah menjalankan kewajibannya, Freya sudah mencari di setiap sudut kamar, kamar Maura juga lantai tiga dimana biasanya suaminya itu nge-gym setelah subuh. Itu kalau ingat dan tidak tidur lagi.
"Ma..Mama tadi lihat Mas Bryan tidak?" tanya Freya saat melihat Mama Lea tengah membuatkan secangkir teh buat Papa Abri.
"Freya cari-cari tidak ada, padahal ini masih jam 5 pagi."
"Mama tahu dimana Mas Bryan?"
"Freya bangun Mas Bryan sudah tidak ada di samping Freya." Mama Lea menatap penampilan Freya yang terlihat baru bangun tidur dan sudah mencari-cari suaminya di pagi buta.Seperti pengantin baru saja, baru ditinggal sebentar saja sudah mencari dan panik sendiri, pikir Mama Lea yang mengingat dulu dirinya juga seperti Freya saat bangun tidur tidak melihat sosok suami disampingnya.
"Mama tidak tahu."
"Tapi tadi kata Surti, Rendy pagi-pagi sudah kesini."
"Mungkin Bryan pergi sama Rendy." setelah mengatakan itu, Mama Lea lantas pergi dan kembali ke kamar untuk mengantarkan secangkir teh buat Papa Abri.
"Rendy kesini pagi-pagi??" Freya terlihat berfikir sambil berjalan keluar dari dapur.
"Ahh iya!!"
"Pasti saat ini Mas Bryan sama Rendy sudah di mini zoo." tebak Freya dan bergegas keluar dari rumah. Dirinya begitu penasaran dan ingin melihat seperti apa ekspresi ketakutan suaminya itu saat berdekatan dengan buaya.
"Nona Freya mau kemana?" tanya seorang pengawal yang melihat Freya mengeluarkan motor scoopy dan itu salah satu motor karyawan yang bekerja di rumah keluarga Abrisam.
"Saya mau ke mini zoo."
"Tolong bilang ke yang punya motor ini."
"Saya pinjam dulu motornya." ucap Freya yang terlihat buru-buru tidak ingin meninggalkan moment sedikitpun untuk melihat ekspresi wajah suaminya yang ketakutan.
"Nona jangan naik motor sendirian."
"Tuan Bryan nanti bisa marah."
"Apalagi Nona saat ini sedang hamil."
"Tolong Nona, demi saya untuk bisa bekerja mencari nafkah untuk keluarga saya."
Freya menatap pengawal yang terlihat mengiba dan memelas pada dirinya untuk tidak naik motor sendirian. Dia tahu kalau Bryan maupun Papa Abri akan memecat dan menghukum pengawal dan pekerja lainnya kalau tidak becus dalam pekerjaannya dan juga membahayakan majikannya. Tidak ada ampun, mereka pasti akan dihukum dan lebih parahnya lagi dipecat.
"Tapi saya mau ke mini zoo sekarang."
"Dan kamu bisa antar saya kalau kamu takut dihukum dan dipecat sama suaminya saya." pengawal itu mengangguk dan segera mengambil mobil yang biasa Freya gunakan untuk berpergian.
"Pakai mobil yang diluar saja."
"Nggak usah ambil yang masih didalam." ujar Freya dengan tidak sabar. Bakal lama kalau harus mengambil mobilnya yang terparkir di dalam garasi dan lebih baik memakai mobil yang terparkir di luar garasi.
"Freya tunggu!!"
Freya yang baru saja membuka pintu mobil menoleh saat ada yang memanggilnya dan dia begitu kenal dengan suara itu.
"Ngapain kamu pagi-pagi sudah ada disini?" tanya Freya pada sahabatnya yang terlihat mengatur nafas karena habis berlari.
"Rendy tadi chat aku."
"Katanya dia ada di mini zoo bersama Tuan Bryan untuk menerima hukuman mereka."
"Aku ingin lihat apa benar Rendy menjalankan hukumannya dengan benar atau tidak."
"Tolong antar aku kesana, aku tidak tahu tempatnya." Freya tersenyum dan mengangguk mendengar alasan Mutia yang dibuat-buat. Padahal dapat Freya lihat dari sorot mata Mutia menunjukkan rasa khawatir terhadap Rendy kalau sampai terjadi apa-apa.
"Seharusnya disini aku yang khawatir, bukannya Mutia."
"Kan yang takut sama buaya Mas Bryan, bukan Rendy." batin Freya yang melihat kekhawatiran Mutia terhadap Rendy meski ditutup-tutupi.
"Ayo masuk!! Aku juga mau kesana."
Mereka berdua masuk kedalam mobil menuju mini zoo yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari rumah utama.
"Kita langsung menuju penangkaran buaya saja." kata Freya pada pengawal tadi yang menjadi supir dadakannya setelah mobil memasuki area mini zoo.
__ADS_1
"Kebun binatang ini punya suami kamu?" tanya Mutia yang memang baru pertama kalinya masuk ke mini zoo milik keluarga Abrisam.
"Iya, punya Mas Bryan sama Papa."
"Gila..Berapa duit yang dikeluarkan setiap bulannya untuk perawatan dan makanan hewan-hewan disini?" jiwa misquen Mutia meronta ingin mengetahui biaya operasional mini zoo keluarga Abrisam dan sekaya apa keluarga dari suaminya Freya.
"Aku nggak tahu dan aku juga tidak banyak tanya."
"Sudah ayo turun, itu ada mobil golf yang biasa Mas Bryan pakai kalau ke mini zoo." Freya juga Mutia segera turun dari mobil.
"Jangan larang saya dan jangan ikuti saya."
"Kalian lihat saja dari sini." kata Freya tegas kepada pengawal yang tadi menjadi supir dadakannya juga beberapa pengawal yang mungkin mengantar Bryan juga Rendy kesini.
Freya menggandeng tangan Mutia dan melangkah lebih dekat ke pintu masuk penangkaran buaya. Dari kejauhan Freya juga Mutia melihat Bryan juga Rendy yang tengah berteriak histeris. Dan suara itu bukan milik Rendy, melainkan Bryan, sang pemilik mini zoo.
"Nggak usah dorong-dorong."
"Kamu duluan yang masuk."
"Aku ini bos kamu dan seharusnya kamu memastikan terlebih dahulu keadaan didalam sana aman apa tidak kalau saya masuk." Bryan balik mendorong Rendy untuk masuk duluan ke kandang buaya.
"Tapi Tuan Bryan yang mendapat hukuman terlebih dahulu." kini giliran Rendy yang kembali mendorong Bryan untuk masuk terlebih dahulu.
Arrggggghhhhhhhhhh
Teriak Bryan saat penutup matanya ditarik oleh Rendy saat dirinya didorong tadi. Bryan sontak berjongkok sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya, dia sudah takut setengah mati dan jangan sampai membuat hal yang lebih memalukan dari ini. Ngompol, contohnya.
"Nggak usah teriak begitu Tuan."
"Lihat itu, buaya nya pada lihatin Tuan Muda semua."
"Mungkin mereka naksir sama ketampanan Tuan Muda."
"Kelihatannya mereka ingin berkenalan dengan Tuan Muda."
"Adaauuwwhhhhhh!!" pekik Rendy saat kakinya ditendang oleh Bryan yang terlihat masih berjongkok sambil menutup matanya.
"Kembalikan penutup mata saya." Bryan begitu geram dengan Rendy dan menarik celana yang Rendy kenakan.
"Tuan!! Anda jangan mesum ya!!" Rendy berusaha melepaskan tangan Bryan yang memegang dan menarik celananya.
"Kembalikan dulu penutup mata saya."
Dan terjadilah perkelahian antara bos dan asisten pribadi di depan pintu masuk penangkaran buaya. Keduanya tidak ada yang saling mengalah. Bahkan Bryan berkelahi dengan mata tertutup hanya untuk mengambil penutup mata yang ada di tangan Rendy.
"Freya!!! Apa suami kamu takut sama buaya?" tanya Mutia yang melihat perkelahian antara Bryan dan Rendy.
Freya hanya berdehem dan menganggukkan kepalanya. Dirinya tidak tahu kalau suaminya itu benar-benar takut sama buaya. Dan dia sudah melihatnya sendiri dan sekarang rasa bersalah menghampiri dirinya.
"Mutia!! Apa aku ini istri yang kejam dan durhaka pada suami?" tanya Freya dengan suara lirih dan bergetar seperti menahan tangis.
Mutia menoleh dan memicingkan matanya menatap Freya yang matanya memerah juga berkaca-kaca. "Maksud kamu, durhaka karena menghukum suami kamu seperti itu?"
Freya mengangguk, "Padahal Mas Bryan semalam sudah minta aku untuk mengganti hukumannya dan aku tetep kekeh untuk menghukum Mas Bryan di penangkaran buaya."
"Kalau seperti itu ya berarti kamu durhaka sama suami kamu." ucap Mutia asal, karena dia sendiri tidak tahu kalau menghukum suami sendiri itu durhaka atau tidak. Tapi kalau kejam itu iya.
"Jadi aku ini istri durhaka?" Freya menatap Mutia dengan air mata yang sudah mulai jatuh perlahan.
Mutia mengangguk ragu, "Mu-mungkin..."
Mutia menghembuskan nafas lelah melihat sahabatnya itu yang sikapnya jauh lebih berbeda dari sebelum hamil sekarang ini. Berubah cengeng, manja dan jail juga terkadang marah-marah tidak jelas dan sedih secara tiba-tiba.
Seperti saat ini, Freya langsung terlihat sedih saat Mutia membenarkan kalau dirinya itu istri durhaka. Dia berjalan cepat mendekati suaminya juga Rendy yang masih berebut penutup mata.
"Kembalikan penutup mata itu pada suami saya."
Teriakan Freya membuat Bryan juga Rendy yang berkelahi dan berebut penutup mata berhenti seketika.
Bryan menatap Freya yang berjalan masuk ke pintu penangkaran buaya. "Sayang, disitu saja jangan masuk!!" teriak Bryan yang takut terjadi apa-apa dengan istrinya.
__ADS_1
Bryan berjalan mendekati Freya yang berdiri diambang pintu masuk penangkaran buaya. Langkah Bryan terhenti saat dirinya menyadari sesuatu. Dia menatap Freya dan sekeliling Freya.
"Sial!!! Jadi tanpa sadar Rendy tadi sudah menyeret ku masuk." umpat Bryan dalam hatinya. Dirinya begitu kesal karena Rendy telah berhasil menyeretnya masuk ke penangkaran buaya.
"Mas Bryan!!" panggil Freya bersamaan terdengar suara beberapa buaya yang bergerak di pinggir kolam. Bryan sontak berlari dan memeluk Freya, dibawanya keluar dari penangkaran buaya.
"Mas Bryan tidak apa?" Freya mengusap punggung suaminya yang terlihat bergetar dan pelukannya Bryan begitu yang erat dapat membuktikan betapa takutnya Bryan dengan buaya.
"Maafin Freya ya."
"Mas Bryan sudah selesai hukumannya."
"Dan tidak ada hukuman lagi." Freya terus berusaha menenangkan suaminya yang terlihat masih bergetar ketakutan.
"Kita kembali kerumah sekarang ya?" tanya Freya dan Bryan hanya mengangguk saja dengan mata terpejam dan masih memeluk istrinya erat.
"Aku kembali dulu."
Mutia mengangguk saat Freya pamit kembali duluan. Dirinya masih berdiri sekitar lima meter dari pintu masuk penangkaran buaya. Dia bingung harus melakukan apa. Diliriknya Rendy yang terlihat membelakanginya dan duduk menghadap ke beberapa buaya yang tengah diberi makan oleh pawang buaya.
"Apa Rendy tidak melihat aku ada disini?" Mutia terlihat sedih saat Rendy sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
"Bodoh, Rendy itu pemberani. Mana mungkin dia takut sama buaya."
"Kenapa juga tadi aku kesini."
"Buang-buang waktu saja."
Dengan menghentakkan kakinya kesal, akhirnya Mutia memilih pergi dari sana karena Rendy tidak menyadari kehadirannya dan Rendy sudah menjalankan hukumannya.
Rendy terlihat menarik salah satu sudut bibirnya saat melihat pantulan Mutia dari kamera handphonenya pergi dengan keadaan kesal.
"Apa kamu datang kesini karena khawatir dengan keadaan ku?"
Rendy tertawa senang melihat Mutia yang meski marah dengan dirinya tapi tetap mengkhawatirkan dirinya.
"Tuan Rendy tidak pergi?" tanya pawang buaya yang tadi memberi makan pada buaya.
"Tuan Bryan sudah pergi dari tadi bersama istrinya." imbuhnya.
"Saya nanti saja."
"Saya kira Tuan Rendy juga takut buaya sama seperti Tuan Bryan."
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan."
Rendy mengangguk, dirinya tertawa terbahak-bahak mengingat ketakutan Bryan tadi saat diajak masuk ke penangkaran buaya.
"Ck..Takut buaya, tapi kemarin meminta Andre juga Bara untuk melempar Manda juga Shelin ke sini." cibir Rendy pada bosnya itu.
"Sial!!" Rendy sontak berdiri dari duduknya. Dilihatnya sekeliling penangkaran yang terlihat sepi dan angker.
"Pantas saja dari tadi bulu kuduk pada merinding semua."
Dengan mundur perlahan, Rendy berhasil keluar dari penangkaran buaya dan segera menutup kembali pintu itu dengan rapat dan tidak lupa dikuncinya.
"Untung tidak ada yang lihat kalau aku juga takut berada didalam sana." gumam Rendy.
"Aku melihatnya."
Rendy terlonjak kaget, dirinya tidak menyangka kalau apa yang baru saja dia lakukan ada yang melihatnya. Sungguh, harga dirinya sontak terjun bebas dan terinjak-injak saat itu juga. Sikap dingin, tegas, kaku, dan kejamnya tiba-tiba tercoreng dalam sekejap saja.
"Apa hari ini hari tersial?"
"Bukankah hari ini hari senin?"
Sungguh, Rendy rasanya ingin menghilang saat ini juga. Entah kenapa dirinya tidak memiliki tenaga juga kekuatan untuk melawan sosok cantik yang berdiri di depannya itu.
🍁🍁🍁
have a nice day
__ADS_1
big hug 🤗🤗🤗