
Freya menatap curiga pada Mutia, sahabatnya itu. Saat ini mereka berdua tengah berada di cafetaria ABA Corp. Hari ini Freya datang ke ABA Corp untuk meeting pemilihan CEO baru di ABA Corp karena Alex setelah kemarin sadar langsung mengajukan surat pengunduran diri dari jabatannya tersebut. Namun Freya yang memiliki saham di ABA Crop memilih menyidang sahabatnya sendiri daripada ikut meeting suaminya juga beberapa pemegang saham yang lain dan beberapa anggota dewan direksi. Karena menyidang sahabatnya saat ini lebih penting daripada ikut meeting yang pastinya akan membosankan.
"Anda mau bicara apa Nyonya Bryan yang terhormat?" tanya Mutia dengan menekan kata Nyonya Bryan yang terhormat.
Sungguh, Mutia saat ini begitu geram dengan Freya yang tadi langsung menyeretnya ke cafetaria setibanya dirinya di kantor padahal dirinya banyak kerjaan mengingat kemarin dirinya tidak masuk kerja ditambah tadi dia izin datang terlambat. Kalau seperti ini ceritanya, bisa lembur nanti dirinya.
"Aaaaakkkhhhhh....aku tidak mau lembur malam ini!!!" jerit Mutia dalam hati membayangkan nanti dirinya lembur sendirian dan pulang malam.
Bukannya menjawab pertanyaan Mutia, Freya justru berdecak sebal pada sahabatnya itu. Bisa-bisa sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu yang penting dari dirinya. "Apa aku sudah tidak dianggap sahabat lagi?" batin Freya yang begitu kesal mengingat Mutia merahasiakan sesuatu darinya.
"Kalau tidak bicara juga, aku mau kembali kerja."
"Aku nggak mau lembur malam ini." Mutia meraih tas juga handphone nya namun langsung dirampas handphone nya oleh Freya.
Mutia memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafas lelah melihat tingkah bumil yang duduk di depannya yang terhalang meja bundar.
"Mau kamu apa sih Freya."
"Dari tadi diam saja, giliran aku mau pergi tidak boleh."
"Kamu ada masalah sama aku." Mutia sudah terlihat jengah dengan sikap Freya saat ini namun dia masih berusaha mengendalikan emosinya, mengingat saat ini dia berhadapan dengan sahabatnya yang tengah berbadan dua juga istri dari Bryan Alvaro, pendiri perusahaan ABA Corp tempat dirinya bekerja mencari nafkah.
"Tidak...Kamu yang punya masalah sama aku." Mutia mengerutkan keningnya mendengar perkataan Freya, ditambah tatapan Freya yang terlihat marah dan kesal pada dirinya.
"Maksudnya gimana?"
"Aku punya salah apa sama kamu?" Mutia benar-benar bingung dengan bumil satu ini. Perasaannya dia tidak memiliki masalah apapun dengan Freya.
"Apa Freya tahu sudah tahu hubunganku dengan Rendy saat ini?" batin Mutia yang mulai gelisah sendiri.
"Apa kamu sudah tidak menganggap ku sahabat lagi?"
"Kenapa kamu merahasiakan masalah sebesar itu pada ku."
"Kamu anggap aku apa Mutia?" suara Freya sudah mulai naik satu oktaf, tidak sesantai tadi dan itu menunjukkan kalau Freya memang benar marah pada sahabatnya itu, juga kecewa.
"Kamu sahabatku."
"Aku selalu menganggap kamu sahabatku."
"Dan rahasia apa yang kamu maksud?"
"Aku tidak menyembunyikan rahasia apapun sama kamu." ucap Mutia dengan tetap berusaha tenang menghadapi bumil yang emosinya naik turun.
"Kecuali tadi aku sudah nikah sama Rendy, makanya aku telat datang ke kantor." lanjut Mutia dalam hati. Dirinya dan juga Rendy sepakat masih merahasiakan masalah pernikahan siri mereka yang baru berlangsung beberapa jam yang lalu dan akan diumumkan seminggu lagi sesuai rencana awal mereka.
"Bohong!!" sarkas Freya membuat Mutia menelan salivanya cepat.
"Apa Freya sudah tahu kalau aku sama Rendy tadi telat karena menikah dulu?" batin Mutia yang sudah mulai khawatir kalau rahasianya terbongkar. Karena setahu Freya, saat ini Mutia masih marah sama Rendy dan masih memberi pelajaran pada Rendy.
"Kenapa kamu tidak cerita sama aku kalau Tuan Alex memperkosa mu?"
"Kenapa kamu diam saja?"
"Kamu memang sudah tidak menganggap ku sahabat lagi Mutia." Freya sungguh marah pada sahabatnya itu. Dia merasa sahabatnya sudah tidak menganggapnya lagi. Atau mungkin sudah melupakan dirinya.
Mutia bernafas lega karena bukan rahasia pernikahan sirinya dengan Rendy yang terbongkar, melainkan rahasia dirinya yang sempat mau diperkosa oleh Alex, bukan sudah diperkosa.
"Aku masih menganggap kamu sahabat Freya."
"Sampai kapanpun hanya kamu sahabat aku."
"Sahabat sejati aku yang mau menerima semua kekurangan dan kelebihan aku ini." ucap Mutia dengan tulus dari hati yang paling dalam.
"Tapi kenapa kamu tidak cerita sama aku kalau kamu diperkosa sama Tuan Alex?" Freya menangis membayangkan bagaimana nasib Mutia saat itu, apa seperti dirinya saat dulu Bryan memperkosanya secara kasar dan paksa.
Mutia yang melihat Freya menangis berpindah duduk dan menggeser kursi lebih dekat dari Freya. Dipeluknya sahabatnya yang menangis itu. Mutia tahu, pasti Freya mengkhawatirkan dirinya mengingat Freya dulu juga pernah diperkosa hingga menghasilkan Maura.
"Aku tidak mau nasib kamu seperti aku dulu."
"Aku ingin kamu mendapatkan kebahagiaan dengan orang yang kamu cintai."
"Apa ini alasan kamu membatalkan perjodohan dengan Rendy?"
"Karena kamu sekarang merasa tidak pantas kalau harus bersanding dengan Rendy."
Mutia mengulum senyum mendengar ocehan Freya yang mengkhawatirkan dirinya itu. Freya terlalu berpikir jauh tentang kekhawatirannya.
"Sesayang itukah kamu kepada sahabatmu ini?" tanya Mutia.
Freya melepaskan pelukan Mutia dengan mengusap kasar air matanya yang masih jatuh meski tidak sederas tadi.
"Ngapain aku nangis kalau aku tidak sayang sama kamu?" pekik Freya dengan kesal karena rasa sayangnya pada Mutia diragukan sama sahabatnya itu.
Mutia terkekeh dan kembali memeluk Mutia dengan erat, dirinya juga ikut meneteskan air matanya.
"Terima kasih kamu sudah sayang sama sahabatmu yang cantik dan bar-bar ini." ucap Mutia.
__ADS_1
Freya yang mendengar itu sontak saja memukul pundak sahabatnya dengan gemas hingga membuat sahabatnya itu tertawa.
"Kamu tenang saja."
"Aku tidak sempat diperkosa sama Alex." tapi justru aku menghabiskan malam dengan orang yang telah menolongku, lanjut Mutia dalam hati.
"Benar kamu tidak sempat diperkosa sama Tuan Alex?" Freya melepas pelukan Mutia dan menatap lekat sahabatnya itu. Kalau memang benar, dia begitu senang karena sahabatnya tidak bernasib sama seperti dirinya.
Mutia tersenyum dan mengangguk, "Benar, karena Rendy keburu datang dan menghajar Alex hingga masuk ICU."
Freya menutup mulutnya tak percaya, matanya yang memiliki bulu mata yang lentik alami itu berkedip-kedip beberapa kali.
"Jadi yang membuat Tuan Alex babak belur dan masuk ICU itu Rendy?" Mutia mengangguk.
"Oohhh...Rendy memang benar-benar tidak ingin wanitanya disentuh oleh pria lain." seloroh Freya yang sudah kembali bisa tersenyum dan tertawa, tidak seperti tadi.
"Ck..Memangnya Tuan Bryan tidak seperti itu juga."
"Bahkan dia jauh lebih parah dari Rendy." cibir Mutia mengingat Bryan yang menghajar Leon waktu Freya datang ke night club' untuk mencari bukti kalau Bryan bukan seorang tukang celup.
Freya menatap Mutia yang sudah kembali ke tempat duduknya semula.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Mutia yang merasa Freya menatapnya seperti tengah menelanjanginya.
"Izin kemana tadi kamu sampai harus datang telat ke kantor?"
"Kenapa juga kamu tadi bisa datang barengan sama Rendy?"
"Satu mobil pula?" Freya begitu curiga dengan sahabatnya itu. Pasti masih ada rahasia lagi yang dirahasiakan sahabatnya itu.
Mutia gelagapan sendiri, dia bingung harus jawab seperti apa. Dirinya belum membuat alasan yang pas atas dirinya yang datang telat ke kantor. Dirinya belum memikirkan alasan itu.
"I-itu..Itu aku..Aku tadi harus ke rumah sakit dulu melihat Bibi Asti."
"Iya aku melihat Bibi Asti." Mutia tersenyum kecut pada Freya. "Bodoh!! Kenapa harus pakai gugup segala sih, pasti Freya curiga." batin Mutia merutuki kegugupannya.
"Oh..Pantesan tadi kamu bisa bareng sama Rendy." Mutia bernafas lega karena Freya percaya begitu saja dengan apa yang barusan dia katakan.
"Tapi kenapa kamu bisa bareng sama dia?"
"Bukannya kamu masih marah dan menghukumnya?" tanya Freya penasaran, karena tadi dia juga Bryan melihat Rendy membukakan pintu untuk Mutia.
Mutia memejamkan matanya, dipikirnya Freya sudah berhenti mengorek dirinya juga Rendy. Ternyata salah, sahabatnya itu masih saja penasaran dan mungkin sekarang menaruh curiga lagi. Sesensitif itukah ibu hamil? Mutia geram sendiri.
"Ekhem.." Mutia berdehem. Sebisa mungkin dirinya harus menjelaskan kepada sahabatnya yang tengah berbadan dua itu supaya tidak penasaran dan curiga terus terhadapnya.
"Aku bareng sama Rendy karena Rendy juga akan menuju ke sini dan aku juga buru-buru karena pekerjaanku banyak, tapi justru sekarang aku ditahan dan disidang oleh istri pemilik ABA Corp."
"Dan untuk soal aku masih marah dan menghukum Rendy, itu tidak ada sangkut pautnya dengan aku tadi menebeng mobilnya Rendy."
"Kalau ada yang gratis, kenapa tidak dimanfaatkan."
"Itung-itung uang ongkosnya bisa buat beli bakso, kenyang dah itu."
Freya tersenyum mendengar penjelasan Mutia yang panjang lebar itu. Tapi fokusnya ada di penjelasan yang terakhir, beli bakso. Freya beberapa kali menelan salivanya hanya karena membayangkan kalau saat ini dirinya tengah makan bakso dengan kuah panas dan pedas. Sungguh, saat ini dirinya begitu ingin makan bakso mercon yang begitu nikmat hingga air liurnya ingin keluar dan menetes.
"Bakso mercon sungguh enak." ucap Freya dengan membasahi bibirnya, membayangkan saat ini tengah makan bakso mercon.
"Iya, memang bakso mercon itu enak."
"Apalagi dimakan di cuaca mendung seperti ini." sahut Mutia yang memang menyukai bakso mercon seperti Freya. Makanya mereka bersahabat karena menyukai makanan yang sama.
Freya berdehem dan mengangguk, "Mas Bryan!!! Freya mau bakso mercon." teriak Freya dengan kencangnya. Untung saja cafetaria sepi mengingat jam istirahat sudah lewat sedari tadi.
Bryan juga Rendy yang baru saja memasuki pintu cafetaria lantas menghentikan langkah mereka saat mendengar teriakan Freya yang begitu kencangnya.
"Mas Bryan!!" pekik Freya saat melihat Bryan berdiri di depan pintu masuk cafetaria bersama Rendy. Dengan perasaan senang dan gembira, Freya melangkah cepat mendekati Bryan.
"Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?" tanya Bryan yang heran dengan perubahan sikap Freya semenjak hamil. Sungguh berbeda jauh dari awal dirinya mengenal sosok Freya yang anggun, dan mandiri meski ada sedikit bar-barnya. Hanya sedikit tidak banyak. Tapi kenapa sekarang jauh berbeda dari sebelum hamil.
Freya tersenyum kecil dengan bergelayut manja di lengan suaminya. Dirinya ingin merayu suaminya supaya diperbolehkan makan bakso mercon. Karena selama hamil ini dirinya tidak pernah makan makanan yang pedas, karena dilarang sama dokter.
"Mas Bryan!!"
Bryan menatap curiga istrinya itu. Tidak biasanya Freya mau bermanja pada dirinya di depan orang lain, apalagi di tempat umum seperti ini meski hanya ada beberapa orang saja. "Pasti ada yang mau dimintanya." batin Bryan.
"Mas Bryan mau membelikan sesuatu untuk Freya?" tanya Freya.
"Memang apa yang ingin kamu beli?"
"Aku akan membelikan apapun yang kamu inginkan."
"Termasuk kalau kamu mau melihat Rendy juga Mutia menikah minggu ini."
Mutia lantas menatap tajam pada Rendy, "Apa kamu sudah memberitahu hubungan kita pada Tuan Bryan?" kira-kira seperti itulah arti tatapan Mutia pada Rendy.
Rendy yang ditatap hanya tersenyum tipis dan menggeleng samar.
__ADS_1
"Aku tidak mau melihat Rendy juga Mutia nikah saat ini."
"Mereka kan belum baikan."
"Mereka masih lama menikahnya."
"Mungkin nanti setelah Bryan Junior lahir mereka batu akan menikah." ujar Freya yang meyakini kalau Rendy dan juga Mutia akan menikah nanti setelah bayinya lahir.
"Terus apa yang kamu mau aku belikan?" tanya Bryan dan menarik Freya ke dalam dekapannya.
Freya tersenyum dan merapikan dasi suaminya meski sebenarnya sudah rapi. Dirinya hanya ingin merayu suaminya biar diperbolehkan makan bakso mercon.
"Freya mau makan bakso mercon." ucap Freya lirih seperti bergumam.
"Apa?" tanya Bryan yang tidak begitu jelas dengan apa yang Freya ucapkan.
"Bakso mercon, Freya ingin makan bakso mercon saat ini." ucap Freya dengan memelas pada suaminya. Sungguh, dirinya saat ini ingin sekali makan bakso mercon. Ingin, ingin, ingin dan ingin sekali makan bakso mercon.
"Tidak boleh."
"Bakso tidak sehat buat ibu hamil, apalagi mercon."
"Nanti kamu bisa keracunan bahan kimia kalau sampai makan mercon."
"Aku tidak mau kamu juga Bryan Junior kenapa-kenapa."
"Lebih baik makan yang lainnya saja."
"Kalau mau bakso, ayo kita pulang."
"Aku akan meminta chef dirumah untuk membuatkan bakso yang tidak banyak mengandung tepung buat kamu."
"Biar nanti kamu dan Bryan Junior kuat dan sehat."
"Bukan mercon petasan yang aku maksud Mas Bryan." Freya begitu geram pada suaminya yang melarang dirinya makan bakso mercon yang dikiranya mercon petasan.
"Terus maksud kamu apa?"
"Mercon itu ya petasan."
"Kalau kamu nekat memakannya yang ada nanti mercon nya akan meledak diperut kamu dan itu sangat berbahaya untuk kamu juga Bryan Junior."
"Sudah ayo kita pulang."
"Aku akan belikan makanan yang sehat buat kamu juga Bryan junior."
"Tapi bukan bakso mercon yang kamu mau itu."
Freya mendengkus kesal dan jalan duluan meninggalkan Bryan. Suaminya itu tidak pernah menuruti keinginan ngidamnya. Selalu aja alasannya kalau yang dimintanya makanan yang tidak sehat menurutnya.
Rendy juga Mutia tertawa terbahak-bahak setelah melihat Freya juga Bryan yang sudah terlihat jauh dari mereka.
"Ternyata Tuan Bryan bodoh juga ya."
"Masa bakso mercon dikiranya bakso sama mercon yang bisa meledak itu." Mutia terus saja tertawa melihat kebodohan Bryan atau memang Bryan sungguh tidak tahu bakso mercon itu seperti apa.
"Ya..karena Tuan Bryan tidak pernah jajan ataupun makan sembarangan."
"Makanan yang masuk ke perutnya semua serba memiliki gizi yang seimbang."
"Makanya dia tidak tahu bakso mercon itu seperti apa." jelas Rendy dengan sisa tawanya.
"Pantas saja tiap kali Freya ngidam yang aneh-aneh tidak pernah Tuan Bryan turuti."
"Dan akupun besok juga akan seperti itu."
"Kalau kamu ngidamnya makanan yang tidak sehat aku juga tidak akan mengizinkanmu untuk memakannya."
Mutia menatap tajam pada Rendy. Bisa-bisanya Rendy yang berstatus suaminya beberapa jam yang lalu itu sudah melarang-larang dirinya untuk tidak boleh ngidam makanan yang tidak sehat.
"Kalau seperti itu jangan pernah sentuh aku lagi."
"Dan jangan buat aku hamil." sewot Mutia dan pergi begitu saja dari hadapan Rendy dan menuju ke tempat kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang pasti sudah menumpuk dan pastinya nanti malam dirinya bakal lembur.
"Kenapa jadi dia yang marah?"
"Kan memang benar ibu hamil tidak boleh makan makanan yang tidak sehat."
"Bakso mercon kan memang tidak sehat kalau dimakan sama wanita yang hamil."
"Bisa kepedesan nanti bayi yang ada di dalam perut."
"Bukan meledak seperti yang Tuan Bryan katakan."
🍁🍁🍁
have a nice day
__ADS_1
big hug 🤗🤗