Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Kesombongan Tuan Muda


__ADS_3

Kemarin sore Bryan dan keluarga serta Rendy dan Mutia sudah sampai di rumah masing-masing. Bryan langsung memboyong Freya dan Maura untuk tinggal di rumah orang tuanya.


"Mas, kenapa kita tinggal disini?" tanya Freya setelah masuk ke kamar Bryan yang begitu besar dan mewah dan dominan dengan warna hitam, abu dan putih, ciri khas seorang laki-laki juga aroma maskulin menyeruak di penciumannya.


Mata Freya masih melihat setiap inci sudut kamar Bryan yang hampir sama persis dengan kamar hotel yang Freya tempati beberapa hari yang lalu, namun ini lebih luas dan lebih mewah tentunya.


"Kenapa memangnya?" tanya Bryan balik yang langsung menjatuhkan tubuh atletisnya ke sofa.


Freya menoleh, menatap Bryan dan melangkah mendekati Bryan yang tengah memejamkan matanya itu. Dia duduk di samping Bryan.


"Nggak apa." jawab Freya dengan menyunggingkan


"Tapi kenapa kita tidak tinggal di rumah mas Bryan saja?" tanya Freya menatap Bryan yang masih memejamkan matanya itu.


Bryan membuka matanya dan menegakkan duduknya. "Kenapa? Kamu takut sama Mama?" tanya Bryan membalas menatap netra coklat Freya.


"Bukan..! Bukan seperti itu..!" jawab Freya cepat sambil menggerakkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah panik.


Bryan menarik kedua satu sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Dia mengambil tangan kanan Freya dan dipegangnya erat namun terasa lembut dan hangat.


"Benar kamu nggak takut sama Mama?" tanya Bryan yang masih menatap mata Freya.


"Sedikit." jawab Freya menunduk tidak berani membalas tatapan mata Bryan.


Bryan tersenyum tipis, "Jangan takut." Bryan mengangkat dagu Freya supaya menatap matanya.


"Mama itu sebenarnya baik, hanya saja kalau belum mengenal betul Mama akan selalu bersikap seperti itu pada orang yang baru di temuinya ataupun dikenalnya."


"Aku mengajak kamu tinggal disini karena aku ingin kamu bisa akrab dengan Mama dan bisa meluluhkan hati Mama."


"Aku ingin melihat Ibu aku dan istri aku rukun seperti impian ku waktu kecil dulu." Bryan mengusap lembut pipi Freya.


"Tapi, kalau Mama masih bersikap seperti itu pada aku gimana?" tanya Freya yang ragu bisa meluluhkan hati mertuanya. Karena kalau Freya lihat, Mama Lea itu mertua yang kejam yang sukanya membeda-bedakan.


"Tidak mungkin, Mama sudah tahu kebenarannya waktu kita nikah kemarin."


"Meski Mama masih bersikap dingin dan terkesan tidak peduli sama kamu aslinya Mama hanya gengsi saja untuk mengakui kebenarannya." Bryan menggenggam erat kedua tangan Freya dan menatap lekat mata Freya.


"Tugas kamu sekarang meluluhkan hati Mama supaya Mama ada dipihak kamu."


"Nanti tanya kan saja pada suamimu yang tampan, ganteng dan kaya raya ini dan pastinya juga hebat soal permainan ranjang hingga membuat kamu selalu mengeluarkan suara erotis mu yang begitu merdu di pendengaran ku."


Freya tersenyum sendiri mengingat obrolan sorenya kemarin dengan Bryan saat baru sampai rumah. Obrolan yang awalnya serius berubah menjadi obrolan mesum yang ujungnya dia dikuasai Bryan walau harus berhenti di tengah jalan karena tiba-tiba ada anak kecil masuk mengganggu mereka.


"Kamu kenapa sayang senyum-senyum sendiri seperti itu?" tanya Bryan yang baru saja keluar dari walk in closet sambil menenteng jas dan dasinya. Dia melihat Freya yang duduk di tepi ranjang sambil senyum sendiri.


"Kamu nggak kesambet kan?" sambung Bryan yang sibuk menaruh jasnya di punggung sofa.


Freya menoleh dan tersenyum lebih cerah lagi tanpa memperdulikan godaan Bryan padanya. Dia berdiri dari duduknya dan mendekati suaminya itu. Dia mengambil dasi yang Bryan sodorkan pada dirinya.


"Nggak apa, aku tadi sudah bikin sarapan pagi buat orang rumah dan semoga Mama suka." jawab Freya sembari memasangkan dasi di leher kerah kemeja Bryan.


Freua tadi setelah sholat subuh tidak menemani Bryan tidur lagi, tapi langsung ke dapur untuk membuat sarapan untuk keluarga Abrisam dengan bantuan koki rumah ini tentunya.


"Memang kamu tadi masak apa?" tanya Bryan yang merengkuh tubuh mungil Freya. Dia menunduk dan mengendus-endus leher Freya yang begitu harum, membuatnya candu dan tenang tentunya.


"Lihat saja nanti di meja makan." Freya melepas pelukan tangan Bryan di pinggangnya dan mengambil jas untuk dipakaikan pada suaminya itu.


"Mas, aku boleh kerja ya." izin Freya sembari membantu Bryan memakaikan jas, padahal dulu sebelum ada Freya, Bryan bisa melakukan apa-apa sendiri. Tapi entah mengapa sekarang apa-apa Freya. Bryan begitu manja kalau sudah dekat dengan pawangnya.


"Nggak boleh." tolak Bryan tegas.


"Kenapa?" tanya Freya yang masih sibuk merapikan jas Bryan.


"Apa kurang uang yang aku kasih ke kamu kemarin?" tanya Bryan mengangkat dagu Freya lebih tinggi supaya bisa melihat dengan jelas wajah cantik istrinya itu.


"Uang yang mana? Uang mahar kemarin maksud kamu?"


"Mas Bryan bahkan kamarin tidak memberikan uang mahar seribupun ke Freya kok." kata Freya dengan wajah cemberut.


Bryan mengerutkan keningnya, masak sih dia kemarin tidak memberi uang mahar kepada Freya, batin Bryan bertanya-tanya.


"Yang benar sayang?" tanya Bryan dengan tampang polosnya.


"Iya.. Mas Bryan kemarin memberika Freya mahar emas seberat 10 kg, 50% saham ABA Corp., tanah seribu hektar, Halona Hotel, QOne Mall, sebuah Lamborghini Aventador SVJ Roadster Grigio Telesto, sebuah Rolls Royce Wraith, sebuah helikopter, 2 buah apartemen mewah, sebuah rumah mewah 3 lantai, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."

__ADS_1


"Tidak ada uang tunainya sama sekali."


Bryan tertawa melihat Freya yang cemberut dan begitu hafal mahar yang dia berikan.


"Maaf, aku lupa kemarin memberi mu uang tunai." Bryan berjalan ke nakas dekat ranjang tidur dan mengambil handphone juga dompetnya.


"Sini..!" Bryan meminta Freya untuk mendekat.


Freya berjalan mendekati Bryan, "Apa?" tanya Freya


Bryan mengambil tangan kanan Freya, "Ini untuk kamu."


Mata Freya membola seketika saat melihat black card ada di genggaman tangannya dan gold card juga silver card. Freya tahu berapa batas limit di dalam kartu itu dan tidak semua orang memilikinya. Freya menelan salivanya susah payah. Setajir apa sih suamiku ini, batin miskuin Freya menjerit melihat tiga kartu di genggamannya.


"Yang black card khusus buat kamu. Yang gold sama silver card untuk keperluan sehari-hari kamu dan Maura."


"Harus dipakai, jangan tidak."


"Jadi kamu tidak perlu bekerja." refleks Freya menganggukkan kepalanya pelan, dia masih terkejut dengan apa yang dia lihat di genggamannya.


"Pintar." Bryan mengacak rambut Freya gemas. Dia tahu istrinya itu syok melihat tiga kartu yang baru saja dia berikan. Apa dia belum tahu setajir apa suaminya ini, batin Bryan bertanya-tanya melihat kepolosan istrinya.


"Simpan dulu di dompet dan ayo kita turun untuk sarapan." Bryan mengambil tasnya dan berjalan duluan meninggalkan Freya yang masih berdiri mematung menatap tiga kartu yang ada di tangannya.


"Jadi benar aku menikah dengan seorang billionaire?" tanya Freya pada dirinya sendiri. Dia menoleh melihat bayangan Bryan yang sudah menghilang dari balik pintu.


Freya mengambil nafasnya berulang kali dan dihempuskannya perlahan, dia mengipas wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Setelah merasa tenang dan dingin, dia segera menyimpan ketiga kartu itu dompetnya dan mengejar Bryan yang sudah duluan menuju ruang makan.


"Sayang tunggu!!"


Bryan menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan Freya. Dia mengembangkan senyum sangat lebar saat Freya memanggilnya 'sayang'.


"Baru juga dikasih tiga kartu tanpa batas limit sudah memanggil sayang. Apalagi dikasih yang lain yang totalnya mencapai triliunan." batin Bryan yang begitu gembira mendengar panggilan sayang dari Freya.


"Bunda kira tadi Maura sudah di ada di meja makan, ternyata baru keluar kamar juga."


"Iya Bunda, Maura tadi lupa belum mencium teddy bear yang Ayah belikan kemarin."


Senyum Bryan lenyap seketika, dia menoleh ke belakang dan mendapati anak dan istrinya berjalan menuju arahnya dengan senyum yang begitu cerah.


"Jadi Freya tadi memanggil Maura?" gumam Bryan menatap sedih Freya dan Maura yang berjalan ke arahnya.


"Sayang untuk Maura, bukan sayang untuk diri ku." batin Bryan sontak tercabik-cabik saat tahu kenyataan sebenarnya.


"Ayah tangkap." teriak Maura yang berentangkan kedua tangannya minta di gendong Bryan.


Bryan tersenyum dan melempar tasnya begitu saja untuk menangkap Maura dan dibawa ke gendongannya.


"Astagfirullah, Mas Bryan!!" pekik Freya menatap nanar tas kerja Bryan yang tergeletak di atas lantai marmer.


"Ini didalam tasnya ada laptopnya loh." ujar Freya setelah mengambil tas yang Bryan lempar.


Di bukanya tas itu dan di lihatnya kondisi laptop di dalamnya. Freya menatap nanar kondisi laptop suaminya. Di peluknya sayang laptop itu. Freya menatap Bryan tajam penuh amarah.


"Kenapa?" tanya Bryan mendekat ke arah Freya yang berjongkok.


"Mas tahu nggak?" Freya berdiri di hadapan Bryan yang menggendong Maura.


"Laptop ini harganya mahal dan dengan seenaknya saja Mas Bryan membuangnya begitu saja."


"Rusakkan jadinya." Freya memeluk erat laptop milik Bryan.


"Oh..Rusak!!"


"Buang saja, nanti minta Rendy untuk memesankan lagi yang keluaran baru." ucap Bryan tanpa beban sedikitpun, dia lantas melangkah kembali untuk menuruni tangga menuju meja makan.


"Tolong bawakan sekalian tasnya." sambung Bryan yang terus melangkah menuruni tangga.


Freya melotot tak percaya akan apa yang Bryan ucapkan tadi.


Buang!!!


Memesan lagi keluaran baru!!


"Dasar orang kaya tak menghargai uang sedikitpun."

__ADS_1


"Bisa-bisa aku menikah dengan orang sombong seperti dia."


"Aku harap sifat kesombongan Bryan tidak menurun ke Maura."


Freya mengambil tas yang masih tergeletak mengenaskan di atas lantai dan memasukkan kembali laptop itu ke dalam tas. Dia berjalan menuju ruang makan dengan mulut terus ngedumel tentang kesombongan Tuan Muda Bryan.


Freya tersenyum senang saat melihat Mama Lea menyantap masakan yang dia buat dengan begitu nikmat. Freya duduk di sebelah kanan Maura dan sebelah kiri Maura ada Bryan.


"Makasih ya sayang, kamu tahu saja kalau aku sama Mama suka sarapan erwtensoep." ujar Bryan tersenyum menatap Freya.


"Masakan mu paling juara." Bryan mengangkat jempol kanannya.


Freya tersenyum menanggapi Bryan, dia tadi hanya iseng saja membuat erwtensoep karena dia tahu Mama Lea keturunan Belanda dan dia juga suka dengan menu masakan ini. Dan dia juga tidak tahu kalau ternyata Mama Lea maupun Bryan juga suka dengan erwtensoep.


"Bukan begitu, Ma?" tanya Bryan meminta pendapat Mama Lea.


"Hm...." Mama Lea hanya berdehem.


Mama Lea memelankan suapannya ke mulut saat tahu kalau Freya yang memasak erwtensoep. Dia akui kalau sup yang Freya bikin jauh lebih enak daripada buatan koki di rumahnya. Tapi dia tidak mau terlihat begitu menikmati masakan Freya. Namun kalau dilihat di mangkuknya, sup itu tinggal beberapa sendok lagi dan itu tandanya dia memang menikmati suap demi suap sup yang dibuat Freya.


Setelah semua selesai sarapan Freya dan Maura


mengantar Bryan kedepan untuk berangkat kerja.


"Selamat pagi Tuan, Nona dan Nona Muda." sapa Rendy sopan dengan menundukkan sedikit kepala.


"Selamat pagi juga Paman robot." balas Maura dengan semangatnya.


"Sudah kamu pesankan,Ren?" tanya Bryan karena tadi dia sudah mengirim pesan ke Rendy.


"Sudah Tuan. Katanya nanti siang sudah sampai." jawab Rendy dan hanya diangguki Bryan.


Freya geleng kepala tak percaya. Secapat itukah mendapatkan penggantinya? batin Freya menjerit.


"Pemborosan." gumam Freya saat Bryan akan mencium keningnya.


"Siapa?" tanya Bryan setelah mencium kening Freya.


"Ayahnya Maura." jawab Freya pendek dan mencium tangan Bryan.


"Gak apa sayang, itu tidak ada satu persen dari penghasilan ku tiap hari." ujar Bryan membuat Freya menganga tak percaya. Suaminya itu benar-benar sombong ternyata.


"Sudah sana berangkat.!!"


"Kasihan mahasiswa mas Bryan nanti menunggu dosennya lama."


Freya sedikit mendorong Bryan pelan untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Kamu tahu dari mana kalau aku ada jadwal ngajar hari ini?" tanya Bryan yang masih enggan meninggalkan istri cantiknya.


"Aku nggak sengaja lihat agenda kerja Mas Bryan tadi."


"Sudah sana berangkat." Freya kembali mendorong Bryan pelan.


"Iya aku berangkat sekarang."


"Selamat berjuang Bunda Freya."


"Langkah awal yang baik tadi."


Freya tersenyum menanggapi ucapan Bryan. Setelah berpamitan juga dengan Maura, Bryan segera masuk ke mobil dan Rendy melajukan mobil perlahan meninggalkan perkarangan rumah.


"Ayo masuk sayang!!"


Freya dan Maura kembali masuk ke dalam rumah.


"Nikmati saja dulu kebahagian kalian di awal pernikahan."


"Setelah ini aku pastikan pernikahan kalian akan hancur."


🍁🍁🍁


have a nice day


thank's for like, vote, comment and gift

__ADS_1


big hug from far away 🤗🤗🤗


__ADS_2