
Anelis memasuki sebuah restoran dan berjalan menuju meja yang dimana di sana sudah ada Manda. Dia langsung mendaratkan pantatnya di kursi tanpa meminta persetujuan dari Manda.
"Mau apa kamu meminta ku datang kesini?" tanya Anelis tanpa basa-basi. Karena saat ini dia tidak ada waktu untuk meladeni Manda. Ada yang lebih penting dari pada Manda saat ini, yaitu anaknya yang masih terbaring di rumah sakit karena kritis.
Manda tersenyum sinis pada sikap Anelis yang menurut berubah itu, tidak seperti pertama kali dia memintanya untuk datang kembali kesini.
"Kapan kamu masuk ke keluarga Abrisam?"
"Kenapa sampai saat ini kamu masih santai saja?"
"Bukannya Bryan sudah melakukan test DNA terhadap anakmu?"
"Bagaimana hasilnya?
"Sudah kamu tukarkan?" tanya Manda beruntun pada Anelis. Karena menurutnya Anelis lelet dan menunda-nunda untuk masuk dan menghancurkan keluarga Abrisam.
Anelis mengambil nafas dalam dan dihembuskannya perlahan. Dia menatap Manda yang menurutnya tidak memiliki hati dan perasaan itu. Sudah tahu hidupnya saat ini hancur tapi tetap saja berlagak seperti penguasa.
"Aku bukannya santai, tapi saat ini aku masih mencemaskan keadaan anakku yang sedang kritis."
"Dan juga hasil test nya keluarnya masih dua minggu lagi tidak secepat yang kamu pikirkan kecuali menggunakan sampel darah." jawab Anelis mencoba untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi.
"Bunuh saja itu anakmu, bikin susah saja." seloroh Manda tanpa perasaan.
Anelis mengepalkan tangannya menatap Manda tajam. "Dasar wanita tak punya hati dan perasaan. Menyesal aku telah menuruti semua keinginan kamu." geram Anelis dalam hati.
"Kalau dia mati aku tidak bisa masuk ke keluarga Abrisam."
"Pikir pakai otak kamu jangan asal berkoar itu mulut busuk kamu." kata Anelis dengan nada rendah dan memancarkan amarah.
"Beraninya kau mengatai mulut ku busuk!!" geram Manda pada Anelis. Dia tidak menyangka Anelis bisa mengatakan itu. Menurutnya Anelis itu wanita bodoh yang mudah ditipu meski sedikit sulit untuk dibujuk.
"Lihat itu!!! Bukannya itu istrinya Tuan Bryan?"
"Wahhh cantik banget ya Nona Freya."
Manda dan Anelis yang sedang bersitegang menoleh ke sumber suara dan melihat siapa yang mereka bicarakan. Mereka berdua melihat semua pengunjung restoran menatap layar TV yang ada di sudut pojok menayangkan siaran live peragaan busana, mereka berdecak kagum dengan sosok Freya yang saat ini sedang mengikuti fashion show bersama Maura.
"Ck..Mata mereka buta kali tidak bisa melihat siapa yang jauh lebih cantik daripada istrinya Bryan yang murahan itu." Manda berdecak kesal pada orang-orang yang selalu mengagumi Freya yang menurutnya biasa saja tak ada istimewanya.
Anelis hanya diam saja melihat Freya yang saat ini ada di TV. Dia tidak ingin berkomentar apapun tentang Freya.
"Kenapa kamu diam saja seperti itu?" tanya Manda yang melihat Anelis hanya diam saja setelah melihat Freya ada di TV.
"Kamu merasa tersaingi sama wanita murahan seperti itu?"
"Kamu jauh lebih segalanya daripada wanita miskin dan murahan seperti Freya."
"Wanita hasil permak tak ada enaknya jika di mainkan."
"Kasihan sekali Bryan mendapatkan wanita oplas." kata Manda menjelekkan Freya. Karena sedari awal dia tidak menyukai Freya. Menurutnya Freya itu lawan yang sulit untuk ditaklukkan. Makanya dia meminta Anelis untuk melawan dan menyingkirkan Freya.
"Aku pulang dulu. Nanti kalau hasil test DNA nya keluar aku akan memberi kabar untuk mu." Anelis langsung pergi, karena dia sudah tidak tahan mendengar Manda yang terus menjelekkan Freya.
"Maafkan aku Freya!"
...............
Bryan sedari tadi melirik pintu masuk, karena sudah lama Freya tak kunjung kembali dari toilet. Perasaannya mulai cemas akan keberadaan istrinya saat ini. Apalagi acaranya puncaknya sudah di mulai dan sosok cantik itu tak kunjung terlihat.
"Ayah mau kemana?" tanya Maura memegang tangan Ayahnya yang hendak berdiri itu.
"Ayah mau menyusul Bunda dulu. Maura tunggu disini saja bersama Oma dan Opa." kata Bryan dengan melepas tangan Maura yang memegang tangannya.
"Nggak mau!! Maura maunya ditemani Ayah, tidak mau sama Opa dan Oma." tolak Maura dengan mata berkaca-kaca. Bisa gawat nanti kalau Ayahnya sampai mencari Bunda di toilet namun tidak menemukan sosok yang dicari, pikir Maura.
"Kalau begitu Maura ikut Ayah untuk menyusul Bunda." ajak Bryan sekalian lebih baik daripada sendiri dan justru membuat Maura semakin merajuk.
"Nggak mau, Maura maunya disini." Maura menolak lagi dengan air mata yang semakin banyak menggenang di pelupuk matanya siap untuk di tumpahkan.
"Cantiknya Ayah, sayangnya Bunda, nggak boleh seperti itu."
"Bagaimana kalau Bunda ternyata menunggu di depan dan tidak berani masuk?"
"Biar Ayah susul Bunda dulu ya?" bujuk Bryan, dia mencoba bersabar untuk Maura walau hatinya gelisah memikirkan Freya.
Maura menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah jatuh di pipinya.
Bryan mengusap wajahnya kasar melihat Maura yang begitu manjanya ingin terus bersama dengannya.Dan tidak biasanya Maura seperti ini kalau tidak sakit. Atau jangan-jangan Maura sakit.
"Maura nggak apakan? Maura tidak sakit kan?" tanya Bryan yang tiba-tiba khawatir dengan kondisi Maura.
"Maura tidak apa-apa kalau Ayah tetap disini." ucap Maura lirih dengan mengeluarkan air mata palsunya.
"Ma!!! Apa Mama benar menjadikan Freya sebagai model pengganti model utamanya?" bisik Papa Abri pada istrinya yang sedari tadi diam saja itu.
Mama Lea menatap suaminya dan menyunggingkan senyum tipis lalu mengangguk ragu.
__ADS_1
Papa Abri menghembuskan nafas kasar, dia melirik Bryan yang terlihat menenangkan Maura yang tidak mau di tinggal juga tidak mau pergi itu.
"Bagaimana jadinya kalau Bryan tahu Freya dijadikan model pengganti dan apalagi saat ini gaun yang diperagakan adalah jenis gaun malam."
"Bisa bikin kacau acara kalau Bryan sampai marah." batin Papa Abri membayangkan Bryan marah dan mengacaukan acara Mama Lea saat tahu Freya memakai gaun malam.
Papa Abri menggelengkan kepalanya ngeri walau hanya membayangkan saja. Semoga Bryan tidak lepas kontrol nantinya, harap Papa Abri.
Tiba saatnya model utama yang akan mengenakan rancangan gaun malam paling baik dari yang terbaik keluar dari backstage. Semua mata langsung terfokus pada satu titik wanita yang berjalan dengan langkah tegak dan pasti dengan senyum menawan di wajahnya. Sorot lampu mengikuti kemana wanita itu berjalan.
Bryan melirik orang-orang yang terlihat berdecak kagum dengan sosok model utama yang baru saja keluar. Dia juga melihat Maura yang mengembangkan senyum takjubnya menatap model itu, padahal sedari tadi Bryan melihat Maura hanya main handphone saja tapi saat ini mata Maura terlihat begitu fokus pada model yang baru saja keluar.
Bryan yang penasaran akhirnya ikut melihat model utama yang baru saja keluar. Matanya menatap tak percaya sosok model utama, wanita yang saat ini tengah berjalan di atas catwalk itu adalah istrinya Freya.
Bryan menegang menatap penampilan istrinya saat ini. Penampilan Freya yang begitu anggun dan mempesona, dengan balutan gaun malam berwarna crimson (merah tua) dengan bentuk unik. Gaun panjang dengan satu belahan sampai di atas paha yang mengekspose paha mulus Freya. Bertali kecil di bagian bahu juga pita kecil di bagian belakang pundak yang mengekspose kilau putih bening kulit bagian belakang leher. Rambut digulung dengan hiasan tiara kecil meninggalkan jejak anak rambut yang dibiarkan jatuh di sekitar pelipisnya.
Freya benar-benar bersinar sore ini, hingga membuat Bryan menatapnya tanpa berkedip. Bryan sampai menahan nafasnya membayangkan Freya saat ini sedang menggodanya untuk diajak olahraga mengeluarkan peluh keringat yang begitu panas bergairah.
Tanpa sadar Bryan membasahi bibirnya sendiri dan menelan salivanya kasar saat dirasa tenggorokannya kering keronta hanya membayangkan dirinya dan Freya sedang bercinta. Ditambah asetnya yang ada di antara kedua pahanya tiba-tiba terasa sesak saat melihat senyum Freya yang begitu menggoda ditujukan kepada dirinya.
"Sial!!!" umpat Bryan yang sudah mulai terbakar hawa panas akan fantasinya membayangkan Freya sedang menggodanya saat ini.
Bryan menatap sekeliling, terutama para penonton lelaki yang menatap Freya dengan tatapan lapar. Ingin rasanya Bryan mencongkel satu persatu mata mereka tanpa ampun yang berani menatap istrinya seperti itu. Bryan juga ingin menyeret Freya saat ini juga dan dibawanya ke kamar untuk menuntaskan hasratnya.
Bryan mencoba menahan gejolak rasa di tubuhnya saat ini. Dia mencoba bersikap normal, dia tidak ingin memperburuk citranya dengan berbuat hal yang tidak harus dia lakukan di depan publik.
"Hukuman menantimu di rumah sayang." batin Bryan menatap Freya yang sudah berdiri di tengah-tengah dengan model lainnya.
Mama Lea juga Julianto yang merancang gaun malam sudah maju kedepan menerima ucapan selamat atas hasil karya mereka.
"Mama!!! Aku yakin Mama di balik semua ini."
"Pantas saja sedari tadi Mama bersikap aneh." geram Bryan menatap tajam pada Mama Lea yang sedari tadi tidak ingin beradu pandang dengan Bryan.
"Dan aku yakin Maura juga sudah dibujuk hingga akhirnya dia berani berbohong pada Ayahnya sendiri." sambung Bryan menatap Maura yang ikut bergabung dengan Omanya di atas panggung catwalk.
Acara sudah selesai, Freya berada di ruangan khusus untuk berganti pakaian dan menghapus make up nya.
"Mbak!!! bisa bantuin lepas bajunya tidak?" pinta Freya di balik tirai coklat.
"Ishh..susah banget sih. Ini padahal cuma tali." keluh Freya yang kesulitan melepas gaunnya dia kenakan.
"Mbak!!" Freya memanggil sekali lagi dengan berteriak.
Freya terus mencoba membuka ikatan tali yang ada di bahunya hingga ada sebuah tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya. Freya tersentak dan akan berteriak namun dia urungkan saat melihat di cermin ternyata suaminya lah yang saat ini memeluknya dari belakang.
"Kenapa kamu tadi berteriak?" tanya Bryan sambil melesakkan kepalanya di ceruk leher Freya.
"Mas jangan seperti ini." Freya mencoba menjauhkan kepala Bryan dari lehernya. Dia merasa geli saat ini.
"Terus seperti apa?" tanya Bryan menatap pantulan Freya di cermin.
"Haruskah seperti ini."
Aghhh
Desah Freya saat Bryan meremas squishy nya tanpa aba-aba.
"Jangan nakal dehh." Freya mencubit tangan Bryan yang tadi di gunakan untuk meremas squishynya.
Bryan terkekeh dan membalikkan tubuh Freya menghadap dirinya.
"Aku akan membantu mu melepaskan gaun yang kamu pakai." kata Bryan yang sudah bersiap membuka tali yang ada di bahu Freya.
Dengan buru-buru Freya menyilang kan kedua tangannya di depan dada untuk menghalau perbuatan Bryan.
"Mas jangan macam-macam ya sama Freya."
"Freya tahu apa yang Mas Bryan pikirkan saat ini." kata Freya menatap tajam pada Bryan yang terlihat santai saja itu.
"Memang nya apa yang aku pikirkan?" tanya Bryan mengangkat sebelah alisnya.
"Pikiran Mas Bryan itu tidak jauh dari pikiran mesum."
"Apalagi melihat Freya berpakaian seperti ini." ujar Freya yang tanpa sadar menunjukkan pakaiannya yang dia kenakan saat ini.
Bryan menyeringai, "Kamu tahukan hukumannya saat kamu memakai pakaian seperti itu ditempat umum?" tanya Bryan santai.
Freya melangkah mundur, dia tidak mau dihukum Bryan saat ini. Dia masih marah sama Bryan karena sebuah lipstik yang dia temukan di ruangan kerja Bryan.
"Mas Bryan jangan macam-macam ya sama Freya."
"Freya masih marah sama Mas Bryan." kata Freya saat Bryan melangkah mendekat pada dirinya.
"Kamu marah??? Seharusnya aku yang marah karena kamu telah berani berpakaian seperti ini di tempat umum." balas Bryan yang terlihat marah pada Freya yang telah berani berpakaian terbuka selain di depannya saja.
"Aku marah karena mas Bryan bertemu wanita secara diam-diam di belakang Freya dan beraninya mas Bryan membawa wanita itu ke kantor mas Bryan hingga meninggalkan lipstiknya di sana."
__ADS_1
"Apa yang telah mas Bryan lakukan di belakang Freya?" sentak Freya yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.
"Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan."
"Karena hanya kamu yang aku inginkan saat ini."
Freya menangis saat Bryan mencium bibirnya bahkan melakukan lebih pada dirinya. Di ruang ganti di balik tirai warna coklat Bryan mencumbu istrinya berkali-kali tanpa memperdulikan Freya yang sesekali mengeluarkan air mata itu dan kadang mengeluh sakit dan kram diperutnya. Bryan terus mencumbunya karena sedari awal melihat Freya berjalan di atas catwalk Bryan sudah dibakar oleh hasrat gairah yang menggelora.
"Maafkan aku sayang." ucap Bryan selesai menye tubuhi istrinya. Di ciumnya kening Freya lama. Dia saat ini duduk di kursi kecil yang ada di ruang ganti sambil memangku Freya dalam keadaan sama-sama masih telan jang.
"Apa masih sakit perutnya?" tanya Bryan sambil mengelus perut Freya. Tadi dia tidak mempedulikan Freya yang mengeluh sakit dan kram perut. Dia asyik men cumbu tubuh Freya.
Freya hanya menggelengkan kepalanya di ceruk leher Bryan sambil memejamkan matanya. Tangannya melingkar di leher Bryan dengan erat.
"Maaf yaa!!!"
"Itu hukuman buat mu yang tidak meminta izin terlebih dahulu pada suamimu sebelum menyetujui permintaan Mama."
"Memangnya apa yang Mama kasih ke kamu sampai kamu mau melakukan itu?" tanya Bryan yang penasaran.
"Mama janji akan membelikan Cake apapun yang Freya inginkan."
Bryan menghembuskan nafas kasar mengetahui jawaban yang keluar dari mulut Freya. Dikiranya Mama Lea akan memberikan Freya sebuah aset berharga atau saham, ternyata sebuah cake.
"Kamu itu akhir-akhir ini suka banget sih makan Cake."
"Pantas saja ini pipi kamu makin gembul saja seperti Maura." Bryan menjembel pipi Freya dengan gemas.
Freya tidak peduli dengan Bryan yang menjembel pipinya,dia sudah lelah tadi saat catwalk dan di tambah olahraga dadakan yang Bryan berikan padanya membuat Freya mengantuk di pangkuan Bryan.
"Ganti baju dulu, habis itu kita pulang dan istirahat di rumah." kata Bryan saat melihat Freya memejamkan matanya.
"Lipstik itu punya siapa?"
"Aku akan memotong asetmu sampai habis kalau sampai Mas Bryan punya WIL." gumam Freya yang setengah sadar itu.
"Lipstik siapa yang Freya maksud.?" tanya Bryan pada dirinya sendiri.
"Bagaimana caranya ganti baju kalau Freya tidur seperti ini?" Bryan menatap nanar tempat ber cinta nya tadi bersama Freya.
Bryan bingung sendiri melihat keadaan keduanya yang sama-sama telan jang ditambah Freya saat ini sudah masuk ke alam mimpi.
Bryan menggerakkan kakinya meraih celananya saat mendengar handphone sedari tadi berbunyi. Dengan susah payah dia menarik celananya dan diambilnya handphone itu.
"Kenapa Ren?" tanya Bryan setelah menggeser tombol hijau.
"Anda yakin Tuan dengan rencana anda tadi?" tanya Rendy yang terdengar ragu akan perintah yang tadi Bryan katakan kepada Rendy setelah acara selesai.
"Kenapa memangnya?"
"Aku hanya ingin membuat Mama jera." kata Bryan marah, dia kesal pada sang Mama yang seenaknya saja menjadikan Freya model gaun malam.
"Lakukan saja tugasmu dengan benar."
"Papa sudah mengetahuinya dan sudah mendapat izin juga." sambung Bryan lantas memutus sambungan telephon.
"Aku ingin lihat bagaimana reaksi Mama besok saat mendapat hukuman." Bryan menyeringai membayangkan Mama nya yang pasti akan berteriak, menangis dan pastinya memohon ampun kepadanya.
"Enak saja menjadikan Freya model dan hanya di iming-imingi sebuah cake gratis."
"Dan kenapa juga Freya mau saja."
"Aishhh!!!!" Bryan jadi kesal sendiri dibuatnya.
"Hai bangun, aku belum selesai menghukum mu." Dengan gemas Bryan menepuk pantat Freya supaya bangun.
"Freya!!! apa yang kamu lakukan?" teriak Bryan saat Freya memberinya tanda merah keunguan di lehernya.
"Itu balasannya karena seenaknya saja memberi hukuman di tempat yang begitu menyedihkan."
"Memberi hukuman itu seenggaknya di tempat yang bagus biar ada kesan istimewanya begitu."
"Katanya kaya, tapi menyewa tempat mahal dan bagus nggak bisa malah ini menghukum di ruang ganti umum"
"Benar-benar menyedihkan kamu Freya.."
Freya keluar dari ruang ganti dengan memakai kemeja milik Bryan dan meninggalkan Bryan sendirian yang terlihat diam dengan tampang bengong seperti memikirkan sesuatu.
🍁🍁🍁
have a nice day
thanks for like, comment, vote and gift
big hug from far away 🤗🤗🤗
dewi widya
__ADS_1