Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Maafkan Mama


__ADS_3

"Mama!!!"


Marisa yang sudah hampir masuk ke gate pemberangkatan internasional menghentikan langkah kakinya. Dia mencengkram gagang kopernya dengan erat saat anak yang dia lahirkan 29 tahun yang lalu akhirnya kembali memanggil dirinya dengan sebutan "Mama" setelah kejadian 25 tahun lalu dimana sang suami yang pergi membawa anak bungsunya.


"Mama!!"


Marisa tak bisa menyembunyikan rasa harunya, senyum bahagianya tercipta di wajah cantik Marisa yang sudah tidak muda lagi usianya, bahkan air matanya keluar dengan sendirinya saat sang anak kembali memanggilnya dengan sebutan "Mama", rasanya seperti mimpi. Dia menoleh kebelakang sebelum akhirnya seluruh tubuhnya menghadap sempurna dengan pandangan matanya menatap sang anak yang sudah ada didepannya dengan menangis menatapnya.


"Anelis." gumam Marisa lirih. Dia tidak percaya Anelis benar-benar memanggilnya "Mama" setelah beberapa tahun lamanya memanggil dirinya dengan sebutan "Aunty".


"Ma..!!" dengan suara tercekat Anelis berjalan perlahan ke arah sang Mama dan langsung menubruk tubuh tua sang Mama. Dipeluknya tubuh tua Ibu yang telah mengandung dan melahirkannya. Ibu yang dulu sering dia salahkan dan dia abaikan kehadirannya karena membiarkan sang Papa dan adiknya pergi dari kehidupannya.


"Maafkan Ane selama ini, Ma." Anelis menangis dipelukan Marisa. Anelis memeluk tubuh Marisa begitu erat seakan dia tidak pernah bertemu dengan Mamanya itu. Segala rasa kesal, marah dan kecewanya Anelis yang dulu sudah lenyap dan pergi menyisakan rasa sayang dan cintanya pada sang Mama yang memendam kepedihan akan hidupnya yang jauh dari cinta dan kedua malaikat kecilnya.


"Maaf, Ane tidak pernah mempercayai Mama dan justru menyakiti hati Mama." sesal Anelis yang dulu lebih memilih tinggal bersama Pamannya, Kakak dari Marisa sejak sang Papa, Armand pergi membawa Freya yang masih bayi.


Anelis selalu menyalahkan Marisa atas perginya sang Papa juga sang adik. Anelis bahkan tidak mau memanggil Marisa dengan sebutan Mama setelah Armand membawa Freya pergi. Anelis justru memanggil Paman dan Bibi nya dengan sebutan Mommy dan Daddy. Dan Marisa membiarkan itu semua, karena semua salahnya yang saat itu tidak memiliki apa-apa untuk merawat dan memberi pengobatan yang layak untuk Freya.


Anelis dulu mengira kalau Mamanya lah yang memarahi sang Papa dan juga meminta sang Papa pergi dari kehidupannya membawa Freya dan tidak boleh lagi menemui mereka.


Padahal semua itu benar, benar kalau Marisa yang meminta Armand pergi dan kembali ke istri sahnya, Arini juga membawa Freya yang saat itu tengah sakit. Karena pada saat itu kondisi keuangan Marisa memang sangat sulit jika harus merawat Freya yang tengah membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit juga harus merawat Anelis juga. Akhirnya Marisa lebih memilih melepas sang putri yang baru dia lahirkan untuk dibawa Armand yang memang memiliki ekonomi yang memungkinkan jika harus merawat dan memberi pengobatan yang layak untuk Freya.


Dan Anelis baru tahu cerita semua masa lalu kedua orang tuanya kemarin sebelum Marisa pamit pada dirinya yang akan kembali ke Belanda untuk mengenang masa lalu juga untuk menenangkan diri.


Anelis juga baru tahu kalau sang Papa telah meninggal. Papa yang dulu selalu memanjakan dirinya sebelum kehadiran Freya. Papa yang selalu membacakan dia dongeng sebelum dia mengarungi mimpi indahnya dalam gelap malam. Papa yang selalu ada buat dia saat dia jatuh waktu belajar naik sepeda atau sedang bermain. Papa yang ingin sekali dia temui sejak dulu ternyata sudah meninggal dan dia baru tahu sekarang.


"Mama sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf sama Mama."


"Sudah sejak dulu Mama memaafkan kamu."


"Karena kamu tidak pernah berbuat salah sama Mama."


"Dan kamu memang pantas marah dan benci sama Mama." ucap Marisa yang membalas pelukan Anelis dengan sayang.


"Tetap saja Anelis salah, Ma." kata Anelis dengan suara serak.


Anelis mengurai pelukannya, dia menatap lekat mata Marisa. Mata yang sekilas begitu mirip dengan Freya, sang adik. Sama-sama memiliki warna mata coklat, sedangkan dia memiliki warna mata coklat dan sepertinya mirip warna mata sang Papa, Armand.


"Mama jangan pergi ke Belanda dulu."


"Kita disini dulu, temani Ane."


"Anelis ingin mendatangai makam Papa bersama Mama."


"Juga bersama Freya." air mata Anelis semakin deras jatuh membasahi pipinya saat mengingat sang Papa yang telah meninggal juga Freya yang masih belum menerima kehadiran mereka sebagai anggota keluarga.


"Jangan pergi dulu, Ma."


"Kita temui Freya dulu."


"Entah nanti dia akan mengusir kita atau menerima kita, lebih baik kita temui dulu Freya sebelum Mama kembali ke Belanda."


"Aku mohon, Ma. Jangan pergi dulu."


"Kita temui Freya dan ajak dia ke makam Papa."


"Ane mohon, Ma." Anelis memegang kedua tangan Marisa dengan erat.


Marisa hanya diam menunduk dengan menangis dalam diam. Dia sendiri sebenarnya juga ingin bertemu dengan Freya dan mendatangi makam Armand sebelum kembali ke Belanda. Tapi mengingat Freya yang sepertinya tidak mau menatapnya ataupun menerima kehadirannya membuat Marisa mengurungkan niatnya untuk menemui Freya sebelum pergi. Bukan Marisa kecewa pada Freya, tapi mungkin saja Freya yang kecewa pada Marisa. Freya mengira kalau Marisa lah yang tidak mau merawat dan membesarkan Freya.


Marisa mengangkat kepalanya menatap Anelis yang wajahnya sudah memerah karena menangis, matanya juga bengkak. Mungkin kondisinya saat ini sama seperti Anelis. Marisa menggeleng kepalanya pelan.


"Mama tidak bisa sayang."


"Mama harus pergi sekarang."

__ADS_1


"Sebentar lagi Mama harus check-in." kata Marisa karena tadi dia mendengar pengumuman waktu check-in tinggal empat puluh menit.


"Maafkan Mama, Anelis."


"Sampaikan salam Mama pada Freya kalau kamu bertemu dengan Freya."


"Mama dari dulu sampai sekarang sayang sama dia."


"Sama kamu juga, Mama sayang sama kamu." Marisa mencium kening Anelis dan menatap putrinya dengan senyum sedih.


Anelis menggeleng kepalanya pelan saat Marisa melepas genggaman tangannya. Dia ingin sama Mamanya, dia tidak ingin berpisah dengan sang Mama. Walau dirinya juga memiliki rencana untuk pergi setelah mendatangi makam sang Papa dan mendapat maaf dati Freya. Entah dirinya nanti kembali ke Spanyol tempatnya bersembunyi selama memiliki Michel atau ke Belanda tempat yang dia takuti karena di tempat itulah keindahan dan kedamaian di sebuah keluarga hancur saat sang Papa dan sang Adik pergi. Anelis masih memikirkan tempatnya untuk pergi nanti kemana.


"Mama pergi dulu."


"Jaga diri kamu baik-baik." Marisa meraih kopernya dan kembali masuk ke gate pemberangkatan.


"Bagaimana kalau Freya tahu Mama pergi lagi dari hidupnya?"


"Bagaimana kalau Freya justru semakin kecewa dan tidak mau menerima keberadaan Mama."


Marisa menghentikan langkahnya kembali saat mendengar teriakan Anelis.


"Anelis tahu Mama selalu diam-diam menangis untuk Freya juga Papa."


"Mama jangan egois."


"Jangan sakiti hati Mama sendiri dan pergi begitu saja."


"Mama pengecut!! Mama egois!!"


Anelis terus saja berbicara dengan suara lantang tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar menatapnya dengan penuh prihatin.


"Kalau Mama tetap saja pergi, tak hanya Freya yang semakin jauh sama Mama. Tapi Anelis juga akan menjauh lagi dari Mama."


"Anelis benci sama Mama!!" teriak Anelis saat melihat Marisa justru melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pintu kaca setelah melakukan pengecekan.


Andre yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Anelis melangkahkan kakinya mendekati wanita yang sampai detik ini masih menempati tempat yang paling istimewa di dalam hatinya.


Tanpa banyak kata, Andre memeluk wanitanya itu untuk menenangkan. Andre hanya diam sambil sesekali mencium puncak kepala Anelis juga mengusap punggung juga rambut Anelis.


Cukup lama Anelis menangis di pelukan Andre hingga akhirnya suara panggilan telephone yang berisik membuatnya mengurai pelukan Andre. Anelis mengusap air matanya sebelum akhirnya mengambil handphonenya yang dia letakkan di saku celana belakang. Anelis memicingkan matanya saat ID. Name pemanggil itu Bryan. Karena sejak kejadian salah paham itu Bryan maupun dirinya tidak lagi berhubungan.


"Kenapa tidak diangkat? Siapa memangnya?" tanya Andre karena melihat Anelis yang tak kunjung mengangkat telephone.


"Bryan." jawab Anelis dengan suara lirih menyerupai gumaman.


"Angkat saja, siapa tahu penting." saran Andre dan diangguki Anelis yang masih terlihat sedih menahan air matanya.


"Hallo Elis!!!"


"Apa Bibi Marisa benar sudah pergi dari sini?" suara Bryan terdengar begitu panik setelah Anelis mengangkat panggilan telephon dari Bryan.


Namun Anelis hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan Bryan, dia mengingat Marisa yang justru pergi tanpa memperdulikan dirinya juga Freya.


"Elis jawab!! Apa benar Anelis!!" suara bentakan Bryan terdengar di sertai suara tangisan Freya membuat Anelis kembali menangis saat mendengar adiknya yang juga menangis.


"Setengah jam lagi berangkat."


"Sekarang Mama sudah check-in." jawab Anelis dengan suara parau lantas mengakhiri sambungan telephon dan kembali memeluk Andre dan nangis di pelukan pria yang dulu pernah dia cintai. Sangat dia cintai.


**********


Bryan segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh sesuai permintaan sang istri. Padahal dia sangat khawatir mengingat kondisi istrinya yang saat ini tengah berbadan dua. Tapi mau bagaimana lagi, Freya justru marah saat dia memelankan laju kendaraan dan tenang saat saat dia melajukan kendaraan dengan cepat.


Bryan mengemudi dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya memegang tangan Freya yang berkeringat padahal suhu AC di dalam mobil sudah dia full kan.

__ADS_1


"Kok berhenti sih Mas." keluh Freya saat Bryan menghentikan laju mobil.


"Lampu merah sayang." Bryan menjawab dengan nafas lelah.


Freya akan marah kalau ada lampu merah yang menghalangi laju kendaraan yang Bryan kemudikan. Atau Freya akan marah saat tiba-tiba macet walau tidak lama. Bryan sampai geleng kepala melihat tingkah Freya yang sedikit-dikit marah dan merajuk tapi mudah kembali tenang. Entah ini karena bawaan hamil atau apa Bryan tidak tahu. Atau mungkin karena mengejar waktu tiga puluh menit sampai ke bandara dan sekarang sudah lima belas menit lebih namun masih dijalan tak kunjung sampai bandara.


"Kalau lampu merah terus kapan sampainya?!!" Freya kembali mengeluarkan air matanya.


"Aku mau ketemu Mama sekarang."


"Aku nggak mau Mama pergi."


Bryan mengusap kepala Freya dengan pelan. Dia tahu bagaimana perasaan istrinya saat ini. Disaat Freya sudah mau menerima Marisa dengan hati yang lapang, disaat itu juga Marisa pergi tanpa tahu kalau Freya sudah mau menerimanya. Sakit. Mungkin itu yang Freya dan Marisa rasakan saat ini.


"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai. Ini kita sudah memasuki kawasan Bandara." kata Bryan saat mobil yang dia kendarai memasuki kawasan Bandara. Tapi dari pintu masuk menuju gate penerbangan keberangkatan ke luar negeri itu cukup memerlukan waktu yang lama dalam berkendara, kurang lebih sepuluh menitan.


"Semoga penerbangannya delay." harap Bryan dalam hatinya supaya istrinya itu bisa bertemu dengan Marisa dan tidak sedih lagi juga merasa bersalah.


Mobil terparkir sempurna dan Bryan segera memberikan kuncinya pada pengawal yang tadi mengikutinya dari belakang. Dia dan Freya segera masuk dan mencari jadwal penerbangan ke Belanda juga Spanyol karena mereka berdua tidak tahu Marisa pergi kemana.


"Spanyol sudah dua puluh menit yang lalu dan ada lagi setengah jam lagi dari sekarang." kata Bryan saat menemukan jadwal penerbangan ke Spanyol.


Freya diam menatap penerbangan ke Belanda baru saja take off. Dan itu tepat setengah jam dari yang dibilang Anelis di telephone tadi.


"Mama benar-benar pergi meninggalkan Freya." gumam Freya lirih dengan air mata yang sudah membasahi pipinya apalagi saat mendengar suara pesawat yang baru saja mengudara. Dan dia yakin itu pesawat yang Mamanya tumpangi.


"Freya!!"


Freya menoleh begitu juga Bryan saat nama Freya dipanggil oleh seorang wanita. Dilihatnya Anelis berdiri bersama Andre dengan jarak cukup dekat dengan mereka.


Bibir Freya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu saat melihat Anelis. Dengan susah payah Freya berucap, "Kakak" dengan suara lirih.


Freya melangkahkan kakinya cepat begitupun Anelis juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua berpelukan dengan suara tangis yang membuat Bryan juga Andre ikut merasa bahagia bercampur sedih.


"Maafkan Kakak, Reya." ucap Anelis.


"Freya juga minta maaf." balas Freya.


"Mama pergi." ucap Freya.


Anelis mengangguk, "Iya, Mama pergi tanpa memperdulikan kita lagi." balas Anelis.


Mereka masih memeluk erat dalam tangis mereka menahan semua rasa yang bercampur aduk. Antara bahagia dan sedih.


Bahagia karena mereka saling memaafkan dan bisa melepas rindu antara kakak dan adik.


Sedih karena Mama mereka yang harus pergi sebelum semuanya kembali bersatu dalam satu keluarga.


"Kalian jangan sedih lagi. Kalian nanti bisa menyusul Mama kalian ke Belanda."


"Mungkin Bibi Marisa ingin menenangkan diri juga mengenang masa lalunya di Belanda." kata Andre saat kedua kakak adik itu sudah terlihat tenang dan melepas pelukan mereka.


"Apa yang Andre katakan benar adanya. Nanti kamu dan Anelis bisa pergi kesana bersama."


"Tapi tidak sekarang karena kandungan mu masih rawan jika harus dibawa perjalanan jauh, apalagi penerbangan pesawat." timpal Bryan membenarkan perkataan Andre juga memberi peringatan pada istrinya.


Freya dan Anelis hanya mengangguk saja. Mereka akhirnya pulang dengan Freya dan Anelis yang berjalan sambil berpegangan tangan. Sedangkan kedua lelaki itu berjalan di belakang mereka dengan pikiran masing-masing.


Bryan yang memikirkan masalah penggelapan uang perusahaan. Sedangkan Andre memikirkan bagaimana caranya Anelis mau menerima dirinya kembali karena kemarin dia sempat di tolak Anelis dengan alasan sudah tidak ada cinta lagi untuk Andre di hatinya juga sudah tidak ada lagi pengikat mereka. Michel sudah pergi untuk selamanya.


"Ane!!! Reya!!!"


"Maafkan Mama!!"


🍁🍁🍁

__ADS_1


have a nice day


big hug 🤗🤗


__ADS_2