
Mutia diam mematung dengan tatapan kosong mendengar kabar yang tak pernah dia pikirkan akan datang saat ini juga dari dokter yang baru saja selesai memeriksanya. Sungguh sebuah kabar yang membuat hatinya berdebar tidak karuan melebihi saat Rendy melamar dan menikahinya beberapa waktu yang lalu. Kabar ini langsung membuat otaknya berhenti sejenak untuk memikirkan kejadian-kejadian kebelakang dalam waktu satu bulan terakhir.
"Kenapa bisa? Aku baru selesai datang bulan, bahkan baru selesai beberapa hari yang lalu. Kenapa bisa sudah ada dia?"
"Bukankah bulan lalu selepas datang bulan aku juga sudah diperiksa sama dokter dan belum ada hasil apa-apa."
"Tapi kenapa tadi dokternya bilang sudah tujuh minggu?"
"Tidak salah hitung kan tadi tuh dokter?"
Berbeda dengan Mutia yang terus berpikir dan bertanya dalam benaknya, Rendy terlihat tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Bahkan senyumnya semakin lebar waktu sang dokter memberi tahu kalau istrinya tengah hamil dan kehamilannya masuk ke usia lima minggu.
Tak hanya senyum yang Rendy perlihatkan, dia bahkan sampai memeluk dan menciumi wajah Mutia di hadapan sang dokter yang tadi memeriksa istrinya itu. Dia tidak peduli dengan keadaan sekitar, karena yang dia rasakan saat ini hanya kebahagiaannya yang tengah menyelimuti hatinya. Anak yang dia nantikan beberapa bulan terakhir ini akhirnya hadir di dalam rahim Mutia, istrinya.
Anak?? Ya anak. Rendy tadi yang penasaran dengan siapa 'Dia' yang dimaksud Mutia terus saja mencerca berbagai pertanyaan hingga akhirnya Mutia mengatakan sesuatu yang membuat Rendy langsung membawa Mutia ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan.
Dan benar saja. Setelah melakukan test urin dan pemeriksaan USG, Mutia dinyatakan hamil dan kehamilannya sudah memasuki usia lima minggu.
"Terima kasih, sayang. Akhirnya mereka hadir juga di perut kamu. Tak hanya satu, mereka dua sayang. Mereka ada dua."
Mutia hanya menatap Rendy yang tengah memeluknya dan mengutarakan rasa haru dan bahagianya setelah mendapat kabar yang begitu mengejutkan ini. Kabar kehamilannya.
Mutia yang hanya diam saat dipeluk Rendy, beralih menatap sang dokter yang sejak awal mereka menikah sudah menjadi dokter kandungan Mutia. Dokter kandungan yang sama dengan dokter nya Freya. Karena Freya dan Bryan lah yang menyarankan mereka untuk ke dokter kandungan ahli fertilitas. Dokter kandungan yang secara khusus menangani masalah kesuburan.
"Dokter tidak salah memeriksa kan? Dokter tidak memberi harapan palsu kepada kami kan?"
Rendy melepaskan pelukannya pada Mutia saat istrinya itu bertanya kepada dokter. Pertanyaan yang mengandung keraguan di benak Mutia. Apa istrinya itu masih ragu kalau saat ini tengah hamil? Atau istrinya itu tidak mau hamil anaknya? Entah kenapa pikiran Rendy tiba-tiba buruk tentang Mutia saat ini hanya karena melihat keraguan dari pertanyaan yang Mutia ajukan pada dokter.
Sang dokter wanita itu menyunggingkan senyum dan menggeleng pelan kepalanya. "Tidak salah Nyonya, semua benar adanya. Anda sekarang memang hamil dengan usia kehamilan anda sudah lima minggu dan itu artinya anda sudah hamil sejak bulan lalu tanpa anda sadari."
"Ta-tapi, a-aku baru selesai datang bulan kemarin." ucap Mutia lirih. Dia masih belum percaya dengan kabar yang baru saja dia dengar. Menurutnya itu suatu kemustahilan yang harus dicari kenyataannya.
"Boleh saya bertanya?"
Mutia mengangguk ragu pada dokter yang tengah menatapnya serius tanpa melupakan senyum di wajahnya.
"Tanggal berapa anda haid kemarin dan berapa lama?"
__ADS_1
Mutia terlihat berpikir dan mengingat-ingat tanggal berapa dirinya datang bulan kemarin. Seingatnya hanya akhir tahun sebelum tahun baru. Tapi tanggal berapa? Dia lupa.
"Tgl 27 kalau tidak 38. Saya lupa dok. Dan itu berlangsung selama 5 hari saja."
Dokter itu mengangguk paham dengan jawaban yang Mutia berikan meski terlihat ada keraguan saat menjawabnya. Dengan menandai sebuah kalender kecil berbentuk lingkaran, dokter itu kembali bertanya.
"Kalau anda masih ingat, tanggal berapa Nyonya haid bulan yang lalu?"
Mutia menatap Rendy yang juga menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Kening Mutia mengkerut melihat ekspresi datar dari wajah suaminya itu. Rendy kenapa, pikirnya. Dia beralih menatap sang dokter dan mencoba mengingat kembali tanpa memikirkan ekspresi yang Rendy tunjukan kepada dirinya.
"Kalau tidak salah 29-30 November kalau tidak tanggal 1 Desember. Seingat saya itu dok."
Dokter itu tersenyum dan memperlihatkan perhitungan manual yang ada di kalender kehamilan miliknya.
"Lihat ini Nyonya!"
Kening Mutia mengkerut melihat lingkaran yang memiliki warna merah, kuning, hijau, biru muda dan biru tua, serta warna putih dan terdapat angka-angka yang membuat kepalanya pusing tiba-tiba kalau harus menghitung angka maupun rumus saat ini juga. Apalagi mendengar penjelas dokter yang semakin membuat kepalanya nyut-nyutan, pusing.
"Anda beneran hamil, Nyonya. Dan anda haid kemarin itu sebenarnya pendarahan implantasi. Itu seharusnya berlangsung singkat selama satu sampai dua hari dengan volume darah sedikit, seperti bercak darah saja. Tapi, bagaima,_"
"Kemarin saya hanya sedikit saja dok keluar darahnya, tidak sebanyak biasanya seperti waktu datang bulan." sela Mutia dengan rasa penasarannya yang tinggi hingga berani menyela waktu dokter belum selesai memberi penjelasan kepadanya. Karena dia tahu, pasti ujung-ujungnya sang dokter akan menanyakan berapa jumlah volume darah yang dia keluarkan kemarin.
Dokter itu tersenyum dan menatap Rendy sejenak yang sedari tadi diam tanpa ekspresi setelah Mutia mengajukan pertanyaan yang penuh keraguan yang sebenarnya pertanyaan itu hanya sebuah pertanyaan kepastian kalau kabar yang didapatnya itu benar adanya tidak bohong lagi.
"Benar Nyonya. Anda saat ini tengah hamil lima minggu dan anda hamil kembar."
Dengan mengembangkan senyum bahagianya dan dengan mata berkaca-kaca saat mendapatnya kebenarannya, Mutia memeluk Rendy dengan begitu erat. Dia menangis dipelukan suaminya itu meski suaminya itu tidak membalas pelukannya.
"Aku benaran hamil, Rend. Aku hamil anak kamu. Akhirnya aku bisa memberimu keturunan. Mereka ada dua. Seperti yang kamu katakan pada Tuan Bryan kalau kamu akan menyusulnya dengan anak kembar. Doa kamu terkabul, Bee."
Rendy menyunggingkan senyum tipis dan dengan perlahan kedua tangannya membalas pelukan istrinya itu. Dengan memejamkan kedua matanya, Rendy mencium kepala Mutia beberapa kali untuk menyalurkan permintaan maafnya karena sudah berpikiran buruk pada istrinya itu.
"Kita sudah mengalahkan Tuan Bryan dan Freya dengan kita memiliki anak kembar."
Rendy terkekeh mendengar perkataan Mutia yang sudah berhasil mengalahkan Bryan dengan dua anak sekaligus. Ya benar, sebelum Bryan dan Freya pergi ke Swiss kemarin, Rendy dan Mutia akan menyusul keduanya dengan hamil anak kembar. Dan sekarang terbukti, Mutia saat ini tengah hamil anak kembar. Baby twins.
"Hmm..Kita sudah mengalahkan Tuan Muda sombong dan arogan itu."
__ADS_1
Mutia semakin menelungsupkan wajahnya pada dada Rendy dengan air mata kebahagiaan yang terus menetes membasahi pipinya dan kemungkinan sudah membasahi kemeja navy milik suaminya. Senyumnya sedari tadi terus terbit semenjak dokter meyakinkan dirinya kalau di dalam perutnya benar dan sungguh sudah ada dua nyawa bersemayam di dalam perutnya.
*****
Mutia yang tengah duduk di kusi meja makan terlihat menekuk wajahnya. Sepulangnya dari rumah sakit tadi, Rendy memberinya banyak sekali peraturan dan larangan yang tidak boleh dia lakukan selama hamil.
Seperti saat ini, dia hanya duduk saja melihat suaminya yang tengah memasak untuk dirinya dan kedua calon anaknya mereka. Padahal dirinya ingin sekali membantu suaminya masak, tapi ancaman yang Rendy berikan kepada dirinya.
"Tetap duduk disitu atau kita tinggal dirumah Mama? Pilih yang mana?"
Mutia menghembuskan nafas kasar. Mau tetap tinggal berdua dengan suaminya atau tinggal bersama Mama mertua sama saja. Pasti dirinya tidak boleh melakukan pekerjaan apapun seperti saat ini. Dan pastinya peraturan Mama mertuanya akan jauh lebih membuatnya bosan mengingat Mama mertuanya itu sangat menginginkan hadirnya cucu dari pernikahan putra pertamanya itu.
"Tadaaa...Capcay dan ayam teriyaki nya sudah siap."
Seru Rendy dengan rasa bangganya meletakkan masakan yang diminta istrinya sudah siap dihidangkan di meja makan.
"Ayo sayang. Kamu harus makan yang banyak biar baby twin kita tumbuh dengan sehat." ucap Rendy sembari mengambil nasi dan lauk kedalam piring yang Mutia.
"Ini, ayo makan. Aku suapi." Rendy berpindah duduk disamping Mutia.
"Aaaa..." dengan mengarahkan sendok yang berisi nasi dan lauk pada Mutia, Rendy terlihat juga ikut membuka mulutnya berharap sang istri mengikuti dirinya.
"Nggak mau ihh..ada bawang bombai nya." Mutia menjauhkan sendok yang Rendy pegang yang mengarah padanya sambil menutup hidungnya.
"Kenapa kalau ada bawang bombai nya? Kan memang itu bumbu pelengkapnya ratu ku, dewi ku, permaisuri ku, istri ku, ibu dari anak-anak ku."
"Sudah ayo makan. Aaaa.." Rendy berusaha menyuapi kembali istrinya itu.
Dengan menutup hidung dan mulutnya, Mutia menggeleng keras. Dia menolak disuapi kalau masih ada bawang bombai nya.
"Bukannya tadi minta dimasakin capcay sama ayam teriyaki?" Mutia mengangguk cepat mengiyakan kalau dirinya memang ingin makan dengan lauk capcay dan ayam teriyaki.
"Terus kenapa sekarang malah mulut dan hidungnya ditutup rapat seperti itu?" tanya Rendy dengan sebelah alisnya terangkat menatap aneh pada istrinya.
"Ada bawang bombai nya. Perut ku mual lihat bawang bombai." ucap Mutia pelan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari menu masakan yang diolah suaminya tadi
"Aku sisihkan bawang bombai nya, tapi kamu makan ya." kata Rendy sambil menyisihkan bawang bombai yang ada di capcay dan ayam teriyaki ke piring miliknya yang masih kosong.
__ADS_1
Dan benar saja, setelah dia singkirkan si bawang dari bombai alias bawang bombai itu istrinya makan dengan lahap bahkan minta nambah lagi.
"Bawang bombai. Oke, sekarang kau akan aku singkirkan sejauh mungkin seperti mantan sampai tidak terlihat supaya istri bar-bar ku mau makan dengan lahap seperti saat ini."