
"Ssttt..." Mutia mengkode Rendy yang duduk di sofa single sambil mengerjakan sesuatu.
Rendy yang merasa Mutia memanggil dan menatapnya hanya melirik saja. Dia malas berurusan dengan wanita bar-bar macam Mutia. Bawaannya bikin emosi terus.
"Aishh..." Mutia yang geram karena Rendy tak menghiraukannya akhirnya menendang kaki Rendy kencang.
"Kau!!!" geram Rendy sambil mengusap kakinya yang di tendang Mutia.
"Dasar banteng betina." umpat Rendy pelan namun masih didengar Mutia.
"Apa kau bilang manusia robot?" Mutia mendelik tak suka saat Rendy mengatainya banteng betina. Memang aku segede itu apa? batin Mutia geram.
Rendy cuek saja dan melanjutkan pekerjaannya. Tuan Mudanya itu memang tidak suka melihat Rendy yang hanya diam saja menunggu perintah. Pasti Bryan langsung memberi Rendy pekerjaan yang seharusnya Bryan sendiri kerjakan.
Dan saat ini Rendy sedang mengunggah sebuah berita yang akan menggemparkan dunia entertainment.
Karena tidak mendapat tanggapan dari Rendy, Mutia memutuskan mendekati Freya yang sedari tadi duduk diam disamping Maura yang tengah tertidur. Mutia merasa heran kenapa sahabatnya itu sedari tadi saat dia datang bersama Rendy hanya diam saja. Apa terjadi sesuatu tadi saat dia belum datang? Mutia sendiri tidak tahu.
"Maura sudah tidur, Frey?" tanya Mutia basa-basi, padahal dia tahu kalau Maura sudah tidur dari tadi setelah Bryan izin pergi keluar sebentar.
"Pergi kemana Tuan Bryan? Tumben tidak membawa sang asisten." batin Mutia saat melihat Bryan pergi sendirian.
Freya hanya mengangguk dan berdehem, dia masih mengeles tangan Maura supaya tidurnya lebih nyenyak lagi.
"Kamu kenapa?" tanya Mutia pada akhirnya karena dia sudah tidak tahan lagi untuk menanyakan itu sedari tadi dan dia tidak suka basa-basi.
"Aku nggak apa, hanya senang saja besok Maura sudah boleh pulang." jawab Freya menyunggingkan senyumnya menatap Maura yang tengah tertidur.
Mutia mengangguk, dia juga senang karena Maura besok sudah boleh pulang.
"Kemana perginya Tuan Muda tadi?" tanya Mutia pada akhirnya.
"Nggak tahu." jawab Freya singkat dan terlihat malas.
"Kenapa nggak kamu tanyakan saja tadi saat dia mau pergi?" tanya Freya balik pada Mutia.
"Siapa saya Nona? tanya-tanya ke dia." jawab Mutia yang berjalan mendekat ke jendela untuk melihat pemandangan malam.
"Besok jam berapa Maura sudah boleh pulang?" tanya Mutia yang tengah penasaran dengan berita yang begitu hebohnya di media sosial saat melihat handphone nya.
"Mungkin siang kalau nggak_"
"Freya lihat!!" pekik Mutia tiba-tiba membuat Freya tidak melanjutkan ucapannya dan justru melototi Mutia yang memekik kencang.
"Kamu ini bisa nggak sih kalau nggak berisik." geram Freya pada sahabat bar-barnya itu.
"Sorry...Ini lihat." Mutia memberikan handphone nya pada Freya.
Freya menerima handphone Mutia dan dilihatnya apa isinya yang membuat sahabatnya itu memekik kencang dengan ekspresi tak percaya.
Freya menyungging senyum sinis saat tahu isi berita itu. Dia sudah tidak kaget melihat berita itu, karena Freya sudah pernah melihat itu beberapa tahun yang lalu.
"Kenapa kamu biasa saja sih Frey?" tanya Mutia saat melihat ekspresi Freya yang biasa saja tidak seexcited dirinya.
"Memangnya kenapa? Nggak ada hubungannya dengan ku." kata Freya sembari mengembalikan handphone milik Mutia.
"Kamu itu bodoh atau apa sih." geram Mutia saat melihat Freya yang biasa saja.
__ADS_1
"Berarti kamu tidak ada saingannya lagi untuk mendapatkan Tuan Bryan, Freya." sambung Mutia menatap Freya gemas.
"Tidak ada saingannya lagi untuk mendapatkan Tuan Bryan." Freya mengulangi perkataan Mutia.
"Memang kelihatannya aku gitu yang ngejar-ngejar dia?" tanya Freya menatap Mutia tajam. Karena asumsi yang Mutia katakan tadi salah. Yang mengejar itu Bryan bukan Freya. Buat apa coba Freya mengejar-ngejar Tuan Muda Abrisam. Bukannya Tuan Muda itu sendiri yang datang mengejarnya.
Mutia menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Memang benar sih bukan kamu yang mengejar. Tapi kan intinya Tuan Bryan tidak ada yang mengganggu lagi untuk mendapatkan kamu, Freya sayang."
Freya hanya menggeleng kepalanya pelan, dia tidak terlalu berharap Bryan akan menjadi miliknya. Karena Freya tahu diri. Dia tidak pantas sama Bryan yang berasal dari keluarga berada, seorang billionaire. Meski diantara mereka sudah ada Maura.
Tapi kalau takdir memutuskan untuk kami tetap bersama kenapa tidak? Maura akhirnya bisa bersama Ayahnya yang selalu dia tanyakan dan memiliki keluarga yang lengkap. Ada Maura ada Ayah juga ada Bunda. Bukankan itu terlihat sempurna? Apalagi kalau saling menyayangi dan saling menjaga diantara mereka.
"Nona Freya!! Bisa bantu saya?" tanya Rendy yang menibruk perbincangan Freya juga Mutia. Dia datang dengan wajah yang terlihat panik setelah mendapat telephon. Gak biasanya Rendy seperti itu. Biasanya dia akan menunjukkan ekspresi datarnya di situasi apapun.
"Apa?" tanya Freya heran menatap Rendy yang menunduk tidak berani menatap Freya. Karena Rendy sudah diberi ultimatum sama Bryan tidak boleh menatap gadis kecilnya selama satu detik dan selebihnya menunduk.
"Terjadi sesuatu sama Tuan Bryan dan saya meminta bantuan anda untuk menolong Tuan Muda." Jawab Rendy cepat.
"Karena hanya anda yang bisa membantu Tuan Muda keluar dari masalah ini." sambung Rendy menatap Freya beberapa detik. Netra coklat yang Freya miliki sempat Rendy lihat. Indah dan cantik juga terlihat teduh meski sedikit tajam tatapannya.
"Pantas saja Tuan Muda tidak ingin para pria menatap Nona Freya. Aku saja hampir terhipnotis walau hanya menatapnya sebentar." batin Rendy yang masih sempatnya menilai Freya.
"Kenapa harus aku?" tanya Freya
"Aku bukan siapa-siapa nya." sambung Freya yang malas membantu Bryan. Bukannya Bryan tadi pergi menemui Manda? Kenapa bukan Manda saja yang menolong Bryan. pikir Freya.
"Nona saya mohon. Hanya anda yang bisa membantu Tuan Bryan." pinta Rendy dengan menundukkan kepala lebih dalam lagi.
"Bantu saja Freya."
"Kasihan nanti kalau Tuan Bryan kenapa-kenapa."
"Kalau dia melihat Ayahnya kenapa-kenapa kasihan Mauranya jadi sedih." ujar Mutia yang berusaha meyakinkan Freya untuk membantu Bryan. Padahal dia sendiri tidak tahu apa masalah yang dihadapi Bryan saat ini.
"Nona, tolong bantu Tuan Muda." pinta Rendy lagi dengan nada rendah penuh harap.
Freya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Baiklah. Dimana dia sekarang?" tanya Freya yang akhirnya menyetujui permohonan Rendy untuk membantu Tuan Mudanya.
"Mari saya antar ke tempat Tuan Muda sekarang, Nona."
Akhirnya Freya menuju tempat dimana Bryan berada diantar Rendy. Hotel???
"Ngapain kita ke hotel?" tanya Freya yang merasa heran kenapa Rendy membawanya ke hotel.
"Terjadi sesuatu dengan Tuan Muda disini." jawab Rendy singkat dan segera turun diikuti Freya.
"Kamu gak akan menjebak ku kan?" tanya Freya menatap Rendy tajam.
"Tidak Nona." jawab Rendy cepat. Kalau dikasih tahu yang sebenarnya bisa digolok dia nanti sama Freya. Dan mungkin sama Tuan Mudanya juga. Entahlah, yang penting bawa dulu Nona Freya ke kamar hotel milik Tuan Muda. Itu lebih baik.
"Mari Nona, sebelum Tuan Muda kenapa-kenapa." Rendy melangkah duluan masuk ke dalam hotel.
Dengan ragu Freya mengikuti Rendy. Dia merasa dejavu dengan situasi saat ini. Seperti beberapa tahun yang lalu saat dia datang ke apartemen Bara.
"Silahkan masuk Nona." Rendy mempersilahkan Freya masuk ke kamar hotel yang begitu luas dan mewah didalamnya. Seperti sebuah rumah di dalam hotel.
"Kamu tidak menjebak ku kan?" tanya Freya lagi memastikan.
__ADS_1
"Tidak Nona." jawab Rendy tegas walau sebenarnya memang iya.
Freya masuk ke kamar itu dengan ragu. Dia melihat setiap sudut kamar hotel itu yang begitu luas dan mewahnya. Juga terdapat kolam renang pribadi di dekat balkon kamar.
"Dimana Bryan?" batin Freya saat tidak melihat adanya Bryan di kamar itu.
Ceklek
Freya menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, dia mendapati Bryan yang terlihat acak-acakan, kacau dengan mata memerah. Freya juga melihat keterkejutan Bryan saat menatap dirinya.
"Kenapa kau membawa dia bodoh."
Freya tersentak saat mendengar Bryan yang berteriak membentak Rendy.
"Maaf Tuan." hanya itu yang keluar dari mulut Rendy. Dia menunduk tidak mau menatap mata Tuan Mudanya.
"Cepat bawa Freya pergi dari sini." perintah Bryan tegas tanpa menatap Rendy maupun Freya. Nafasnya memburu menahan hawa panas di tubuhnya saat melihat Freya ada di dalam kamar hotelnya. Ingin rasanya Bryan membawa Freya ke atas ranjangnya namun dia tahan. Dia tidak ingin menyakiti hati wanitanya. Dia tidak ingin melakukan itu disaat seperti ini. Tapi dia sendiri sudah tidak tahan. Hawa panas ditubuhnya semakin meningkat dan ingin dia ingin segera mendapatkan tempat untuk pelepasan.
"Tapi Tuan_"
"Pergi aku bilang!!" sentak Bryan mengusir Freya juga Rendy dari sana.
"Kamu mabuk karena melihat berita Amanda yang bermain dengan banyak pria?" tanya Freya menatap punggung Bryan.
"Sial!!!" Bryan menggusar rambutnya ke belakang, dia mendengar suara Freya membuat darahnya semakin mendidik. Suara itu terdengar sek si di telinga Bryan.
Nafas Bryan memburu hebat, dia berbalik dan menatap Freya dengan kabut gairah. Ingin rasanya Bryan menerjang tubuh Freya saat ini juga. Apalagi saat melihat Freya yang menatapnya juga. Bryan berjalan pelan mendekati Freya.
"Nona, Tuan Bryan dalam pengaruh obat perangsang." kata Rendy cepat saat melihat Bryan yang berjalan mendekati Freya.
"Apa???" Freya terkejut saat tahu kenapa dia dibawa paksa Rendy untuk menemui Bryan di hotel. Dia diminta membantu Bryan untuk menyalurkan hasratnya.
"Freya.."
Suara serak dengan tatapan sayu Bryan membuat Freya meremang. Sebelum Bryan melakukan yang tidak dia inginkan Freya segera manarik kuat Bryan dan dibawanya ke balkon.
Byuurrrr
Freya menceburkan dirinya ke kolam bersama dengan Bryan. Dia tidak peduli harus kedinginan karena berenang malam-malam. Lebih baik kedinginan daripada melakukan kesalahan seperti yang lalu dengan orang yang sama.
Bukannya hanya panas akan cepat menurun jika terkena hawa dingin. Dan air kolam ini terasa dingin ditambah udara malam yang dingin.
Rendy sungguh tak percaya apa yang telah dilakukan Freya pada Tuan Mudanya. Dia berdiri mematung melihat Freya menceburkan dirinya di kolam bersama Bryan.
"Anda sungguh luar biasa Nona."
🍁🍁🍁
Have a nice day
jangan lupa like and vote kakak-kakak readers
yang menginginkan adanya adegan kiuw kiuw yang mengakibatkan nantinya Maura punya adik,
maaf yaa...belum saatnya author memberikan adegan itu.
ditunggu saja waktunya.
__ADS_1
Big Hug From Far Away 🤗🤗🤗
dewi widya