
"Ayah!!!"
Maura berlari saat melihat Ayahnya sedang duduk berbincang dengan beberapa pihak yang mendukung kelancaran acara pernikahannya dengan Freya besok. Papa Abri juga Mama Lea juga terlihat ada di sana diantara mereka.
Bryan menoleh saat mendengar teriakan putrinya, dia berdiri sedikit menunduk dan tersenyum menyambut putrinya ke dalam gendongannya.
"Cantiknya Ayah kok turun sendirian sama aunty Caca. Bunda mana?" tanya Bryan yang duduk kembali sambil mendengar laporan kesiapan acaranya besok. Kini mereka semua sudah ada di salah satu hotel milik keluarga Abrisam sendiri tepatnya hotel yang Bryan desain sendiri.
"Bunda di kamar sama Kakek dan juga Nenek. Maura tadi diminta turun sama aunty Caca." jawab Maura yang matanya menatap lapar hidangan yang ada di depan matanya. Beberapa jenis dessert yang begitu menggugah selera makan Maura.
Bryan mengangguk paham, mungkin Freya ingin berbicara dengan Paman juga Bibinya yang Papa Abri datangkan langsung dari kota asalnya.
Seminggu yang lalu setelah Bryan menyatakan kalau akan mempercepat pernikahannya dalam satu minggu lagi, Papa Abri begitu senang dan langsung menanyakan silsilah keluarga Bapaknya Freya, karena dia tahu kalau kedua orang tua Freya sudah meninggal. Jadi Papa Abri harus mencari adik ataupun kakak dari Bapaknya Freya untuk di jadikan wali nikah Freya.
Dan setelah pencarian juga sedikit sogokan karena awalnya keluarga dari Bapaknya Freya tidak mau mengakui Freya ataupun menjadi wali nikah Freya. Akhirnya mereka menyetujuinya dengan syarat memberikan uang kepada mereka sebesar 500 juta sebagai gantinya sebagai wali. Papa Abri tidak keberatan dengan syarat yang mereka ajukan. Justru Papa Abri memberikan mereka uang empat kali lipat dari syarat awal karena mereka juga memberikan informasi yang begitu mengejutkan. Papa Abri memberi mereka uang 2 miliyar secara cash dan disambut dengan suka cita oleh keluarga Pamannya Freya.
"Ayah.." Maura memanggil Bryan dengan lirih.
Bryan berdehem dan menundukkan kepalanya, "Maura boleh minta itu." bisik Maura pada Ayahnya.
Maura menunjuk Chocolate caramel puding cake, Macaroon, juga Meringue.
Bryan menatap heran makanan yang ditunjuk Maura. Dia kira cuma satu, ternyata ada tiga jenis dessert yang Maura pilih dan bukankah putrinya tadi sudah makan Lasagna, batin Bryan.
"Boleh ya, Yah!!" Maura memohon dengan menampilkan puppy eyes nya.
Bryan menyunggingkan senyum tipis , dia begitu gemas dengan putrinya itu dan mengacak pelan rambut Maura, "Boleh, tapi gak boleh banyak-banyak dan dihabiskan ya." Maura mengangguk.
"Oke Ayah." sahut Maura dengan semangatnya. Dia masih lapar, padahal tadi dia sudah makan Lasagna sampai habis.
Bryan meminta Caca untuk mengambilkan apa yang Maura inginkan, karena di dekatnya hanya ada pie strawberry juga puding custard dan kelihatannya Maura tidak tertarik dengan itu.
"Kak..Sepertinya Bibinya Kak Freya gak suka deh sama Kak Freya. Tadi Caca dengar dia membentak Kak Freya gitu."
"Makanya Caca ajak Maura turun." bisik Caca setelah mengambilkan makanan yang Maura inginkan.
Bryan memicingkan matanya menatap adiknya itu, dia beralih melihat yang lain yang masih terdengar berbincang.
"Pa, Bryan mau ke kamar sebentar." pamit Bryan berbisik dan hanya diangguki Papa Abri.
"Ayah ke kamar sebentar ya, Maura habiskan dulu makannya." Maura mengangguk saja karena mulutnya baru saja menggigit macaroon.
"Jagain Maura." Bryan menepuk pundak Caca.
Caca mengangguk dan mengacungkan jempol tangannya.
..................
"Terima kasih Paman sama Bibi sudah mau datang dan sudi menjadi wali nikah bagi Freya menggantikan Bapak yang sudah meninggal." ucap Freya menunduk mengingat Bapaknya juga Ibunya yang sudah meninggal.
"Ck..kalau bukan karena uang dan juga kalau bukan mertua kamu keluarga Abrisam yang kaya raya itu, Paman kamu juga tidak sudi menjadi wali nikah kamu." kata Bibi Freya dengan sinis.
"Gaga-gara Arman pulang bawa kamu, dia diusir dari rumah tanpa membawa apapun."
"Dan anehnya Arini tetap saja mengikuti Arman yang telah berbuat salah itu." sambung Bibi Freya yang berbicara dengan nada ketus.
Freya cuma diam menunduk menyembunyikan kesedihannya. Dulu Bapaknya pernah bercerita kalau dia harus pergi dari rumah bersama Istrinya karena dia melakukan kesalahan. Entah kesalahan apa, Freya tidak tahu karena Bapaknya hanya bilang kalau dia mempunyai salah yang tidak bisa dimaafkan di keluarganya dan juga Istrinya.
Tapi Ibunya kemarin sebelum menghembuskan nafas terakhirnya sempat mengatakan kalau Freya bukanlah anak kandungnya.
"Freya anak baiknya Ibu. Terima kasih kamu sudah mau merawat Ibu yang bukan Ibu kandung kamu ini, nak."
"Maksud Ibu? Freya kan anak kandung Ibu sama Bapak."
"Kamu memang anak kandung Bapak kamu, tapi bukan anak kandung Ibu."
"Bapak kamu dulu pulang dari tugas negaranya selama tiga tahun, pulang-pulang bawa bayi perempuan yang berusia delapan bulan."
"Tidak mungkin..Freya anak Ibu."
"Ibu Arini ibu kandungnya Freya. Tidak ada yang lain."
"Itu kenyataannya, Nak."
"Ibu kamu namanya Marisa Almeera, seorang muslim dari Belanda."
"Hanya itu yang Ibu tahu."
"Kata Bapak kamu, wajah kamu mirip dengan Ibu kamu."
"Freya anak Ibu Arini, hanya Ibu Arini."
"Terima kasih anak baiknya Ibu."
__ADS_1
"Jaga diri kamu dengan baik dan juga Mora."
"Ibu harus istirahat dulu"
"Ibu!!!!" teriak Freya dengan menangis kencang saat mendapati Ibunya telah tiada.
"Sudah, gak usah pura-pura sedih seperti itu."
"Memang kenyataannya begitu, kamu yang membuat Arman diusir dari rumah." Timpal Paman yang sedari tadi diam saja itu. Dia melihat Freya yang hampir menangis.
"Kenapa sih Pa kita harus menemui dan berbicara dengan anak pembawa sial ini." Freya mengangkat kepalanya menatap Bibi nya. Apa maksudnya Bibi bicara seperti itu, batin Freya.
"Lebih baik kita kembali ke kamar."
"Tugas Papa hanya menjadi wali bagi dia, tidak lebih dari itu." Bibi Freya menarik tangan suaminya untuk diajak kembali ke kamar.
"Maksud Bibi apa berbicara seperti tadi?" Freya berdiri dari duduknya.
"Freya bukan anak pembawa sial , Bi." Freya menatap tajam pada Bibinya, dia begitu marah saat dirinya disebut anak pembawa sial. Lagi-lagi dia disebut seperti itu.
"Memang kenyataannya seperti itu." Bibi Freya langsung melangkah keluar bersama Paman Freya tanpa memperdulikan Freya yang terlihat marah.
Freya menghembuskan nafas kasar dan membanting tubuhnya di sofa. Dia memejamkan matanya dan menarik nafas berkali-kali untuk menghilangkan amarah dan kesedihannya.
Huufftttttt
Freya mengerjap beberapa kali saat merasakan ada yang meniup wajahnya. Dia membuka matanya sedikit dan mendapati Bryan yang tengah tersenyum menatapnya.
"Kamu dari tadi?"
"Kamu ngapain?"
Keduanya tertawa saat mereka sama-sama bertanya dalam waktu bersamaan. Freya menegakkan badannya dan duduk bersila menghadap Bryan.
"Paman sama Bibi kamu tidak ngapa-ngapain kamu 'kan?" tanya Bryan menatap Freya sambil mengusap lembut rambut kepala Freya.
Freya menggeleng pelan dan menyunggingkan senyum pada Bryan.
"Tapi mata kamu tidak bisa berbohong, sayang." ucap Bryan yang melihat kesedihan dan amarah di matanya.
Senyum di wajah Freya leyap berganti dengan wajah sedih dan tatapan sendu.
"Kenapa?" tanya Bryan lembut. Dia menyingkirkan anak rambut Freya yang ada di pipi ke belakang telinga.
Freya menunduk dan memilin kedua tangannya, "Maaf."
"Aku bukan anak kandung Ibu Arini yang telah merawat ku selama ini."
"Aku nggak tahu Ibu aku siapa." hik..hik..hik..Bryan membawa Freya ke pelukannya.
"Apa aku pantas buat kamu." Freya mendongak menatap Bryan.
"Seorang Tuan Muda yang begitu banyak di gemari kalangan wanita."
"Apa pantas bersanding dengan seorang wanita yang tidak tahu asal usulnya seperti aku ini." hik..hik..hik..
Bryan menatap Freya dalam, dia mengusap air mata yang membasahi pipi dan juga pelipis Freya.
"Aku tidak peduli pantas apa tidaknya aku bersanding dengan mu."
"Yang aku pedulikan saat ini hanya ingin hidup berdua dengan kamu dan juga Maura bersama adik-adik Maura nantinya."
"Hanya aku dan kamu juga anak-anak kita." Bryan menunjuk dirinya dan juga Freya bergantian.
"Tapi aku anak dari hasil sebuah kesalahan yang telah dilakukan Bapak dengan wanita itu." kata Freya menatap sedih pada Bryan.
"Aku tidak peduli, aku hanya mau kamu."
"Hanya kamu Freya Almeera Shanum." Bryan menatap Freya lembut. "Karena aku sudah tahu kebenarannya. Kamu bukan anak haram ataupun anak diluar nikah Freya." sambung Bryan dalam hati.
"Kenapa kamu begitu baik sama aku, Bryan?" tanya Freya.
"Karena aku sayang sama kamu." jawab Bryan cepat.
"Karena sayang??? aku kira kamu cinta sama aku Bryan." batin Freya menangis saat mendengar jawaban cepat dari Bryan. Tapi dia berusaha untuk tersenyum walau tipis dan terpaksa.
"Kenapa kamu masih memanggil aku, Bryan? hemmm" tanya Bryan yang gemas dengan menjembel pipi Freya.
"Besok kita sudah menikah dan seharusnya kamu memanggil aku, 'sayang, honey, dear, sweety, baby, darling, cintaku atau suamiku'." sambung Bryan.
Freya menggeleng cepat.
"Kenapa?" tanya Bryan setengah kesal.
__ADS_1
"Karena kamu belum resmi jadi suamiku." Freya melepaskan diri dari pelukan Bryan.
"Dan aku masih marah sama kamu." sungut Freya menatap Bryan dengan cemberut.
"Marah kenapa lagi sih, sayang?" tanya Bryan yang bengung dan heran. Perasaan dia salah terus dimata Freya.
"Aku marah karena kamu baru menemukan ku dan mengajak menikah."
"Kenapa nggak dari dulu-dulu saja?" tanya Freya.
Bryan tersenyum mendengar itu. "Dulu aku sudah mencarimu, namun tidak ketemu." jawab Bryan.
"Tapi kenapa kamu pergi waktu itu saat aku sudah menemukanmu.?" tanya Bryan balik.
"Karena aku takut kamu akan mengambil Maura dari aku." ucap Freya sedih.
Bryan mengambil kedua tangan Freya dan digenggamnya. "Aku bukan lelaki seperti itu. Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku pada mu dengan menikahi mu dan hidup bahagia bersama Maura juga."
"Apalagi kamu berhasil membuat 'si rosi' berdiri tegak seperti keadilan."
"Dan membuatnya merasakan betapa nikmatnya ketika kamu menjepit 'si rosi' hingga keluar." kata Bryan dengan tampang mesumnya menatap Freya.
"Ishhh...apain sih kamu!!" seru Freya yang pura-pura marah dan memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di pipi. Freya menggigit bibir bawahnya untuk tidak tersenyum.
"Kita olahraga yuk seperti kemarin."
Freya sontak saja menoleh dan menatap Bryan dengan mata membola penuh. "Coba diulangi lagi."
"Kita olahraga yuk seperti kemarin." ulang Bryan dengan semangat sambil senyum-senyum nggak jelas.
"Ayo berdiri..." Freya berdiri dan menarik tangan Bryan yang sedari tadi masih menggenggam kedua tangannya.
"Ngapain berdiri? kita olahraga di sofa saja enak, sayang." namun Bryan tetap saja menurut dan tetap berdiri.
"Iya enak, tapi sempit dan badanku sakit semua." keluh Freya dengan cemberut mengingat kemarin badannya sakit semua.
Bryan hanya terkekeh pelan, jujur saja kemarin badannya juga sakit karena sofa di apartemen Freya terlalu kecil buat dirinya. Tapi entah kenapa dia begitu menikmati permainannya dengan Freya.
"Kenapa kamu membawa aku ke kamar mandi?" tanya Bryan yang heran, kemudia dia menyeringai menatap Freya.
"Jangan bilang kamu mau kita olahraga disini." Bryan menarik tangan Freya yang masih di genggamnya hingga membuat tubuh Freya berada di rengkuhannya.
"Kalau iya kenapa?" tanya Freya dengan memainkan jari tangannya di dada Bryan.
"Ternyata kamu nakal juga ya." Bryan yang gemas akhirnya mencium bibir Freya.
Cup
Bryan menatap Freya kesal, karena bukan bibir yang dia cium melainkan tangan Freya yang menutupi bibirnya.
"Tunggu dulu!"
"Aku mau menyiapkan sesuatu untukmu dan tolong lepaskan aku dulu."
"Please!!" pinta Freya dengan wajah memelas.
Bryan menghembuskan nafas kasar dan melepaskan Freya pada akhirnya.
Freya tersenyum senang pada akhirnya setelah lepas dari rengkuhan Bryan. Dengan cepat dia berlari keluar dari kamar mandi.
"Olahraga saja sendiri!!" teriak Freya sambil berlari.
Bryan menatap tak percaya pada bayangan Freya yang sudah menjauh. Dia terkekeh pelan sambil menggeleng kepala.
"Bisa-bisanya aku di kerjai gadis kecilku."
Bryan menumpukan kedua tangannya di meja wastafel dan melihat dirinya di pantulan cermin.
"Malam ini kamu bisa lolos Freya."
"Tapi tidak dengan malam setelah ini."
"Akan aku gempur kamu habis-habisan sampai kamu tidak bisa jalan nantinya." gumam Bryan dengan terkekeh.
"Prepare yourself, dear. Because tomorrow you will be mine alone."
🍁🍁🍁
have a nice day
thank's for Like, Vote, Comment, and Gift
terima kasih atas dukungannya dan masih setia dengan Maura dan Ayah Bundanya.
__ADS_1
Big hug from far away 🤗🤗🤗
dewi widya