Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Seorang Imam


__ADS_3

Udara malam yang dingin tidak menyulutkan semangat bagi penduduk bumi untuk merayakan pergantian tahun. Begitu banyak kegiatan juga acara yang mereka lakukan untuk menyambut datangnya tahun yang baru dengan kehidupan yang jauh lebih baik lagi.


Sama halnya dengan keluarga Abrisam yang berada di Swiss. Mereka semua tengah berada dihalaman rumah untuk merayakan pergantian tahun. Dengan api unggun yang sudah menyala di satu titik, mereka semua melakukan tugas mereka masing-masing.


Seperti Anelis yang dibantu Alex juga Bara tengah membakar beberapa jagung juga memanggang daging dan sosis. Mereka bertiga terlihat begitu senang mendapat tugas bakar membakar. Padahal nyatanya Anelis hanya tertawa saja mendengar Alex juga Bara tengah mengatai orang yang kemarin meminta mereka berdua menyiapkan tempat untuk dinner juga sekaligus merayakan ulang tahun buat Freya. Semuanya gagal, bahkan mobil yang sudah dijanjikan pun juga sudah lenyap dari hadapan kedua mata mereka hanya karena Maura melarang Bryan berduaan dengan Freya. Maura takut nanti Bundanya sakit lagi.


"Ini kenapa jagungnya gosong seperti ini?!" keluh Mama Lea saat ingin mengambil jagung yang sudah selesai dibakar.


"Siapa ini tadi yang bakar?" tanya Mama Lea menatap ketiga orang yang ditugaskan pada bagian barbeque.


Secara kompak Anelis juga Bara menunjuk Alex yang terlihat santai saja dengan memakan beberapa sosis yang sudah siap dipanggang.


"Kenapa sih Bibi Lea yang cantiknya paripurna sejagat raya?"


"Wajar saja jagungnya gosong. Namanya juga jagung bakar, kalau tidak gosong namanya jagung rebus." kata Alex dengan tampang tidak bersalahnya juga senyum-senyum tak jelas.


Mama Lea geleng kepala mendengar jawaban dari Alex. Memang benar apa yang Alex katakan, sesuatu yang dibakar itu pasti hasilnya akan gosong. Tapi kalau untuk dimakan, tidak mungkin sampai gosong semua.


"Kenapa Alvaro punya sahabat seperti dia sih ya Allah?" keluh Mama Lea yang pusing melihat tingkah dari sahabat putranya yang menurutnya tidak ada yang beres semua dan hanya Rendy yang menurutnya selalu berada di jalur yang tepat dan tidak neko-neko.


"Bakar lagi! Jangan sampai ada yang gosong seperti kamu dan antar kesana." pinta Mama Lea yang berlalu pergi sambil membawa beberapa hasil panggangan yang sudah siap.


"Ibu sama anak sama saja. Tukang perintah." gerutu Alex yang memang tidak suka diperintah. Inipun dia lakukan karena dia sendiri yang datang ke tempat Bryan tanpa diundang. Tidak mungkinkan dia hanya duduk santai menikmati hidangan, padahal dia bukan tamu tak diundang.


"Aku yakin kalau Rendy ada disini, kau akan ditertawakan sama musuh bebuyutan mu itu. Dan pasti kau akan kalah sama dia." ejek Bara dengan menertawakan Alex yang memang dari dulu tidak pernah sepaham dengan Rendy dan selalu berusaha menjadi yang paling terbaik dan terdepan dari Rendy.


"Sorry! Nggak kenal yang namanya Rendy." sewot Alex yang paling tidak suka jika harus dibandingkan dengan Rendy sedari dulu.


"Masih sensi saja karena tidak mendapatkan Mutia." celetuk Bara.


"Kau!! Jaga mulut kompor mu itu." Alex yang geram sama Bara lantas memiting leher Bara dengan tangan kanannya.


"Alex!!! Mana jagung bakarnya!?"


Alex mengumpat dan melepaskan tangannya dari tangan Bara saat mendengar teriakan menggelegar dari Nyonya besar yang memiliki suara melengking seperti suling. Dengan terburu dia membakar beberapa jagung lagi sesuai permintaan Mama Lea.


Tidak jauh dari mereka, ada Bryan yang terlihat tidak semangat dan begitu malas menemani Maura bermain kembang api. Dia benar-benar tidak diperbolehkan sama Maura untuk mendekati Bundanya, Freya. Maura takut nantinya Bundanya akan merasakan sakit lagi dan anak kecil itu paling tidak tega kalau melihat Bundanya merasakan sakit.


"Ayah!! Ayo nyalakan lagi." pinta Maura yang sudah mengambil lagi kembang api diatas meja.


"Yang banyak sekalian ya Ayah." kata Maura saat melihat Ayahnya mengambil kembang api yang baru.


"Semuanya?" Maura sontak mengangguk semangat sebagai jawabannya. Dia begitu suka melihat ledakan kembang api di perayaan tahun baru. Menurutnya ledakannya begitu indah meski dirinya hanya melihatnya di televisi karena sang Bunda tidak pernah mengajaknya keluar untuk melihat kembang api dan ini baru pertama kalinya dirinya melihat kembang api secara langsung.

__ADS_1


"Sini dulu! Ayah mau bicara." Bryan berjongkok dan meminta Maura mendekat padanya.


"Apa Ayah?" tanya Maura yang langsung duduk di paha Ayahnya sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Ayahnya.


"Maura mau Ayah menyalakan semua kembang apinya?" tanya Bryan dan langsung diangguki Maura.


"Maura tahu kalau Bunda takut sama kembang api?" lagi-lagi Maura menganggukkan kepalanya.


"Maura tahu, karena Bunda tidak pernah mengajak Maura melihat kembang api. Maura minta dibelikan kembang api juga tidak pernah dituruti." kata Maura mengingat dulu tiap kali minta dibelikan kembang api, Bundanya selalu marah. Dirinya juga tidak pernah diajak untuk melihat kembang api saat tahun baru.


"Kalau Maura tahu Bunda takut sama kembang api, kenapa Maura meminta dibelikan kembang api sebanyak ini? Dan kenapa Maura meminta Ayah menyalakan semua kembang apinya?"


Maura menatap Ayahnya bingung, dia bingung harus menjawab apa. Dia sendiri tidak tahu kenapa, yang pasti saat ini dia ingin sekali melihat kembang api dan menyalakan sendiri kembang apinya.


"Kenapa? hmmm." Bryan menaikkan sebelah alisnya melihat putrinya yang tengah bingung dan terlihat tengah berpikir sebelum menjawab pertanyaannya.


"Itu....!!" Maura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia hanya bingung saja harus menjawab apa.


"Bunda dari tadi tidak keluar dari kamarnya saat tahu Maura minta dibelikan kembang api." kata Bryan yang mengingat saat ini Freya tengah berada di dalam kamar ditemani Mama Marisa.


"Maura yang meminta Bunda untuk tetap didalam kamar karena Maura tidak ingin Bunda dekat sama Ayah. Maura tidak mau Bunda sakit lagi seperti tadi." Maura mengingat Bundanya yang tadi sore merasakan sakit pada pinggangnya dan langsung sembuh saat tidak berdekatan dengan Ayah Bryan.


Bryan menghembuskan nafas kasar. Sebenarnya tidak ada hubungannya Freya sakit karena dekat dengannya atau tidak. Freya hanya merasakan kontraksi-kontraksi kecil karena sudah menjelang hari kelahiran Bryan Junior.


"Bunda sebentar lagi akan melahirkan, jadi wajar saja kalau Bunda sering merasakan sakit pada punggungnya apalagi perutnya."


"Apa Maura tidak kasihan sama Bunda kalau harus merasakan sakit sendiri tanpa ada Ayah disamping Bunda?" tanya Bryan sambil menatap Maura dengan lembut.


Maura menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak ingin Bundanya menahan sakit sendirian tanpa ada yang menemani disisi Bundanya. Maura juga mengingat dulu dia selalu ditemani Bundanya tiap kali sakit.


"Maura tidak mau Bunda sendirian." kata Maura dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia paling tidak suka melihat Bundanya sakit.


"Ayah boleh menemani Bunda, tapi Ayah tidak boleh membawa Bunda kemana-mana." Bryan tersenyum saat akhirnya dirinya bisa menemui Freya.


"Ayah tidak boleh membawa Bunda ke tempat yang sudah disiapkan Paman Bara sama Paman Alex." Bryan mengerutkan keningnya bingung, darimana putrinya tahu, pikirnya.


"Ayah hanya boleh menemani Bunda dikamar saja. Nanti akan Maura kirim makanan juga minuman buat Ayah sama Bunda." kata Maura dengan mengusap air matanya yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.


Bryan bernafas lega, seenggaknya dirinya bisa menemui Freya meski acara dinner yang sudah disiapkan sedari kemarin gagal untuk sekian kalinya.


"Jadi Ayah boleh dekat lagi sama Bunda kan? Menemani Bunda?" tanya Bryan dan diangguki Maura.


Bryan tersenyum kecil dan mencium putri kecilnya itu dengan gemas. Akhirnya bisa bebas dari Maura dan menemui Freya yang sedari sore tidak bisa didekatinya karena selalu dihalangi Maura.

__ADS_1


"Tapi Ayah temani Maura sebentar saja. Nyalakan dulu kembang apinya, setelah itu Ayah boleh menemani Bunda." tunjuk Maura pada kembang api yang tergeletak diatas meja.


Bryan mengangguk setuju dan menurunkan Maura yang duduk dipahanya. Dia berdiri dan melakukan apa yang Maura inginkan tadi.


Maura berteriak kesenangan saat kembang apinya meluncur ke udara dengan bentuk dan warna yang indah.


"Happy new year!!" teriak Maura dengan berlompat-lompat.


Bryan hanya geleng kepala sambil tersenyum kecil, padahal tahun barunya masih satu tengah jam lagi, tapi ini sudah menyalakan kembang api dan sudah hampir setengah dari yang dibeli tadi sudah habis duluan.


"Sudah ya. Maura ditemani aunty Caca, Ayah masuk ke dalam dulu." Maura mengangguk saja dan membiarkan Ayah Bryan menemani Bunda Freya.


Bryan masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya untuk menemui Freya. Dia menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan antara Freya dengan Mama Marisa.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kasihan debay nya nanti ikut sedih." kata Mama Marisa sambil mengusap lembut surai Freya.


"Freya ingat dulu saat hamil dan melahirkan Maura, Ma."


"Freya..Freya tidak,_" Freya tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Dia merasa sangat kotor dan berdoa saat itu.


Mama Marisa membawa Freya kedalam pelukannya. Beliau tahu maksud Freya yang dulu pernah hamil diluar nikah, putrinya itu pasti tidak pernah mengeluh sakit selama hamil dan melahirkan, sama seperti Anelis dulu saat hamil Michel. Berbeda dengan sekarang, Freya selalu mengeluh sakit selama kehamilannya kini.


Diusapnya surai panjang Freya dengan lembut, memberi ketenangan buat putrinya itu. Andai saja dulu beliau ketemu Freya sejak awal saat Bapak Armand masih hidup, mungkin nasib putrinya tidak akan seperti saat itu. Meskipun sudah terlanjur, seenggaknya dulu beliau bisa memberi semangat pada putrinya jangan sampai terpuruk dan memiliki banyak trauma seperti saat ini.


"Semua yang terjadi dulu, buatlah kejadian kemarin menjadi pelajaran buat diri kamu jauh lebih baik lagi nantinya."


"Itu bukan kehendak kamu, itu sudah takdir yang digariskan oleh Allah." Mama Marisa melepaskan pelukannya dan memegang pipi Freya sambil menghapus air mata yang jatuh di pipi putrinya.


"Manusia itu tempatnya salah dan khilaf, dan sebagai seorang muslim kita memiliki Tuhan yang maha pengampun dan pemurah."


"Jadi mintalah ampun kepada-Nya. Bertaubatlah dengan sungguh-sungguh kepada-Nya atas dosa yang pernah kamu lakukan bersama Bryan dulu."


"Teruslah beristighfar atas dosa dan kesalahan yang telah kita perbuatan selama ini meski kita sudah bertaubat."


Bryan yang berada di balik pintu menyandarkan kepalanya pada daun pintu dengan mata terpejam. Dia merasa begitu banyak dosa yang telah dia perbuat mengingat dia sama sekali belum pernah bertaubat. Dia sholat hanya sholat saja karena gengsi saat melihat Freya sholat.


Bryan memijat pangkal hidungnya pelan merasakan dirinya yang gagal menjadi imam yang baik untuk istri dan anaknya. Dia selama ini hanya memberi kebahagiaan untuk istri dan anaknya dengan kemewahan, harta kekayaan dan uang.


"Aku contoh suami yang buruk. Buruk, sangat buruk."


"Ternyata apa yang aku miliki sekarang tidak bisa membuat istriku batinnya aman dan tenang."


"Aku gagal. Aku gagal menjadi seorang imam. Aku hanya seorang suami bagi Freya, bukan imam yang baik untuk Freya dan keluarga kecil ku."

__ADS_1


__ADS_2