
Sebulan berlalu setelah kepergian Papa Abri, semua sudah kembali normal seperti biasanya. Bryan sudah langsung kembali bekerja dan mengajar kembali di kampus. Caca juga sudah mulai kerja kembali di perusahaan yang Mama Lea pegang.
Mama Lea, beliau masih dirumah belum keluar sama sekali. Mengingat Mama Lea masih menjalani masa iddah selama 4 bulan 10 hari dan sekarang sudah berkurang satu bulan. Mama Lea hanya dirumah dan untungnya ada baby Attar yang menjadi pelipur lara nya.
Baby Attar selalu dikuasai Mama Lea, bahkan saat tidur malam pun Mama Lea mengajak baby Attar. Awalnya Freya menolak dan tidak mau merepotkan baby Attar, tapi Mama Lea memaksa. Beliau berdalih baby Attar bisa membantunya keluar dari bayang-bayang kesedihannya atas meninggalnya sang suami.
Akhirnya Freya setuju dan membiarkan baby Attar tidur dengan Oma nya. Walau sesekali kadang baby Attar tidur dengannya karena Bryan kangen sama baby Attar.
Ya, semenjak Papa Abri meninggal karena serangan jantung dadakan dan memang memiliki riwayat penyakit jantung. Bryan semakin sibuk dengan kerjaan sampai membuatnya tidak ada waktu untuk bertemu kedua anaknya. Bryan berangkat pagi dan pulang malam begitu terus sampai sebulan ini.
Bryan masih disibukkan dengan membagi tugas dan waktunya antara perusahaan yang dia pegang dengan perusahaan yang Caca pegang. Mengingat Caca masih belum memahami pekerjaan dan tugasnya karena biasanya dia hanya membantu Mama Lea saja.
"Caca belum bisa dilepas sendiri kah, Mas?" tanya Freya seraya memakaikan dasi pada suaminya.
Bryan yang memeluk posesif pinggang istrinya sambil terus menatap wajah cantik istrinya itu hanya mengangguk. Dia begitu merindukan menghabiskan waktu berduaan dengan Freya.
"Kenapa?" Freya membalas menatap mata suaminya selepas memasangkan dasi untuk Bryan.
Bryan menggeleng dan merapatkan pelukannya pada Freya. "Nanti kalau pekerjaan ku sudah normal kembali. Ayo kita program bayi kembar. Aku tidak mau kalah sama Rendy. Masa dia langsung dapat dua sedangkan aku harus satu-satu dulu."
Freya menatap tak percaya apa yang Bryan katakan. Suaminya iri pada Rendy yang akan memiliki anak kembar. Dan dengan mudahnya suaminya itu memintanya untuk program bayi kembar. Hai, apa suaminya itu tidak ingat kalau istrinya itu baru saja lahiran cesar tiga bulan yang lalu. Bisa-bisanya mengajak program bayi kembar saat ini. Seenggaknya nunggu dua tiga tahun lagi.
"Kenapa menatap ku begitu? Kamu tidak mau ya punya bayi kembar? Atau kamu tidak mau hamil lagi anak aku?" tebak Bryan dengan pemikiran buruknya. Mungkin karena efek lelah akan kerjaan akhir-akhir ini sampai bicaranya ngelantur dan asal menebak saja.
"Bukan tidak mau Mas. Freya mau saja. Tapi bukan sekarang, nanti dua atau tiga tahun lagi selepas Attar menyelesaikan ASI ekslusif nya selama dua tahun. Freya ingin Attar full ASI dari Freya, seperti Maura dulu."
Dengan pelan, Freya menjelaskan alasannya supaya tidak menyulut emosi suaminya. Apalagi ini masih pagi, kalau pagi-pagi sudah emosi bisa dipastikan akan berdampak buruk pada karyawan kantor yang pastinya akan kena imbas kemarahan Bryan meski mereka tidak salah apapun.
"Alasan saja. Bilang saja tidak mau punya anak lagi dari ku." sungut Bryan dan melepaskan pelukannya pada Freya. Dia lantas mengambil jas nya dengan kasar dan berlalu keluar dari kamar.
Freya menghembuskan nafas pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dia begitu gemas dengan Bryan yang selalu iri kalau Rendy lebih dari dirinya. Sebelas dua belas sama Alex yang selalu iri sama Rendy.
__ADS_1
"Aku yakin Rendy telah memanas-manasi Mas Bryan sampai Mas Bryan ingin sekali aku hamil lagi dan punya anak kembar. Rendy memang kompor. Kompor mleduk. Tukang provokasi." dengkus Freya dengan kesal dan menyusul suaminya keluar kamar.
Mengingat Rendy, Freya jadi ingat sahabatnya, Mutia istrinya Rendy. Dia begitu kesal karena sahabatnya itu merahasiakan kehamilannya dari dirinya. Freya juga sempat marah sama Mutia karena tidak mau jujur pada dirinya kalau tengah hamil sampai Freya mengancamnya dan akhirnya sahabatnya itu mengakuinya.
"Iya aku hamil, sudah jalan dua bulan mau tiga bulan. Jangan dibatalin ya, aku mau nanti Attar jadi menantuku. Please!! Kita besanan nanti."
Mutia akhirnya mengaku waktu itu saat Freya mengancamnya tidak akan menjodohkan baby Attar dengan anaknya Mutia. Bahkan untuk dekat saja Freya juga tidak mengijinkan.
*****
Mutia memicingkan matanya melihat suaminya yang tertawa sendiri sambil memegang ponsel miliknya. Baru di tinggal sebentar saja ke kamar mandi suaminya itu seperti orang tidak waras.
Mutia bahkan sampai mengusap perutnya yang sudah membuncit. Berharap kalau kelak baby twins nya waras dan tidak gila seperti Papa mereka yang tertawa tertiwi hanya karena melihat ponsel.
"Papa kenapa sih ketawa ketiwi tidak jelas seperti itu? Lihat apa sih di ponselnya Mama?" tanya Mutia penasaran dan duduk di samping Rendy.
Papa!! Mama!! Ya, Rendy dan Mutia sepakat mengganti panggilan mereka dengan Papa dan Mama semenjak Rendy mengetahui kalau Mutia hamil anaknya. Apalagi mereka langsung dikaruniai dua anak sekaligus, padahal keduanya tidak ada keturunan kembar dan juga tidak sedang program bayi kembar.
Mutia menerima ponsel miliknya dengan menggerutu. Dilihatnya layar ponselnya yang menampilkan aplikasi chat. Freya.
"Ngapain calon besan chat pagi-pagi gini?" dengan penuh percaya dirinya Mutia menyebut Freya sebagai calon besannya. Karena dia merasa kalau saat ini salah satu dari anak yang dia kandung bergenre perempuan.
"Mama lihat saja." Rendy melingkarkan kedua tangannya pada perut buncit Mutia dan menyerukkan kepalanya pada leher Mutia dan dihirupnya aroma harum dari tubuh istrinya.
Mata Mutia membola membaca isi chat dari Freya, sahabatnya sekaligus calon besannya. Bahkan mulutnya sampai terbuka hanya karena membaca isi chat itu.
"Hai calon besan! Ah salah, aku tidak mau berbesan dengan mu. Apalagi suami kanebo kering mu itu yang seperti robot kakunya minta ampun. Bilang sama suami kamu. Jangan pernah lagi memprovokasi otak suami saya dengan mulut kompornya itu. Awas saja kalian kalau sampai suami saya marah sama saya hanya karena provokasi tidak jelas dari suami kamu. Aku bakal bikin kalian tidak punya apa-apa."
"Ini apa maksud nya? Papa bilang apa sama calon besan?" Mutia menoleh, menatap nyalang pada suaminya yang masih asik menghirup dan menciumi ceruk leher miliknya.
"Papa jawab, ihh!" seru Mutia sambil mencubit tangan Rendy yang melingkar di perutnya. Dia tidak mau nanti jatuh miskin. Dia sudah begitu berharap akan berbesan dengan Freya, sahabatnya yang saat ini menjadi istri seorang billionaire.
__ADS_1
Apalagi Freya baru saja melahirkan penerus tahta Bryan. Sudah dipastikan baby Attar akan menjadi rebutan ibu-ibu komplek untuk dijadikan menantu. Itu tidak boleh, baby Attar hanya boleh menjadi menantunya. Istri dari anak yang saat ini tengah dikandungnya.
"Apa?" Rendy menatap Mutia dengan sebelah alisnya terangkat. Dia tadi tidak begitu mendengar apa yang istrinya itu tanyakan padanya.
"Papa bilang apa sama Tuan Bryan sampai Freya marah begitu. Papa memprovokasi apa pada Tuan Bryan?"
Bukannya menjawab, Rendy justru kembali tertawa. Dia bahkan sampai mengeluarkan air mata di ujung matanya. Dia mengingat beberapa hari yang lalu dia telah mengejek Bryan kalau tembakannya kurang pas karena hanya berhasil mendapatkan satu. Berbeda dengan dirinya yang sekali menembak mendapatkan dua.
Bahkan Rendy tidak sadar saat mengatakan itu kalau dirinya bukan sekali nembak saja. Tapi beberapa kali hingga baru mendapatkan dua. Baby twins. Berbeda dengan Bryan yang sekali tembak langsung mendapatkan satu. Dan sekarang sudah memiliki dua hasil tembakan.
Tapi entah Bryan sendiri yang memang sudah terbakar rasa irinya hingga dia begitu ingin mengalahkan Rendy dan meminta Freya untuk hamil lagi anak kembar. Dia tidak ingin kalah dari Rendy, sang mantan asisten.
"Rendy!!" panggil Mutia dengan suara pelan dan terdengar begitu tegas. Jangan lupakan tatapan mata Mutia yang menusuk tajam ke mata Rendy yang berair karena tertawa tidak jelas sedari tadi.
"Hmm..iya-iya udah jangan marah."
Dengan lembut Rendy mengusap lengan Mutia sebelum istrinya itu benar marah sama dirinya. Bisa bahaya kalau istrinya itu marah. Tidak bisa jatah untuk menengok baby twins.
"Aku hanya bilang kalau aku sekali tembak langsung dapat dua. Berbeda dengan Tuan Muda angkuh dan sombong itu yang beberapa kali tembak dapatnya satu-satu."
Mutia yang paham arah perkataan Rendy hanya menggeleng kepalanya pelan. Bisa-bisanya suaminya itu mengatakan seperti itu pada Bryan. Apa dia tidak sadar diri, pikir Mutia.
"Justru Tuan Bryan yang sekali tembak langsung dapat satu terus tembak lagi, dapat lagi satu. Lha kamu, beberapa kali tembak tidak dapat satupun. Saat menyerah justru langsung dapat dua sekarang."
Mutia menyunggingkan senyumnya sambil mengusap perutnya yang membuncit. Disaat dirinya menyerah dan pasrah, Allah justru memberinya apa yang dia dan Rendy inginkan.
"Seenggaknya aku hebat. Tidak ada gen kembar tapi mendapatkan bayi kembar. My baby twins." Rendy dengan gemas mencium perut Mutia.
"Diantara kalian harus ada yang bergenre perempuan. Kalau perlu dua-duanya bergenre perempuan. Dan tugas kalian nanti merebut hati Attar biar salah satu dari kalian nanti menjadi istri Attar. Yang Papa yakin kalau Attar akan menjadi Tuan Muda yang bergelimang harta."
Kedua pasangan yang sebentar lagi akan menjadi Mama dan Papa itu tertawa bersama. Membayangkan mereka akan berbesan dengan keluarga Abrisam dan bisa kecipratan harta kekayaan keluarga Abrisam yang tidak ternilai jumlahnya. Pasti akan sangat menyenangkan kalau apa-apa tinggal tunjuk dan langsung didapat.
__ADS_1
Beruntung sekali nasib anaknya kelak. Itupun kalau berjodoh dengan Baby Attar. Si Tuan Muda dari keluarga Abrisam Bryan Alvaro.