
Sudah tiga hari ini perang dingin terjadi di keluarga Abrisam antara Bryan dengan Mama Lea. Bryan yang masih marah sama sang Mama yang selalu menggunakan istrinya untuk di jadikan model dadakan guna memamerkan gaun hasil rancangannya tanpa seizin dirinya. Padahal seisi rumah tahu kalau Bryan itu terlalu posesif pada Freya,apalagi mengenai pakaian dan make up yang Freya kenakan. Pakaian tidak boleh ketat dan terbuka juga make up tidak boleh tebal dan menor. Freya hanya boleh memakai pakaian terbuka kalau saat dengan Bryan saja di dalam kamar.
Tapi Mama Lea justru memancing amarah Bryan dengan menggunakan Freya sebagai model busana gaun malam yang dia rancang bersama Julianto beberapa waktu yang lalu. Bryan meradang karena gaun yang Freya kenakan memperlihatkan keindahan lekuk tubuh yang Freya miliki juga sebagian tubuh Freya terekspose memperlihatkan kilau putih kulit Freya.
Bryan tak hanya menghukum Mama Lea dengan cara mengurung di kandang kucing liar tapi juga menyita semua akses keuangan yang Mama Lea miliki dan hanya diberi uang tunai sebesar 1 juta untuk sehari sama Bryan. Padahal Mama Lea sehari biasanya menghabiskan uang lebih dari 20 juta dan sekarang Mama Lea hanya memegang uang 5jt untuk sehari dalam dua minggu kedepan. Dan itu artinya selama dua minggu ini Mama Lea tidak bisa ikut arisan dan bersenang-senang.
Papa Abri diam saja melihat Bryan yang menghukum Mama Lea. Mau membela tapi mengingat kelakuan Mama Lea pada Freya membuat Papa Abri mengurungkan niatnya dan membiarkan Bryan menghukum istrinya itu. Bukannya Papa Abri tidak sayang ataupun cinta sama istrinya, tapi hanya ingin membuat istrinya itu jera dan mau menerima Freya apa adanya tanpa harus di jadikan model dadakan.
Bahkan kini Freya juga kena imbasnya. Dia tidak boleh keluar rumah kalau tidak dengan Bryan atau datang ke kantornya dan itu Rendy yang menjemput atau mengantar balik. Dan itu sungguh membuat Freya jenuh dan bosan, karena rencananya dia ingin melihat-lihat peluang usaha apa yang sedang ngetren saat ini di kalangan anak muda. Freya ingin membuka usaha sendiri karena di sudah tidak diperbolehkan Bryan kerja. Padahal kalau membuka usaha sendiri itu sama saja dia bekerja namun dia yang jadi owner nya. Dan dia berharap Bryan mengizinkannya karena dia belum meminta izin pada Bryan.
"Tumben Mama di rumah nggak keluar?" tanya Freya saat melihat Mama mertuanya duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton TV dengan tampang kusut. Dia ikut duduk di sofa yang sama dengan jarak sekitar satu meter.
Mama Lea melirik Freya dengan mendengkus kesal. Menantunya ini tidak ingat atau pura-pura tidak ingat alias lupa. Padahal seisi rumah tahu kalau Mama Lea saat ini untuk beberapa hari kedepan menjadi orang miskin dan kere. Tidak bisa kumpul dengan teman-teman sosialita nya, berbelanja barang branded, membeli makanan enak dan mewah. Bahkan suaminya juga tidak merasa kasihan pada dirinya untuk memberi tambahan uang supaya bisa pergi keluar jalan-jalan dan bersenang-senang dengan teman sosialitanya.
"Ma!!" panggil Freya lirih. Dia ragu untuk mengatakan maksud keinginannya untuk menagih janji Mama mertuanya. Dia takut kalau Mama Lea justru akan memarahinya. Tapi saat ini dia ingin makan Cake gratis yang di belikan Mama Lea sesuai janji Mama Lea beberapa hari yang lalu.
"Hm.." Mama Lea hanya berdehem tanpa menatap Freya,fokus matanya pada acara TV drama Thailand yang diperankan oleh James Jirayut.
"Mama masih ingat janji Mama pada Freya beberapa hari yang lalu kan?" tanya Freya sambil menggigit bibir bawah bagian dalam, dia takut kalau Mama mertuanya itu marah pada dirinya.
"Apa?" kening Mama Lea mengerut menatap bingung pada Freya.
"Memang Mama pernah buat janji apa sama kamu?" tanya Mama Lea yang merasa tidak pernah membuat janji pada menantunya itu.
"It-tu.." Freya meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Katanya kemarin kalau Freya mau jadi model pengganti di acaranya Mama, Mama akan membelikan cake apapun yang Freya mau." akhirnya Freya mengutarakan maksud dan tujuannya dengan lancar meski tidak berani menatap mata Mama Lea.
"Mama tidak pernah janji sama kamu untuk membelikan cake." kata Mama Lea yang kembali fokus pada layar TV.
"Tapi kemarin Mama bilang akan membelikan cake apapun yang Freya mau asal Freya mau menjadi model buat Mama." ujar Freya yang memang saat ini ingin sekali makan cake.
"Tapi Mama gak pernah janji sama kamu." tukas Mama Lea.
Freya langsung menekuk wajahnya, bayangan Red Velvet Cake, Ube Velvet Cake, Indulgensi coklat, Chocolate Amber dan Unicorn Cake leyap sudah dari otaknya. Padahal dia tadi sudah membayangkan betapa enak, manis dan lembutnya kue-kue itu jika sudah masuk kedalam mulutnya. Freya menelan salivanya susah payah karena tidak bisa memakan Cake secara gratis sesuai bayangannya.
Mama Lea melirik Freya yang terlihat murung dan meneteskan air mata itu hanya karena tidak di belikan cake. "Itu anak kenapa sih? Apa dia ngidam? Apa dia hamil? Sensitif banget akhir-akhir ini." batin Mama Lea bertanya-tanya melihat perubahan sikap Freya yang seperti orang hamil.
"Kapan kamu terakhir datang bulan?" tanya Mama Lea tanpa basa-basi.
Freya mengusap air matanya yang entah kenapa tiba-tiba jatuh sendiri hanya karena membayangkan Cake yang dia inginkan tidak jadi dia dapatkan.
"Kenapa memangnya Ma?" tanya Freya menatap bingung Mama Lea. Apa hubungannya ingin makan Cake dengan datang bulan coba, pikir Freya.
"Jawab saja pertanyaan Mama tadi." geram Mama Lea pada Freya yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Freya terlihat berpikir, mengingat kapan terakhir dia datang bulan. "Seharusnya kan bulan ini aku sudah datang bulan. Tapi kok belum yaa??" gumam Freya lirih mengingat dirinya bulan ini belum datang bulan.
"Kamu yakin bulan ini kamu belum datang bulan?" tanya Mama Lea yang langsung menegakkan badannya menatap Freya lekat.
Freya mengangguk ragu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia masih ragu benar tidak perhitungannya.
"SURTI!!!!!" suara Mama Lea menggelegar memanggil maid yang bernama Surti.
Dengan tergopoh-gopoh Surti datang dari arah pintu belakang rumah menghampiri majikannya yang memiliki suara yang begitu menggelegar itu.
"Iya Nyonya, ada yang bisa Surti bantu?" tanya Surti yang sudah berdiri dengan kepala menunduk di samping Mama Lea.
"Kamu ke apotik sekarang beli tespek yang banyak dan yang paling bagus."
"Minta mang Dodo anterin pakai sepeda motor sekarang biar cepat." titah Mama Lea pada Surti sambil memberikan uang 200rb rupiah.
"Buat apa Mama beli tespek?" tanya Freya setelah melihat Surti pergi keluar untuk membeli tespek.
__ADS_1
"Apa Mama saat ini hamil lagi?" tanya Freya lagi dengan wajah berbinar. Dia mengira kalau Mama mertuanya itu sedang hamil sekarang.
"Papa benar-benar perkasa." gumam Freya membayangkan Mama dan Papa mertuanya bercinta.
"Buang itu pikiran kotor mu." Mama Lea menoyor kepala Freya pelan, dia kesal pada Freya yang memiliki pikiran kotor. Sama persis seperti Bryan.
Freya meringis sambil mengusap kepalanya yang tadi ditoyor Mama Lea. Nggak sakit sih, tapi sedikit pusing saja.
"Mama minta Surti beli tespek buat kamu."
"Mama yakin kalau kamu saat ini sedang hamil."
"Lihat ini!!! Badanmu makin berisi dan kencang." kata Mama Lea dengan menjembel lengan Freya.
"Nggak mungkin Freya hamil, Ma."
"Datang bulannya Freya saja tidak teratur setelah melahirkan Maura."
"Dan Freya juga meminum pil KB sebelum menikah kemarin karena Mas Bryan sudah sering main sama Freya."
"Ya meski kadang Freya lupa meminumnya." terang Freya tanpa sadar mengatakan di depan Mama mertuanya kalau dirinya pakai obat KB dan melakukan hubungan badan sebelum menikah kemarin.
"Coba ulangi apa yang kamu katakan tadi." Mama Lea menatap tajam pada Freya. Mama Lea begitu geram pada Freya yang berani-beraninya meminum obat KB untuk menunda kehamilan dan juga beraninya dia jujur kalau pernah melakukan hubungan suami istri dengan Bryan sebelum menikah.
Freya menatap bingung pada Mama Lea yang menatapnya begitu tajam seperti orang marah bercampur kesal dan kecewa. "Ulangi." batin Freya. Dia mengingat apa yang baru saja dia katakan kenapa sampai membuat Mama Lea begitu marah pada dirinya.
Mata Freya membola seketika saat mengingat apa yang baru saja dia katakan. Dia segera menutup mulutnya menatap takut pada Mama Lea. Dia yakin kalau saat ini Mama Lea semakin marah dan kecewa pada dirinya.
"Kenapa?"
"Sudah ingat?" tanya Mama Lea dengan tampang garangnya.
Freya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dia meraih tangan Mama Lea dan merosotkan duduknya hingga kepalanya bersimpuh di pangkuan Mama Lea.
"Maaf kan Freya."
"Freya minta maaf karena sudah berani meminum pil penunda kehamilan tanpa sepengetahuan siapapun." ucap Freya sambil menangis dan menggenggam erat tangan Mama Lea.
"Jadi Bryan juga tidak tahu?" tebak Mama Lea.
Freya semakin menjadi tangisnya saat Mama Lea menyebut nama Bryan. Freya memang diam-diam meminum obat itu. Dia takut hamil karena dia takut Bryan akan berpaling darinya mengingat Bryan belum pernah menyatakan rasa cintanya pada dirinya.
Mama Lea menghembuskan nafas kasar. Meski dia belum sepenuhnya menerima Freya sebagai menantu tapi dia juga menginginkan cucu laki-laki dari Freya dan Bryan. Ya meski Mama Lea sampai saat ini masih menganggap anaknya Anelis itu adalah cucu kandungnya. Karena Mama Lea belum tahu cerita sebenarnya. Yang dia tahu saat ini Anelis menghilang lagi, makanya dia dekat lagi sama Freya.
"Mama benar-benar kecewa sama kamu Freya."
"Bagaimana nanti kalau Bryan sampai tahu kamu meminum itu untuk menunda kehamilan?"
"Mama yakin Bryan juga akan lebih kecewa sama kamu."
Freya semakin merasa bersalah dan menangis histeris. Dia tidak berpikir sampai sejauh itu saat membeli dan meminum obat itu.
"Maafin Freya, Ma. Freya minta maaf." ucap Freya dengan suara tercekat.
Mama Lea hanya diam saja, mau beranjak pergi tapi tangannya digenggam erat oleh Freya yang masih menangis dipangkuannya itu. Sebenarnya dia merasa kasihan pada Freya, tapi saat ini dia masih kecewa mendengar pengakuan Freya barusan.
"Permisi Nyonya. Ini tespeknya." Surti datang dan memberikan apa yang tadi dia beli di apotik pada majikannya.
"Tarus saja di meja. Kamu boleh pergi." kata Mama Lea dengan tegas.
Surti pergi dengan sesekali melirik Nona Muda Freya yang menangis sesenggukan di pangkuan Mama Lea dengan posisi duduk dibawah dan kepala berada di pangkuan Mama Lea.
"Kasihan Nona Muda. Pasti habis dimarahi sama Nyonya. Yang sabar ya Non..." batin Surti yang merasa kasihan pada Freya sebelum menghilang dari balik pintu dapur.
__ADS_1
"Bangunlah dan hapus itu air mata mu." pinta Mama Lea sambil menggerakkan tangan dan kakinya. Berharap Freya menggeser tubuhnya.
Dengan perlahan Freya melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Mama Lea dan menghapus air matanya dengan posisi masih duduk bersimpuh di lantai.
Mama Lea mengampil kantongan kecil yang ada di meja yang berisikan lima jenis tespek yang berbeda.
"Pergilah ke toilet dan pakai ini." Mama Lea memberikan kantongan kecil itu pada Freya.
Freya menerimanya dan melihat isinya. Dia menatap bingung pada Mama Lea dengan mata sembab, hidung memerah.
"Mama yakin saat ini kamu sedang hamil."
"Coba kamu cek. Benar apa tidak feeling Mama" kata Mama Lea memerintah Freya.
"Cepat Freya!!!" geram Mama Lea yang melihat Freya tak kunjung melakukan apa yang dia perintahkan.
Dengan berbagai pikiran di benaknya Freya akhirnya pergi ke toilet dekat dapur untuk mengecek benar apa tidaknya dia hamil.
"Apa benar aku hamil??"
"Tapi kenapa aku nggak ngalami yang namanya morning sickness?"
"Kemarin waktu hamil Maura aku begitu mabuk parah sampai harus dirawat di rumah sakit selama seminggu."
"Dan ini aku tidak merasakan apapun."
"Aku yakin kalau aku tidak hamil."
"Bagaimana aku bisa hamil kalau aku saja minum obat penunda kehamilan."
"Ya walau ingat saja kalau minumnya."
Freya mengintip lima alat tespek yang baru saja mengeluarkan hasilnya itu setelah dia celupkan dan ada juga yang dia teteskan pada alat itu.
Freya menatap lekat kelima tespek yang ada di tangannya saat ini. Dia tidak percaya dengan hasil yang dia dapatkan dari benda pipih kecil dan panjang itu.
"Ini nggak mungkin."
"Kenapa ada dua garis merah di benda ini."
"Pasti alat ini rusak atau mungkin kadaluarsa."
"Aku nggak mungkin hamil."
"Aku kan minun pil KB."
Tangan Freya bergetar memegang kelima benda pipih itu. Ada perasaan senang dan sedih bercampur jadi satu.
Senang karena dia hamil anak dari Bryan, lelaki yang sudah dia cintai saat ini dan senang karena bisa memberikan adik buat Maura.
Tapi dia juga sedih mengingat Bryan yang belum pernah mengatakan cinta pada dirinya. Sedih mengingat Bryan yang masih peduli dengan mantannya yang bisa saja Bryan kembali lagi pada mantannya.
Freya takut Bryan akan meninggalkan dirinya apalagi saat kondisinya sedang hamil seperti saat ini. Freya takut dan nggak mau di campakkan Bryan. Lelaki yang dulunya Freya takuti kini berubah menjadi lelaki yang dia rindukan kehadirannya.
"Maafkan Bunda yang masih meragukan kehadiran mu, Nak."
🍁🍁🍁
have a nice day
thanks for like, vote, comment and gift
big hug from far away 🤗🤗🤗
__ADS_1
dewi widya