Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Gagal Mengambil Kesempatan


__ADS_3

Terlihat Maura yang tidur dipangkuan sang Bunda. Tadi setelah sang Bunda sudah dibawa kembali ke ruang perawatan, Maura langsung memeluk Bundanya erat seakan takut ditinggal pergi sang Bunda. Dia tidak mau pisah dengan Bundanya. Bahkan saat tadi Bunda Freya diminta untuk menyusui Bryan Junior, Maura tetap saja menempel pada Bunda Freya dan tidak mau lepas. Walau hanya dipegang tangannya saja Maura sudah puas, yang terpenting jangan dilepas.


Bahkan Bryan tadi juga mencoba merayu Maura supaya ikut bersamanya dan tidur bersama dirinya. Namun anak kecil itu menolak mentah-mentah ajakan Ayahnya.


"Maura tidak mau tidur sama Ayah. Maura maunya tidur sama Bunda. Ayah tidur saja sama dedek bayi. Nggak usah ganggu Maura sama Bunda." Kata Maura tadi sebelum akhirnya tidur dipangkuan sang Bunda.


Gadis kecil itu yang katanya tidak cemburu dengan sang adik, nyatanya setelah adiknya lahir ke dunia dirinya langsung menempel pada sang Bunda dan tidak mau dipisah.


"Sudah ngantuk ya?" tanya Bryan saat melihat Freya yang sudah menguap beberapa kali mengingat sekarang sudah jam sebelas malam lewat.


"Aku pindah Maura dulu di ranjang sebelah." imbuh Bryan saat Freya terlihat menganggukkan kepalanya pelan sambil mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata karena sudah sangat mengantuk.


"Nggak usah Mas, biar Maura tidur disini saja." cegah Freya segera sebelum Bryan memindahkan Maura ke ranjang sebelah khusus tempat keluarga yang menunggu pasien.


"Freya takut nanti kalau Maura bangun dan nangis kalau tidak melihat Bundanya tidak ada disampingnya." ujar Freya sambil mengusap rambut kepala putrinya dengan lembut dan pelan.


"Terus nanti aku tidur dimana? Di sofa gitu? Nggak tidur sama kamu begitu? Aku kangen sayang sama kamu."


Freya mendesah pelan melihat suaminya yang merajuk seperti anak kecil. Sepertinya suaminya itu tidak ingat umur, tidak ingat kalau sekarang sudah jadi Ayah dua anak. Tapi kelakuannya masih tetap saja seperti anak kecil tiap kali keinginannya tidak dituruti.


"Freya tidak minta Mas Bryan tidur di sofa. Mas Bryan bisa tidur di kamar sebelah yang sudah Mas Bryan sewa tadi. Bukannya Mas Bryan sudah menyewa tiga kamar buat menginap keluarga yang lain?"


Bryan mengangguk malas, dirinya memang sudah menyewa tiga kamar ditambah satu kamar lagi yang saat ini tengah ditempati Freya dan sang Baby. Dan sekarang dua kamar sudah ditempati orang tuanya dan juga Caca sama Anelis yang tidak ikut pulang tapi tetap ingin disini. Dan itu berarti tinggal satu kamar lagi yang kosong, tapi Bryan malas untuk tidur sendirian, dia inginnya tidur bersama istrinya, Freya.


"Mas Bryan kan bisa pilih salah satu kamarnya, kan masih kosong satu. Atau Mama saja Mas Bryan bangunkan supaya pindah ke kamar sebelah."


Bryan menggeleng cepat menolak saran dari istrinya itu. Mana berani dia membangunkan mertuanya, Mama Marisa hanya karena ingin tidur bersama sang istri. Yang ada dirinya di cap sebagai menantu tidak tahu diri dan tidak tahu malu karena sudah membangunkan dan meminta mertuanya pindah hanya karena ingin berduaan dengan anaknya Mama Marisa.


"Nggak sopan sayang. Mama juga kelihatannya sudah pules gitu tidurnya. Mana ini juga sudah malam." ujar Bryan yang memang tidak berani membangunkan Mama Marisa yang tidur di ranjang sebelah yang terhalang tembok dan masih dalam satu ruangan.


"Nggak mau tidur di sofa, nggak mau tidur di kamar sebelah. Terus maunya tidur dimana? Di lantai?" Freya mencoba untuk bersabar padahal dirinya sudah tidak kuat menahan matanya yang sudah begitu berat dan minta untuk dipejamkan. Apalagi setiap dua sampai tiga jam sekali dirinya harus memberi ASI pada Bryan Junior.


"Aku tidurnya mau sama kamu, sayang. Mau peluk kamu. Aku kangen." rengek Bryan dan berjalan ke sisi kiri Freya dengan tergesa lantas memeluk posesif istrinya itu.


Freya hanya bisa menghela nafas pelan. Suami dan putrinya ini ternyata sama saja. Sama-sama manja dan tidak bisa jauh dari dirinya. Freya menyunggingkan senyumnya sambil mengusap rahang suaminya dengan tangan kirinya yang masih terpasang infus.


"Kangen banget ya sama Freya."


Bryan mengangguk dan menelungkup kan wajahnya pada leher Freya. Sesekali Bryan menghirup aroma wangi pada tubuh istrinya dan diciumi leher sang istri.


"Perasaan sedari tadi kita bersama terus deh. Pisah saat Mas Bryan mandi sama sholat saja."


Bryan terlihat tidak memperdulikan perkataan istrinya. Entah kenapa dirinya seperti Maura saat ini. Dia hanya ingin memeluk dan bersama istrinya saja. Menghabiskan waktu berdua bersama istrinya. Memanjakan istrinya setelah tahu betapa hebatnya perjuangan istrinya untuk hamil dan melahirkan keturunan untuk dirinya.


"Tapi aku ingin seperti ini sama kamu."


Freya hanya mampu memejamkan matanya saja tanpa mengeluarkan suara saat Bryan memberi tanda merah keunguan pada lehernya. Dan untungnya hanya satu saja suaminya itu membuat kiss mark, tidak banyak.

__ADS_1


"Kamu terlihat makin se xy sayang setelah melahirkan." bisik Bryan tepat di telinga Freya tanpa lupa menggigit pelan daun telinga istrinya itu.


"Aku jadi tidak tahan tiap kali melihat kamu. Rasanya ingin sekali aku memakan mu saat ini juga."


Freya memutar bola matanya malas. Perkataan frontal suaminya yang memiliki otak mesum itu sungguh membuatnya gemas dan ingin sekali dirinya mencuci otak suaminya itu dengan sunlight supaya bersih serta licin tanpa minyak kotor.


"Freya tahu dari dulu Freya memang se xy. Buktinya Mas Bryan langsung menyerang Freya dulu saat baru pertama bertemu dan langsung menghasilkan Maura. Tapi saat ini Mas Bryan harus tahan dulu. Harus puasa dulu." ujar Freya dengan menggerakkan kepala ke kiri untuk melihat wajah sang suami.


"Aku tahu kalau aku harus puasa dulu. Makanya aku sekarang selama seminggu ini ingin selalu tidur memeluk istri ku dan apapun harus bersama istri ku. Kan hanya seminggu saja puasanya. Sebagai ganti 'Si Rosi' tidak bisa masuk ke garasi nya. Aku akan memelukmu dan mengikuti mu selama seminggu penuh."


Dengan gemas Bryan menggigit pelan hidung mancung istrinya itu saat melihat Freya hanya tersenyum menatapnya itu.


"Apa Mas Bryan lupa dengan pelajaran Biologi tentang reproduksi, menstruasi dan sejenisnya?"


Bryan menggelengkan kepalanya ragu atas pertanyaan Freya. Bukannya dia lupa, hanya saja dia tidak begitu mendalami pelajaran Biologi. Karena dulu fokusnya hanya pada pelajaran Matematika, Fisika, Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya juga pelajaran Olahraga. Jadi untuk Biologi ya hanya beberapa saja yang dia ingat. Contohnya cara membuat anak. Seperti yang sudah dia praktek kan beberapa kali bersama Freya hingga menghasilkan Maura dan Bryan Junior.


"Kalau aku lupa tidak mungkin Maura sama Bryan Junior hadir di dunia ini. Apalagi kita sudah beberapa kali mempraktekkan cara membuatnya. Dan setelah kamu pulang dari sini, akan langsung aku garap kamu sampai tak bisa jalan."


Dengan cepat Bryan langsung menyambar bibir Freya setelah mengatakan kalimat panjang yang membuat Freya hanya diam tanpa membalas luma tan bibir Bryan.


"Kok nggak dibalas sih sayang!" protes Bryan setelah melepaskan ciumannya.


"Kenapa di otak Mas Bryan hanya tahunya cara membuat anak terus tanpa memikirkan Freya yang baru beberapa jam yang lalu baru melahirkan. Apa Mas Bryan tidak kasihan sama Freya yang katanya Mas Bryan cintai ini? Yang kata_"


Freya tidak melanjutkan perkataannya yang mengandung kekesalan karena dengan cepat bibirnya langsung dibungkam dengan bibirnya Bryan.


"Aku ingat dan tahu kalau istri cantik ku ini baru saja melahirkan dan dalam masa nifas kurang lebih 40 hari. Jadi, aku harus puasa dulu selama masa nifas kamu selesai."


"Aku tadi bilang seperti itu karena setelah kembali ke ruang perawatan kamu dikuasai Mama Marisa sama Mama Lea dan yang lainnya. Makanya aku kangen banget sama kamu saat ini."


Freya tersenyum mendengar perkataan panjang suaminya. Diambilnya tangan Bryan yang memegang pipinya dan digenggamnya erat. Tapi sebelumnya tangan kanan itu diciumnya bolak balik dari punggung tangan sampai telapak tangan.


"Freya juga kangen sama Mas Bryan."


Bryan yang gemas dengan Freya yang malu-malu mengucapkan kalau dirinya juga kangen dengannya langsung memeluk istrinya itu dengan erat.


Oekk Oeekkk


Pelukan Bryan dan Freya terlepas saat mendengar Jagoan keduanya tiba-tiba menangis kencang.


"Mas, tolong ambilkan baby nya bawa kesini." pinta Freya pada Bryan dan dirinya memindahkan kepala Maura yang ada dipangkuan nya ke posisi yang lebih nyaman lagi di samping kanannya. Karena dirinya ingin menyusui Bryan Junior yang saat ini menangis karena lapar.


"Kenapa Mas Bryan diam saja? Cepat bawa sini!" geram Freya saat melihat Bryan yang hanya diam saja tak kunjung mengangkat Bryan Junior dan diberikan kepadanya.


"A-aku tidak berani gendongnya sayang. Takut jatuh."


Freya menghembuskan nafas kasar saat tahu suaminya takut menggendong anaknya sendiri.

__ADS_1


"Pengen punya anak, tapi tidak berani gendong. Suami macam apa itu. Cepat dorong bawa sini box bayi nya." pinta Freya dengan menahan rasa geram pada suaminya yang penakut itu.


Belum juga Bryan mendorong box bayi ke dekat brankar dimana Freya berbaring. Bryan Junior sudah diambil terlebih dahulu sama Mama Marisa yang terbangun karena mendengar suara tangisan bayi. Dan benar saja, Bryan Junior ternyata bangun dan menangis.


"Kelihatannya Baby nya lapar ini." seru Mama Marisa dengan gemas pada cucu baru nya itu yang tengah menangis.


"Ini sayang cepat disusui." Mama Marisa menyerahkan Bryan Junior kepada Freya yang sudah siap untuk memberikan ASI nya pada si kecil.


Mama Marisa melihat Maura sebentar yang tidur di samping Freya dan beralih menatap Bryan yang terlihat menautkan kedua alisnya menatap Freya yang tengah menyusui.


"Kamu belum berani gendong Baby, Bry?" tanya Mama Marisa dengan lembut pada Bryan yang masih berdiri disamping box bayi.


Bryan yang ditanya terlihat meringis dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. " Belum Ma." jawabnya lirih.


Mama Marisa hanya mengangguk saja. Dia paham, ini pertama kalinya Bryan memiliki anak bayi meski sudah memiliki anak sebelumnya. Tapi yang pertama tahunya sudah besar dan sudah bisa jalan bahkan sudah mengikuti kompetisi kejuaraan kemana-mana.


"Sini! Bantu istri kamu. Kelihatannya ASI nya keluarnya tidak begitu lancar."


Bryan mendekat perlahan sesuai perintah Mama Marisa. Dia tidak paham apa maksud dari perkataan Mama mertuanya itu. Membantu bagaimana maksudnya dia sendiri tidak tahu.


"Lihatin Mama!"


Bryan hanya mengangguk saja. Dia melihat Mama Marisa membersihkan tangannya dengan hand sanitizer terlebih dahulu sebelum memberikan contoh pada Bryan bagaimana cara memijat payu dara.


Bryan meneguk salivanya susah payah saat melihat salah satu squishy milik istrinya dibuka lebar oleh Mama Marisa. Apalagi saat melihat Mama Marisa memijat squishy yang biasa dia remas-remas dengan gemas itu.


"Ma, sudah! Biar Bryan saja."


Freya dan Mama Marisa memicingkan matanya dengan mengerutkan keningnya mendengar seruan Bryan yang begitu keras. Untung saja Maura tidak kebangun dan Bryan Junior tidak menangis lagi hanya kaget saja.


"Biar Bryan saja, Ma. Bryan bisa kok."


Mama Marisa yang tadi duduk di sisi kiri Freya langsung berdiri karena Bryan menariknya dengan pelan dan memintanya untuk pindah.


"Yakin Mas Bryan bisa? Mas Bryan tidak,_" Freya tidak melanjutkan ucapannya, dia menatap Bryan curiga. Karena tatapan dari sorot mata suaminya itu sungguh Freya kenal. Tatapan ketika suaminya sudah dibawah kabut gairah.


"Ya bisa dong sayang. Aku kan sering melakukan itu sama kamu. Bahkan kemarin malam aku melakukan itu juga sama squishy sampai kamu merem melek."


Freya melotot kan kedua matanya memdengar perkataan frontal suaminya itu. Bahkan Mama Marisa sampai menepuk keras pundak Bryan. Mama Marisa begitu gemas dengan menantunya itu. Bisa-bisanya menantu tidak tahu malu itu mengatakan hal frontal di depan mertuanya sendiri.


"Kamu itu ya Bryan. Pikiran kamu selalu saja menjurus ke hal-hal jorok seperti itu. Bagaimana bisa aku punya menantu seperti kamu." Mama Marisa terlihat gemas dan ingin rasanya mencakar otak Bryan sampai rusak dan diganti dengan yang baru.


"Sudah minggir. Biar Mama saja mijat." usir Mama Marisa pada menantunya itu.


"Kalau kamu yang mijat, yang ada cucu Mama bukannya kenyang, tapi justru kelaparan. Karena bukan cucu Mama yang minum, tapi Ayahnya sendiri."


Freya menahan tawanya melihat wajah Bryan yang merah karena malu. Apalagi saat ini suaminya sudah kehabisan kata kata saat diomeli Mama Marisa. Salah Bryan sendiri kenapa memiliki otak dan pemikiran mesum kalau sudah berusuran dengan tubuh mulus nan se xy milik Freya.

__ADS_1


"Gagal mengambil kesempatan deh. Haduhhh...Enak banget itu kelihatannya squishy nya kalau dipegang dan diremas terus dihisap. Aisshhhh...Turn On kan..Damn it...!!! Murahan sekali kau 'Rosi'."


__ADS_2