Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Ketakutan Bukan Keberanian


__ADS_3

Bryan hanya duduk pasrah di sofa kamarnya dengan mata terpejam menikmati keganasan istrinya yang terlihat gemas sendiri karena berhasil mengerjai Rendy lewat Mutia juga Mama dan adiknya Rendy. Wajah Bryan jadi sasaran tangan Freya yang terlihat gatal dan begitu gemas memainkan pipi, hidung, telinga dan mata Bryan.


"Freya seneng banget saat tahu Mutia mau mengerjai Rendy." Bryan meringis saat kedua pipinya di jembel Freya dengan gemas.


"Freya kira tadi Mutia beneran mau pergi dan tidak mau mengerjai Rendy."


"Ternyata justru Mutia sendiri yang mulai mengerjai Rendy." dengan gemas, Freya menggigit bahu Bryan yang masih terhalang dengan kemeja yang Bryan kenakan.


"Sudah puas kamu?" Bryan menatap Freya yang duduk mengangkang di pangkuannya, dipegangi nya pinggang istrinya dengan erat supaya tidak terjatuh. Istrinya itu benar-benar terlihat begitu senang dan bahagia, dan Bryan menyukai itu. Hal sederhana yang bisa membuat istrinya bahagia, berhasil melihat Rendy yang dikerjai Mutia juga Mama Asti dan Nino. Dan tentunya Freya juga ikut menambahi bumbu-bumbu pedas untuk membuat sukses kegiatan mengerjai Rendy.


"Hmm.." Freya tersenyum mengangguk dan mengalungkan tangannya di leher suaminya. Dirinya begitu puas saat tadi siang melihat Rendy yang biasanya bersikap tenang dan dingin juga tidak banyak bicara berubah 180 derajat. Rendy terlihat panik dan memohon pada Mutia untuk melanjutkan perjodohan itu. Ah..dan Freya baru melihat Rendy memohon seperti itu dengan tampang memelas dan terlihat kalau begitu rapuh.


"Freya senang karena Freya tidak jadi kalah, tapi Freya wins."


"Dan Freya juga ingin besok Mas Bryan harus menyelesaikan hukuman terakhir dari Freya."


"Freya tidak mau Mas Bryan menunda-nunda lagi." ujar Freya dengan mengerucutkan bibirnya, lucu.


Cup


Bryan yang gemas mengecup singkat bibir Freya yang telah menjadi candunya.


"Kamu benar ingin melihat suami kamu masuk ke penangkaran buaya?" Freya mengulum senyum dan mengangguk dengan pasti saat Bryan bertanya pada dirinya. Freya ingin melihat seperti apa ekspresi ketakutannya suaminya itu saat berada dekat dengan buaya. Apa setakut melihat hantu. Ingin sekali Freya melihat ekspresi suaminya nanti.


"Nggak bisa nego sedikit saja?" tanya Bryan dengan tampang memelas, dirinya sungguh belum siap kalau harus berhadapan dengan buaya, lebih baik berhadapan dengan lelaki buaya daripada buaya sungguhan. Sungguh itu pasti akan menjatuhkan martabatnya di hadapan sang istri.


Bryan menghembuskan nafas lelah saat lagi-lagi melihat Freya yang menggelengkan kepalanya tanda tidak memberinya negosiasi apapun. Istrinya itu benar-benar tega membuatnya harus melawan rasa takut untuk bertemu langsung dengan buaya.


"Kalau Mas Bryan minta nego terus, Freya akan menambah hukumannya menjadi 2 hari terkurung di penangkaran buaya."


"Mas Bryan mau???" tanya Freya dengan menaikkan kedua alisnya juga seringai liciknya.


"Kamu tega sekali sih sayang sama suami tampan mu ini"


"Kamu sendiri kan tahu kalau suamimu ini takut sama buaya." ujar Bryan memelas belas kasihan pada istrinya yang terlihat masa bodoh dan cuek saja itu.


"Freya belum tahu karena Freya belum melihatnya sendiri."


"Freya hanya tahu dari Andre saja."


"Jadi besok Freya ingin melihat sendiri."


"Apakah suami tampan ku ini berhasil melewati tantangan atau tidak untuk mendapatkan maaf sepenuhnya dari istri cantiknya ini." ucap Freya sambil mengelus wajah Bryan dengan lembut dan tatapan menggoda. Freya terkekeh melihat ekspresi wajah Bryan yang terlihat kesal karena tidak berhasil membujuknya untuk bernegosiasi


"Kamu tega sayang."


"Kamu mau nanti kalau suamimu ini di terkam sama buaya?"


"Kamu mau nanti jadi janda karena ditinggal mati sama suaminya?"


"Nauzubillahi Min Dzalik. Amit-amit jabang bayi." ucap sambil Freya mengusap perutnya.

__ADS_1


"Mas Bryan ih!!!" Freya memukul bahu Bryan,dirinya begitu kesal dengan apa yang Bryan katakan tadi. Bisa-bisa bicara kematian disaat dirinya tengah hamil muda.Nanti nggak ada yang bisa dibuat bermanja-manja lagi kalau benar mati.


"Mas Bryan nggak usah bicara seperti itu napa...hiks!!" air mata Freya jatuh perlahan.


"Freya tidak mau Mas Bryan mati."


"Nanti Freya tidak bisa bermanja-manja lagi dengan Mas Bryan." huwaa..Freya menangis memeluk Bryan. Dirinya tidak mau di tinggal pergi sama suaminya untuk selamanya. Dirinya maunya suaminya selalu ada untuk dirinya, tidak mau ditinggal lagi.


Bryan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum tipis dan membalas memeluk istrinya yang tengah menangis itu. Dirinya juga tidak mungkin mati hanya karena di kurung di penangkaran buaya. Apalagi besok dikurungnya bersama Rendy. Dia bisa menjadikan Rendy tamengnya kalau buayanya berbuat macam-macam.


"Kalau ingin suami kamu tidak mati, kenapa tidak kamu ganti saja hukumannya."


"Bukankah itu jauh lebih baik." kata Bryan yang mencoba mengambil kesempatan untuk membuat istrinya itu berubah pikiran.


"Tapi Freya ingin melihat Mas Bryan terkurung bersama Buaya."


"Kan ada Rendy juga, kenapa harus takut."


Bryan menghembuskan nafas kasar, istrinya itu susah sekali dibujuknya. Sudah tahu suaminya takut sama buaya masih tetap saja menghukum suaminya bersama buaya.


"Kamu sungguh tega sama suami kamu." Bryan melepas pelukannya pada Freya.


"Turunlah." Freya menggeleng kepalanya cepat sambil masih mengalungkan kedua tangannya di leher Bryan.


"Freya nggak mau turun."


"Mas Bryan jangan marah sama Freya." mata Freya kembali berkaca-kaca lagi saat melihat tatapan Bryan begitu dingin padanya.


"Aku mau ke kamar mandi."


Freya perlahan turun dari pangkuan Bryan dan duduk di sebelah Bryan yang sudah beranjak berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.


Freya menggigit bibir bawahnya, dirinya bingung sendiri. Dia tahu kalau hukuman yang akan di berikan kepada suaminya itu terlalu kejam dan tega. Tapi dia hanya ingin melihat sampai mana keberanian suaminya itu untuk melawan rasa takutnya terhadap buaya.


"Kenapa masih duduk disitu?"


"Ayo tidur." Freya menatap tangan Bryan yang terulur kearahnya sambil tersenyum tipis dan tatapan matanya tidak sedingin tadi, namun nada suaranya terdengar begitu tegas.


"Mas Bryan tidak marah lagi sama Freya?" Bryan tersenyum kecil dan mengacak rambut Freya dengan gemas.


"Aku tidak marah sama kamu."


"Sudah ayo sebaiknya kita tidur." Freya menerima uluran kedua tangan Bryan dan berdiri dari duduknya.


"Bener Mas Bryan tidak marah sama Freya yang tidak mau merubah hukuman untuk Mas Bryan?" tanya Freya sambil menunduk takut tidak berani menatap manik hanzel berwarna biru milik Bryan.


"Iya benar, suami kamu tidak marah sama kamu."


"Sudah ayo tidur, aku sudah ngantuk." Freya mengangguk dan keduanya naik keatas ranjang.


"Sini" Bryan menepuk lengannya untuk dipakai bantal Freya.

__ADS_1


Freya menggeser tubuhnya perlahan dan langsung di tarik Bryan kedalam pelukan suaminya itu.


Aggrrhhhh


Freya meringis saat tiba-tiba perutnya terasa kram waktu di tarik Bryan tadi.


"Sayang...perut kamu tidak apa kan?"


"Tidak kebentur kan tadi?" Bryan begitu panik sendiri, matanya yang tadi sudah tinggal beberapa watt kini terlihat berpijar lagi. Diusapnya perut istrinya itu, takut kalau saja terjadi apa-apa dengan debay junior yang masih berada di dalam perut Freya.


"Tidak kebentur kok."


"Hanya kaget saja dan terasa kram."


"Tapi sekarang sudah tidak lagi."


"Maaf." Bryan terlihat menyesal karena membuat istrinya kaget dan menyebabkan kram di perut. Diciumnya perut buncit sang istri.


"Maafkan Ayah ya..Ayah tadi sempat membuatmu kesakitan."


"Ayah sayang sama Bryan junior." bisik Bryan pada perut Freya yang membuncit.


"Beneran sudah tidak kram lagi?" Freya mengangguk pelan


"Ya sudah, ayo kita tidur."


"Besok aku ingin bangun pagi dan segera bisa menyelesaikan hukumanku supaya bisa dapat maaf dari istri tercinta." Bryan membawa Freya kepelukan nya dan kembali memejamkan matanya untuk tidur.


"Freya sudah memaafkan Mas Bryan."


"Freya hanya ingin menghukum Mas Bryan saja tidak lebih."


"Freya tidak durhaka kan ya Mas. Menghukum suami sendiri dikurung di kandang buaya?" tanya Freya sambil memainkan kancing baju tidur yang dipakai Bryan.Tidak biasanya suaminya itu tidur pakai baju, biasanya yang dipakai hanya celana tidurnya saja.


"Mas!!" Freya menarik kerah Bryan pelan karena tidak adanya jawaban dari suaminya itu.


"Mas Bryan!!" Freya melihat suaminya itu sudah memejamkan matanya.


"Mas Bryan ih..Diajak bicara justru tidur."


"Giliran Freya yang sudah ngantuk dan ingin tidur justru diganggu, diajak olahraga sampai pagi." Freya mendengkus, tak terima kalau suaminya itu tidur duluan. Dirinya mau ditemani sampai tidur.


"Hmm...Tidurlah,besok lihat keberanian suami kamu dan lihat Rendy juga yang pasrah karena dapat hukuman dari Mutia." gumam Bryan dengan suara parau dan mata terpejam. Terlihat jelas kalau Bryan sudah hampir memasuki dunia mimpi.


Freya mencebik mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya itu. Jelas-jelas apa yang dikatakan Bryan barusan sesuatu yang terbalik. Seharusnya bukan itu yang Bryan katakan, tapi seperti ini.


"Besok lihat ketakutan suami kamu dan juga lihat Rendy yang langsung membuktikan diri dengan berani menerima hukuman dari Mutia."


Yaaa...seperti itulah sekiranya yang seharusnya Bryan katakan. Sungguh Bryan tidak mau mengakui kalau dirinya itu takut dengan buaya dan itu justru membuat Freya semakin ingin melihat seperti apa rasa takut yang Bryan miliki kalau sudah berdekatan dengan buaya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


have a nice day


big hug 🤗🤗🤗


__ADS_2