
Sudah dua minggu ini Freya berusaha meluluhkan hati mertuanya, Mama Lea. Tak hanya Bryan yang membantu Freya, tapi Papa Abri juga Caca ikut turun tangan membantu Freya untuk meluluhkan hati Mama Lea. Mereka ingin Mama Lea menerima Freya dengan tulus bukan karena Freya ibu dari cucunya, Maura ataupun istri dari Bryan tapi sebagai anak menantu atau lebih bagusnya lagi Mama Lea menganggap Freya sebagai anaknya sendiri.
Dan sedikit demi sedikit Mama Lea sudah mulai luluh,dia mau memakan masakan yang Freya bikin, yang awalnya malu kini biasa saja bahkan nambah juga pernah meminta Freya untuk membuatkan erwtensoep, makanan kesukaannya.
Mama Lea juga sudah mengajak Freya berbicara ataupun mengajak Freya ke butik bahkan ke studio yang ada di stasiun TV milik Abrisam. Walau masih terlihat cuek dan masa bodoh, tapi Freya dapat merasakan kalau Mama Lea sudah menerimanya walau masih sedikit, 50%.
"Mas, aku nanti boleh nggak ikut Mama ke studio lagi?" tanya Freya meminta izin pada Bryan. Saat ini dia sedang di teras mengantar Bryan untuk berangkat kerja.
"Nggak boleh." tolak Bryan tegas menatap tajam Freya.
Freya mendengkus kesal, dia tahu alasan Bryan tidak boleh mengizinkannya ke studio. Pasalnya beberapa hari yang lalu saat dia diajak Mama Lea ke studio, Bryan marah sampai menghajar salah seorang model pria Mama Lea.
Freya diminta Mama Lea untuk menggantikan model wanita yang berhalangan hadir karena sesuatu hal. Freya diminta memakai gaun pengantin rancangan Mama Lea sendiri dan berpasangan dengan seorang model pria.
Bryan yang kebetulan ada di stasiun TV sedang melakukan sidak dadakan tidak sengaja melihat istrinya ada di studio bersama Mama Lea. Dia mendekat dan mendapati istrinya berpelukan mesra dengan seorang pria dan tanpa permisi dan tanpa ampun Bryan menghajar habis pria itu.
"Alvaro!!! Apa yang kamu lakukan?"
"Hentikan tidak!!"
"Dia model Mama." teriak Mama Lea yang melihat Bryan tiba-tiba muncul dan menghajar modelnya.
"Mama ada disini dan kenapa Mama membiarkan istri Bryan dipeluk pria lain?" tanya Bryan menatap Mamanya tajam beralih menatap Freya yang mengenakan gaun pengantin dengan punggung terekspos.
"Dan kenapa kamu memakai pakaian jelek seperti itu?" Bryan melepas jasnya dan dipakaikan nya ke Freya untuk menutupi punggung istrinya.
Semua kru yang ada di studio juga beberapa manager hanya diam saja melihat perdebatan antara anak dan istri pemilik stasiun TV. Mereka dilarang merekam karena Rendy sudah memperingati mereka semua dengan tatapannya.
"Heh, Tuan Muda." Mama Lea menarik lengan Bryan supaya menghadap ke arahnya, dia berkacak pinggang dihadapan Bryan.
"Pakaian yang kamu bilang jelek itu Nyonya Abrisam yang membuatnya kalau kamu tahu." kata Mama Lea dengan lantang.
"Bryan gak peduli siapa yang membuat pakaian itu."
"Ayo pulang!!" Bryan menarik lengan Freya kasar.
"Mau kamu bawa kemana menantu Mama?" Mama Lea juga menarik lengan Freya yang bebas. Jadinya kedua lengan Freya saling ditarik Bryan juga Mama Lea.
Freya menatap Mama Lea berbinar, "Mama mengakui kalau aku menantunya." batin Freya bersorak gembira akhirnya dia diakui menantu juga.
"Pulang!"
"Kenapa?" tanya Bryan menantang Mamanya.
"Nggak boleh!" tolak Mama Lea tegas, dia menarik Freya ke arahnya.
"Kalau kamu bawa pulang istrimu, berarti kamu harus siap kalau Mama benar-benar tidak mengakuinya sebagai istrimu." ancam Mama Lea.
Freya menatap Bryan dengan tampang memelas, dia menggeleng pelan, memohon dengan sangat pada suaminya. Dia sudah berkorban sejauh ini dan jangan karena keegoisan dan keposesifan Tuan Muda membuat Freya harus kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hati Mama mertuanya.
"Baiklah." Bryan melepaskan lengan Freya. Dia menatap Rendy yang berdiri tidak jauh dari dirinya.
"Rendy, kamu lanjutkan sidaknya."
"Saya akan menjadi model pengantin pria untuk Nyonya Abrisam."
Semua tercengang mendengar penuturan Bryan, pasalnya Tuan Muda satu ini tidak pernah mau melakukan photoshop pakaian yang Mama Lea bikin.
"Wajah saya terlalu tampan jika harus memamerkan rancangan busana yang Mama saya bikin. Terlalu kontras dan orang akan lebih memilih melihat saya daripada pakaian yang saya kenakan." kata Bryan kala itu saat Mama Lea meminta Bryan menjadi modelnya.
__ADS_1
"Ayolah,Mas!!! Boleh yaaa!!!" Freya bergelayut manja di lengan Bryan dengan tampang memelas. Dia mengabaikan beberapa pengawal juga Rendy yang ada di sana.
"Aku nggak mau nanti Mama sulit lagi diluluhkan hatinya."
"Berhubung sekarang Mama sudah luluh sedikiiitttt."
"Mas!!" Freya menarik narik lengan jas yang Bryan kenakan.
"Boleh yaa!!" Freya mengulum senyum dan menampilkan peppy eyes nya.
Bryan memejamkan matanya untuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya, dihembuskannya perlahan seraya membuka matanya.
"Berbalik semua!" perintah Bryan tegas membuat semua pengawal berbalik badan tak terkecuali Rendy juga melakukan hal yang sama.
Rendy menggelengkan kepala jengah, percuma saja dia berbalik kalau dia dapat melihat pantulan adegan live dari kaca mobil dihadapannya.
"Bos terkutuk." batin Rendy kesal akan nasib dirinya yang masih jomblo.
Bryan mencium bibir Freya agresif untuk menghilangkan kekesalannya.
Bryan melepaskan ciuman pada bibir Freya, "Baiklah, tapi kamu gak boleh lagi ambil pemotretan kalau bukan sama suami tampan dan kaya raya mu ini."
Freya tersenyum dan mengangguk cepat, "Terima kasih, sayang." cup. Freya mengecup cepat pipi Bryan dan berlari masuk kedalam rumah sebelum Bryan menahannya atau lebih tepatnya dia akan di tarik Bryan ke ranjang.
Freya terlalu malu pada dirinya sendiri juga para pengawal yang pastinya berpikir macam-macam tentang dirinya.
Bryan mengunggingkan senyum tipis sambil memegang pipinya yang tadi dikecup Freya.
"Sudah berani dia manggil aku sayang." Bryan masih tersenyum dan berjalan menuju mobil yang sudah Rendy bukakan pintunya.
...............
Freya dan Mama Lea sudah ada di studio saat ini. Maura juga ikut, karena Mama Lea akan menggunakan Maura sebagai model cilik untuk rancangan baju yang baru saja dia bikin.
"Terima kasih ya, Ma."
"Mama sudah mau menerima Maura."
"Bahkan Mama repot-repot membuatkan brand sendiri untuk Maura." ucap Freya tulus saat tahu tujuan Mama Lea membawa dirinya juga Maura ke studio.
"Maura cucu, Mama."
"Jadi wajar kalau Mama memberikan brand sendiri untuk baju yang Maura kenakan." kata Mama Lea tanpa menatap Freya, fokusnya pada Maura yang sedang diambil gambarnya.
Freya hanya tersenyum menanggapi perkataan Mama Lea. Dia bersyukur Mama Lea mau menerima kehadiran Maura walau kehadirannya melalu kesalahan Ayah dan Bundanya.
"Kamu gantilah baju yang sudah asisten Mama siapkan." perintah Mama Lea pada Freya.
"Buat apa, Ma?"
"Mas Bryan tadi nggak izinin Freya untuk melakukan pemotretan." kata Freya yang masih mengingat perkataan Bryan.
"Dia sudah mengizinkan. Mama sudah tanya tadi sama dia." sahut Mama Lea.
Freya akhirnya berganti pakaian dan melakukan pemotretan bersama Maura. Ternyata Mama Lea tidak hanya membuatkan brand untuk Maura saja, tapi juga untuk dirinya.
"Terima kasih, Ma." Freya memeluk Mama Lea setelah selesai melakukan pemotretan.
"Terima kasih Mama sudah mau menerima Freya juga walau belum sepenuhnya." Freya menangis di pelukan Mama Lea.
__ADS_1
"Terima kasih."
Mama Lea hanya diam saja, mau membalas peluk Freya pun terlihat ragu. Entah kenapa saat dia membuatkan brand untuk Maura dia juga terfikir membuatkan brand sendiri untuk Freya juga.
"Sudah lepaskan!! Nggak malu apa kamu dilihat banyak orang." Mama Lea berusaha melepaskan pelukan Freya yang semakin erat.
"Freya lepas!!! Mama nggak bisa nafas ini!" seru Mama Lea yang sudah merasa engap.
Freya akhirnya melepas pelukannya dan tersenyum sambil menangis menatap Mama Lea.
"Terima kasih ya, Ma." ucap Freya dengan tulus.
"Iya sudah sana, bersihkan make up kamu."
Freya mengangguk dan menyusul Maura yang terlebih dahulu dibersihkan make up nya.
"Benar kata Papa. Dia anak baik yang harus bernasib malang karena ulah Alvaro."
...............
"Kenapa kamu mengajak ketemuan saya disini?"
"Kenapa nggak dikantor saja?" tanya Papa Abri.
"Maaf Tuan. Saya takut kalau Tuan Bryan tahu." jawab Rendy.
"Memang ada masalah apa?" tanya Papa Abri.
"Ini Tuan." Rendy menyerahkan iPad nya.
Papa Abri membaca informasi yang Rendy dapatkan, "Kamu yakin?" tanya papa Abri yang belum percaya dengan apa yang dia baca.
"Yakin Tuan." jawab Rendy mantap
"Berarti dia sudah ada disini dan...."
"Ya Tuhan!!! Bagaimana kalau sampai Bryan tahu."
...............
"Oma, Maura lapar. Kita makan dulu ya!" pinta Maura yang di gandeng Mama Lea keluar dari studio.
"Oke cucu Oma Kita makan seafood siang ini."
"Oke Oma!"
Freya tersenyum melihat kebahagiaan putrinya. "Terima kasih ya rabb." batin Freya bersyukur.
"Mama!!!"
Mama Lea berdiri mematung saat seorang wanita tiba-tiba datang memeluknya membuat gandengan tangannya pada Maura terlepas.
"I miss you, Ma."
"Siapa dia? kenapa dia memanggil Mama Lea, Mama juga."
🍁🍁🍁
have a nice day
__ADS_1
thank's for like, vote, comment and gift
big hug from far away 🤗🤗🤗