Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Susah dicari dan mahal


__ADS_3

Freya membuka matanya perlahan, kepalanya terasa masih pusing dan sedikit lemas, tapi tidak seperti tadi yang begitu berat rasa pusingnya, juga sudah tidak selemas tadi. Dia merasakan sakit di punggung tangan kirinya. Freya menyipitkan matanya yang merasa begitu familiar dengan ruangan yang dia tempati saat ini.


"Kenapa aku ada di rumah sakit?" gumam Freya saat menatap punggung tangan kirinya yang terpasang jarum infus.


Freya mengingat sekilas kejadian tadi sebelum dia pingsan. Dia masih di kamar dan mencoba makan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi keluar terus setelah selesai makan. Makanan yang masuk ke mulutnya langsung dia muntah kan terus menerus hingga akhirnya dia merasakan sakit di lambung juga ulu hatinya dan berujung Freya sampai muntah darah. Freya tidak bermaksud memuntahkan makanan, tapi kondisinya yang sedang mengalami morning sickness yang parah mengakibatkan dirinya muntah terus menerus, padahal sudah dimintakan Mama Lea obat mual dan muntah pada dokter kandungan.


Freya merasa tangan kanannya di pegang oleh seseorang. Freya menatap sesosok lelaki yang tidur dengan berbantal kan lengan tangan kanannya sendiri. Sesosok lelaki yang sangat dia rindukan kehadirannya juga dekapannya yang hangat. Sesosok lelaki yang sempat membuatnya kecewa. Namun saat ini sudah tidak lagi. Dia begitu senang tadi saat setengah sadar, samar-samar dia mendengar suara Bryan mengatakan sesuatu yang membuat hatinya berbunga hingga membuatnya benar-benar hilang kesadaran setelahnya. Hingga tanpa sadar Freya tersenyum mengingat perkataan Bryan tadi saat mendapati dirinya pingsan di kamar mandi.


"Sayang!! sayang kamu kenapa?"


"Freya!! sayang bangun!!"


"Please jangan tinggalkan aku lagi, sayang."


"Aku tidak bisa hidup tanpa kamu."


"Ik hou van je liefste. Hou zoveel van je."


"lk hou ook van jou." gumam Freya dengan menatap penuh cinta pada Bryan yang tengah tertidur itu.


Freya meletakkan tangan kirinya di kepala Bryan dan diusapnya pelan, dia takut kalau saja Bryan terbangun karena jam masih menunjukkan pukul dua dini hari. Freya menarik tangannya segera saat melihat kening Bryan yang mengkerut juga menggerakkan kepalanya seperti terusik sesuatu.


Freya menyunggingkan senyum saat melihat suaminya yang kembali tenang lagi. Dia mengamati wajah Bryan yang sudah semingguan ini tidak dia lihat secara dekat.


"Aku merindukan mu, Mas. Sangat merindukan mu." gumam Freya dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih." Freya tersenyum tapi air matanya justru jatuh membasahi pelipisnya.


Freya pura-pura memejamkan matanya saat melihat Bryan yang menggeliat. Dia tidak mau kedapatan memandangi wajah suaminya saat suaminya tidur.


Bryan menegakkan badannya setelah membuka matanya lebar. Dilihatnya Caca yang meringkuk di sofa dengan memakai jaket buat dijadikan selimut.


Caca tadi di minta Bryan untuk menemaninya ke rumah sakit dan membiarkan Mama Lea dan Papa Abri dirumah untuk menemani dan juga menenangkan Maura yang menangis ingin ikut ke rumah sakit. Maura tadi terlihat begitu takut kalau terjadi apa-apa sama Bundanya hingga menangis histeris. Dan Bryan membiarkan itu, dia lebih memilih segera pergi ke rumah sakit supaya istrinya itu segera mendapat tindakan.


Apalagi dia tadi diberi tahu Mama Lea kalau Freya tengah hamil muda. Kepanikan dan kekhawatiran Bryan semakin bertambah terhadap istrinya. Dia takut kalau terjadi apa-apa sama istri dan calon anaknya yang masih berada di dalam perut Freya. Sampai Bryan melupakan atau mungkin tidak peduli kenapa semua orang tahu Freya ada di rumah dan tengah hamil. Bryan tidak tahu dan tidak peduli. Saat ini yang terpenting keselamatan istri dan calon anak yang dikandung Freya.


"Apa yang kamu mimpikan sampai kamu menangis, sayang?" gumam Bryan saat melihat pelipis Freya basah.


Diusapnya air yang membasahi pelipis Freya dengan lembut dan apa yang Bryan lalukan justru membuat air mata itu jatuh semakin deras. Bryan berdiri dan mendudukkan dirinya di tepi brankar. Dia menunduk dengan bertumpu tangan kiri sedangkan tangan kanannya mengusap wajah Freya.


"Sayang!! Bangun!!"


"Kamu mimpi apa? Kenapa menangis?" Bryan terus mengusap bahkan sesekali menepuk pelan pipi Freya supaya tersadar dan bangun dari tidurnya.


Freya yang memang sudah bangun dan hanya pura-pura tidur itu semakin tidak bisa membendung rasa rindunya pada Bryan hingga membuat semakin menangis.


"Sayang!!! Freya, kamu dengar aku kan." Bryan semakin mendekatkan wajahnya pada Freya dengan tangan kanan yang masih mengusap wajah Freya untuk membangunkan istrinya itu.


Freya yang sudah tidak tahan lagi membendung rasa rindunya langsung saja memeluk Bryan dengan erat. Dia hanya diam di dalam pelukan Bryan. Dia hanya ingin memeluk suaminya itu lama dan sangat lama. Dia sangat merindukan sosok lelaki yang saat ini juga tengah membalas pelukannya.


Bryan mengusap pelan punggung dan juga kepala Freya. Bryan juga tak kalah erat memeluk istrinya yang sangat dia rindukan itu. Bryan sesekali mencium puncak kepala Freya dan juga menghirup aroma shampoo yang Freya pakai.


Mereka masih saling memeluk dengan erat tanpa ada yang mengeluarkan suara apapun. Hanya suara Freya yang menangis yang terdengar. Mereka sama-sama memejamkan mata mereka seakan menyalurkan rasa rindu, sayang dan cinta yang begitu dalam di dalam dekapan hangat dari tubuh masing-masing.


Caca terbangun saat mendengar suara orang menangis dan yang dilihatnya saat ini kakak dan kakak iparnya tengah berpelukan dengan erat dan tanpa jarak seakan tidak ingin dipisahkan lagi.


"Semoga kebahagiaan menyertai mereka dan tidak ada lagi penghalang di hubungan keduanya." harapan Caca dalam hati dan kembali tidur namun menghadap ke punggung sofa supaya tidak melihat keuwuan kakaknya saat nanti dia kembali membuka mata.


"Kok aku jadi keingat Kakak itu yaa." Caca tersipu malu mengingat seorang lelaki yang wajahnya begitu mirip oppa-oppa korea yang saat ini dekat dengan dirinya.


Kembali ke Bunda Freya dan Ayah Bryan.


"I miss you, Freya." ucap Bryan setelah melihat Freya sudah terlihat tenang. Bryan mencium puncak kepala Freya begitu lama dan sangat lama membuat Freya semakin mengeratkan pelukannya pada Bryan dan menggesekkan kepalanya di dada Bryan.


"Aku juga." gumam Freya lirih. Dia masih menunduk dan belum berani menatap Bryan.


"I love you, Maura's mother."


"Jangan pernah pergi lagi."


"Tetaplah selalu berada di sisiku." ucap Bryan lirih dan menyapukan bibirnya di puncak kepala Freya.


Freya yang mendengar itu tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Rona merah di wajah pucatnya begitu kentara. Freya tak hentinya mengembangkan senyumnya. Padahal dia tadi sudah mendengar pengakuan cinta dari Bryan di kamar mandi sesaat sebelum dia benar-benar kehilangan kesadaran.


Bryan sedikit melonggarkan pelukannya pada Freya. Dia ingin melihat wajah istrinya itu kenapa diam saja tidak memberi tanggapan. Bryan juga tidak mau nantinya keduanya kekurangan oksigen karena saling memeluk erat begitu lama. Apalagi Freya saat ini tengah mengandung anaknya.


"Sayang!!" Bryan menunduk kepalanya melihat istrinya yang juga menunduk itu.


"Hmm...." Freya hanya berdehem saja.


"Kenapa cuma berdehem tanpa memberi tanggapan apapun." keluh Bryan dalam hati.

__ADS_1


"Pasti dia malu." Bryan tersenyum sendiri.


"Aku minta maaf sayang." ucap Bryan. Dia ingin segera mengakhiri kesalahpahaman ini dengan cepat. Dia ingin hidup tenang dan bahagia bersama Freya. Bersama keluarga kecilnya.


Freya hanya diam saja, dia ingin mendengarkan pengakuan apa yang akan Bryan katakan pada dirinya. Kenapa setelah mengatakan cinta sekarang justru minta maaf. "Apa Mas Bryan tadi hanya bercanda?" batin Freya bertanya-tanya.


"Aku minta maaf dengan apa yang telah aku lakukan pada mu beberapa hari yang lalu."


"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama dia."


"Aku juga tidak ada lagi rasa sama dia."


"Aku sudah menganggapnya sebagai orang lain." Bryan diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dia kemarin datang hanya untuk meminta bantuan supaya Andre cepat pulang dan menolong anaknya."


"Karena aku kasihan sama dia saat Bibi Arta sama Andre tak ingin menolong anak itu."


"Maaf, aku refleks memeluk nya."


"Aku bukan bermaksud mengkhianati mu ataupun berpaling darimu."


"Aku hanya kasihan saja sama dia, tidak lebih."


"Dan aku janji tidak akan memeluk wanita manapun lagi selain kamu, Maura, Mama, juga Caca."


"Kamu percayakan sama aku? Suami kamu ini." Bryan menundukkan dan sedikit memiringkan kepalanya kekiri untuk melihat wajah Freya yang terus menunduk itu.


"Sayang!!" Bryan memegang dagu Freya dan diangkatnya perlahan supaya dia dapat melihat wajah istrinya yang sangat dia rindukan itu.


"Kamu percayakan sama suami kamu?"


Freya menatap lekat manik biru yang bergerak-gerak menatap dirinya. Freya tidak melihat kebohongan di mata Bryan, dia melihat kejujuran di mata hanzel berwarna biru milik suaminya.


Bryan mengangkat kedua alisnya saat melihat Freya membuka bibirnya. Dia menunggu Freya mengucapkan sesuatu.


"Freya percaya sama Mas Bryan." ucap Freya lirih.


Freya memejamkan matanya saat Bryan mencium pangkal hidungnya di antara kedua alisnya.


"Terima kasih sayang!" Bryan tersenyum dan kembali memeluk erat tubuh Freya da sesekali dia juga menyapukan bibirnya di puncak kepala Freya.


Freya mengulum senyum sambil memejamkan matanya membalas pelukan Bryan. Dia merasa tenang setelah seminggu ini hatinya begitu gelisah setelah pergi dan sembunyi dari Bryan. Apalagi sekarang dia sudah tidak merasa mual setelah berdekatan dengan suaminya.


Freya menunduk ditatap intens sama Bryan, dia malu dan pastinya suaminya itu akan bertanya kenapa dia bersembunyi di rumah dan justru bekerja sama dengan orang rumah untuk membohongi Bryan.


"Boleh aku bertanya sesuatu sama kamu?" tanya Bryan yang masih menatap intens pada Freya yang menunduk itu.


Freya memegang tangan Bryan yang ada di lengannya, "A-aku haus." ucap Freya sedikit gugup. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia belum siap kalau Bryan marah dia bersembunyi dan kerjasama dengan orang rumah bahkan sama pengawal juga maid yang bekerja di rumah Abrisam.


Bryan menghembuskan nafas pelan, dia tahu Freya mengalihkan pembicaraannya. Dia mengambilkan minum yang tadi di belikan oleh Caca. Bryan membuka tutup botol dan diberikannya ke Freya.


"Haus banget ya habis nangis tadi??" goda Bryan saat melihat Freya menghabiskan setengah botol lebih air minum.


Freya mendengkus kesal dan memberikan botol minum itu ke Bryan. "Aku sedang hamil dan wajar kalau aku minum air yang banyak." sungut Freya dan kembali merebahkan dirinya membelakangi Bryan.


Freya diam seperti mengingat sesuatu. Dia bangun lagi dan duduk menatap Bryan dengan penuh pertanyaan di benaknya.


"Mas!!" suara Freya bergetar, matanya sudah mulai berkaca-kaca lagi.


"Hmmm...kenapa?" tanya Bryan menatap lembut istrinya.


"Mas tahu kalau aku hamil?" tanya Freya menatap Bryan.


Bryan mengangguk, "Iya, Mama tadi memberi tahu aku sebelum ke rumah sakit." kata Bryan


Freya menunduk dan mengusap perutnya yang masih rata itu meski usia kandungan sudah memasuki minggu ke 10.


"Aku tadi muntah darah dan tidak bisa makan apapun kecuali buah."


"Itupun juga keluar lagi." ucap Freya pelan.


Dia menatap Bryan, "Bayi aku tidak apakan,Mas? Dia baik-baik sajakan?" tanya Freya dengan menumpahkan air mata lagi.


Bryan tersenyum dan menghapus air mata itu cepat. "Kalau kamu mau tahu, kamu harus berhenti menangis." pinta Bryan.


Freya menggelengkan kepalanya. Dia takut saat ini kalau terjadi apa-apa sama bayi nya.


Bryan mengarahkan tangan kanannya untuk menyentuh perut Freya. Diusapnya lembut perut istrinya itu. Matanya mengarah pada tangannya yang ada di atas perut Freya.


"Dia baik-baik saja, dia sehat."

__ADS_1


"Dia kuat seperti Ayahnya."


"Jadi tidak terjadi apa-apa sama bayi kita." ujar Bryan.


Freya sesenggukan, dia senang tahu kabar kalau bayi nya baik-baik saja.


"Sudah dong sayang, jangan menangis terus."


"Kasihan nanti dedek bayinya jadi ikut sedih."


"Dan satu lagi!!" Bryan menjeda ucapannya.


"Dia bayi kita, bukan hanya bayi kamu."


"Karena aku yang menyumbang banyak bibit unggul didalam sini." kata Bryan sambil mengusap perut Freya.


Freya tersenyum kecil, lantas dia memeluk Bryan dengan manja. "Aku lapar." ucap Freya lirih.


"Kamu lapar?" Freya mengangguk mengiyakan.


"Makan roti ya??"


"Tadi Caca membeli roti coklat sama strawberry."


"Kamu mau yang mana?"


"Ada rasa vanilla juga." kata Bryan sambil tangannya mengambil roti yang ada di nakas.


Freya menggeleng, "Aku mau bubur century egg congee." ucap Freya dengan menatap Bryan penuh harap. Dia lapar dan sekarang di otaknya hanya ada satu menu itu yang terus memenuhi isi otaknya. Membayangkan saja sudah membuah Freya menelan salivanya kasar. Benar-benar enak, bayangannya saat menikmati semangkuk hangat century egg congge, bubur khas China.


"Nggak!!" tolak Bryan tegas.


"Itu pakai telur setengah matang dan wanita hamil tidak di izinkan untuk memakan makanan mentah ataupun belum matang."


"Yang lainnya jangan yang itu." wajah Freya langsung berubah masam mendengar penolakan dari suaminya. Dia lantas berbaring dan membiarkan perutnya kelaparan.


Bryan menghembuskan nafas kasar. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 03.07 waktu setempat.


"Dimana aku mendapatkannya di pagi buta seperti ini?" Bryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sayang!! yang lain saja ya??"


"Yang mudah di dapat gitu."


"Bubur sumsum mungkin." kata Bryan memberi penawaran pada Freya yang merajuk.


"Kenapa nggak sereal saja itu yang lebih mudah." ketus Freya asal dan menarik selimut sampai batas kepala.


"Ahh iya sereal...."


"Tadi Caca kelihatannya juga beli itu." dengan semangat Bryan menuju ke pantry mini di dalam ruang rawat Freya.


Freya semakin kesal karena Bryan tidak menuruti keinginannya untuk makan century egg congee dan justru membuatkannya sereal.


Freya mengusap perutnya.


"Ayah kamu keterlaluan, Bunda mintanya apa dikasih apa."


"Sabar ya sayangnya Bunda."


"Nanti kalau ngidam, minta yang susah dicari dan mahal."


"Kita habiskan uang Ayah dan ajak Kakak Maura juga."


"Oke!!!!"


🍁🍁🍁


have a nice day


big hug 🤗🤗🤗


dewi widya


🍁🍁🍁


Ik hou van je liefste. Hou zoveel van je.


(aku mencintaimu. sangat mencintaimu)


lk hou ook van jou

__ADS_1


(aku juga mencintaimu)


__ADS_2