Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Dinner Romantis


__ADS_3

Anelis terlihat sibuk dengan tugasnya yang diminta Bryan untuk make over penampilan Freya supaya jauh lebih feminim lagi dan pastinya supaya terlihat lebih elegan meski tampil dengan pakaian sederhana. Bryan meminta Anelis untuk memaksa Freya memakai gown yang sudah dipesankan olehnya dari salah seorang desainer ternama di kota S. Bryan juga meminta Anelis untuk menata rambut Freya dengan gaya dan model sesuai dengan gown yang akan Freya kenakan, karena Bryan telah menyiapkan dinner romantis pertama kalinya untuk dirinya juga sang istri.


"Aku belikan tiket pesawat class 1 juga voucher liburan ke Roma sesuai yang kamu minta."


"Tapi kamu harus buat istri ku yang sudah cantik semakin cantik lagi seperti bidadari."


"Ah iya..Aku juga sudah belikan tas Balenciaga sebagai bonusnya. Dua, sama Mama juga."


"Awas kalau kamu tidak membuat Freya semakin jauh lebih cantik lagi."


"Karena aku ingin menikmati waktu berdua bersama istri cantik ku."


Anelis mengingat perkataan Bryan tadi sebelum pergi ke tempat dinner yang dimana lokasinya, dia sendiri tidak tahu karena Bryan masih merahasiakan dimana tempatnya.


"Aku kerjain aja kali ya??" Anelis tersenyum jahat saat mendapatkan ide untuk mengerjai Bryan.


"Aku buat Freya jadi seperti Noni Belanda. Aku yakin Bryan akan terpesona mengingat keduanya ketuluran Belanda." Anelis tersenyum dalam hati.


"Maafkan aku adik ku sayang." gumam Anelis yang tak bisa untuk menahan diri untuk tidak tersenyum. Dia ingin sekali-kali mengerjai kedua pasangan absrud itu, berhubung hadiah pemberian Bryan sudah berada ditangannya semua.


"Kalau kedua pasangan itu marah kan tak masalah, yang penting hadiahnya sudah ada digenggaman tangan ku." batin Anelis yang merasa menang sebelum perang.


Freya menatap curiga pada Anelis yang terlihat senyum-senyum sendiri. Dirinya curiga saudara perempuannya itu pasti tengah menata rambutnya yang tidak sesuai dengan keinginannya, karena dirinya tidak diperbolehkan melihat cermin sama sekali.


"Awas ya kalau kak Ane membentuk yang aneh-aneh pada rambut Reya." ancam Freya karena merasa Anelis begitu lama menata rambutnya.


Freya yang semakin curiga karena melihat Anelis yang justru tertawa, lantas berdiri dan berjalan kearah meja rias. Bola mata Freya melebar sempurna saat melihat penampakan dirinya di cermin. "Kak Ane!!!!" teriak Freya tertahan mengingat saat ini Maura tengah tidur. Dia begitu geram pada saudara perempuannya itu.


"Kak Ane tahu nggak sih? Freya itu mau dinner sama suami Freya, bukannya mau ke pesta kerajaan." sungut Freya yang tidak terima rambutnya dibentuk dengan gaya vintage.


"Mana ini sudah hampir jam tujuh lagi."


"Kasihan kan kalau Mas Bryan nunggu lama disana." gerutu Freya sambil membenahi tatanan rambutnya. Sungguh ini akan sangat lama dan pasti nanti dirinya telat sampai ke tempat tujuan.


"Sini aku bantu." Anelis menawarkan diri untuk membantu Freya, dirinya tidak tega melihat Freya kesulitan untuk merapikan rambutnya kembali. Dirinya juga mengingat kalau tadi Bryan memintanya untuk membuat Freya semakin cantik bak bidadari dan justru dirinya membuat Freya marah dan terlihat kacau.


"Nggak usah!! Nanti justru semakin rusak kalau Kak Ane bantu." tolak Freya dengan sedikit sewot karena kesal pada saudara perempuannya itu.


"Padahal lebih cantikan tadi loh."


"Seperti Noni Belanda." ledek Anelis dengan manahan senyumnya.


"Ck..Bilang saja kalau Kak Ane takut tersaingi kecantikannya sama Freya." cibir Freya.


"Bagaimana bisa Mas Bryan meminta Kak Ane untuk make over Freya, yang ada Freya bukannya semakin cantik justru semakin jelek." Freya menatap Anelis yang berdiri di samping meja risa.


"Atau jangan-jangan Kak Ane sengaja ya membuat penampilan Freya jelek supaya Mas Bryan tidak lagi suka sama Freya dan lebih memilih kembali pada Kak Ane." tuduh Freya yang entah kenapa bisa mengatakan seperti itu.


"Astagfirullah Reya!!" Anelis menonyor kepala Freya dengan keras.


"Bersihkan itu otak dan pikiran kamu."


"Kamu lagi hamil dan jangan bicara seperti itu."


"Pamali tahu nggak." tegur Anelis yang tidak suka dengan perkataan Freya. Dan dia sendiri tidak ada niatan sama sekali untuk merebut ataupun kembali bersama Bryan.


"Kalian berdua ini kenapa sih?"


"Sudah Ane kamu bawa Maura ke kamar kita, biar Mama yang menangani adik kamu." Mama Marisa datang menengahi kedua anaknya yang terlihat bersitegang,meninggalkan Maura sendirian tidur di ranjang.

__ADS_1


Anelis menatap Mama Marisa dan mengangguk tanpa mengeluarkan satu katapun. Dia lantas mengangkat Maura yang pulas dalam tidurnya dan dibawanya ke kamar hotel yang ditempati dirinya juga Mama Marisa.


"Sudah dulu cemberutnya, sekarang senyum biar semakin cantik dan nanti Bryan semakin terpesona sama putri bungsu Mama satu ini." hibur Mama Marisa sambil mencubit pelan hidung mancung Freya.


"Memang kamu tadi ingin model tatanan rambut yang seperti apa?" tanya Mama Marisa yang saat ini tengah merapikan rambut Freya kembali ke bentuk semula.


"Freya ingin yang simpel saja, Ma. Yang cocok dengan gown yang Freya pakai saat ini."


"Gown nya ini kan modelnya ke-korea korean gitu dan Freya ingin rambutnya yang simpel saja nggak usah banyak model." jelas Freya menyebutkan keinginan gaya tatanan rambutnya.


"Ini kapan kamu potong rambutnya?"


"Perasaan tadi siang belum seperti ini?" tanya Mama Marisa yang melihat rambut Freya berbeda dari tadi siang yang hanya rambut panjang oval biasa dan sekarang segi oval dengan tiga leyer yang saling bertumpuk.


"Sore tadi, Ma. Mas Bryan sendiri yang motong rambut Freya."


"Baguskan Ma?" Freya tersenyum menatap Mama Marisa dari pantulan cermin.


"Iya, bagus. Mama suka." Mama Marisa tersenyum dan mengangguk.


Dengan masih tersenyum, Freya melihat Mama Marisa menata rambutnya dengan gaya tatanan yang dia inginkan. Dengan mengepang sedikit ujung depan rambut Freya di dua sisi, lalu di bawanya kebelakang dan dijadikan satu lantas diberinya hiasan tiara kecil juga diberinya aksen sedikit berantakan di bagian kepangnya.


"Suka???" tanya Mama Marisa setelah selesai menata rambut Freya.


Freya tersenyum menatap Mama Marisa dari pantulan cermin. Dia berdiri dari duduknya dan memutar tubuhnya menghadap Mamanya.


"Freya suka. Meski terlihat biasa saja tapi ini memang gayanya Freya."


"Simpel dan nggak neko-neko."


Mama Marisa ikut tersenyum melihat putri bungsunya yang terlihat senang itu. "Simpel dan nggak neko-neko." dua kata itu sungguh mengingatkan dirinya pada sosok cintanya yang saat ini sudah berada di alam yang berbeda dengan dirinya.


"Suka sesuatu yang simpel dan nggak neko-neko." ucap Mama Marisa sambil membelai surai indah Freya dengan mata berkaca-kaca.


"Freya kan memang anak Bapak Armand sama Mama Marisa, jadi Freya harus seperti Bapak juga Mama." Freya mencoba untuk tetap tersenyum meski sebenarnya dirinya ingin menangis, apalagi saat melihat sang Mama yang matanya sudah berkaca-kaca itu.


"Iya." Mama Marisa mengangguk. "Kamu anak Armand juga Marisa."


Freya memeluk erat Mama Marisa. Dirinya terus menahan untuk tidak menangis saat ini mengingat sekarang sudah jam tujuh lewat dan pasti saat ini suaminya tengah menunggu kedatangannya.


"Sampai kapanpun Freya akan tetap menjadi anak Mama sama Bapak."


"Mama jangan sedih lagi ya. Kasihan Bapak disana pasti sedih melihat cintanya menangis disini." Freya melepas pelukannya dan memegang kedua pipi Mama Marisa.


"Mama harus bangkit, harus semangat, harus bahagia."


"Masih ada Freya juga Kak Ane."


"Ada Maura juga Mas Bryan dan beberapa bulan lagi akan ada Bryan Junior yang akan lahir."


"Mama harus selalu tersenyum dan pastinya sehat selalu." ucap Freya dengan nada ceria seakan dirinya bahagia saat ini meski terkadang dirinya merasa sedih tiap kali ingat pada mendiang Bapak Armand. Seperti saat ini, dirinya mencoba untuk terlihat bahagia di depan Mama Marisa tanpa harus memperlihatkan kesedihannya.


"Terima kasih sayang."


"Kamu memang putri Mama yang paling mengerti Mama." ucap Mama Marisa dan mencium lembut kening Freya sebagai tanda kasih dan sayangnya pada sang putri yang baru di temuinya beberapa bulan yang lalu.


"Sudah, lebih baik kamu berangkat. Kasihan Bryan pasti sudah menunggu kamu." Mama Marisa mengambil tas kecil yang sudah disiapkan oleh Freya untuk pergi dinner bersama Bryan.


"Puaskan malam ini untuk berduaan."

__ADS_1


"Maura biarkan ikut sama Mama sampai pagi."


"Malam ini Mama meminta kamu untuk habiskan waktu kamu bersama suami kamu."


"Jangan pikirkan Maura. Oke!!" Freya tersenyum malu mendengar perkataan Mama Marisa. Mamanya itu tahu saja urusan anak muda.


"Sudah nggak usah senyum-senyum seperti itu."


"Cepat sana berangkat, sebelum Mama berubah pikiran." Mama Marisa sedikit memberi dorongan pada lengan Freya untuk segera pergi menemui Bryan yang sudan stand by di lokasi dinner.


"Iya udah, Freya berangkat dulu ya Ma."


"Tolong jagain Maura jangan sampai rewel mencari Ayah sama Bundanya."


"Karena Bunda sama Ayahnya mau bersenang-senang di tempat lain sampai besok pagi."


"Daa, Ma. Assalamualaikum." pamit Freya dan berlalu pergi.


"Reya ingat, kamu lagi hamil."


"Jangan sering main kuda-kudaan." teriak Mama Marisa saat putrinya itu akan membuka pintu kamar hotel. Dirinya tidak ingin kandungan Freya kenapa-kenapa, apalagi nanti kalau mereka main dan tidak memakai pengaman, bisa memicu kontraksi.


"Tidak apa, Ma."


"Freya sudah menyiapkan pengaman buat dipakai Mas Bryan."


"Jadi aman-aman saja kalau nanti main kuda-kudaan sampai pagi." balas Freya sebelum akhirnya keluar dari kamar hotel.


"Astagfirullah!!! Kenapa aku punya anak bar-bar seperti itu?" Mama Marisa sungguh tak percaya kalau putrinya itu memiliki jiwa kemesuman yang begitu tinggi.


"Mas Armand..Kenapa sifat putri kamu seperti aku dulu?" Mama Marisa mengingat dulu, dirinya yang selalu berkelakuan mesum tiap kali dekat dengan Bapak Armand.


"Semoga Freya selalu bahagia dengan pernikahannya bersama Bryan."


"Semoga tidak ada lagi orang yang berniat jahat pada mereka dan sampai membuat mereka berpisah."


"Kecuali kematian. Aamiin.." Mama Marisa mengusap air matanya dan keluar dari kamar hotel anak dan menantunya dengan perasaan sedih dan bahagia bercampur jadi satu.


"Selamat malam Nona Freya." sapa supir yang merupakan salah satu anak buah Bryan yang kemarin dibawanya ke kota S.


"Silahkan masuk!! Saya akan membawa anda ke tempat yang telah Tuan Bryan siapkan untuk anda." lanjut sang supir yang memiliki kepala plontos yang menyilaukan.


"Malam!! Dan cepat antar saya ke tempat suami saya sekarang juga." titah Freya pada sang supir berkepala plontos dan segera masuk ke dalam mobil.


"Kira-kira dimana ya Mas Bryan menyiapkan dinner nya?"


"Ya Allah..aku tidak sabar banget."


"Pasti saat ini Mas Bryan sudah menyiapkan tempat yang begitu romantis buat dinner pertama kita." gumam Freya dalam hatinya yang begitu bahagia saat ini karena bisa dinner romantis untuk pertama kalinya bersama Bryan, suaminya.


Ahh...Kira-kira dimana ya tempat Bryan menyiapkan dinner romantisnya??


a. Di Hotel


b. Di Restoran Mewah


c. Kapal Pesiar


atau

__ADS_1


d. Di Pinggir Pantai


__ADS_2