
Freya terus saja mengumpat sahabatnya itu, sedari tadi Mutia tiada hentinya menertawakan dirinya. Sungguh, ingin rasanya Freya menyadarkan suaminya itu yang memiliki jiwa mesum yang lumayan akut, maniak se ks. Dimana pun dan kapanpun itu Freya pasti akan digasak habis oleh suaminya itu. Tidak mengenal tempat dan waktu.
"Tertawa terus...Terus saja tertawa sampai puas sebelum tertawa itu dilarang!" sungut Freya dengan wajah kesal memandang kearah luar kaca mobil. Saat ini dirinya juga Mutia tengah menuju ke rumah sakit dimana Mama Asti, Mamanya Rendy dirawat.
Mutia yang melihat Freya kesal dan geram pada dirinya bukannya menghentikan tawanya justru terus tertawa. Sumpah, dirinya tadi begitu syok dan kaget saat melihat penampilan Freya yang keluar dari mobil seperti habis terkena angin ****** beliung. Rambut acak-acakan, dress yang dikenakan pun juga terlihat sobek dan untungnya hanya di bagian lengannya saja. Dan tidak lupa, banyak bekas kiss mark di leher Freya, bahkan Mutia juga melihat lengan Freya tak luput dengan adanya tanda merah itu. "Tuan Bryan memang rakus." batin Mutia.
Flashback On.
Freya keluar dari mobil dengan tampilan yang kacau. Benar-benar kacau, dirinya begitu marah dan kesal pada kelakuan suaminya yang tidak tahu tempat itu. Suaminya juga tidak bisa menahan diri untuk tidak menyerangnya kapanpun dan dimana pun itu.
Brrakkk
Freya membanting pintu mobil begitu keras karena begitu kesalnya. Dia berjalan mendekati Mutia yang ternyata sudah turun dan sekarang berdiri mematung dengan tampak syok dan kaget.
"Tutup itu mulut kamu!! Air liurnya sudah banyak yang keluar." sungut Freya yang kesal, pasti sahabatnya itu kaget melihat penampilan dirinya. Dan pasti sebentar lagi dirinya jadi barang bully-an sahabatnya itu.
"Mmppfftttt..wkwkwkwk..Habis kena ****** beliung dari mana kamu?" tanya Mutia dengan tertawa begitu keras dan nyaring sampai ujung matanya mengeluarkan air mata, bahkan perutnya terasa sakit.
"Sayang!!!" teriak Bryan dari dalam mobil.
Freya menoleh dengan mencebikkan bibirnya saat melihat suaminya itu tersenyum begitu lebarnya seakan tidak punya salah apapun terhadap dirinya.
"Terima kasih atas energinya."
"Love you!! Muachh." Bryan memberikan kiss bye juga lambang cinta dengan kedua jadi telunjuk dan jari jempolnya lalu bergegas pergi.
Freya berdecak dan menepiskan tangannya seolah menolak kiss bye dari Bryan. Padahal dalam hatinya, dia tersenyum senang karena jarang sekali Bryan bilang 'Love you' seperti itu. Bibirnya bergetar saat dirinya menahan untuk tidak tersenyum.
"Kalau mau tersenyum, tersenyum saja tidak usah ditahan Nyonya Bryan."
"Gengsi kok digedein." ejek Mutia saat melihat rona merah di pipi Freya, meski tidak begitu kentara tapi Mutia bisa melihatnya karena dia berdiri di samping Freya.
"Siapa juga yang mau tersenyum."
"Dan makanan jenis apa itu gengsi?"
"Mahal kah harganya?" tanya Freya sambil menarik lengan Mutia untuk kembali masuk ke dalam apartemen.
"Ck..Lagak kau macam orang sok yes saja." cibir Mutia yang mengikuti langkah Freya.
"Ini kenapa ganti lagi password nya?" tanya Freya saat gagal memasukkan kata sandi kedalam kunci rumah.
"Iya, biar tidak ada lagi maling masuk." jawab Mutia santai dan menggeser tubuh Freya untuk memasukkan kata sandi.
Freya mendengkus, ini bukan untuk pertama atau kedua kalinya Mutia mengganti password apartemennya. Ini sudah ke sekian kalinya dan Freya tahu alasannya. Siapa lagi kalau bukan Rendy, maling yang dimaksud Mutia.
"Kenapa? karena malingnya sudah berhasil mencuri hatimu." tebak Freya dan hanya di acuhkan saja sama Mutia.
Freya masuk ke kamarnya dulu dan mencari baju yang sekiranya muat untuk tubuhnya yang sudah semakin berisi itu.
"Kenapa itu muka kamu?" tanya Mutia saat melihat Freya keluar dari kamar dengan wajah tertekuk.
"Bajuku tidak ada yang muat lagi. Hiks.." Freya menangis, namun air matanya sama sekali tidak ada yang keluar, hanya wajahnya saja yang memerah.
"Boleh aku pinjam baju kamu?" tanya Freya dengan tampang memelas. Kedua tangannya di katup kan di depan dadanya dengan kedua mata lentiknya dia kedipkan beberapa kali.
"Ck..katanya istri sultan, tapi baju kok minjam." ejek Mutia, namun dia tetap saja berdiri dan mencarikan baju yang sekiranya muat dipakai Freya yang saat ini badannya sudah semakin berisi semenjak hamil.
"Aku itu bukannya istri sultan, tapi istri seorang billionaire."
"Istrinya Abrisam Bryan Alvaro."
"Kamu tahukan??"
"Pengusaha muda yang sukses, billionaire muda."
"Crazy rich muda di kota J."
"Itu adalah suami Freya Almeera Shanum." ujar Freya panjang lebar dengan bangganya menyebut dirinya istri seorang billionaire sambil menutupi bekas gigitan Bryan yang ada dilehernya menggunakan make up milik Mutia.
"Sesenang hati kamu saja."
"Ini bajunya, semoga muat."
Freya mengambil baju itu dan segera dipakainya didepan Mutia. Pasalnya mereka berdua juga sudah terbiasa seperti itu semenjak mereka tinggal bersama dari masih di kota Y.
"Wahh...wahh..wah...."
"Amazing!!!!!" Mutia begitu heboh saat tidak hanya melihat tanda merah di leher juga lengan saja, tapi juga di dada Freya dan hampir semua tubuh Freya.
"Gila!!! di paha juga ada." Mutia geleng kepala melihat begitu banyaknya tanda merah di badan Freya.
"Beginilah kelakuan Mas Bryan kalau hanya pemanasan saja tanpa masuk dan hanya bermain dengan jari dan terkadang lidah."
"Badan sudah seperti macan tutul." ucap Freya tanpa beban dan rasa malu sedikitpun pada sahabatnya itu.
"Untung dress-nya lengan panjang dan sampai bawah lutut." gumam Freya setelah selesai mengenakan baju milik Mutia, jadi yang perlu ditutupi hanya lehernya saja.
Bulu kuduknya tiba-tiba merinding saat mengingat dirinya juga pernah seperti keadaan Freya saat ini, bedanya Freya melakukan itu dengan suaminya sendiri dan dirinya dengan pria yang baru tahu kalau orang itu adalah calon tunangan sekaligus calon suaminya. Dan dia tidak puas karena pria itu hanya bermain dengan tangan dan lidahnya saja.
"Ihh.. Kok aku jadi ingat malam itu sih!!" Mutia memukul-mukul kepalanya karena tiba-tiba mengingat saat Rendy memuaskan dirinya dengan jari tangan juga lidah.
Freya mengerutkan keningnya menatap sahabatnya itu, "Kenapa kamu?" tanya nya heran dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Nggak apa,, aku hanya membayangkan kamu sama Bryan main kuda-kudaan di dalam mobil."
"Apa seenak saat kalian berdua main di sofa di depan TV atau tidak." ujar Mutia dengan santainya setengah menyindir sahabatnya itu.
"Otak kamu nggak usah traveling kemana-mana."
"Nggak punya lawannya kamu kalau kepengen." ejek Freya lalu bergegas keluar dari kamar Mutia. Namun langkahnya berhenti saat mengingat perkataan Mutia yang mengatakan main di sofa di depan Tv. Dia melihat sofa yang dulu pernah dipakainya untuk main kuda-kudaan bersama Bryan.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Baru ingat Nona." Mutia menyenggol bahu Freya sambil tersenyum mengejek.
"Ihh.... MAS BRYAN!!!!" teriak Freya yang malu karena kegiatan ranjangnya, salah maksudnya kegiatan adon mengadon dimana pun tempatnya selalu saja ada orang yang melihat dan mengetahuinya.
Flashback Off.
Freya juga Mutia sudah sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju tempat dimana Mamanya Rendy di rawat.
"Bukannya di rumah sakit ini ya Tuan Alex juga di rawat?" tanya Freya mengingat Alex yang masih di rawat di rumah sakit akibat insiden yang Freya sendiri tidak tahu, yang dia tahu dari Bryan, Alex di begal saat keluar dari hotel dan Freya percaya saja.
Mutia sempat menghentikan langkahnya sejenak dan kembali melanjutkan langkahnya saat nama Alex kembali di dengar di telinganya setelah seminggu tidak dia dengar. Dirinya bukannya mau menghindar dari Alex, Mutia hanya kecewa saja dengan perlakuan Alex padanya. Dirinya juga sadar kalau Alex sebenarnya menaruh hati pada dirinya, namun dirinya tidak menanggapi karena dihatinya sudah ada nama orang lain. Dan orang itu kemarin telah membuatnya patah hati.
"Iya, tapi aku nggak tahu dia dirawat dimana." jawab Mutia jujur yang memang dirinya tidak tahu Alex di rawat di ruangan apa. Terakhir dia dengar di ICU.
"Apa di ICU ya?!!"
"Aduh...tega banget itu yang menghajar habis Tuan Alex ."
"Mana Mas Bryan juga Rendy belum menemukan siapa pelakunya lagi." Freya menghembuskan nafas panjang mengingat kondisi Alex yang begitu memprihatinkan.
"Jelas saja Tuan Bryan juga Rendy tidak menemukan pelakunya, memang tidak dicari."
"Apalagi pelakunya Rendy sendiri."
"Dan tahu sendiri bagaimana ilmu beladiri nya Rendy itu begitu hebat." batin Mutia yang mengingat Rendy lah yang menghajar habis Alex saat akan memperkosanya.
"Ini ruangannya Mamanya Rendy?" tanya Freya saat mereka sudah sampai di kamar VIP.
Mutia mengangguk dan mengetuk pintu kamar tersebut, tidak mungkin dirinya akan menyelonong masuk begitu saja. Pasti Mama Asti akan menilai Mutia seperti wanita yang tidak memiliki sopan santun.
Pintu terbuka dari dalam dan nampak sesosok pria dengab tangan di gips tersenyum lebar dengan mata berbinar melihat siapa yang datang.
"Kak Mutia!!" jeritnya dan langsung menghambur memeluk Mutia dengan satu tangan karena tangan satunya di gips.
"Kenapa Kakak baru datang?"
"Kan dari kemarin sudah Nino chat Kak Mutia kalau Nino sama Mama dirawat di rumah sakit."
Mutia tersenyum mendengar protes dari Nino yang seperti anak kecil itu, padahal usianya sudah dibilang dewasa karena sebentar lagi akan lulus kuliah.
"Maaf, kakak kemarin capek dan baru sempat kesini hari ini." kilah Mutia padahal dirinya kemarin datang tapi tidak menampakkan dirinya karena kedahuluan melihat pemandangan yang bikin dadanya terasa sesak.
Nino mengangguk dan melihat Freya yang berdiri di samping Mutia tersenyum padanya.
"Kak Freya ya?? Istrinya Kak Bryan." tebak Nino membuat Freya tersenyum semakin lebar dan mengangguk.
"Wahh..Cantik banget aslinya."
"Pantas saja kemarin Kak Bryan buru-buru pulang."
"Katanya tidak bisa meninggalkan istrinya yang tengah hamil."
"Ck..Nino tahu, pasti Kak Bryan sekarang sudah jadi kucing anggora, tidak bisa jauh dari istri cantiknya ini."
Freya juga Mutia tertawa mendengar cibiran Nino yang ditujukan buat Bryan. Apa yang dikatakan Nino itu memang benar adanya. Bryan sekarang lebih cocok di sebut kucing anggora saat berhadapan dengan Freya.
"Iya Ma." sahut Nino.
"Ayo kak masuk."
"Sampai lupa Nino ngajak kakak-kakak cantik untuk masuk."
Mereka masuk ke dalam kamar perawatan, dilihatnya disana Mama Asti tengah duduk bersandar di brankar nya.
"Assalamualaikum Bibi." sapa Freya juga Mutia sopan dan bergantian mereka berduanya menyalami Mama Asti.
"Walaikumsalam.," balas Mama Asti dengan tersenyum memandang kedua wanita dewasa yang memiliki kecantikannya masing-masing.
"Masyaallah...Apa ini Nona Freya istrinya Tuan Bryan?"
"Cantik sekali." puji Mama Asti sambil memegang tangan Freya. Freya hanya tersenyum, menurutnya dirinya memang cantik, tapi semenjak hamil cantiknya berkurang karena badannya makin berisi.
"Hamil berapa bulan Nona Freya sekarang?" tanya Mama Asti mengelus lembut perut Freya.
"Alhamdulillah, sudah jalan empat bulan, Bibi." jawab Freya menyunggingkan senyumnya menatap Mamanya Rendy itu yang begitu ramah itu. Berbeda jauh dengan Rendy yang dingin dan kaku seperti robot kalau kata Maura, dan seperti kanebo kering kalau kata Mutia.
"Nino!! Dekatkan kursi itu biar dipakai duduk buat Nona Freya."
"Kasihan dia lagi hamil gak boleh kelamaan berdiri." Nino mengangguk saja dan menggeser kursi yang tadi diletakkan di dekat jendela sama Rendy sebelum pergi.
"Terima kasih.!!"
"Padahal Freya bisa duduk di sofa bersama Nino." ucap Freya sambil tertawa memandang Nino yang terlihat kesal itu tapi tetap melakukan apa yang diminta Mamanya.
"Bibi Asti takut aja kalau pikiran kamu nanti terkontaminasi oleh perkataan Nino yang terkadang ambigu itu." ujar Mutia setengah mengejek pada Nino yang memang terkadang memiliki pemikiran yang aneh dan bahasa yang aneh-aneh.
Mama Asti tersenyum sambil mengelus lengan Mutia, "Duduklah, Nak."
Mutia tersenyum dan duduk di tepi brankar memandang calon Mama mertuanya itu. Itupun kalau dia jadi menerima perjodohan itu.
"Mama senang kamu akhirnya menerima perjodohan dengan Ren..ekhem..Yudha maksud Mama."
"Terima kasih ya sayang." Mama Asti tersenyum memegang kedua tangan Mutia. Beliau begitu senang karena mendapat kabar dari Bibi Mutia kalau Mutia sudah menerima perjodohan itu.
Mutia tersenyum kikuk mendengar penuturan dari Mama Asti. Dirinya begitu tidak tega kalau sampai membuat senyum di wajah wanita paruh baya itu sirna karena dirinya membatalkan perjodohan itu. "Apa aku tega mengatakan semua apa yang aku lihat kemarin kepada Bibi Asti?" batin Mutia yang tidak tega kalau harus menceritakan kelakuan Rendy pada Mama Asti.
"Apa Yudha itu Rendy, Bibi?"
"Rendy asistennya Tuan Bryan?" tanya Mutia yang pura-pura tidak mengetahui semuanya.
Mutia tersenyum kecut pada Freya yang seperti melayangkan protes.
"Kenapa kamu harus bertanya seperti itu?"
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak jujur saja kalau kamu sudah tahu semuanya." kira-kira seperti itulah kalimat protes yang dapat Mutia baca dari sorot mata Freya yang mendelik.
"It-tu...Kenapa kamu berpikiran sampai sejauh itu?" tanya Mama Asti cepat dan berusaha tenang menatap lekat pada Mutia. Apa Mutia sudah tahu, pikirnya.
"Tidak apa, Bibi."
"Aku hanya sepertinya mengenali jam tangan itu." Mutia berdiri dan mengambil jam tangan pria yang sama persis seperti yang dia punya. Bedanya punya nya model wanita.
"Ini jam tangan couple."
"Mutia juga punya, dan kebetulan Mutia pakai."
"Ini dari Rendy." Mutia melepas jam tangan miliknya.
"Jam tangan ini kalau digabung akan muncul inisial nama kita masing-masing dan tidak berbunyi."
"Tapi kalau tidak tepat, inisial namanya tidak akan muncul dan jam tangan ini juga akan berbunyi bila digabungkan." ujar Mutia yang sudah bersiap untuk menggabungkan kedua jam tangan itu.
"Itu punya Kak Rendy." pekik Nino yang berjalan tertatih mendekati Mutia.
Mutia tersenyum dan menurunkan kedua tangannya yang akan menggabungkan dua jam tangan itu.
"Iya..Kak Yudha itu Kak Rendy."
"Mereka orang yang sama." ucap Nino dengan nafas tak beraturan seakan dirinya baru saja membongkar rahasia besar dalam sejarah dan dirinya bakal kena hukuman mati.
"Nak!! Mutia!! Kamu jangan marah ya sama Rendy."
"Rendy awalnya juga tidak tahu kalau kamu itu Tia, Mutia yang akan dijodohkan dengannya."
"Hingga akhirnya dia menerima perjodohan itu setelah Tuan Bryan dan Nona Freya menikah."
"Tapi dengan syarat merahasiakan semuanya dari kamu."
"Dia ingin kamu menerimanya bukan karena perjodohan dan keterpaksaan, melainkan karena kamu juga mencintai Rendy seperti Rendy mencintai kamu."
Mutia diam menunduk mendengarkan pengakuan Mama Asti. Dia begitu senang saat tahu kalau Rendy juga mencintai dirinya seperti dirinya kini yang sudah jatuh cinta pada sosok dingin dan kaku itu. Namun entah kenapa air matanya itu tiba-tiba mengalir keluar mengingat apa yang dilakukan Rendy kemarin bersama wanita lain.
"Tapi Rendy memiliki wanita lain, Bibi."
"Bahkan Mutia melihat dengan mata kepala Mutia sendiri kalau Rendy mencium bibir wanita itu."
Freya berdiri dan memeluk sahabatnya itu. Dia tahu sahabatnya itu kini tengah bimbang. Disaat sudah menerima dan membuka hati, disaat itu juga hatinya terluka.
"Rendy memiliki wanita lain??"
"Itu tidak mungkin Mutia."
"Setahu Bibi, Rendy tidak dekat dengan wanita manapun kecuali kamu." Mama Asti begitu tidak percaya dengan apa yang Mutia katakan, karena anaknya itu tidak seperti itu atau mungkin dirinya yang memang tidak mengetahui perilaku anaknya diluar sana.
"Wanita yang kemarin menabrak Bibi juga Nino."
"Wanita itu yang dicium Rendy." ucap Mutia dengan sesenggukan dipelukan Freya.
"Maaf, Mutia ingin membatalkan perjodohan ini." suara Mutia tercekat saat mengatakan itu.
Freya mengusap punggung Mutia yang semakin menangis tersedu itu. Dirinya juga bingung harus membantu bagaimana lagi. Ini sudah masalah hati yang terluka. Mau ikut campurpun takut kalau salah.
Dengan masih memeluk Mutia, dengan tangan satunya lagi Freya mengambil handphonenya yang berbunyi di dalam tas. Dan harus segera diangkat karena itu panggilan dari Bryan, suami mesumnya.
"Sebentar Mut."
Freya melepas pelukannya pada Mutia dan keluar untuk menerima panggilan dari suaminya.
"Assalamualaikum, Mas." ucap Freya setelah mengangkat panggilan suami termesumnya.
"Sayang, kamu masih di rumah sakit?" tanya Bryan diseberang sana dengan tergesa.
Freya menghembuskan nafas lelah, bukannya dijawab salamnya justru bertanya pada dirinya.
"Sayang!!"
"Jawab dulu salamnya!" geram Freya pada suaminya itu.
"Ah iya lupa sayang."
"Walaikumsalam istri cantikku, permaisuri hatiku, permata hatiku, kasihku,sayangku, cintaku."
"Pretttt!!" cibir Freya pada suaminya yang tiba-tiba menyebutkan semua panggilan yang entah sejak kapan disematkan khusus buat dirinya.
"Kamu ngentut sayang?" Freya mendengkus saat dikira dirinya kentut dan mendengar kekekan dari Bryan.
"Ada apa telephone Freya?" tanya Freya yang malas menanggapi godaan suaminya itu.
"Kamu masih dirumah sakit?" tanya Bryan lagi.
Freya mengangguk, "Iya."
"Begini sayang, dengarkan aku baik-baik."
Freya menyerit mendengarkan apa yang dikatakan suaminya itu di seberang sana. Dia lantas menyeringai saat paham maksud dari perkataan suaminya itu.
"Serahkan pada Freya." ucap Freya dengan seringaian jahatnya.
"Aku percaya padamu sayangku. Muachh."
"Tunggu aku." tut tut tut panggilan berakhir.
"Kapan lagi ngerjain manusia robot itu kalau bukan saat ini."
"Saatnya bertindak."
🍁🍁🍁
__ADS_1
have a nice day
big hug 🤗🤗🤗