Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Memoroti Teman


__ADS_3

Bara juga Alex yang diutus Bryan untuk menyiapkan tempat dinner sebagai perayaan hari ulang tahun Freya terlihat main-main. Mereka bukannya serius mengerjakan tugas yang Bryan berikan melainkan asyik dengan main game online. Keduanya saling menendang karena tidak ada yang ingin kalah dalam permainan.


"Habis kau!" seru Bara dengan menyenggol lengan Alex.


"Sialan!! Bisa diam nggak." geram Alex yang hampir saja terkena tembak dari Bara.


"Arrgghhh!!" pekik Bara ketika kakinya diinjak Alex.


"Buahahahahaha!!!" tawa Alex dengan kencangnya karena berhasil menumbangkan Bara.


"Huuuuuu!!! Akhirnya saham ku naik lagi." teriak Alex kegirangan karena berhasil mengalahkan Bara dan memenangkan taruhan.


"Menang dengan cara curang aja bangga. Main sekali lagi kalau berani." tantang Bara yang tidak terima dicurangi Alex.


"Aku tambah 2% saham yang ku miliki." kata Bara.


"Nggak mau, aku capek. 5% aja sudah cukup buat ku." kata Alex dengan meminum seteguk anggur merah di gelasnya.


"Ck..Alasan aja. Bilang saja kalau kau takut kalah dari ku." ejek Bara yang tahu Alex hanya alasan saja, karena Alex sebenarnya selalu kalah tiap kali main game melawan Bara maupun Bryan. Bahkan Alex juga akan kalah sama Rendy juga Andre yang notabennya jarang sekali main game.


"Mana ada. Aku tak pernah takut kalah sama siapapun. Nggak usah menghina ku." dengan geram Alex menonyor kepala Bara.


"Ciah...Nyatanya Mutia bukannya menikah dengan mu tapi dengan Rendy."


"Mana sampai terkapar di ICU selama seminggu hanya karena Mutia." Bara menertawakan Alex yang tidak biasanya mengalah soal wanita dan itu baru pertama kalinya Alex menyerah pada seorang wanita.


"Sejak kapan kamu jatuh cinta sama Mutia?" tanya Bara yang tahu bagaimana sifat Alex ketika jatuh cinta pada seorang wanita.


Alex melirik Bara sekilas dan hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia sendiri tidak tahu apa dia benar sudah jatuh cinta sama Mutia apa tidak. Yang pasti saat itu dia hanya ingin melihat Mutia bahagia meski dengan cara yang salah.


Bara tertawa sarkas melihat tanggapan yang Alex berikan kepadanya. "Terulang kedua kalinya. Nasib kau Alex. Tiap kali jatuh cinta dengan wanita yang sudah punya tambatan hati."


Alex menegakkan tubuhnya dan membuang nafas kasar. "Mungkin aku memang ditakdirkan hidup sendiri tanpa pasangan." kata Alex yang terdengar frustasi.


"Bagaimana kalau sama aku saja? Aku juga lagi sendiri ini, lagi single." ujar Bara dengan tersenyum juga mengedipkan matanya mendekati Alex.

__ADS_1


Alex menjauhkan tubuhnya dari Bara. Dia merasa jijik dengan apa yang baru saja Bara katakan padanya. Apalagi dengan sikap Bara saat ini yang seperti pria berbelok.


"Bagaimana Alex sayang?"


Arrggghhhh


Teriak Alex saat tangan Bara mengelus pahanya dan itu membuat bulu kuduk Alex berdiri. Dia lantas berdiri dan menjauh dari Bara.


Bara tertawa terbahak melihat Alex yang ketakutan dengan dirinya. "Kenapa tidak kembali mengejar aa saja? Bukannya dia sekarang lagi sendiri?"


Alex yang hampir saja keluar menghentikan langkahnya. "Anelis." gumam Alex lirih.


Alex mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat masih sekolah menengah. Dimana dia begitu mengagumi sosok gadis cantik yang tinggal di samping rumahnya. Gadis yang usianya berkisar 4 sampai 5 tahun dibawahnya. Gadis pendiam dan susah untuk didekati. Namun dengan kegigihan yang Alex miliki, dia berhasil membuat gadis itu menjadi gadis yang cerewet dan gampang berbaur dengan orang. Hingga sampai gadis itu bertemu dengan Bryan dan melupakan dirinya yang sudah jatuh cinta pada sosok itu.


"Kamu masih cinta kan sama dia?" Alex menatap Bara yang berjalan mendekati dirinya.


"Aku tahu kamu diam-diam menjaga Anelis dari jauh saat dia di Spanyol, dan kamu tidak memberi tahu kami semuanya padahal kamu tahu kalau Anelis di Spanyol. Kamu juga pura-pura tidak peduli sama Anelis saat dia kembali lagi waktu itu. Padahal kamu orang paling takut kalau sampai Anelis kenapa-kenapa." imbuh Bara yang mengetahui semua apa yang Alex lakukan selama ini.


Alex hanya diam saja tanpa menyahuti apa yang Bara katakan, karena apa yang Bara katakan barusan benar adanya. Benar dia diam-diam menjaga Anelis dan begitu peduli pada Anelis, gadis pendiam yang sudah mencuri hatinya sejak masih remaja. Kalau soal dia masih cinta apa tidak sama Anelis, dia sendiri tidak tahu. Yang pasti sampai saat ini dia masih meminta orang untuk selalu mengawasi dan menjaga Anelis dimana pun kakak dari Freya itu berada.


Bara juga Alex menoleh saat mengenali suara seseorang dan mendapati Bryan masuk dari pintu samping.


"Kenapa diam saja? Santai saja kali." Bryan memukul pelan bahu Alex sambil terkekeh pelan melihat ekspresi kaget Alex.


"Aku sudah tidak ada rasa sama dia. Kalau kamu masih cinta sama dia, kejar dia dan dapatkan kembali dia."


"Tapi sorry, aku tidak mau memanggilmu kakak ipar. Nggak level." Bara tertawa kencang mendengar apa yang baru saja Bryan katakan. Sungguh, Tuan Muda itu memang tidak mau mengalah dengan sahabatnya sendiri.


"Sialan kau." Alex membalas Bryan dengan memberi tinjuan pada lengan Bryan.


"Gini-gini aku juga anak orang kaya, anak konglomerat."


"Bukan seperti dia."


"Hai!!! Nggak usah tunjuk-tunjuk segala." geram Bara dengan menyingkirkan tangan Alex yang menunjuknya.

__ADS_1


"Aku juga anak orang kaya kalau kamu tahu." kata Bara dengan emosi yang tidak terima dengan yang Alex katakan.


Baik Bryan maupun Alex menertawakan Bara yang emosi sendiri karena tidak diakui anak orang kaya oleh mereka.


"Bagaimana hasil kerja kalian? Kenapa aku tidak melihat hasil apapun disini?" tanya Bryan yang tidak melihat hasil perubahan pada ruangan yang dimintanya untuk dijadikan tempat dinner perayaan ulang tahun Freya besok malam.


"Aduh Tuan Muda!! Kenapa tidak besok saja sekalian. Ulang tahunnya masih besok pun." keluh Alex yang memang tidak pernah menyiapkan kejutan sendiri, karena biasanya dirinya selalu menerima beres saja dan hanya memerintahkan orang seperti yang Bryan lakukan saat ini pada dirinya juga Bara.


"Benar itu. Kenapa tidak minta bantuan IO saja?"


"Akhir tahun itu waktunya untuk bersantai, bukan untuk mengurus sesuatu kekanakan seperti ini." imbuh Bara yang sudah merebahkan tubuhnya di atas meja.


"Betul!!" sahut Alex dan duduk di kursi tidak jadi keluar.


"Baiklah, lanjutkan santai kalian."


"Mobil yang sudah aku janjikan akan aku cancel."


"Selamat bersantai."


"Bryan!!! Tuan Muda!! Tunggu!!!" teriak Bara juga Alex yang terlihat panik sendiri dan mengejar Bryan yang sudah keluar.


"Jangan di cancel dulu woiiii!!!" teriak keduanya yang tidak ingin menyiakan mobil impian mereka lenyap dalam sekejap hanya karena tidak menyelesaikan tugas dengan benar.


"Ck..Katanya anak orang kaya, anak konglomerat, tapi maunya mobil hadiah, mobil gratisan." gumam Bryan yang memang sudah menjanjikan keduanya untuk membelikan mobil impian Bara juga Alex kalau mau membantunya menyiapkan tempat dinner untuk ulang tahun Freya nanti.


"Sudah nggak usah dikejar lagi." kata Alex yang menarik Bara untuk berhenti mengejar Bryan.


"Lebih baik kita kerjakan sekarang. Aku tidak mau Ferrari GTC4Lusso T ku lenyap begitu saja."


"Aku juga nggak mu Ferrari 488 Pista yang aku inginkan dari dulu hilang begitu saja." sahut Bara


Keduanya kembali mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan dari tadi untuk menjemput hadiah impian mereka secara gratis.


Bryan mengintip kembali kedua sahabatnya tadi karena sudah tidak mendengar suara mereka. "Ck...Dasar teman suka makan barang gratisan. Suka banget memoroti teman sendiri."

__ADS_1


__ADS_2