
"Bisa nggak sih An, kamu itu duduk diam gak usah mondar-mandir macam setrikaan seperti itu." gertak Manda yang mulai jengah dan emosi melihat Anelis yang panik dan mondar-mandir nggak jelas.
"Bagaimana aku bisa duduk diam kalau seperti ini keadaannya." sahut Anelis tak kalah emosinya.
"Kakak kamu itu dimana sih? Apa dia benar-benar mati di tangan Bryan?" tanya Anelis menatap Manda dan Mama Manda bergantian dan akhirnya duduk juga di hadapan Manda juga Mama Manda.
"Memang benar anak itu anaknya bang Leon?"
"Bukan anaknya Alex atau mungkin Andre sepupunya Bryan." tanya Manda menatap sinis pada Anelis.
Tubuh Anelis menegang saat Manda menyebut nama Andre. Nama yang sudah lama Anelis lupakan sejak kejadian waktu itu, beberapa tahun yang lalu.
"Kenapa kamu terlihat begitu terkejut seperti itu Anelis?" refleks Anelis menoleh menatap Mama Manda yang bertanya padanya dengan tersenyum kecut.
"Jadi benarkan anak itu bukan anak Leon?" imbuh Mama Manda.
"Terserah kalian berfikir seperti apa tentang anak itu."
"Tapi yang pasti sekarang bagaimana caranya nanti hasil test DNA nya cocok." Anelis menatap Manda dan juga Mama Manda dengan tatapan tajam.
"Aku sudah jauh-jauh datang kesini dan aku nggak mau perjuangan ku sia-sia." imbuh Anelis.
"Jalan satu-satunya kamu harus menemui Bryan lagi dan mengambil rambut Bryan." ujar Manda.
" Tapi dia tidak mau ketemu kalau aku tidak membawa anak itu untuk melakukan test DNA." kata Anelis yang mengingat perkataan Bryan kemarin.
"Temui saja dulu."
"Kalaupun gagal aku ada cara lain untuk membuat hasil test itu cocok 100%." ucap Manda dengan seringai jahatnya.
...............
Bryan keluar dari ruang rapat setengah jam sebelum jam istirahat. Dia menyunggingkan senyum saat mendapat pesan dari Freya.
"Aku hampir sampai."
"Aku nanti langsung ke ruangan Mas Bryan ya."
"Mas Bryan masih rapatkan?"
Bryan memasukkan kembali handphone nya, "Ren, langsung saja teman kamu juga Alex suruh masuk. Aku jemput Freya sebentar."
"Baik Tuan." Rendy mengangguk.
Bryan langsung melesat pergi ke lobby untuk menjemput istrinya itu. Dia tadi mempercepat jalannya rapat hanya untuk bisa menunggu kedatangan istrinya dan tidak ingin membuat istrinya itu menunggu dirinya.
Entah kenapa Bryan ingin melakukan itu. Biasanya dia cuek saja dan meminta Freya untuk langsung ke ruangannya.
Beberapa karyawan yang sudah keluar untuk istirahat duluan menatap heran CEO mereka. Pasalnya Tuan Muda itu menebarkan senyum saat baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju lobby.
"Ahhkkk... Kenapa suami orang makin hari makin ganteng saja sih?"
"Lihat itu senyum Taun Muda. Manis banget."
"Aduhh bang...berapa banyak gula yang kamu miliki di senyummu itu?."
"Adek diabetes bang."
"Andai Tuan Muda belum menikah."
"Aku mau kok Taun Muda menjadi yang kedua ataupun ketiga bahkan istri keberapa pun aku mau."
"Gunung es sudah mencair."
"Beruang kutub sudah menemukan pawangnya."
"Kira-kira Tuan Muda sama Nona Freya kalau olahraga sampai berapa ronde yaaa??"
Beberapa karyawan yang berbisik tentang CEO mereka langsung menoleh pada seorang karyawan lelaki yang menanyakan berapa ronde CEO mereka saat berhubungan.
"Mungkin dari malam sampai pagi."
"Lihat saja itu tubuh Tuan Muda."
"Tidak mungkin hanya satu atau dua ronde saja."
"Pasti semalaman." celetuk salah seorang karyawan lelaki yang lain.
Ekheemm
Mereka semua menoleh saat melihat Tuan Muda Abrisam berada di dekat mereka.
"Selamat siang Tuan Muda!" sapa mereka semua serempak sambil menunduk takut.
__ADS_1
"Hmm..Kalau sudah selesai ghibah nya bisa segera istirahat."
Sontak saja mereka semua langsung membubarkan diri. Berarti Tuan Muda tadi mendengar apa yang kita bicarakan? seperti itulah sekiranya pikiran mereka.
"Selamat siang Nyonya Muda!" sapa serempak beberapa karyawan yang tadi mengghibah Tuan Muda. Mereka berpapasan dengan Freya di pintu lobby.
"Siang juga." balas Freya tanpa lupa menyunggingkan senyum untuk mereka.
Bryan menoleh dan melebarkan senyumnya saat melihat Freya berjalan ke arahnya. Dia juga merentangkan tangannya untuk menyambut Freya ke pelukannya.
"Selamat siang Tuan Muda!" sapa Freya saat sudah berada di dekat Bryan.
Bryan semakin melebarkan tangannya menyambut kedatangan istrinya. Senyumnya tiba-tiba luntur saat melihat wanitanya itu justru berjalan melewatinya begitu saja.
Beberapa karyawan yang baru saja keluar dari lift menatap geli pada pasangan fenomenal itu, antara Tuan Bryan dengan Nona Freya. Tuan Muda yang biasanya dingin terhadap perempuan kini terlihat bucin terhadap istrinya.
Bryan yang kesal karena dicuekin Freya dan membuatnya malu di hadapan karyawannya langsung saja dia menggendong Freya ala bridal style. Dia tidak peduli karyawannya melihat bahkan ada yang mengambil gambar mereka.
"Itu balasan karena telah membuat suami malu."
Freya hanya diam saja dan tersenyum. Dia juga tidak memberontak saat Bryan menggendongnya menaiki lift menuju ruangan Bryan.
"Haduhhh...Bermesraan tidak tahu tempat!" seru Alex yang melihat Bryan masuk ke ruangannya dengan menggendong Freya.
Bryan cuek saja dan mendudukkan Freya di kursi kebesarannya.
"Maaf Tuan!" Rendy menunduk hormat pada Bryan.
"Teman saya setelah ini ada pertemuan."
"Apa bisa dibahas sekarang masalah vidio dan foto itu?" tanya Rendy.
"Hmm..." Bryan mengulurkan tangannya pada Freya dan di sambut langsung sama Freya. Mereka duduk di sofa.
"Ini vidio nya Tuan." Teman Rendy mengarahkan laptop nya pada Bryan.
Freya mengepalkan tangannya saat melihat isi vidio itu. Diliriknya tajam suaminya yang duduk di sebelahnya.
"Itu vidio hanya hasil editing."
"Jadi Anda tidak perlu khawatir." sambung Teman Rendy.
Bryan bernafas lega, karena seingatnya dia tidak pernah berhubungan dengan Anelis meski Anelis selalu memancing dirinya untuk melakukan hubungan terlarang.
"Apa maksudnya ini?" dengan wajah garangnya, Freya menunjukkan foto tepat di hadapan Bryan.
Bryan menelan saliva nya kasar melihat Freya yang sudah mengeluarkan tanduk itu. Dia melirik Alex juga Rendy meminta bantuan namun dua manusia itu terlihat tidak peduli.
"Ternyata wanita kalau sedang marah menyeramkan juga."
"Lebih seram dari Sniper ku yang dikandang." batin Bryan.
"Sayang,.." Bryan memegang tangan Freya namun langsung di tepisnya tangan Bryan.
"Sayang..percaya sama aku."
"Aku nggak pernah melakukan itu sama dia." ucap Bryan dengan tampang memelas.
"Maaf Tuan! Nona!"
"Foto itu memang asli."
"Itukan benar kamu telah melakukan bersama nya juga." sergah Freya cepat memotong perkataan teman Rendy.
Bryan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Dia memang pernah tidur berpelukan bersama Anelis dan itu hanya berpelukan tidak lebih.
"Maaf sekali lagi Nona."
"Anda salah paham."
Freya mengerutkan keningnya menatap temannya Rendy. "Salah paham gimana maksud anda?" tanya Freya.
"Foto itu sebenarnya keduanya memakai baju, namun diedit dan akhirnya terlihat seperti itu." jelas teman Rendy.
Freya hanya ber 'Oh' ria dan meletakkan kasar foto yang dia pegang tadi.
"Benarkan sayang aku nggak pernah macam-macam sama dia." ujar Bryan melingkarkan tangannya di pinggang Freya dengan tersenyum kecil.
"Hmm.." Freya hanya berdehem saja.
"Untuk mengetahui hasil vidio nya yang asli mungkin kalau nggak besok ya lusa Tuan." Bryan mengiyakan perkataan teman Rendy.
"Kalau begitu saya permisi dulu." pamit teman Rendy.
__ADS_1
"Sudah jelaskan sayang."
"Sekarang tinggal test DNA nya saja."
"Dan kamu jangan berpikiran macam-macam." kata Bryan mengingatkan istrinya.
"Siapa juga yang berpikir macam-macam." Freya mendengkus kesal dan beranjak ke meja meeting yang ada lima kotak nasi.
"Punya siapa Mas?" Freya mengangkat sekotak nasi ditunjukkan ke Bryan.
"Aku tadi yang meminta Julian untuk memesankan makanan."
"Kalian ayo makan." ajak Bryan pada Rendy juga Alex dia berdiri dan mendekat ke Freya.
"Tumben makan nasi kotak."
"Mana menunya sederhana lagi."
"Nggak salah pesan anda Tuan Muda." sindir Alex saat melihat isinya ada nasi, ayam bumbu bali, capcay juga kwetiau.
"Banyak ngomong, sini kalau nggak mau." sungut Bryan dan menarik nasi kotak milik Alex
"Eittsss..Aku juga lapar kali." Alex menepis tangan Bryan yang akan menarik nasi kotaknya.
Rendy hanya geleng kepala saja. Sebenarnya dia juga heran kenapa Tuan Mudanya ini pesan makanan yang jarang dimakannya. Dan lihat itu, Tuan Muda sudah habis satu kotak dan sekarang sudah buka lagi.
"Mas, aku ke mushola dulu ya." pamit Freya yang sudah berdiri dan berjalan ke toilet yang ada di dalam kamar pribadi Bryan untuk cuci tangan.
"Nggak usah, dikamar sudah ada mukena buat kamu gunakan sholat." ujar Bryan yang masih menikmati makan siang sederhananya.
Freya membuka almari dan benar saja disana ada mukena yang masih terbungkus. "Kelihatannya baru." gumam Freya.
Freya menajamkan pendengarannya saat selesai sholat dia mendengar suara wanita di ruangan Bryan dan Bryan sendiri terlihat marah pada wanita itu.
Freya mengintip dan membulatkan mata lebar saat tahu siapa wanita yang ada di ruangan Bryan yang membuat suaminya itu marah. Freya segera memperbaiki riasan juga penampilannya dan berjalan keluar dengan menyunggingkan senyum manisnya.
"Sayang!!!" panggil Freya tersenyum berjalan ke arah Bryan.
Bryan menoleh kearahnya dan mendorong kasar Anelis yang memeluknya.
"Sa-sayang bisa aku jelaskan."
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Bryan memegang kedua lengan Freya.
Freya tersenyum kecil dan mengusap rahang tegas suaminya itu dengan lembut. "Memang apa yang aku pikirkan?"
Freya menatap Anelis yang menatapnya sinis itu, "Perkenalkan, saya Freya istri sah dari Abrisam Bryan Alvaro, menantu dari keluarga Abrisam."
Freya menarik tangannya kembali karena yang diajak kenalan sepertinya tidak menyukainya.
"Sayang..Aku pulang dulu ya." pamit Freya yang melingkarkan tangannya di leher Bryan.
Dia berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Bryan hingga membuat suaminya itu menelan saliva nya susah payah.
Cup.
Freya mengecup singkat bibir suaminya itu di hadapan Anelis juga dua lelaki yang masih duduk di meja meeting, Rendy juga Alex.
"Dasar murahan." cibir Anelis saat melihat Freya yang ingin keluar.
"Siapa yang murahan maksud anda Nona?"
"Saya begitu maksud anda?" Freya menunjuk dirinya sendiri.
"Apa anda nggak salah bicara Nona?"
"Bukannya wanita murahan itu wanita yang suka menggoda suami orang juga memeluk suami orang tanpa rasa malu sedikitpun, mengemis cinta pada lelaki beristri."
"Seperti apa yang Nona lakukan terhadap suami saya barusan." Freya tersenyum sinis pada Anelis yang diam tanpa mampu membalas perkataan Freya.
"Kalau begitu saya permisi Nona."
"Silahkan goda suami saya supaya saya bisa melhat seberapa besar rasa cinta dan sayang suami saya terhadap diri saya."
"Dan saya akan berterima kasih pada anda jika suami saya tidak tergoda sedikit pun dengan anda, begitupun sebaliknya." Freya melirik tajam pada Bryan dan berlalu pergi begitu saja.
🍁🍁🍁
have a nice day
thank's for like, vote, comment and gift
big hug from far away 🤗🤗🤗
__ADS_1