Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Apartemen


__ADS_3

Freya duduk sendiri di sebuah cafe dekat apartemennya dulu menikmati segelas coklat panas yang tinggal setengah dengan sepotong kue coklat yang sudah habis tak tersisa dan kini dia menikmati lagi sepotong kue coklat yang baru saja di pesannya lagi. Dia memakan kue itu perlahan dengan pandangan yang entah kemana seperti memikirkan sesuatu.


"Permainan takdir macam apa ini ya Allah."


Freya menunduk, menutup wajahnya dengan sebelah tangannya memikirkan omongan Bryan semalam yang membuatnya begitu syok tak percaya.


FLASHBACK ON


"Apa masih ada rahasia lagi yang Mas Bryan rahasiakan dari Freya?" tanya Freya menatap lekat Bryan yang sama-sama menatapnya lekat.


"Kamu mau tahu semuanya?" tanya Bryan balik.


Freya mengangguk ragu, "Aku mau." meski ada keraguan di hatinya.


"Aku mau Mas Bryan menceritakan sejujurnya pada Freya semuanya tidak ada satupun yang di sembunyikan dari Freya." kata Freya dengan menatap netra biru milik suaminya.


"Baiklah, tapi kamu harus janji sama aku tidak akan marah atau kecewa atau bahkan saling menyalahkan." pinta Bryan pada Freya.


Freya mengerit bingung, sebenarnya apa rahasia yang Bryan sembunyikan sampai dia harus berjanji untuk tidak marah, kecewa ataupun saling menyalahkan. Memangnya apa yang terjadi? Kenapa Freya harus berjanji segala. Gak mungkinkan kalau Bryan kembali lagi pada Anelis atau lebih parahnya Bryan akan pergi meninggalkan dirinya dengan Maura?


"Gimana? Mau berjanji tidak." tanya Bryan yang melihat Freya terlihat bingung itu.


"Tenang saja, aku tidak akan mengecewakan kamu dan tidak akan meninggalkan kamu." sambung Bryan saat melihat keraguan di mata Freya.


Freya akhirnya mengangguk, dia siap menerima kenyataan yang ada meski nanti ujungnya akan sakit yang dia rasakan. Lebih baik tahu sekarang daripada nanti yang ujungnya sama-sama sakit.


"Aku akan bahas soal vidio terlebih dulu." kata Bryan yang memulai penjelasan.


"Lelaki yang ada di vidio itu Andre sepupu aku dan perempuannya memang benar Anelis."


"Singkatnya dulu mereka berpacaran di belakang aku hingga mereka melakukan hubungan itu dan mengakibatkan Anelis hamil."


"Andre pergi ke Afrika untuk melepas tanggung jawab sedangkan Anelis memanfaatkan Leon, kakaknya Manda."


"Intinya anak itu bukan anak aku dan aku sudah tidak ada rasa apapun sama Anelis."


"Jadi kamu nggak usah cemburu sama Anelis." Bryan memegang tangan Freya dan diusapnya pelan. Freya hanya diam saja mendengar penjelasan dari Bryan.


"Dan untuk foto ini." Bryan mengambil foto yang tadi di pegang Freya untuk di lihatnya sebentar.


"Ini benar Mama kamu, Ibu yang telah mengandung dan melahirkan kamu."


"Dia cinta pertama Pak Armand, Bapak kamu."


"Mereka menikah siri tanpa sepengetahuan keluarga mereka hingga memiliki dua anak."


"Saat itu juga Bapak kamu juga sudah memiliki istri sah bernama Arini, Ibu yang sudah kamu anggap ibu kandung kamu sendiri."


"Sayangnya hubungan mereka di ketahui keluarga Bapak kamu dan dengan terpaksa Bapak kamu pergi membawa kamu yang saat itu masih bayi dan dalam kondisi sakit parah."


"Sayang!!! apa bekas putih memanjang yang ada di dada kamu itu bekas jahitan operasi saat kamu masih kecil?" tanya Bryan menatap Freya lekat.


Freya juga menatap netra biru milik Bryan dan mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca mengingat dulu dia sering dibilang pembawa sial oleh paman dan bibi nya karena menyusahkan mereka saat dirinya sakit.


Bryan membawa Freya kedalam pelukannya saat melihat istrinya yang terlihat sedih mengingat masa lalunya dulu.


"Aku nggak punya kakak,aku hanya punya adik yang sudah tiada." gumam Freya lirih, bibirnya bergetar menahan tangis.


"Kamu punya kakak sayang. Kakak kamu masih hidup dan sekarang dia ada disini bersama Mama ka_"


"Tidak!!" sentak Freya yang langsung melepaskan diri dari pelukan Bryan.


"Aku tidak punya yang namanya Kakak dan aku gak punya Mama. Aku hanya punya satu adik dan itupun sudah tiada juga bapak sama ibu juga sudah tiada."


"Aku hanya sendiri sekarang dan tidak punya kakak ataupun Mama." Freya marah,dia berdiri dan berjalan keluar kamar menuju kamar Maura. Dia ingin sendiri dulu.


"Sayang tunggu dulu." Bryan memegang tangan Freya saat istrinya itu akan membuka pintu kamar Maura.


"Mereka ini keluarga kamu." Bryan menunjukkan foto yang tadi ada pada Freya kepada Freya.


"Anelis kakak kandung kamu Freya, dan Bibi Marisa itu Mama kandung kamu. Ibu yang telah melahirkan kamu."


"Apa kamu tidak merasa kalau kamu dan Anelis itu hampir mirip. Hanya warna mata dan warna kulit kalian saja yang membedakan."


"Jangan pernah samakan aku dengan wanita masa lalu mu itu. Aku tidak sama dengan dia." Air mata Freya semakin deras jatuh membasahi pipinya saat Bryan menyamakan dirinya dengan Anelis.


Dia juga sudah sadar sejak menemukan foto itu beberapa hari yang lalu. Dia sadar kalau Anelis memang sekilas mirip dengan dirinya. Anelis begitu mirip dengan Bapaknya sedang dia mirip dengan wanita yang memeluk Anelis di foto itu. Mama Marisa.


"Sayang, mereka sudah tahu keberadaan kamu dan mereka ingin menemui kamu."


"Temui mereka biar tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan ya."


"Apalagi sekarang anaknya Anelis dalam kondisi kritis."


"Kemarin saat aku mengajaknya untuk test DNA dia pingsan dan sekarang masuk ICU."


"Sudah cukup, Mas!!"


"Freya gak mau dengar lagi soal mereka."


"Freya gak peduli sama mereka karena disini Freya hanya anak yatim piatu yang hidup sendiri tanpa kasih sayang orang tua."

__ADS_1


"Dan jangan bahas mereka yang kenapa baru menemui Freya sekarang setelah Freya menikah dengan seorang billionaire seperti kamu, Mas Bryan."


Freya menarik kasar tangannya yang di genggam Bryan dan masuk ke kamar Maura lalu dikuncinya pintu itu dari dalam. Tubuh Freya luruh ke lantai,dengan tangan masing memegang handle pintu dia menangis tersedu-sedu mengingat masa kecilnya dulu yang begitu menyedihkan. Di usianya yang masih kecil sekitar tiga sampai empat tahun, dia sering keluar masuk rumah sakit untuk kemoterapi paska operasi pencangkokan hati. Dia yang selalu dimarahi keluarga bapaknya ataupun Ibunya tiap kali berkunjung ke rumah kakek neneknya. Yang selalu di bilang anak pembawa sial lah, anak haram lah dan yang paling parah adalah anak pela cur.


"Permainan takdir macam apa ini ya Allah."


"Aku di per kosa mantan tunangan kakak aku sendiri dan hamil anaknya."


"Dan sekarang aku menikah dengan orang yang telah memper kosa aku."


"Yang berarti aku menikah dengan mantan tunangan kakak aku sendiri."


"Mas Bryan bilang aku begitu mirip dengan Anelis."


"Apa Mas Bryan melihat aku sebagai Anelis?"


"Kalau iya, berarti Mas Bryan masih mencintai wanita itu."


"Dan selama ini Mas Bryan hanya kasihan sama aku tidak mencintai aku."


"Dia tidak mencintai aku, tidak mencintai aku."


Freya menelungkupkan kepalanya diantara kedua lututnya.


FLASHBACK OFF


Mutia yang baru selesai mengambil pesanannya berjalan perlahan mendekati meja Freya yang berada di sisi pojok. Mutia memicingkan matanya melihat sajian di depan meja Freya yang begitu banyak makanan mania juga minuman manis.


"Sejak kapan Freya suka makan yang manis-manis seperti itu?" gumam Mutia.


Dia meletakkan dua paper bag yang berisi makanan perlahan di atas meja tanpa menimbulkan suara.


Daarrrrrr


"Astaqfirullahalazim." pekik Freya yang kaget saat bahunya ditepuk seseorang. Dia mengelus dadanya sambil menatap Mutia yang cengar cengir gak jelas berdiri di sampingnya.


"Kenapa diam saja?"


" Nggak mau peluk aku gitu setelah hampir dua minggu lebih nggak ketemu seorang gadis periang, pemberani dan pembela kebenaran ini." kata Mutia dengan sombongnya.


Freya tersenyum tipis dan berdiri dari duduknya langsung memeluk Mutia erat. Mutia datang di saat yang tepat, karena hanya Mutia lah tempat Freya bersandar yang paling nyaman sebelum Bryan datang.


"Frey gak usah erat-erat juga,engap ini." keluh Mutia saat Freya memeluknya erat.


Freya terkekeh pelan dan melepas pelukannya. "Katanya tadi minta di peluk."


"Ya gak usah kencang-kencang juga kali Bunda Freya." Mutia duduk di kursi kosong satunya.


"Kemarin sore baru sampai terus beres-beres apartemen malamnya langsung tepar karena capek banget." jawab Mutia.


"Sejak kapan kamu suka makan yang manis Frey?" tanya Mutia menatap makanan di meja.


"Nggak tahu. Lagi ingin makan manis saja." jawab Freya dan memasukkan potongan kue coklat ke mulutnya.


"Maura nggak ikut kamu kesini?" Freya menggeleng pelan.


"Dia ikut Ayahnya ke kantor, nggak mau sekolah. Malas katanya belajar terus." jawab Freya mengingat tadi pagi Maura yang merengek ingin ikut Ayah Bryan ke kantor.


"Sudah yuk kita lanjut obrolan di apartemen." ajak Mutia yang langsung diiyakan Freya.


"Bagaimana kabar paman kamu Mut?" tanya Freya setelah sampai di apartemen.


"Alhamdulillah sudah lebih baik dan juga sudah pulang dari rumah sakit. Makanya aku sudah kembali lagi kesini." jawab Mutia yang sambil menata makanan yang di belinya tadi.


"Kamu kenapa sih Freya? Ada masalah?" tanya Mutia yang ikut duduk Freya di ruang keluarga.


Freya menatap Mutia dan tersenyum manis. "Nggak ada kok. Kenapa memangnya?" tanya Freya balik.


"Aku lihat kamu tadi di cafe seperti sedang memikirkan sesuatu." jawab Mutia.


"Ohh...Itu. Iya nih aku lagi mikirin buat acara besok. Mana acaranya di siarkan secara live di TV pula." keluh Freya dengan mimik muka cemberut seperti belum siap untuk di ajak tampil di depan TV.


Dia membohongi Mutia dengan kondisi apa yang dialaminya sekarang supaya sahabatnya satu ini tidak banyak memberinya ceramah. Karena saat ini hanya ingin ketenangan yang dia inginkan.


"Memang acara apa?" tanya Mutia yang memang belum diberitahu Freya.


"Fashion show Mom and kids."


"Mama mendaftarkan aku kemarin bersama Maura juga."


"Mau menolak takut durhaka sama mertua yang sudah menyelenggarakan acaranya." jelas Freya.


"Whahahahah..." Mutia tertawa terbahak-bahak, dia berdiri dari duduknya.


"Kamu!!!"


"Berjalan di catwalk dengan heels setinggi 12-15 cm."


"Memang bisa???" tanya Mutia setengah mengejek Freya karena dia tahu Freya itu feminim tapi tidak menyukai hak tinggi. Punya pun tingginya hanya 5 cm dan jarang dipakainya kalau tidak saat bekerja atau acara formal.


"Paling-paling nanti kamu jatuh tersungkur dan membuat heboh dunia."

__ADS_1


"Istri Tuan Abrisam Bryan Alvaro jatuh dari atas catwalk karena tidak terbiasa berjalan menggunakan sepatu heels." ejek Mutia yang berjalan menuju dapur mengambil soft drink.


Freya mendengkus kesal melihat Mutia yang mengejeknya. Tapi tak apa, seenggaknya Mutia tidak melihat kesedihannya tentang cerita Bryan semalam.


Freya melirik handphone Mutia yang menyala, dia juga melirik Mutia yang sepertinya lama di dapur. Diambilnya handphone itu, Freya tersenyum membaca pesan yang baru saja dia buka.


"Anda sudah kembali dari semalam kenapa tidak memberi tahu saya?"


"Kenapa juga selama anda disana tidak mengangkat telephon ataupun membalas chat yang saya kirim."


"Saya dibawah, cepat turun!"


"Saya tahu anda ada di dalam apartemen."


"Cepat turun Mutia atau saya masuk ke sana tanpa izin dari anda."


"Kanebo kering!!" gumam Freya saat membaca nama yang mespam banyak chat ke Mutia.


"Kanebo kering??? Apakah Rendy?" tanya Freya dalam hati.


Diletakkannya kembali handphone Mutia dan dia berjalan mendekati jendela melihat ke bawah. Dan benar saja Rendy ada disana mengamati apartemennya saat ini.


"Ngintip apa kamu disitu?" tanya Mutia yang sudah berdiri di belakang Freya.


"Kau!!!"


"Hobi banget ngagetin orang."


"Bikin kaget orang saja." kesal Freya sambil mengusap dadanya yang kaget.


"Lihat apa sih?" Mutia yang penasaran juga ingin melihat namun segera Freya tarik dan didudukkan nya kembali ke sofa.


"Kamu punya hubungan apa sama Rendy?" tanya Freya menatap tajam mata Mutia.


"Aku sama Rendy." Freya mengangguk.


"Nggak ada hubungan apa-apa." kata Mutia.


"Bohong."


"Sudah berapa kali bibirmu ternodai oleh bibir Rendy?" tanya Freya.


Mutia menelan salivanya kasar, "Darimana Freya tahu." Batinnya.


"Ng-ngak... Aishhhh apaan sih sudah sana pulang."


"Aku mau tidur siang."


"Pulang sana urus anak dan suami kamu gak usah urusin aku." usir Mutia tiba-tiba. Dia tidak mau membahas Rendy untuk saat ini.


"Lha kok malah aku diusir dari apartemenku sendiri sih." keluh Freya.


"Untuk saat ini apartemen ini punya ku, Tuan Muda memberikan apartemen ini untuk ku. Bukan anda Nona Muda."


"Jadi saya berhak mengusir anda dari sini."


"Aishhhh..Ya sudah aku pulang."


"Bilang saja mau berduaan sama Rendy makanya aku diusir." sindir Freya yang bersiap untuk pulang.


"Sok tahu kamu. Aku mau istirahat capek."


"Tahulah, Freya gitu loh."


"Jangan sok berkilah kamu."


"Aku juga tahu Rendy ada di bawah sedang menunggumu dan sedari tadi mengirim kamu chat."


Mutia yang mendengar perkataan Freya sontak mengecek handphonenya juga melihat ke luar jendela.


"Sialan kamu Freya.!!!" umpat Mutia pada Freya. Namun yang diumpati sudah hilang dibalik pintu.


Mutia kembali melihat ke bawah dan dia melihat Freya berjalan ke arah Rendy. Dia bergegas menghubungi Freya supaya tidak mendekati ataupun berbicara pada Rendy.


"Freya sialan!!! Angkat woy!!" Mutia teriak-teriak sendiri di dalam apartemen saat melihat Freya berbicara dengan Rendy.


"Awas kau kalau berbicara macam-macam Freya." gerutu Mutia yang melihat Freya tersenyum ke arahnya sebelum pergi.


Mutia mengambil soft drink nya tadi dan diminumnya hingga tandas.


Tit tit tit tit


"Oh tidak!!" Mutia berdiri dari duduknya menatap kearah kunci pintu yang berbunyi. Dia yakin bukan Freya, pasti itu manusia robot macam kanebo kering yang masuk.


🍁🍁🍁


Have a nice day


thanks for like, vote, comment and gift


big hug from far away 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2