
Maura segera keluar dari kamar setelah selesai mandi sore, lebih tepatnya mandi malam karena sekarang sudah lebih dari jam tujuh malam dan dia sudah sangat lapar. Dia tadi tidak mau turun dari kamar Bundanya. Tidak mau ketemu Ayah, katanya. Mau menemani Bunda saja.
FLASHBACK ON
"Maura, ayo turun!"
"Nanti ketahuan Ayahnya Maura loh."
"Ayah sudah ada di rumah dan cari-cari Maura tadi." kata Caca yang tadi setelah kembali ke rumah langsung menuju ke lantai tiga sesuai arahan Mama Lea. Mama Lea takut nantinya Caca ketahuan Bryan pulang tidak membawa Maura bersamanya.
"Nggak mau." tolak Maura cepat dan naik ke ranjang dimana Bundanya berbaring.
"Maura mau sama Bunda."
"Kasihan dari tadi Bunda muntah-muntah terus." kata Maura dan membaringkan tubuhnya di samping Bundanya. Memiringkan tubuhnya menghadap sang Bunda dan memeluk Bundanya.
Freya tersenyum dengan wajah dan bibir yang tampak pucat, matanya terlihat begitu sayu. Dia mengusap rambut kepala Maura pelan.
"Bunda tidak apa-apa sayang."
"Ini hanya sebentar kok."
"Nanti Bunda juga sudah tidak muntah lagi." Freya mengambil tangan kanan Maura dan diletakkannya di perutnya.
"Coba kakak Maura bicara sama adik supaya tidak membuat Bunda muntah lagi."
"Siapa tahu nanti adiknya mendengar apa yang Kakak Maura katakan." Freya tersenyum menatap Maura yang juga menatapnya. Freya mengangguk supaya Maura mau melakukan apa yang dimintanya.
Maura bergeser dan mendekatkan kepalanya juga telinganya pada perut Bunda Freya. Dia mendengarkan suara yang ada di perut Bundanya. Maura cekikikan saat mendengar suara yang dia dengar dari perut Bundanya.
"Suaranya lucu, Bun. Seperti air." celetuk Maura dengan tertawa.
"Apa adik main air di dalam sana, Bun?"
"Adik berenang ya di dalam sana?" tanya Maura dengan polosnya.
Freya dan juga Caca ikut tertawa juga mendengar celetukan yang keluar dari bibir mungil Maura. Ya memang seperti itu bunyinya di dalam perut.
"Iyaa..Adik berenang di dalam sana." jawab Freya dengan mengelus kepala Maura.
Maura hanya ber 'oh' ria. "Kalau adiknya sudah keluar nanti akan Maura ajak balap renang ya Bun?" Freya mengangguk mengiyakan.
"Apa lagi yang kamu dengar, Ra?" tanya Caca yang masih tertawa.
"Sebentar Aunty." Maura kembali memfokuskan pendengarannya untuk mendengar suara apa lagi yang bisa dia dengar dari perut Bundanya.
Maura melirik Aunty nya dengan tersenyum lebar. "Bunyinya 'kruukkkk' seperti Maura kalau lagi lapar, aunty." kata Maura dengan wajah berseri seperti mendapat sesuatu yang dicarinya selama ini.
Freya tersenyum menatap Maura yang masih bercanda tawa dengan aunty nya, Caca. Maura dari dulu selalu mengalihkan perhatiannya dari rasa sedih maupun gundah seperti yang dia rasakan saat ini. Dia begitu merindukan dekapan Bryan. Dia ingin dimanja Bryan saat hamil seperti ini. Apalagi dari tadi dia mual dan muntah terus-terusan hingga membuatnya begitu lemas. Dia ingin Bryan saat ini berada disisinya, tapi dia juga masih kecewa dengan apa yang Bryan lakukan pada dirinya.
"Perutnya aunty Caca juga berbunyi 'kruukkk kruukkk' Bunda." ucap Maura yang juga mendengarkan bunyi yang ada di perut Caca.
Freya hanya tersenyum menatap putrinya itu. Freya pasti akan tersenyum bahkan tertawa melihat tingkah Maura yang menurutnya begitu menggemaskan. Meski di usianya yang masih kecil dan dia memiliki IQ di atas rata-rata, tapi sifat kekanakan yang Maura miliki masih ada di dalam dirinya.
"Maura, sudah main-mainnya."
"Maura lebih baik cepat turun dan mandi."
"Nanti Ayah tahu loh kalau Bunda ada disini." kata Freya yang sudah beringsut bangun dan bersandar di kepala ranjang.
"Tapi Maura mau sama Bunda." rengek Maura dan merangkak mendekati Bundanya dan duduk dipangkuan Bunda Freya dengan memeluknya erat.
"Maura mau menemani Bunda disini." Maura menenggelamkan wajahnya di dada Bundanya.
Freya mengusap punggung Maura saat merasakan bajunya basah karena air mata Maura. Dia menatap Caca meminta persetujuan.
"Bagaimana?" tanya Freya tanpa suara.
Caca melihat jam yang melingkar ditangannya menunjukkan pukul 5 sore. Caca mengangguk dan mengedipkan sebelah matanya tanda tidak apa-apa kalau Maura masih ingin bersama Bundanya.
"Maura boleh menemani Bunda, tapi nanti kalau sudah jam 6 Maura harus turun bersama aunty Caca yaaa."
"Kalau Maura tetap tidak mau menurut sama Bunda."
"Bunda tidak mau melihat Maura lagi. Bunda akan marah sama Maura."
Maura mengangguk di pelukan Bundanya, meski hatinya terasa berat kalau harus meninggalkan Bundanya sendirian di lantai tiga tanpa ada yang menemani.
Haruskah dia menemui Ayahnya dan bilang kalau Bunda ada di lantai tiga dan saat ini sedang sakit? Maura bingung, tapi dia kasihan sama Bunda dan juga Ayahnya. Karena Maura sering melihat Ayahnya menangis diam-diam sambil menatap foto Bundanya. Bundanya pun juga seperti itu.
"Maura anak pintar." Freya mengecup puncak kepala Maura dengan lembut.
__ADS_1
FLASHBACK OFF
"Itu punya siapa Opa?" tanya Maura menunjuk tumpukan dus kinder joy bersusun 5 di atas meja makan.
Papa Abri melihat ke arah yang ditunjuk Maura, Papa Abri menggeleng. "Opa tidak tahu." jawab Papa Abri yang memang tidak mengetahui siapa yang membeli kinder joy sebanyak itu.
"Itu Ayah yang belikan untuk Maura." kata Bryan yang ikut gabung dengan anak dan Papanya di ruang keluarga.
"Maura, boleh membuka dan memakannya, tapi ingat tidak boleh banyak-banyak." imbuh Bryan yang mencoba dekat lagi dengan putrinya.
Maura diam saja, matanya fokus menatap TV yang acaranya sama sekali tidak Maura mengerti. Dunia binatang. Papa Abri memang suka binatang, sama seperti Bryan hingga mereka berkolaborasi untuk membuat mini zoo sendiri di tanah kosong yang ada tidak jauh dari rumah utama. Karena mini zoo itu letaknya masih satu lokasi dengan rumah yang Papa Abri miliki.
"Mau Ayah ambilkan?" tawar Bryan yang masih mencoba mendekati Maura lagi. Dia yakin Maura pasti luluh karena putrinya itu paling suka sama kinder joy.
Maura melirik meja makan, kinder joy yang ada di dalam kardus sudah melambaikan tangan memanggil Maura untuk segera memakannya. Maura meneguk salivanya susah payah. Maura mengangguk ragu, dia malu, dia tidak mau menatap Ayahnya. Ayahnya sekarang memiliki jambang yang sudah mirip seperti brewok.
Bryan tersenyum dan mengusap kepala Maura dengan pelan. Dia segera berdiri dan mengambil kinder joy yang ada di atas meja makan. Bryan tidak tahu kalau Maura mengikutinya dari belakang.
"Ehh..." Bryan menoleh ke belakang saat tiba-tiba ada tangan mungil yang memeluknya. Bryan mengambil tangan Maura dan berputar menghadap putrinya itu. Dia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan tinggi Maura.
"Cantiknya Ayah kenapa? Kok nangis. hmm" tangan Bryan terulur untuk menghapus air mata di pipi Maura.
Maura menatap Ayahnya beberapa detik dan mengalungkan tangannya di leher Ayahnya. Dia menangis di bahu Ayahnya.
Papa Abri mendekat,begitupun Mama Lea yang ada di dapur juga mendekat saat mendengar suara Maura yang menangis.
"Maura kenapa?" Bryan mengusap punggung dan kepala Maura untuk menenangkan putrinya itu. Bryan membawa Maura ke gendongannya dan duduk di kursi meja makan.
"Ayah minta maaf yaa."
"Maafkan Ayah."
"Maaf, Ayah telah membuat Bunda pergi dari rumah." Maura menggelengkan kepalanya. Itu tidak benar, Bunda ada dirumah. Bunda ada di lantai tiga. Ingin rasanya Maura mengatakan itu pada Ayahnya. Apalagi mengingat Bundanya yang tadi muntah terus menerus.
"Ayah janji sama Maura, Ayah akan menemukan Bunda secepatnya dan kita bisa kumpul bersama lagi."
"Maura mau kan memaafkan Ayah?" Bryan mencium puncak kepala Maura lama. Sudah seminggu dia tidak bisa menyapa dan berinteraksi dengan Maura karena Maura selalu menghindar darinya.
"Maura maafkan Ayah. Tapi Ayah harus janji sama Maura." kata Maura yang sudah mengurai tangannya dari leher sang Ayah. Dia menatap Ayahnya.
"Memang apa yang Maura inginkan sampai Ayah harus berjanji sama Maura?" tanya Bryan sambil mengusap air mata di pipi Maura dengan satu tangan sedangkan tangan satunya dia gunakan untuk memegang pinggang Maura.
Maura menatap Ayahnya dan juga lima kardus kinder joy bergantian. Dia menunduk.
Bryan tersenyum, bahkan Papa Abri dan juga Mama Lea ikut tersenyum melihat kepolosan cucu mereka.
"Kalau Ayah melarangnya bagaimana?" goda Bryan dengan menahan senyum melihat wajah Maura yang tertekuk.
"Kalau seperti itu Maura tidak jadi memaafkan Ayah."
"Ayah sudah tidak tampan lagi. Ayah sudah brewokan. Maura nggak suka." Maura mencebikkan bibirnya mengejek sang Ayah.
Bryan menghembuskan nafas perlahan. Dia mendudukkan Maura di kursi sebelahnya. "Kalau begitu kinder joy nya Ayah buang saja. Maura tidak suka sama Ayah lagi." Bryan pura-pura merajuk.
"Jangan Ayah!!" jerit Maura. Itu makanan kesukaan Maura dan kenapa juga harus dibuang. Maura siap kok menampung itu semua. Bahkan kalau satu truk pun Maura kelihatannya mampu untuk menghabiskan semuanya.
"Ayah tampan kok. Maura tadi hanya salah ngomong saja."
"Benar Ayah!! Ayah itu lelaki yang paling tampan yang pernah Maura lihat." rayu Maura berharap Ayahnya tidak jadi membuang kinder joy. Mubasir. Mending di buang ke perutnya Maura tidak akan mubasir.
"Seberapa tampannya Ayah?" tanya Bryan yang kembali duduk dan menghadap Maura. Dia ingin mendengar penilaian dari putrinya.
Maura memicingkan matanya menatap Ayahnya dari atas sampai bawah dan kembali ke atas lagi. Maura menghitung menggunakan jarinya kemudian menatap Ayahnya kembali.
"Sebesar ini dan lebih besar lagi." Maura melebarkan tangannya membuat lingkaran dari kedua tangan mungilnya.
"Berarti Ayah paling tampan?" Maura mengangguk mengiyakan. Karena Ayahnya memang tampan sejak dulu.
"Baiklah, tapi Maura juga harus makan malam dulu tidak boleh hanya makan kinder joy." kata Bryan memberi peringatan.
"Oke Ayah.."
"Tapi bolehkan makan kinder joy satu aja dulu." pinta Maura dengan tampang memelas.
Bryan mendengkus sebelum akhirnya mengambilkan satu sesuai yang diminta Maura.
..............
Caca kembali naik ke lantai tiga untuk mengambil handphonenya yang ketinggalan di kamar Freya. Dia segera masuk ke kamar Freya karena tidak dikunci dan tidak ada sahutan dari dalam kamar.
"Kak Freya!!" panggil Caca yang tidak melihat Freya di dalam kamar.
__ADS_1
"Kak Freya." panggil Caca dengan bernada ceria.
Dia berjalan mendekati kamar mandi dan mendengar ada orang apa tidak di dalam kamar mandi. Caca mendengar suara orang muntah dan suara air dari dalam kamar mandi.
"Ternyata ada di kamar mandi."
"Apa kak Freya masih muntah terus sedari tadi?" gumam Caca yang merasa kasihan dengan kakak iparnya itu.
"Haruskah aku kasih tahu kak Bryan tentang kondisi Kak Freya?"
"Aku yakin istri yang sedang hamil pasti menginginkan suaminya ada di sampingnya."
"Tapi nanti sajalah.."
"Besok-besok baru aku kasih tahu kalau kak Freya masih saja muntah sepanjang hari seperti saat ini." Caca akhirnya mencari tadi dimana dia meletakkan handphonenya.
Caca duduk di ranjang setelah menemukan handphonenya. Dia berselancar di sosmed nya untuk mencari berita yang bisa dia gunakan untuk bahan ghibah bersama teman di grup chat kampus.
Caca memicingkan matanya melihat vidio yang setengah jam lalu baru saja di unggah sama Kakaknya dengan caption //Maafkan aku, Freya Almeera Shanum. Aku mencintai mu. from suamimu (Abrisam Bryan Alvaro)//
"Ohh...kak Bryan akhirnya mengungkapkannya juga." jerit Caca tertahan dengan tangan kirinya dia gunakan untuk menutup mulutnya.
"Jadi penasaran apa isinya."
Caca yang belum sempat memutar vidio, dia terlebih dahulu mendengar benda jatuh dari dalam kamar mandi.
"Kenapa suaranya tidak seperti botol jatuh?"batin Caca.
Dia penasaran dan perlahan membuka pintu kamar mandi untuk melihat keadaan di dalam. Perasaannya tiba-tiba khawatir kalau terjadi sesuatu pada kakak iparnya di dalam sana.
"Astagfirullah, kak Freya!!!" pekik Caca saat melihat Freya tergeletak di dekat closet.
Caca mendekat dan mendapati Freya yang seperti habis muntah darah dan pingsan.
"Kak Freya!!"
"Kak!!! Bangun Kak!!" Caca mengguncang bahu Freya sedikit kencang karena mata Freya tak kunjung terbuka.
Caca keluar dari kamar mandi dan segera menelephone Mama Lea namun tak kunjung diangkatnya padahal nomornya aktif, begitupun Papa Abri juga tidak mengangkat telephone darinya.
"Kak Bryan. Aku telephone saja nomornya Kak Bryan."
"Masa bodoh aku nanti bakal dimarahi sama Papa." Caca akhirnya menelephone Bryan.
"Ngapain Caca telephone? Bukannya dia ada dirumah?" gumam Bryan, namun tak urung juga dia mengangkat panggilan dari Caca.
"Alhamdulillah akhirnya kakak angkat juga." Caca bernafas lega saat kakaknya mengangkat panggilan darinya.
"Ada ap_"
"Kak, cepat naik ke lantai tiga sekarang!!. Kak Freya pingsan setelah muntah darah."
"Sekarang kak, sebelum terjadi apa-apa sama kak Freya." Caca langsung mematikan sambungan telephone.
Bryan masih mencerna apa yang Caca barusan katakan pada dirinya.
"Freya pingsan dan sekarang ada di lantai tiga." gumam Bryan yang masih dapat di dengar oleh Mama Lea juga Papa Abri.
"Freya pingsan?" Mama Lea memastikan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Bryan.
Bryan mengangguk menatap Mama Lea yang terlihat begitu panik dan khawatir.
"Ya ampun!!! dari tadi Freya muntah-muntah terus."
"Ayo Pa cepat lihat Freya." Mama Lea berdiri dari duduknya diikuti Papa Abri.
Maura menangis mendengar Bundanya pingsan. Dia langsung digendong Opanya dan dibawa untuk melihat Freya.
Bryan segera berdiri setelah sadar kalau benar Freya ada di lantai tiga setelah melihat kepanikan Mama dan Papanya. Dia melangkahkan kakinya lebar, Bryan berlari menaiki anak tangga yang langsung dia jangkau dua sekaligus.
"Ya ampun Bryan!! Naik lift kan bisa, kenapa juga harus naik tangga." Mama Lea terlihat begitu heran dengan kepanikan Bryan.
"Nggak apa, Ma. Sudah ayo cepat."
Sebegitu paniknya Bryan terhadap istrinya hingga dia melupakan kalau ada yang mudah namun lebih memilih yang sulit.
🍁🍁🍁
have a nice day
thanks for like, vote, comment and gift
__ADS_1
big hug from far away 🤗🤗🤗
dewi widya