
Terjadi kesibukan di sebuah ruangan yang disulap menjadi tempat yang begitu romantis. Dengan bertabur bunga di setiap sudut dan sisinya juga terdapat banyak lilin yang menyala di atas taburan kelopak bunga mawar merah. Bahkan di setiap sudut ruangan juga terdapat balon berwarna emas juga merah berbentuk love. Dan di tengah-tengah ruangan juga sudah tertata sebuah meja dengan dua kursi yang dibungkus dengan indah sama kain berwarna putih dan mustard. Diatas meja juga sudah terdapat vas perak logam berisikan bunga anggrek bulan berwarna putih dan beberapa lilin kecil mengitari vas bunga.
Bryan terlihat nampak berpikir sambil memandangi sekeliling ruangan yang telah disulapnya menjadi dinner romantis ala-ala drama percintaan yang sering istrinya tonton. Dia mengingat, kemarin istrinya itu pernah bilang pada dirinya ingin dinner romantis bersama dengan dirinya dan sekarang ini baru bisa dia wujudkan keinginan istrinya itu di tempat pertama kali mereka bertemu.
"Kurang apa lagi ya???" gumam Bryan yang merasa belum puas dengan hasil karyanya yang di bantu beberapa anak buahnya.
"Terlalu ramai tidak ya? Apa terlalu norak?" rasa percaya diri yang dimiliki Bryan tiba-tiba menghilang. Karena ini pertama kalinya dirinya menyiapkan sesuatu yang romantis. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Biasanya dia melakukan sesuatu yang sewajarnya saja kalau terhadap pasangan atau orang yang disayang nya, tidak pernah menyiapkan dinner romantis seperti ini.
Bryan menghembuskan nafas perlahan dan pasrah saja kalau nanti Freya akan menertawakan dirinya, yang penting dirinya sudah memenuhi keinginan Freya yang ingin dinner romantis bersama dirinya.
"Permisi Tuan. Cake nya sudah keluar dari oven."
"Anda yang menghiasnya atau saya, Tuan." tanya seorang chef yang tadi Bryan sewa untuk membantunya menyiapkan menu buat dinner malam ini.
"Biar saya sendiri." jawab Bryan.
"Kalian!!! Lanjutkan kerjaan kalian, jangan ada kesalahan." titah Bryan pada anak buahnya yang masih menghias salah satu sudut ruangan yang belum selesai dikerjakan.
Bryan berlalu menuju dapur untuk menghias cake yang tadi dia buat dengan tangannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Walau sebenarnya tadi dia banyak tanya pada chef yang di sewanya.
Bryan mengerutkan keningnya menatap cake yang masih hangat itu yang baru keluar dari oven. Dirinya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. "Apa pantas aku mempersembahkan cake ini buat Freya?" gumam Bryan yang merasa gagal menyiapkan makanan kesukaan istrinya selama hamil ini.
"Ini semua salah kamu."
"Kalau tidak tahu takarannya kenapa tadi bantu saya." bentak Bryan pada chef yang membantunya menyebutkan takaran-takaran yang dipakai buat membuat red valvet cake.
Chef itu hanya bisa diam menunduk saat di bentak Bryan. Percuma saja kalau dia melawan untuk membela dirinya. Yang ada nanti dirinya tidak bisa bekerja lagi. Padahal tadi dirinya sudah memberikan takaran yang sesuai dan pas, tidak kurang dan lebih.
"Itu sih tadi salah Tuan sendiri kenapa tadi nambah takaran secara asal, tidak sesuai yang aku berikan. Bantat kan jadinya, seperti anda Tuan Muda. Keras." gumam chef laki-laki itu dalam hatinya. Dirinya mengingat tadi Bryan menambah asal tepung juga baking sodanya, padahal sudah dia ingatkan namun Bryan tidak mengindahkannya.
"Tuan!! Mobil yang membawa Nona Freya sudah sampai di depan lobby."
Bryan mengangguk samar pada salah satu anak buahnya yang baru saja memberinya laporan kalau Freya sudah tiba.
"Cepat bikin lagi. 15 menit harus sudah jadi dan di hias." titah Bryan tanpa ampun dan berlalu begitu saja menuju kamar untuk bersiap. Tidak mungkin dirinya memakai baju yang dipakainya tadi untuk membuat kue juga menyiapkan semuanya. Bisa turun pamornya di depan sang istri nantinya.
*****
Freya tak kunjung turun dari dalam mobil padahal mobil sudah sampai ditujuan sepuluh menit yang lalu dan pintu mobil juga sudah dibukakan oleh sang supir.
Freya masih menatap gedung yang ada dihadapannya saat ini dari dalam mobil. Dia tidak pernah menyangka akan kembali lagi ke gedung itu. Dan kenapa suaminya itu menyiapkan dinner di tempat yang dulu membuat hidupnya hancur.
"Nona!! Apa Nona tidak akan turun?"
"Tuan Bryan sudah menunggu anda di dalam." kata anak buah Bryan yang memang diminta Bryan untuk menjemput kedatangan Freya.
Freya menatap orang itu sekilas dan kembali menatap gedung pencakar langit yang enam tahun lalu membuat hidupnya hancur. Dulu dia bersumpah untuk tidak menginjakkan kakinya di tempat itu, namun kini suaminya justru menyiapkan dinner romantis di gedung terkutuk itu.
Wajahnya pucat, keringat dingin sudah mulai keluar dari pori-pori tubuhnya. Sungguh dia tidak percaya kalau saat ini dirinya berada di dapan gedung itu. Dengan terpaksa Freya turun dari mobil mengingat suaminya tadi yang begitu semangat sebelum berangkat untuk menyiapkan dinner buat mereka.
"Nona tidak apa-apa?" tanya anak buah Bryan yang melihat istri bosnya terlihat begitu pucat.
Freya hanya menggelengkan kepalanya pelan dan melangkahkan kakinya dengan perlahan. Dirinya masih ragu untuk kembali masuk kedalam gedung itu.
Keringat di wajah Freya semakin banyak saat ini saat dirinya sudah sampai di depan pintu kamar bernomor sama persis seperti waktu Shelin memintanya datang ke tempat itu. Kepalanya semakin pusing saat pintu kamar itu terbuka dengan lebar dari dalam. Semua kejadian enam tahun silam berputar di otaknya. Dimana dirinya yang harus melawan seorang moster yang berusaha merenggut kesuciannya. Namun usahanya sia-sia karena moster itu berhasil mengambil kesuciaannya tepat lonceng berbunyi tepat jam 12 malam. Tepat saat suara terompet juga kembang api saling bersautan menyambut datangnya tahun baru.
"Tidak!! Lepas!!" teriak Freya yang terbangun dari pingsannya.
"Freya! Sayang, kamu tidak apa?" Bryan terlihat begitu cemas dan khawatir pada Freya yang tadi langsung jatuh pingsan tepat saat dirinya membuka pintu untuk menyambut istrinya.
Dengan tatapan penuh ketakutan Freya menatap Bryan dan sekeliling kamar yang begitu familiar di ingatannya.
"Aku mau pulang. Aku harus pergi dari sini." gumam Freya dengan suara bergetar ketakutan.
"Aku mau pulang!!!" teriak Freya saat Bryan menahan tubuhnya.
"Sayang kamu kenapa?"
"Jangan teriak-teriak, kasihan dedek bayinya." Bryan berusaha menahan Freya supaya tidak berteriak dan memberontak. Dirinya tahu kalau saat ini pasti istrinya itu tengah mengingat kejadian enam tahun silam dimana dirinya merenggut kesucian Freya dengan kasar.
"Apa trauma Freya belum sembuh juga sampai saat ini?" batin Bryan bertanya-tanya, karena Freya tidak pernah jujur pada dirinya kalau istrinya itu masih memiliki trauma dengan kenangan enam tahun silam.
Freya terdiam saat mendengar kata dedek bayi keluar dari mulut Bryan. "Bayi." ucap Freya lirih menatap Bryan.
"Iya..Bayi. Bryan Junior." balas Bryan dengan tersenyum tipis sambil membenarkan rambut Freya yang berantakan.
__ADS_1
Freya menunduk dan menatap perutnya yang membuncit itu. Diusapnya perutnya itu dengan tersenyum kecil. "Aku hamil." cicit Freya lirih.
"Breng sek!! Moster!! Laki-laki terkutuk!" Freya tiba-tiba histeris dan berusaha turun dari atas ranjang.
"Sayang kamu mau kemana?"
"Ini aku suami kamu, Bryan." Bryan tidak menyangka kalau Freya akan bertingkah seperti ini saat diajaknya ke apartemen yang dulu Freya datangi dan diambil kesuciannya oleh dirinya.
"Lepas!!" dengan sekuat tenaga Freya mendorong Bryan dan pergi keluar dari kamar yang dulu jadi tempat kesuciannya terenggut secara paksa.
"Freya!!" Bryan mengejar Freya yang berlari keluar. Dia begitu khawatir kalau sampai istrinya itu berbuat di luar kendali dan mengakibatkan Freya dan kandungannya celaka.
Bryan menghentikan langkahnya saat melihat Freya yang berdiri di tengah-tengah ruangan. Dia melangkah perlahan mendekati istrinya itu.
"Sayang!!" panggil Bryan dengan suara pelan dan lembut supaya tidak mengagetkan istrinya yang tengah melamun itu.
Freya menoleh ke belakang menatap Bryan dan kembali menatap sekeliling ruangan. Freya memejamkan matanya dengan memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Tempat ini?? Kenapa harus disini?" batin Freya. Kepalanya semakin pening, entah kenapa dirinya belum bisa lepas dari bayangan kelam masa lalunya di tempat ini. Kejadian itu sungguh membuat dirinya merasakan trauma yang begitu menakutkan sampai sekarang. Meski trauma yang dia miliki sudah sedikit berkurang semenjak bersama Bryan, tapi jika teringat ataupun berada di tempat seperti sekarang ini entah kenapa traumanya kembali muncul.a
"Sayang!!" Bryan memegangi kedua lengan Freya, takut kalau Freya terjatuh.
"Kenapa Mas Bryan meminta Freya datang kesini?" Freya membuka matanya dan menatap Bryan dengan tatapan sedih dan kecewa. Tatapan ketakutan yang terpancar tadi sudah sedikit menghilang.
"Maaf!! Aku tidak tahu kalau kamu masih memiliki trauma di tempat ini." sesal Bryan yang memang tidak tahu akan terjadi hal seperti ini saat meminta Freya datang ke gedung apartemen yang dulu jadi one night stand mereka.
"Maaf telah membuat kamu mengingat kenangan buruk itu."
"Lebih baik kita pulang saja."
"Aku takut kamu akan semakin melupakan kejahatan yang aku lakukan padamu waktu itu." imbuh Bryan yang tidak mau Freya semakin mengingat kenangan buruk dan berakhir menyakiti bayi yang tengah dikandungnya saat ini.
"Kalau Mas Bryan takut Freya tidak bisa melupakan kenangan itu."
"Kenapa Mas Bryan menyiapkan dinner buat Freya disini?"
"Kenapa tidak ditempat lain saja?"
"Kenapa harus disini?"
Bryan melepaskan tangannya yang sedari tadi memegangi kedua lengan Freya. Dia melihat ruangan yang tadi disulapnya menjadi penuh bunga, lilin dan balon.
"Karena ini tempat pertama kalinya aku bertemu dengan kamu."
"Dan di tempat ini pula aku telah merusak mu."
Freya hanya diam mendengarkan Bryan berbicara. Dia tidak menyela sedikitpun. Dia hanya syok saja tadi saat tahu suaminya menyiapkan kejutan dinner romantis di tempat pertama kali mereka bertemu. Tempat dimana kesuciannya direnggut oleh Bryan yang kini sudah menjadi suaminya.
"Kenapa aku menyiapkan dinner ini disini." Bryan berbalik dan menatap Freya.
"Karena aku ingin memulai semua dari awal dengan kamu."
"Aku akan menjadi suami dan ayah yang siaga buat kamu juga anak-anak kita."
"Aku akan menjadi suami yang akan selalu memenuhi keinginan kamu."
"Semuanya tanpa terkecuali."
"Aku ingin menjadi yang terbaik untuk kamu dan keluarga kecil kita."
"Maafkan aku yang dulu dan maafkan aku yang tidak pernah memenuhi keinginan ngidam kamu di awal kehamilan."
"Sekarang, aku akan memenuhi semua keinginan kamu."
"Apapun itu akan aku penuhi meski sesuatu yang tidak masuk akal."
Freya tersenyum dengan deraian air mata yang keluar dengan sendirinya tanpa dia minta. Dirinya tidak menyangka Bryan akan mengatakan itu pada dirinya.
"Kamu maukan kita mulai dari awal lagi?" Freya mengangguk cepat dan memeluk tubuh suaminya itu dengan deraian air mata.
"Freya mau. Freya mau banget." Bryan tersenyum mendengar jawaban istrinya dan dia membalas pelukan istrinya dengan erat.
"Tapi sebelumnya Mas Bryan harus beri tahu Freya dulu kalau mau kasih kejutan."
"Biar Freya tidak syok seperti tadi dan membuat Freya ketakutan karena teringat kenangan yang dulu."
__ADS_1
"Mas Bryan nyebelin banget nggak sih."
"Gagalkan jadinya. Tidak jadi dinner."
"Lihat ini." Freya melepaskan pelukannya dan memperlihatkan penampilannya pada Bryan.
"Freya sudah tidak cantik lagi."
"Rambutnya sudah berantakan dan make up nya pasti juga sudah luntur." Bryan terkekeh kecil melihat Freya yang cemberut dan merajuk padahal tadi istrinya itu ketakutan dan histeris.
"Iya juga yaa..."
"Istriku saat ini sudah seperti singa."
"Padahal aku sudah menyiapkan dinner romantis untuknya." ucap Bryan dengan menahan untuk tidak tertawa dan merubah ekspresinya dengan ekspresi kecewa karena gagal dinner.
"Singa??" Bryan mengangguk kecil dengan berdehem.
Freya mendengkus kesal dirinya disamakan dengan hewan singa. "Iya..Istri kamu bukan hanya seperti singa, tapi dia juga jelmaan singa." sungut Freya dan berlalu dari hadapan Bryan. Sambil menggerutu kesal Freya lantas duduk di meja makan dan mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang sudah kering sedari tadi.
Bryan tersenyum kecil dan mendekati istrinya yang masih terdengar mengumpati dirinya. Lucu dan menggemaskan, itu yang Bryan rasakan saat melihat istrinya saat ini.
"Ayo pulang. Kita makan di hotel saja." Freya menatap Bryan sinis yang berdiri di sampingnya itu. Tadi dirinya diminta datang kesini untuk dinner dan sekarang suaminya itu mengajaknya pulang dan makan di hotel.
"Menyebalkan." gumam Freya. Dirinya memilih mengambil sendok dan memakan hidangan yang sudah disiapkan oleh suaminya tadi, mungkin. Karena Freya sendiri tidak tahu siapa yang sudah menyiapkan hidangan itu.
"Kalau mau pulang, pulang aja dulu."
"Aku mau menghabiskan aneka olahan caviar."
"Mubazir."
Ingin rasanya Bryan menggigit pipi Freya yang mengembang karena penuh dengan makanan yang masuk ke mulut. Menggemaskan sekali melihat istrinya yang marah dan melampiaskan amarahnya pada makanan.
"Kalau begitu aku akan temani kamu menghabiskan makanan ini." Bryan duduk di seberang Freya.
"Tidak boleh." Bryan mengerutkan keningnya bingung mendengar penolakan Freya. Ada apa lagi, pikirnya.
"Mas Bryan hanya boleh makan steaknya saja."
"Yang ada caviarnya hanya Freya yang makan." Freya mengambil semua hidangan yang ada telur caviarnya dan diletakkannya di hadapannya, menyisakan sepotong steak buat Bryan.
"Sayang!! Kamu yakin mau menghabiskan sendiri makanan ini?" tanya Bryan yang memang di hadapannya hanya ada sepotong steak daging wagyu dan segelas wine.
"Aku tidak makan sendiri. Aku makan berdua bersama anak aku."
"Kalau tidak percaya, biar aku habiskan sekalian punya Mas Bryan."
Bryan melotot tidak percaya, steak yang hanya tinggal sepotong dihadapannya sudah masuk ke mulut Freya. Dan orang yang mengambilnya merasa tidak ada salah sama sekali, justru melanjutkan makannya.
"Kenapa istri ku rakus sekali malam ini?"
"Dia ini kelaparan apa lagi kesal sama aku sih?"
"Kalau seperti ini bukan dinner romantis lagi ceritanya." Bryan geleng kepalanya melihat Freya yang makan tanpa memperdulikan dirinya, menawaripun tidak dan asik makan sendiri.
"Apa semua wanita hamil seperti ini?"
"Lebih baik melawan kolega untuk merebutkan tender daripada melawan wanita hamil yang moody."
"Sungguh wanita tidak bisa ditebak, mood-nya suka berubah-ubah."
Bryan menatap sekeliling ruangan yang tadi telah dia sulap menjadi tempat romantis untuk dirinya juga Freya melakukan dinner. Semua yang telah dia siapkan kini tidak penting lagi buat Freya yang tengah kesal terhadapnya.
"Hancur sudah suasana romantis yang aku siapkan."
"Istriku sudah berubah menjadi jelmaan singa."
🍁🍁🍁
Assalamualaikum 😊
Author kembali lagi setelah seminggu menghilang. Alhamdulillah kerjaan Author sudah Author lembur selama seminggu ini dan insha allah akan kembali menemani kakak-kakak di dunia halu lagi.
Terima kasih buat kakak-kakak semua yang masih setia menantikan kelanjutan pasangan bumil dan pakmil yang jahil ini.
__ADS_1
Maaf baru bisa up lagi.
Thanks and Big Hug 🤗🤗🤗🤗