Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Dia segalanya bagiku, dialah nyawaku


__ADS_3

Freya terlihat menggerakkan tangannya untuk meraih handphone yang sejak tadi terus berdering. "Mengganggu orang tidur saja." geramnya.


Freya memicingkan matanya melihat siapa yang malam-malam menelepon nya. "Bryan." batin Freya


Freya melihat jam yang ada di handphone nya. "Jam setengah satu." gumam Freya.


"Hallo." sapa Freya dengan suara seraknya, dia kembali memejamkan matanya seolah malas berbicara dengan Bryan.


"Kita pulang sekarang juga. Ada keadaan darurat di rumah." terdengar suara Bryan yang tegas di ujung sana.


"Sekarang Freya cepat bangun." Freya mengusap telinganya saat mendengar teriakan Bryan dari spiker handphone nya.


Dengan malas Freya bangkit dan masuk kamar mandi untuk cuci muka sekalian ganti baju.


"Untung bajunya masih di dalam koper, jadi gak perlu repot menata lagi." gumam Freya lantas dia segera mendorong kopernya dan berjalan keluar.


"Ayo.." ajak Bryan yang ternyata sudah menunggu Freya di depan pintu kamar hotelnya dengan tampang yang terlihat khawatir dan cemas.


"Ada apa?" batin Freya bertanya.


Bryan mengambil alih koper Freya dan menarik Freya supaya berjalan cepat.


Freya diam saja saat melihat kekhawatiran di wajah Bryan. Dia ingin bertanya, namun dia urungkan.Dia takut kalau dia akan menambah masalah lagi buat Bryan.


"Maura nggak apa-apakan?" tanya Freya dalam hati saat tiba-tiba dirinya teringat akan putrinya yang ada di rumah orang tua Bryan.


Freya melihat liftnya bergerak naik bukannya turun. "Kita mau kemana? Katanya pulang?" tanya Freya karena merasa heran kenapa liftnya bukannya turun tapi ini naik.


"Kita ke bandara naik helikopter untuk mempersingkat waktu." jawab Bryan cepat tanpa menatap Freya.


Ting


Pintu lift terbuka, dengan segera Freya mengikuti Bryan yang memang sudah cepat ingin sampai kota J.


Freya jadi ikut cemas sendiri. Pikirannya sekarang ada pada putrinya. Semoga Maura baik-baik saja disana. Kalimat itu selalu Freya ucapkan selama perjalanan dari kota S menuju kota J.


"Kita langsung ke rumah sakit." kata Bryan setelah mereka baru saja mendarat.


Dengan langkah cepat mereka menuju mobil yang sudah disiapkan anak buah Rendy untuk menjemput Tuan Muda mereka.


Freya yang sudah tidak tahan lagi dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Bryan. Entah dijawab atau tidak dia tidak peduli.


"Bryan...Kenapa kita ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Siapa memangnya yang sakit?"


"Kenapa gak langsung ke rumah saja?"


"Aku sudah kangen ingin ketemu Ma_."


"Maura-" Bryan menatap Freya yang ternyata juga menatapnya, "-Maura masuk rumah sakit." ucap Bryan lirih.


"Ma-mau-rah.." suara Freya tercekat tak mampu melanjutkan perkataannya. Air matanya mengalir begitu saja dengan derasnya tanpa diminta.


Bryan lantas mendekap Freya dalam pelukannya. Dielus rambut juga punggung gadis kecilnya itu. Ibu dari anaknya.


"Maura nggak apakan Bry?" tanyanya disela tangisnya.


Bryan hanya memejamkan mata tak mampu menjawab pertanyaan Freya. Yang dia tahu sekarang Maura membutuhkan darahnya.


"Nggak apa. Anak kita nggak apa." Bryan mengeratkan pelukannya pada Freya saat tangis gadis kecilnya itu semakin menjadi.


Bryan menunduk, matanya terpejam mencium dan menghirup wangi rambut Freya lama. "Maura baik-baik saja." gumamnya lirih.


Bryan dan Freya segera turun dari mobil setelah mobil yang mereka tumpangi sudah terpakir di sempurna di depan lobby rumah sakit.


Bryan menggandeng tangan Freya berlari menuju ruang operasi.


"Bryan...Maura kenapa?" teriak Freya histeris mencengkram jaket yang dipakai Bryan dan menariknya. Air matanya yang tadi sudah kering kini kembali mengalir deras.


"Bryan, pergilah ke PMI segera." perintah Papa Abri tegas membuat Bryan dengan terpaksa melepas tangan Freya yang mencengkram jaketnya.


"Aku pergi sebentar." kata Bryan sebelum dia pergi meninggalkan Freya sendiri menuju ruang PMI.


Tubuh Freya luruh saat Bryan melepas cengkraman tangannya, dia langsung jatuh terduduk dilantai dengan tangis yang terdengar menyayat hati.


Maura, maafkan Bunda. Kata itu terus terulang disela tangisnya.


Baru ditinggal dua hari di kediaman keluarga Abrisam, Maura sudah celaka. Freya menatap Mama Lea, Mamanya Bryan dengan tajam. Dapat Freya lihat jika Mama Lea terlihat ketakutan saat kedua tangan itu saling bertautan dengan duduk yang tidak tenang dan kaki bergetar.


Dengan susah payah Freya berdiri dibantu Caca yang berdiri di belakang Freya setelah Bryan pergi. Dia tidak berani mendekat ataupun menyentuh Freya. Dan akhirnya dia memberanikan diri saat melihat Freya kesusahan untuk berdiri.


Freya berjalan pelan mendekat ke arah Mama Lea.


"Apa yang Nyonya lakukan pada putri saya, Maura?" tanya Freya dengan nada tinggi. Dia tidak peduli wanita itu orang kaya, sultan, konglomerat atupun billionaire Freya tak peduli. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah keselamatan putrinya, Maura.


Tak hanya Mama Lea yang terperanjat kaget karena suara Freya yang tinggi, tapi Papa Abri juga Caca bahkan Rendy juga terperanjat kaget.

__ADS_1


"Saya tahu Nyonya tak menginginkan Maura, terlebih saya, ibu kandung Maura yang hanya wanita rendahan dimata anda Nyonya Alea." sambung Freya yang terlihat emosi itu.


"Freya, bukan begitu Nak. Semua itu salah paham. Kita bisa bicarakan nanti setelah keadaan Maura membaik." kata Papa Abri lembut, dia berusaha membujuk Freya supaya lebih tenang.


"Salah paham anda bilang." ulang Freya dengan lirih menatap Papa Abri.


"Ya..Saya memang salah paham. Saya yang salah disini." Freya berjalan mundur menjauhi keluarga Abrisam.


"Tak seharusnya saya membiarkan Maura tinggal bersama kalian." kata Freya penuh kebencian.


"Freya." suara berat dan serak milik Bryan terdengar memanggilnya, Freya menoleh dan menatap tajam pada Bryan yang baru saja kembali dari PMI


"Kamu bisa tenang tidak?" sentak Bryan setelah dia mendekat ke Freya.


"Maura di dalam sana sedang berjuang untuk hidup dan matinya dan kamu sebagai ibunya harusnya tenang, doakan Maura supaya selamat di dalam sana." kata Bryan dengan tegas.


Freya menatap Bryan dengan mata yang berkaca-kaca, dia hampir tak begitu jelas menatap Bryan karena matanya yang terasa panas.


"Ak-kuh_" suara Freya tercekat seperti ada yang tersangkut di tenggorokannya. Nafasnya terasa sesak mengingat putrinya yang berjuang di dalam ruang operasi.


Bryan segera memegang pinggang Freya saat melihat Freya hampir terjatuh karena kakinya sudah terasa lemas mengingat kondisi putrinya.


"Aku takut Maura kenapa-kenapa?" dan tangis Freya kembali pecah saat Bryan memeluknya.


"Hanya dia yang aku punya. Dia segalanya bagi ku. Aku gak bisa hidup tanpa dia. Dialah nyawaku."


Bryan hampir saja terhuyung ke belakang saat merasakan tubuh Freya lemas dan terasa dingin.


"Freya...Hai kamu kenapa?" Bryan mengguncang tubuh Freya yang ada di pelukannya.


"Lebih baik kamu bawa dia ke ruang perawatan!" perintah Papa Abri pada Bryan.


"Aku nggak sengaja melakukannya. Sungguh, aku gak sengaja melakukannya."


🍁🍁🍁


have a nice day


Jangan lupa berikan like dan vote kalian ya kakak-kakak readers


Biar lebih semangat lagi menghalunya


Makasih🤗🤗

__ADS_1


dewi widya


__ADS_2