Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Pesantren Part 2


__ADS_3

Tok Tok Tok


Rendy menoleh saat mendengar suara pintu kamar yang dia tempati diketuk oleh seseorang. Dan dilihatnya seorang pria paruh baya dan seorang pria yang kira-kira sepantaran dengan dirinya masuk setelah mengucapkan salam.


Kedua orang itu tersenyum saat melihat Rendy yang sudah sadar setelah beberapa jam yang lalu hanya tidur tak sadarkan diri. Tapi menurut Rendy bukannya dia tidak sadarkan diri. Dia hanya kelelahan dan akhirnya ketiduran saja, mengingat dirinya memang kurang tidur selepas kepergian istri tercintanya.


"Mas sudah bangun. Ini saya bawakan makanan dan minuman untuk Mas nya." ucap pria dewasa itu dan meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di meja kecil.


"Perkenalkan, saya Gus Ridwan dan ini Abah saya, namanya Abah Sodiq." imbuh pria itu memperkenalkan diri.


Rendy tersenyum tipis pada kedua orang asing itu. "Salam kenal, saya Rendy." Rendy membalas uluran tangan Ridwan juga Abah Sodiq.


"Terima kasih sudah menolong saya dan merepotkan Gus Ridwan dan Pak Kiayi." ucap Rendy dengan sopan mengingat saat ini yang dia hadapi adalah seorang ulama, seorang kiayi.


"Maaf, Ini saya dimana ya?" tanya Rendy, padahal dia tahu kalau saat ini dirinya tengah berada di pesantren. Dia hanya sekedar basa-basi saja. Padahal itu bukan gayanya sama sekali.


Ridwan meminta mereka untuk duduk terlebih dahulu. Dia kasihan pada Rendy yang memang terlihat masih lemah dan sedikit pucat karena habis dikeroyok sama rampok dan kemungkinan belum mengisi perutnya sejak kemarin. Dia juga tidak tega melihat Abahnya yang terlalu lama berdiri mengingat usia beliau yang tidak muda lagi.


Mereka duduk dilantai dengan Rendy yang merasa tidak begitu nyaman karena lantainya tidak dialasi apapun. Abah yang melihat Rendy tidak nyaman meminta Rendy untuk duduk di ranjang saja karena memang tidak ada kursi di kamar itu. Namun Rendy menolak tawaran itu meski hati berkata iya.


Tidak enak saja. Masa iya dia duduk di ranjang sedangkan pak kiayi nya duduk di lantai. Tidak sopan sekali, pikirnya. Meski dirinya kurang paham tentang agamanya, tapi seenggaknya dia tahu sedikit tata krama menghormati orang yang lebih tua, apalagi memiliki ilmu agama diatasnya.


"Nak Rendy saat ini ada di pondok pesantren milik mendiang orang tua Abah. Tadi pagi, salah satu santri Abah menemukan nak Rendy pingsan dipinggir jalan tidak jauh dari sini. Dan akhirnya Abah minta untuk membawa nak Rendy kesini." jelas Abah Sodiq.


"Nak Rendy orang mana kalau Abah boleh tahu? Masalahnya tidak ada identitas yang melekat pada tubuh nak Rendy." imbuh Abah Sodiq yang memang tadi tidak menemukan satupun identitas yang Rendy bawa untuk menghubungi sanak saudara Rendy.


"Saya,-" Rendy tak meneruskan ucapannya, dia terlihat berpikir sejenak sebelum memberi tahu siapa sebenarnya dirinya pada Abah Sodiq juga Ridwan.


"Ini dipondok. Tempat untuk menuntut ilmu agama. Memberi ketenangan batin. Mendekatkan diri pada Yang Kuasa. Apa aku disini dulu ya untuk sementara waktu? Biar hati ini tenang dan ikhlas menerima kepergian Mutia juga Carissa?" batin Rendy yang memang ingin mengikhlaskan belahan jiwanya juga darah dagingnya menghadap sang pencipta. Dia tidak ingin terlalu larut dalam kesedihannya.


Rendy mengambil nafas dalam dan menutup matanya sejenak. "Maafkan Papa, Candra. Papa hanya sebentar disini." batin Rendy dengan menghembuskan nafas pelan sambil membuka kedua matanya.

__ADS_1


"Saya berasal dari ibu kota. Saya semalam kena rampok dan mungkin rampoknya membawa semua barang berharga milik saya tanpa terkecuali."


Abah Sodiq dan juga Ridwan terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan dari Rendy. Pantas saja ditemukan dalam keadaan babak belur tanpa identitas. Ternyata dirampok, pikir mereka.


"Ekhemm...Maaf Pak Kiayi juga Gus Ridwan kalau saya lancang. Apa boleh saya tinggal disini untuk dua tiga bulan kedepan?" tanya Rendy dengan sesopan mungkin. Dia berharap kedua orang yang tengah mentapnya lekat itu mau memberinya izin untuk tinggal disana.


Abah Sodiq terlihat tersenyum, dan menganggukkan kepalanya memperbolehkan Rendy untuk tinggal. Karena beliau paling senang menjamu tamu, apalagi tamu itu ingin memperdalam ilmu agama.


"Kalau boleh tahu, apa alasannya?" tanya Ridwan.


Rendy yang tadinya menyunggingkan senyum tipis pada Abah Sodiq langsung lenyap senyumnya saat mendengar pertanyaan Ridwan. Dia menatap Ridwan, haruskah dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kenapa dia ingin tinggal di pesantren?


Tapi kalau memang ingin mencari ketenangan dan memperdalam ilmu agama, bukannya harus jujur supaya ustadz ataupun kiayi yang membimbing kita akan tahu bagaimana mengarahkan kita nantinya. Bukan asal memberi pelajaran dan pemahaman saja.


"Kalau Mas Rendy keberatan untuk cerita tidak apa. Saya tidak memaksa." imbuh Ridwan yang melihat keraguan dari Rendy yang enggan menceritakan alasannya.


"Tidak, saya tidak keberatan. Saya sebenarnya,-"


"Saya baru ditinggal pergi istri juga anak kami beberapa minggu yang lalu. Mereka meninggal saat istri saya berusaha melahirkan anak kembar kami namun hanya salah satu anak kembar kami yang berhasil diselamatkan."


"Innalilahi wa innailaihi rojiun!! Kami turut berduka cinta untuk Mas Rendy." ucap Ridwan dan Abah Sodiq bersamaan.


Rendy mengangguk dan tersenyum tipis pada Ridwan dan Abah Sodiq. Dia juga mengucapkan terima kasih atas rasa kemanusiaan yang Ridwan dan Abah Sodiq berikan kepada dirinya atas musibah yang terjadi di keluarganya.


"Boleh kan Pak Kiayi, saya tinggal disini untuk dua tiga bulan kedepan?" tanya Rendy sekali lagi meminta izin pada Abah Sodiq.


"Boleh nak Rendy. Dengan senang hati saya akan mengajari anda sendiri nanti disini. Dan juga mungkin Ridwan kalau saya lagi sibuk." Rendy tersenyum dengan mata berbinar mendengar ucapan Abah Sodiq. Rendy juga terus mengucapkan banyak terima kasih pada Abah Sodiq dan juga Ridwan yang mau menerima dan mengajarinya tentang ilmu agama, terutama ikhlas.


Tok Tok


Terdengar ketukan pintu dari luar kamar yang Rendy tempati dan ucapan salam. Ridwan berdiri dari duduknya dan membukakan pintu.

__ADS_1


"Zahro!! Ada apa? tanya Ridwan yang melihat adik bungsunya ternyata yang mengetuk pintu dan seorang anak kecil.


"Ini Bang, Zahro mau ngantar Rafa. Katanya mau ketemu sama orang yang ditolongnya tadi pagi. Dia nangis terus ingin melihat keadaan orang itu." jelas Zahro dengan pelan pada abang nya. Wanita itu juga tidak melihat bahkan melirik dalam kamar yang ada Abah nya juga orang asing. Dia hanya menunduk saja.


Ridwan berdehem dan mengangguk pelan pada Zahro. Dia mengajak Rafa masuk kedalam kamar setelah Zahro pamit undur diri.


"Ini Rafa nak Rendy. Dia yang tadi menemukan nak Rendy." ucap Abah Sodiq yang melihat Rendy bingung menatap Rafa yang katanya menangis hanya karena ingin ketemu dirinya.


"Terima kasih sudah menolong Paman."


Rafa yang mendengar Rendy mengucapkan terima kasih kepadanya langsung menghambur memeluk Rendy dengan erat. Anak kecil itu terlihat menangis di pelukan Rendy.


Rendy menatap bingung pada Ridwan juga Abah Sodiq. Dia tidak tahu kenapa anak kecil itu tiba-tiba memeluknya dan menangis. Apa ada yang salah dengan dirinya? atau terjadi sesuatu sebelumnya?


Setelah Rafa tenang dan tidak menangis lagi, Abah Sodiq menceritakan semua tentang Rafa pada Rendy. Rendy begitu kaget mengetahui kalau Rafa itu anak yatim piatu sejak usia lima tahun. Dia jadi teringat Mutia yang bernasib sama seperti Rafa, menjadi yatim piatu sejak usia masih kecil.


"Apa Rafa sudah ada yang mengadopsi nya Pak Kiayi? Kalau belum, boleh saya mengadopsi Rafa sebagai anak saya?" Rendy sekali lagi meminta izin dengan sopan pada Abah Sodiq untuk menjadi orang tua angkat dari Rafa.


Abah Sodiq menatap Rendy dan Rafa bergantian. Rendy dengan sorot mata penuh harap, sedangkan Rafa dengan sorot mata yang begitu bahagia. Abah Sodiq tidak pernah melihat Rafa sebahagia itu mengingat sudah lebih dari tiga keluarga yang ingin mengadopsi Rafa sebagai anaknya. Namun di tolak mentah-mentah oleh Rafa. Tapi kali ini, Abah Sodiq melihat Rafa yang begitu senang mendengar kalau akan diadopsi oleh Rendy.


"Kalau saya, boleh saja. Semua tergantung Rafa nya, mau apa tidak? karena sudah lebih dari tiga keluarga yang ingin mengadopsi Rafa tapi Rafa nya tidak mau." terang Abah Sodiq.


"Rafa mau kok Pak Kiayi. Rafa mau di adopsi Paman Rendy." sahut Rafa dengan cepat sambil menatap Rendy dengan senyum lebarnya.


"Kamu benar mau jadi anaknya Paman?" tanya Rendy dan langsung diangguki oleh Rafa yang masih saja mengembangkan senyum lebarnya.


"Baiklah, tunggu dua bulan lagi. Semua akan diurus sama teman Paman dan Rafa juga masih boleh menuntut ilmu di pondok ini."


Rafa yang begitu senang langsung mengambil tangan kanan Rendy dan diciumnya takzim. Tak lupa, anak kecil itu juga mencium tangan Abah Sodiq juga Ridwan secara takzim.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


__ADS_2