Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Kadal betina


__ADS_3

Nada dering yang berbunyi dari handphone Bryan benar-benar mengusik ketenangan Freya yang baru saja mengarungi mimpi malamnya. Entah sudah berapa kali bunyi itu terdengar, yang pasti sudah dari tadi. Freya membuka matanya perlahan dan melihat suaminya yang begitu nyenyak nya dalam tidurnya dan tidak terusik sama sekali dengan bunyi handphone yang sedari tadi berbunyi begitu nyaringnya. Dilihatnya jam digital yang ada di nakas sebelah Freya berbaring masih menunjukkan jam satu dini hari berarti dia baru tidur tiga jam yang lalu.


Freya menghembuskan nafas pelan. "Mas..Itu ada telphone." dengan suara serak karena baru bangun Freya mengguncang lengan Bryan yang berada di atas perutnya.


Bukannya bangun, Bryan justru mengeratkan pelukannya pada pinggang juga kaki Freya. Bryan juga melesakkan kepalanya di ceruk leher Freya sesekali diendus aroma tubuh istrinya dan diciumnya.


"Mas Bryan, bangun ihh!!!"


"Itu handphone nya bunyi terus dari tadi."


"Berisik banget, Mas."


"Angkat gih, siapa tahu penting."


"Aku nggak bisa tidur ini." Freya berusaha meloloskan diri dari pelukan Bryan dan juga berusaha membangunkan Bryan. Dia tahu suaminya itu sebenarnya sudah mulai terusik juga bangun. Namun enggan untuk membuka matanya. Dicubitnya lengan Bryan dengan gemas karena tak kunjung bangun.


"Aku sudah bangun dari tadi dan aku juga mau kamu."


"Apa kamu tidak merasakan ini? hemm." ujar Bryan dengan suara serak dengan mata yang masih terpejam menciumi cuping telinga Freya.


Freya membulatkan matanya saat Bryan menggesekkan sesuatu yang mengeras di antara kedua paha Bryan diarahkan kepada pantatnya. Dan tangan Bryan juga tidak tinggal diam. Tangan itu sudah menyusup di balik piyama yang Freya kenakan mencari benda kenyal yang menyerupai squishy.


"Mas, stop!!" pekik Freya yang sudah sepenuhnya sadar dan terbangun. Dia memegang tangan Bryan yang berada di balik piyama nya yang sudah menangkup salah satu squishy nya. Freya menghentikan aksi nakal suaminya itu.


"Ayolah sayang!!!"


"Sudah hampir dua minggu 'si rosi' tidak masuk ke garasinya."


"Dia sudah rindu berat ingin masuk kesana sayang."


"Apa kamu nggak ingin juga, hmm." ujar Bryan sambil menyesap dan menggigit leher Freya membuat tanda merah di sana. Tangan yang tadi berada di balik piyama pindah ke paha Freya yang mengenakan celana satin pendek senada dengan piyama yang Freya kenakan. Digerakkan nya secara perlahan naik keatas dan merabanya dari luar.


Freya mendengkus, "Garasi dia bilang tadi." gerutu Freya dalam hati saat Bryan menyebut asetnya itu garasi. "Nggak ada yang lebih bagus dikit apa." sungut Freya dalam hati.


Freya memejamkan matanya, dia juga menggigit bibir bawahnya supaya tidak mengeluarkan ******* saat jari tangan Bryan sudah masuk ke dalam celana yang dia kenakan dan bermain di aset bawahnya. "Suami terkutuk!!" umpat Freya yang hampir saja mencapai puncak hanya karena permainan jari yang Bryan berikan padanya.


"Baiklah!!" suara Freya terdengar pasrah. Lagian dia sudah terlanjur basah, kenapa tidak dilanjutkan saja. Dia juga sama dengan Bryan. Rindu. Rindu yang berarti berhubungan.


Bryan langsung membuka matanya dan mengangkat kepalanya menatap Freya dengan senyum merekah memastikan kalau istrinya itu tidak sedang mengigau. Atau justru dirinya sendiri yang tadi sedang mengigau. Entahlah, yang penting sebentar lagi mendapat jatah pelepasan.


"Benar sayang??" tanya Bryan memastikan lagi. Tapi tanpa ditanya pun Bryan juga sudah tahu kalau istrinya itu juga sangat rindu. Dapat Bryan lihat dari sorot mata Freya yang sayu dan wajah memerah.


"Hmm.." Freya berdehem dan mengangguk.


Bryan yang seperti mendapat proyek besar langsung saja menciumi wajah istrinya dengan perasaan senang dan bahagia tentunya. Dia sudah menahan dirinya selama Freya dirawat di rumah sakit. Dan sekarang sudah berada di rumah dan dia sudah tidak sabar untuk penyatuan kembali sampai mendapatkan pelepasan yang membuat tubuh menjadi lebih bugar.


"Tapi angkat telephone nya dulu."


"Aku nggak mau ada yang ganggu." Fraya memegang dada Bryan sambil menatap manik biru suaminya.


Bryan tersenyum, "Baiklah!! Aku akan memastikan kalau tidak ada yang mengganggu kita dalam mengarungi surga dunia hingga meledakkan sebuah gunung di lautan api." Bryan bangkit dan mengelap tangannya dengan tisu sebelum mengangkat telephone.


Freya mengulum senyum mendengar ucapan Bryan. Belajar darimana suaminya yang kaku dan dingin itu mendapatkan kata-kata seperti itu.


Freya bangun dari rebahannya dan duduk di dekat Bryan saat suaminya itu menyebut nama Michel. Michel anak Anelis dengan Andre. Ada apa, pikir Freya.


"Iya, besok kami langsung kesana."

__ADS_1


"Dan akan aku siapkan tempat di keluarga kita."


"Yang sabar, aku turut berduka cita." Bryan mengakhiri panggilan itu dan kembali menghubungi seseorang. Entah siapa Freya tidak tahu.


"Turut berduka cita???!!"


"Apa maksudnya???" gumam Freya menatap Bryan yang sudah berbicara dengan orang suruhannya.


"Ada apa?" tanya Freya yang melihat Bryan seperti memikirkan sesuatu setelah mendapat telephone tadi.


Bryan menatap Freya dalam diam. Dia bingung dengan kabar yang baru saja dia dapat dari Andre. Bukankah tadi siang keadaan Michel stabil jika melakukan tindakan operasi malam ini. Kenapa tiba-tiba justru kabar duka yang dia dapat.


"Kenapa sih, Mas?"


"Ada apa?" Freya memegang tangan Bryan dengan lembut dan diusapnya perlahan. Kalau dilihat dari tatapan Bryan memang benar ada kabar buruk yang terjadi. Tapi apa??


"Michel...." Bryan menatap Freya dengan tatapan sedih bercampur kebingungan.


"Michel meninggal sebelum operasi." Freya lantas menutup mulutnya dengan satu tangan. Dia begitu syok dan kaget mendengar kabar dari Bryan.


"Bukannya kata Mas Bryan tadi malam sebelum tidur kalau kondisi Michel sudah memungkinkan untuk melakukan operasi?" tanya Freya dengan mata berkaca-kaca. Meski dia belum memaafkan Anelis, tapi setiap mendengar cerita Bryan tentang Michel membuat hati Freya, hati seorang ibu juga merasakan kesedihan dan kasihan melihat Michel yang masih kecil harus menderita leukimia.


"Iya..Tapi Andre bilang sebelum masuk ruang operasi, Michel mengalami kejang dan tak sadarkan diri."


"Setelah di observasi, ternyata dia overdosis hingga membuatnya meninggal."


"Sepertinya ada yang janggal dengan kematian Michel." kata Bryan yang mencurigai ada yang menyabotase kematian Michel.


"Kamu disini dulu ya. Kamu tidur lagi."


"Aku pergi sebentar." Bryan menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang.


"Aku nggak akan kemana-mana."


"Aku hanya mau ke lantai bawah sebentar."


"Hanya sebentar nggak lama." Bryan melepaskan genggaman tangan Freya pada lengannya.


Freya justru semakin mengeratkan genggamannya, dia menggeleng pelan. Freya takut ditinggal sendiri karena pasti dia akan menyalahkan dirinya sendiri karena waktu Andre dan Anelis datang menemuinya untuk minta maaf justru tidak dia tanggapi.


Bryan menghembuskan nafas perlahan dan kembali duduk. Bryan tahu pasti istrinya saat ini merasa bersalah atas apa yang menimpa Michel. Dibawanya tubuh Freya ke pelukannya dengan satu tangan.


"Aku disini nggak kemana-mana." Bryan mengusap lengan Freya dan diciumnya puncak kepala Freya.


"Nggak usah berpikir macam-macam. Ini sudah takdir dari yang kuasa." ujar Bryan saat merasakan bahu Freya bergetar dan mungkin sebentar lagi akan menangis.


"Freya jangan seperti itu aku nggak suka." ucap Bryan dengan tegas saat Freya menangis dan menyalahkan dirinya atas kematian Michel karena dia tidak memaafkan perbuatan Anelis.


Bryan memegang kedua lengan Freya dan di jauhkan tubuh Freya dari dirinya. Di tatapnya lekat wajah istrinya yang menunduk itu.


"Dengarkan aku."


"Aku minta maaf karena kemarin membawa mereka menemui mu dan akhirnya membuat kamu menyesal."


"Mereka sendiri yang minta untuk bertemu kamu dan meminta maaf sama kamu."


"Jadi aku mohon sama kamu."

__ADS_1


"Jangan sangkut pautkan kematian Michel dengan penyesalan kamu karena tidak memaafkan mereka."


"Aku nggak mau sampai kamu stress." Bryan mengusap air mata yang jatuh di pipi Freya. Di tatapnya manik coklat itu dengan lembut.


"Maafkan aku yang sering membuatmu sakit dan kecewa." diciumnya kedua mata Freya bergantian.


"Jangan nangis lagi, jangan merasa bersalah dan juga menyesal dan jangan memikirkan yang bukan-bukan."


Freya mengangguk dan memeluk Bryan. "Aku besok ikut ke pemakaman." ucap Freya lirih.


"Iya besok kamu boleh ikut."


"Lebih baik sekarang kita tidur lagi." Freya mengangguk namun tak juga melepas pelukannya pada Bryan.


Bryan mengulum senyumnya dan mengangkat Freya sebelum akhirnya dibaringkan dengan perlahan dan diselimuti nya tubuh istrinya itu.


"Mau kemana?" tanya Freya saat melihat Bryan yang tidak ikut berbaring justru mau pergi.


"Aku mau menghubungi Rendy sebentar." kata Bryan menatap Freya.


"Disini saja." pinta Freya dengan tampang memelas.


Bryan akhirnya mengalah dan menghubungi Rendy untuk menyelidiki kematian Michel yang menurutnya ganjil itu. Dia mencurigai seseorang yang sama yang berusaha merusak rumah tangganya. Karena Andre kemarin juga sempat bilang padanya kalau mereka sudah menemui Manda dan menjelaskan semua.


Kalau benar dia, Bryan akan menyetop memberi makan buaya yang ada di penangkaran miliknya. Dia akan memberi makan nanti setelah semuanya terbongkar.


"Nyawa dibalas nyawa."


"Bersiaplah kamu kadal betina."


**********


Manda tersenyum puas setelah mendapat kabar dari orang suruhannya. Dia menyeringai jahat membayangkan Anelis saat ini hancur karena telah berani menipunya dan kerjasama dengan Bryan dan sekarang di tambah Andre juga berpihak pada Anelis.


Manda begitu marah saat Anelis dan Andre menemuinya beberapa hari yang lalu dan mengakui semuanya. Dia tidak menyangka selama ini abangnya Leon di manfaat Anelis untuk membiayai anak yang sakit-sakitan yang ternyata bukan anak abangnya Leon melainkan anaknya Andre. Dan dengan bodohnya abangnya itu mau saja membiayai anak yang bukan darah dagingnya sendiri.


"Abang ku memang bodoh, tapi tidak dengan Manda."


"Kau akan hancur Anelis karena telah berani memanfaatkan abang ku juga mengkhianati kerjasama kita." geram Manda menatap tajam kedepan seolah Anelis ada di hadapannya.


"Aku akan lihat kehancuran mu dan aku akan datang ke pemakaman anakmu yang malang itu." Manda tertawa jahat mengingat apa yang dilakukan orang suruhannya telah berhasil menjalankan tugasnya.


"Setelah itu tinggal Freya."


"Akan aku lenyap kan dia sekalian dan bayi yang ada di kandungannya."


"Setelah itu Bryan juga hartanya akan menjadi milikku untuk selamanya." tawa Manda semakin terdengar begitu menggelegar.


Dia tidak tahu kalau bahaya juga sedang mengintainya. Bersenang-senanglah dulu wahai kadal betina. kata Bryan.


🍁🍁🍁


have a nice day


thanks for like, vote, comment and gift


big hug from far away 🤗🤗🤗

__ADS_1


dewi widya


__ADS_2