
Di kamar rawat Maura terjadi keributan pagi ini, siapa lagi pelakunya kalau bukan Mutia yang berbeda pendapat dengan Rendy. Hari ini Mutia tidak kerja karena diizinkan langsung oleh Bryan pada Alex. Dan Rendy sendiri masih menantikan Tuan Mudanya datang, karena tadi dia diminta menunggu di rumah sakit.
"Heh manusia robot?" Mutia mendelik menatap Rendy yang berdiri bersebrangan dengan dirinya yang dipisahkan dengan brankar Maura.
"Saya itu sudah lama ya kenal Maura daripada anda yang baru kemarin sore."
"Jadi jangan sok tau anda." sungut Mutia yang merasa Rendy mengatur-ngatur dirinya.
"Tapi saya lebih tahu apa yang di butuhkan sama Nona Muda Maura saat ini." sahut Rendy dengan tenangnya menatap Mutia.
"Tapi Maura lebih suka sama sup ikan kakap merah yang saya belikan." ucap Mutia tak mau kalah.
"Benarkah." Rendy mengangkat sebelah alisnya dengan senyum sinis pada Mutia.
"Iya lah...Lihat itu.!!!" Mutia menunjuk mangkuk sup ikan kakap merah yang berada diatas meja makan khusus di hadapan Maura. Karena dari dua mangkuk sup dan satu piring nasi yang ada di depan Maura hanya mangkuk sup kakap merah yang letaknya paling dekat dengan Maura.
Rendy melirik meja makan kecil itu kemudian di terkekeh pelan. "Bukankah itu anda sendiri yang meletakkannya disitu." ejek Rendy menatap Mutia sinis.
Mutia mengambil nafas dalam sebelum akhirnya dia hembuskan secara perlahan. Memang dia yang meletakkan mangkuk sup kakap merah itu tepat di depan Maura.
"Maura sayangnya Mama Mutia." ucap Mutia dengan lembut dan senyum semanis mungkin pada anak asuhnya itu.
"Bukannya sup ikan kakap merah itu makanan kesukaan Maura?" tanya Mutia menatap penuh harap Maura mau menjawab iya. Karena sebelumnya Maura selalu minta Mutia dimasakkan sup ikan kakap merah.
Maura menatap Rendy dan beralih ke Mutia, kemudian dia mengangguk mantap.
Mutia tersenyum lebar saat Maura mengangguk mengiyakan apa yang dia tanyakan. Dia menatap Rendy dengan senyum mengejeknya.
"Anda kalah." ucap Mutia hanya dengan gerakan bibir tanpa suara. Dia tersenyum bahagia saat merasa menang.
Rendy masih dalam sikap tenangnya, merasa tidak terintimidasi sama sekali akan kekalahannya terhadap Mutia. Karena dia sudah yakin kalau dia nantinya yang akan menang.
"Maura suka sup ikan kakap merah."
"Apalagi yang masak Mama. Pasti enak." kata Maura dengan semangatnya membuat senyum Mutia semakin melebar.
"Tapi kata Bunda sama Ayah, Maura harus perbanyak makan sup ikan gabus sama ikan tuna juga salmon."
"Nggak boleh makan yang lain biar cepat sembuh."
Senyum di wajah Mutia luntur dalam sekejap saat mendengar ucapan Maura. Dia tidak jadi menang, tapi kalah. Dia harus kalah lagi sama Rendy. Oh tidak??? Seorang Mutia kenapa selalu kalah kalau berurusan dengan manusia robot itu. Dia tidak terima itu.
Haruskah dia menuruti permintaan manusia robot itu sesuai taruhannya tadi sebelum membelikan Maura sup ikan? Tapi apa permintaan Rendy, dia tidak tahu. Karena Rendy tidak menyebutkannya. Dia akan bilang nanti kalau dia menang dan sekarang dia menang. Kira-kira apa permintaannya?? tanya Mutia dalam hatinya.
Rendy menarik salah satu sudut bibirnya melihat wajah Mutia yang sudah tak berekspresi itu. Tidak ada yang bisa melawan seorang Rendy Yudha Pratama disini. "Bersiaplah banteng betina." batin Rendy yang bersorak kemenangan.
"Maura mau makan sup ikan tuna yang Paman Robot belikan, Ma." kata Maura menatap Mutia yang diam tanpa ekspresi itu.
"Suapi..!!" pinta Maura dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Memohon supaya Mamanya itu mau menyuapinya. Karena tangan kanan nya masih terpasang jarum infus, jadi tidak bisa leluasa untuk bergerak. Maura juga tahu kalau Mama Mutia dan Paman Robot sedang bertaruh.
"Maafkan Maura, Ma. Nanti kalau Maura sudah benar sehat, Maura mau kok makan sup kakap merah buatan Mama Mutia." bujuk Maura supaya Mutia mau menyuapinya juga melupakan kekalahannya.
Mutia menatap Maura kemudian beralih menatap Rendy yang terlihat biasa saja seperti biasanya, datar, tegas dan kaku. Dia melangkahkan kakinya menuju dimana Rendy berdiri. Dia bersedekap di depan Rendy dengan gaya angkuhnya.
"Selamat, semoga anda puas dengan kemenangan anda kali ini. Karena aku yang bakal menang selanjutnya." ucap Mutia. Dia menyenggol Rendy untuk berpindah tempat dari sana karena dia akan menyuapi Maura.
"Bersiaplah banteng betina." bisik Rendy di telinga Mutia sebelum akhirnya melangkah menuju sofa.
"Kau!!!" Mutia yang geram karena disamakan banteng betina lantas meloncat di punggung Rendy dan mencekik leher Rendy dengan lengannya.
Maura tertawa melihat itu, "Mama sama Paman kaya' anak kecil." pekik Maura kegirangan melihat tingkah Mutia dan Rendy.
__ADS_1
"Kalian ini ya!!!" geram Bryan yang baru saja masuk ke kamar rawat Maura dan mendapati dua orang dewasa yang bertingkah kekanakan.
Bryan heran melihat asistennya itu, sejak kapan Rendy yang kaku dan anti dengan perempuan berubah seperti itu. Apalagi perempuannya wanita bar-bar seperti Mutia, bukan seperti perempuan yang diinginkan Rendy sama sekali
"Kalian saya minta untuk menjaga Maura, kenapa kalian justru berpacaran dan bermesraan di depan anak kecil." bentak Bryan membuat Rendy juga Mutia menunduk lebih dalam lagi.
"Kami tidak berpacaran Tuan." ralat Rendy sebelum semuanya salah paham.
"Saya tidak peduli kalian pacaran apa tidak. Yang pasti jangan lakukan itu di depan anak kecil. Terutama anak saya." kata Bryan dengan tegas dan berlalu untuk menemui Maura yang hanya dia menatapnya itu.
"Nggak sadar banget anda Tuan Muda. Kalau anda sendiri jauh lebih parah saat bermesraan di depan anak anda." gerutu Freya dalam hati saat mendengar perkataan Bryan barusan.
"Kenapa Ayah selalu memarahi Mama sama Paman robot?" tanya Maura yang kesal karena Ayahnya selalu mengganggu kesenangannya.
Karena Maura senang melihat Paman Robot yang kaku berantem sama Mama Mutia yang lincah, seperti kemarin waktu Paman Robotnya berjoget dengan Mama Mutia dan sekarang waktu Mama Mutia yang kesal dan akhirnya berantem dengan Paman Robotnya. Dan selalu dibuat kesal karena Ayahnya selalu jadi pengganggu kesenangannya.
"Siapa bilang Ayah memarahi mereka, Ayah tadi hanya memberi mereka pengertian saja kalau apa yang mereka lakukan itu salah." bantah Bryan karena dia merasa tidak memarahi Rendy maupun Mutia.
Maura hanya ber 'Oh' ria sebagai tanggapannya. Dia tidak akan mempermasalahkan itu. Sekarang dia sedang marah sama Ayah juga Bundanya.
"Bunda kenapa kemarin pergi menyusul Ayah gak bilang-bilang dulu?" tanya Maura yang kesal sama Bundanya yang meninggalkannya saat dia tidur.
"Maaf sayang, Bunda nggak akan seperti itu lagi. Bunda janji." sesal Freya dan membuat janji jari kelingking dengan Maura.
"Tapi tidak apa, Bun." sahut Maura dengan cepat.
"Karena kata Mama, Bunda sama Ayah kemarin pergi untuk membuat adik untuk di berikan ke Maura sebagai hadiah kesembuhan Maura."
"Iya kan Bun..Iya kan Yah.." Maura menatap berbinar ke Ayah dan Bundanya.
Mutia semakin menundukkan kepalanya saat Freya dan juga Bryan menatap tajam pada dirinya. Dia bilang seperti itu ke Maura karena Maura saat bangun tadi menangis mencari Bunda juga Ayahnya. Dengan terpaksa dia bilang kalau "Maura sayang,..Bunda dan Ayah Maura sedang membuat adik untuk Maura. Jadi Maura jangan nangis lagi ya..Kan sebentar lagi mua punya adik." Dan ajaibnya Maura langsung diam dan begitu antusias untuk cepat sembuh supaya bisa bermain dengan adiknya. Dia langsung meminta dibelikan sup ikan pada Mutia juga Rendy.
"Mampus kau Mutia, mampus." batin Mutia yang pasti nanti bakal dimarahi Bryan, terutama Freya.
"Iya, akan Ayah bikinkan adik buat Maura asal Bunda Freya nya mau bikin adik juga bersama Ayah." jawab Bryan dengan serius. Semoga dengan melalui Maura, Bryan bisa mendapatkan Freya dengan mudah.
Freya melotot pada Bryan saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Bryan yang tajam itu. Bisa-bisa Bryan bicara seperti itu. "Memangnya aku mau apa membuat anak dengan mu lagi disaat kamu mau menikah dengan yang lain." batin Freya kesal mengingat Bryan yang akan menikah dengan Manda.
"Memangnya Bunda tidak mau bikin adik buat Maura?" Maura menatap Bundanya kecewa.
"Bukan seperti itu sayang." Freya memegang tangan kanan Maura dan diusapnya lembut.
"Nanti akan ada saatnya Bunda mau untuk memberikan adik buat Maura. Tapi tidak untuk sekarang."
"Karena saat ini Bunda hanya ingin melihat Maura sembuh seperti dulu lagi, baru nanti kita pikirkan lagi untuk memberikan adik buat Maura." jelas Freya semudah mungkin berharap Maura mengerti akan apa yang dia katakan.
"Berarti tidak untuk sekarang?" tanya Maura yang terlihat kecewa.
"Iya sayang." jawab Freya dengan tersenyum kecut.
Dia tidak ingin membuat putrinya itu berharap lebih untuk memiliki seorang adik. Apalagi Bryan sudah tidak bisa mereka miliki, karena sebentar lagi Bryan akan menikah dengan Manda. Dan Freya tidak tahu bagaimana reaksi Maura nantinya kalau Ayahnya menikah dengan perempuan lain bukan dengan Bundanya.
Bukankah waktu itu Bryan berjanji akan menikah dengan dirinya dan menjadikan Maura putri satu-satunya?? Freya sedih mengingat ucapan Bryan pada Maura waktu itu. Dia tidak sanggup melihat putrinya bersedih lagi.
Rendy berjalan mendekati Bryan, "Tuan, sudah jam sembilan lebih. Apa kita batalkan saja rapatnya?"
"Tidak perlu, kita ke kantor sekarang." jawab Bryan tegas menatap Freya. Dia tahu kenapa Freya mengatakan itu pada Maura. Dia akan mengatakan semuanya disaat emosi Freya sudah stabil nantinya. Dia akan memberi tahu semuanya biar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Cantik..Maaf ya. Ayah harus ke kantor dulu."
"Nanti kalau pulang, tunggu Ayah datang. Kita pulang bersama."
__ADS_1
"Janji ya Ayah."
"Iya Ayah janji. Maura makan yang banyak, biar cepat sehat."
"Habiskan ini makanannya." Bryan menunjuk meja di hadapan putrinya.
"Kalau kurang, Ayah tadi membelikan makanan yang enak buat Maura. Minta saja sama Bunda nanti."
"Iya Ayah."
Maura mencium punggung tangan Bryan setelah Bryan mencium kening dan kedua pipinya.
"Ayah pergi dulu." pamit Bryan.
"Ayah tunggu!!"
Bryan menghentikan langkahnya dan menatap Maura heran, ada apa lagi, batinnya.
"Ayah belum mencium bunda seperti biasanya."
Bryan dan Freya saling menatap sekilas dan keduanya kembali saling membuang pandangan. Kedua nya sama-sama mendengkus kesal, baik Freya maupun Bryan keduanya masih dalam mode marah.
"Bunda kamu belum mandi dan juga belum keramas. Jadi masih bau."
"Nggak mungkin kan Ayah yang sudah ganteng dan keren seperti ini nantinya bakal bau karena harus mencium Bunda kamu."
"Sudah dulu, Ayah berangkat."
Freya mendengkus kesal melihat Bryan yang sudah hilang di balik pintu. Bisa-bisanya Bryan mengatainya kalau dirinya bau. Memang dirinya belum mandi, tapi ini masih wangi.
"Apa dia nggak sadar tadi saat ketemu Kak Evan, dia mencium dan memelukku posesif seperti mengatakan kepemilikannya." Freya terus saja ngedumel dalam hatinya. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena tidak suka di bilang bau. Apalagi yang bilang Bryan,manusia yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan akan berubah menjadi monster kalau sedang emosi.
"Bunda sama Ayah sepertinya lagi marahan." kata Maura pelan pada Mutia saat melihat Bundanya masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan dirinya.
"Iya...Maura mau gak bantu Mama satukan Bunda Freya dengan Ayah Bryan."
"Biar mereka cepat menikah dan tinggal bersama Maura juga." bisik Mutia pada anak kecil itu.
"Mau, Ma. Maura mau." ucap pelan Maura yang terlihat antusias.
"Kita atur strategi nanti setelah Maura sampai rumah. oke." Mutia mengedipkan sebelah matanya dengan seringai liciknya. Untuk saat ini dia akan berkhianat dulu pada Freya. Karena dia ingin melihat sahabatnya itu hidup bahagia bersama Maura juga. Dan Mutia yakin, Bryan lah pria yang cocok untuk sahabatnya itu.
"Oke, Ma. Kita kerjasama sekalian sama Paman Robot ya,Ma. Please!!!" mohon Maura dengan sangat. Karena Paman Robot itu satu-satunya orang yang bisa dihandalkan. Dan pastinya yang tahu semua tentang Ayahnya.
Mutia mengangguk setuju. Karena dia tahu, Rendy itu juga setuju kalau Bryan dan Freya bersama.
"Makasih, Mama." Maura dan Mutia berpelukan sebagai tanda kerjasamanya dimulai.
"Kalian kenapa berpelukan seperti itu?"
🍁🍁🍁
Have a nice day
Like, Vote and Comment kakak-kakak cantik dan ganteng
Terima kasih masih setia dengan Maura : Tragedi Tahun Baru.
Bersama Maura, Bunda Freya juga Ayah Bryan.
Big hug from far away 🤗🤗🤗
__ADS_1
dewi widya