
Freya semakin mengeratkan genggaman kedua tangannya yang dipegang sama Bryan. Saat ini keduanya tengah berada di dalam ruang operasi dan saat ini pula Freya tengah menjalani operasi cesar ditemani sang suami karena jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat sedikit.
Air mata Freya menetes dan mengalir di kedua pelipisnya. Dengan mata terpejam, Freya dapat mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang di baca oleh suaminya, Bryan. Ini kali pertama baginya mendengar suaminya melantunkan ayat suci yang begitu panjang dari biasanya yang sering dia dengar. Biasanya dia hanya mendengar suaminya membaca surat-surat pendek dan itupun dia dengar saat Bryan sholat ataupun saat dia menjadi makmum Bryan waktu sholat.
Freya tersenyum dalam tangis harunya. Dia begitu tenang saat ini ketika menjalani operasi cesar, padahal tadi dirinya begitu takut untuk menjalani operasi. Tapi setelah ditemani Bryan dan suaminya itu melantunkan surah Ar-Rahman, dirinya menjadi lebih tenang dan nyaman.
Freya tidak menyangka suaminya itu hafal surah Ar-Rahman. Karena dia tidak pernah mendapati suaminya itu memegang Al-Qur'an dan membacanya. Dia juga tidak mendapati ada Al-Qur'an digital di ponsel milik suaminya. Terus, kapan suaminya itu menghafal surah yang ayatnya diulang sebanyak 31 kali?
Sungguh, Freya begitu terharu saat ini. Rasanya ingin sekali memeluk suaminya saat ini juga kalau tidak mengingat saat ini dirinya tengah menjalani proses operasi cesar untuk mengeluarkan Bryan Junior.
Senyum dan tangis Freya semakin pecah saat mendengar suara tangis bayi yang begitu kencang memenuhi ruangan operasi yang begitu dingin dan tenang tadinya.
Tak hanya Freya, Bryan juga menangis terharu saat mendengar suara tangis untuk pertama kalinya dari bayi yang baru saja berhasil dikeluarkan dari rahim istrinya.
"Permisi Nyonya, Baby nya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dulu ya." perawat membuka baju operasi yang Freya kenakan sebelum meletakkan Bryan Junior di dadanya. Perawat juga memakaikan topi dan selimut pada si Baby mengingat suhu ruang operasi begitu dingin.
"Mas, tolong lihat!! Baby nya lengkap tidak? Jari-jari tangannya juga jari-jari kakinya dicek satu satu. Jangan sampai ada yang kelewatan." pinta Freya karena tidak bisa melihat keseluruhan bayinya yang tidur tengkurap di dadanya.
Bryan terkekeh kecil mendengar perintah istrinya yang memintanya mengecek apakah anaknya utuh apa tidak.
Tak hanya Bryan, salah satu dokter yang membantu proses operasi tadi yang memiliki darah keturunan Indonesia dan juga bisa berbahasa Indonesia ikut tertawa mendengar penuturan Freya.
"Alhamdulillah, Baby nya lengkap dan sehat Nyonya. Jari tangan maupun jari kaki nya juga lengkap dan utuh." kata dokter yang memiliki keturunan darah Indonesia yang merupakan dokter anak.
"Alhamdulillah." ucap syukur Freya dan Bryan bersamaan saat mendapati Bryan Junior dalam keadaan sehat dan lengkap.
Disana juga masih terlihat dokter bedah dan dokter kandungan beserta beberapa perawat yang masih menangani Freya. Mereka terlihat masih mengeluarkan dan membersihkan plasenta, sisa darah dan lokia, kemudian menjahit kembali bekas sayatan yang tadi mereka buka untuk mengeluarkan Bryan Junior.
"Terima kasih sayang. Terima kasih kamu sudah mau menjaga dan berjuang selama beberapa bulan terakhir ini untuk Bryan Junior. Kamu memang wanita, ibu dan istri yang kuat dan hebat. Terima kasih. Terima kasih banyak istriku."
Bryan terus saja mengucapkan terima kasih pada Freya dan menciumi seluruh wajah Freya tanpa terkecuali, juga mencium punggung tangan kanan Freya begitu lama. Laki-laki yang sudah resmi menyandang status Ayah dua anak itu begitu bersyukur karena saat ini dirinya bisa menemani Freya dari awal kehamilan sampai melahirkan. Akhirnya dia bisa menebus semua kesalahannya dimasa lampau saat Freya hamil dan melahirkan Maura seorang diri hingga membesarkan Maura sampai menjadi seorang anak yang cerdas di usianya yang masih begitu belia.
Freya yang sudah tidak memiliki tenaga lagi, yang merasa tubuhnya tiba-tiba merasa lemas setelah bayi nya berhasil dikeluarkan lewat proses operasi cesar hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Freya juga terima kasih sama Mas Bryan yang sudah menjadi suami dan Ayah siaga untuk Freya dan debay nya."
__ADS_1
Freya mengingat selama kehamilannya ini Bryan begitu memanjakannya dan juga menjaganya. Suaminya itu juga menuruti keinginan ngidamnya meski tidak semua dituruti oleh suami tampannya itu.
"Lucu banget sayang. Lihat!! Jagoan Ayah bergerak merangkak mencari susu Ibunya." Bryan begitu heboh sendiri saat melihat jagoan kecilnya menggerakkan tubuhnya merangkak naik mencari keberadaan pu ting Bundanya untuk menyusu.
Freya tak kuat menahan senyumnya sampai air matanya kembali keluar lagi. Kedua sudut bibirnya melengkung keatas melihat kehebohan suaminya yang merekam aksi Bryan Junior yang sekarang dipanggil Bryan dengan sebutan Jagoan Ayah.
Freya tahu, ini adalah pengalaman pertama suaminya itu melihat kondisi seperti saat ini dan dia membiarkan saja, yang terpenting suaminya itu tidak macam-macam dan berbuat aneh.
*****
Freya sudah dipindahkan dari meja operasi ke brankar yang lebih nyaman lagi untuk pemulihan. Dia masih berada di ruang operasi, hanya saja di tempat kan di ruang sebelahnya, bukan di bawah lampu operasi lagi.
Terlihat perawat masuk membawa Baby nya yang baru beberapa menit tadi dia lahir kan dalam kondisi sudah bersih dan menyerahkan ke Bryan untuk di-adzani, karena mereka tahu kalau pasiennya itu seorang muslim.
Freya beberapa kali mengusap air matanya yang tidak mau berhenti mengalir ketika melihat Baby nya. Dia begitu senang dan bahagia saat ini sampai dia sendiri bingung harus mengatakan apa. Sedari tadi hanya rasa syukur yang dia ucap dalam hatinya.
Apalagi saat ini ketika melihat Bryan yang tengah duduk dengan kaku sambil menidurkan Bryan Junior di dada telanjang nya sendiri sambil di-adzani juga Bayi mungil yang masih memerah itu. Tak hentinya air mata itu terus saja mengalir, bahkan kedua sudut bibirnya terus saja melengkungkan senyum bahagianya.
"Jadilah anak yang soleh, paham agama, sayang orang tua dan saudara, anak pintar dan cerdas juga bertanggung jawab." bisik Bryan setelah selesai meng-adzani putranya yang baru lahir beberapa menit yang lalu.
"Apa Baby nya tidak di taruh di inkubator, sus?" tanya Freya tanpa menatap perawat dan tangannya sibuk menoel pipi dan hidung Bryan Junior sambil tersenyum geli sendiri karena Jagoan kecilnya tidak terusik sama sekali.
Freya ingat karena saat ini dirinya mengalami kelahiran prematur, usia bayi belum sampai 37 minggu dan baru 36 minggu.
"Kata dokter tidak perlu, karena Baby nya dalam kondisi sehat, jantung dan paru-parunya juga bekerja dengan normal, berat badannya juga normal dan diatas usianya saat ini. 3,097 kg. Baby nya tadi juga sudah buang air besar."
Freya mengangguk paham atas jawaban dan penjelasan yang perawat wanita itu berikan. Dia bersyukur Baby nya lahir dengan sehat dan selamat meski tadi siang dirinya dilanda kegalauan karena mendapat kabar kalau air ketuban nya tinggal sedikit dan harus dilakukan tindakan malam ini juga.
"Apa boleh nanti saat kembali ke ruang perawatan bayi nya di letakkan di dalam inkubator?" tanya Bryan yang sudah pindah duduk di sisi Freya.
"Boleh Tuan. Sekitar setengah jam lagi Nyonya dan Baby nya sudah bisa dipindah ke ruang perawatan."
Bryan mengangguk paham dan mengucapkan terima kasih pada perawat wanita itu yang telah membantunya dan Freya sedari tadi.
"Jagoan kecil Bunda kenapa mirip Ayah sih, kan yang hamil sembilan bulan Bunda." protes Freya saat memandangi wajah Bryan Junior yang sepintas terlihat seperti suaminya, Bryan.
__ADS_1
"Kan aku Ayahnya sayang. Ya harus mirip akulah. Memangnya harus mirip siapa lagi. Mirip Imran Abbas idolamu dari Pakistan itu." Bryan mendengkus melihat Freya yang mengangguki perkataannya.
"Bagaimana coba anak keduanya mirip Imran Abbas. Kan aku sendiri yang menanam kecebong kedalam goa nya." gumam Bryan dengan kesal.
Freya menahan tawanya mendengar gumaman suaminya yang tidak terima kalau wajah anaknya di miripn kan dengan artis Imran Abbas.
"Ayah kamu marah sayang. Ayo nanti diadukan ke Kakak Maura. Ayah kan takut sama Kakak Maura." ucap Freya lirih pada jagoan kecilnya, Bryan Junior.
"Adukan aja terus sama si cerewet kecil itu. Aku tidak takut. Aku masih punya banyak uang untuk menyogok si kecil Maura." gerutu Bryan dengan menyombongkan dirinya dengan kekayaan.
"Kamu nanti kalau sudah besar jangan sombong seperti Ayah kamu ya sayang. Kamu harus rendah hati dan tidak sombong. Merendah untuk meroket."
Lagi-lagi Bryan mendengkus dengan mulut komat kamit mendengar perkataan Freya pada putranya yang baru lahir yang ditujukan untuk menyindir dirinya.
"Tapi kan aku Ayahnya!"
Freya tertawa mendengar seruan Bryan yang merajuk entah karena tersindir atau tidak punya sekutu untuk melawannya.
🍁🍁🍁
Assalamualaikum...
Author kembali lagi...
Maaf baru kembali dan mari melanjutkan cerita keluarga kecil Bryan, Freya dan Maura dan sekarang bertambah satu lagi personilnya.
Kira-kira siapa ya namanya???
Kasih ide dong kakak-kakak pembaca..
Siapa kira-kira nama yang pantas buat jagoan kecilnya Bryan dan Freya...
Terima kasih masih setia bersama author dan cerita Maura
Big Hug
__ADS_1
🤗🤗🤗