Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Siapa dia?


__ADS_3

Freya berdiri di balkon kamar melihat Maura yang bermain dengan Caca di halaman samping. Dia menatap kosong kedepan seakan ada yang mengusik pikirannya.


"Siapa dia?"


"Kenapa memanggil Mama Lea dengan panggilan Mama?"


"Apa dia saudara Mas Bryan?"


"Tapi kemarin waktu kita nikah saudara dari Papa mau pun Mama datang semua."


"Lalu siapa dia?"


"Kenapa Mama terlihat begitu kaget saat bertemu wanita itu?"


"Bahkan Mama tidak mengenalkan ku padanya."


"Mama justru pergi dengan dia dan memintaku untuk pulang duluan bersama Maura."


"Siapa dia sebenarnya?"


"Apa dia masa lalu Mas Bryan."


Freya memejamkan matanya erat sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Freya menghembuskan nafasnya berulang kali.


"Astagfirullahalazim!!!" pekik Freya tersentak saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


"Mas Bryan, aishhh bikin Freya kaget saja.!!" keluh Freya menoleh ke samping menatap kesal pada Bryan yang meletakkan dagunya di pundak Freya sambil tersenyum tanpa dosa telah membuat istrinya kaget.


"Kamu sedang memikirkan apa? hemmm" Bryan mengeratkan pelukannya pada Freya.


"Aku panggil dari tadi tidak dijawab." sambung Bryan yang sudah mulai mengendus leher Freya, dihirup dan diciuminya bahkan di sesapnya.


"Mass....!!!" rengek Freya saat Bryan memberi tanda merah keunguan di lehernya


"Hmm..." Bryan masih asik dengan kegiatannya.


"Ini masih sore dan Mas Bryan juga baru pulang kerja."


"Lebih baik Mas Bryan mandi. Bau iiihhhhhh!!!!" Freya berusaha menghindar dan meloloskan diri dari Bryan.


"Aku mau di mandiin sama kamu." kata Bryan yang langsung mengangkat tubuh Freya ke dalam gendongannya.


"Aku sudah mandi, Mas. Turunin aku!!" seru Freya yang berada di gendongan Bryan. Dia terus bergerak supaya Bryan mau menurunkannya. Namun usahanya nihil, Bryan sudah membawanya masuk ke kamar mandi.


"Mandi lagi. Aku butuh bantuan mu saat ini."


Freya mendengkus kesal, dia tahu maksud suaminya itu. Di bawah guyuran air hangat yang keluar dari shower, Bryan membawa Freya terbang menikmati indahnya surga kenikmatan.


...............


Setelah selesai makan malam biasanya selalu kumpul di ruang keluarga, namun malam ini entah kenapa semuanya langsung masuk ke kamar masing-masing.


Freya menemani Maura belajar di ruang kerja Bryan. Bryan juga ada disana untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya.


"Bunda!! Kenaikan kelasnya kapan sih?" tanya Maura menatap Bundanya.


"Maura bosan home schooling terus."


"Nggak ada temannya." sambung Maura dengan cemberut.


"Nanti sayang, dua sampai tiga bulan lagi."


"Kalau Maura masuk sekarang percuma."

__ADS_1


"Pihak sekolah tidak mengizinkan." jelas Freya.


"Kenapa tidak masuk menggunakan uang Ayah saja."


"Uang Ayah kan banyak." Maura membentangkan tangannya lebar-lebar.


"Siapa yang ngajarin Maura seperti itu?" tanya Freya pasalnya Maura tidak pernah membahas uang.


"Aunty Caca." jawabnya jujur.


Freya menghela nafas panjang. "Keluarga Abrisam semuanya memang mengandalkan uang dan Maura sudah mulai mengikuti jejak Ayahnya." batin Freya bersedih.


Bryan hanya tersenyum mendengar perbincangan ibu dan anak itu. "Sebentar lagi Maura akan tahu betapa kaya rayanya Ayahnya ini." batin Bryan senang.


"Mama kemana sih, Bun?" tanya Maura tiba-tiba yang menanyakan keberadaan Mama Mutia.


"Sejak pulang dari Korea kemarin tidak lihat Mama lagi." sambung Maura.


"Mama pulang ke rumah kita yang dulu. Pamannya sakit, dan Mama diminta pulang sama Pamannya." jawab Freya.


"Tapi Mama akan kembali lagi kesini kan, Bun?" tanya Maura.


"Bunda tidak tahu, tapi Mama kemarin bilang akan lama di sananya."


"Pantas saja Paman robot mukanya di tekuk terus tiap kali lihat kemesraan Bunda sama Ayah." kata Maura saat mengingat ekspresi Paman robotnya yang langsung tertekuk kesal dan sebal saat melihat Bunda dan Ayahnya bermesraan.


"Maksudnya?" tanya Freya yang belum paham dan mengerti perkataan Maura.


"Maksudnya, Paman robot Maura menyukai Mama Mutia." sahut Bryan yang ikut bergabung di sofa bersama anak dan istrinya.


"Maksudnya, Rendy menyukai Mutia begitu?" tanya Freya menatap Bryan.


Bryan dan Maura mengangguk bersamaan.


"Mungkin sejak aku menghukum mu sepulang dari Last Night atau bisa jadi sebelum itu." jawab Bryan yang mengangkat Maura ke pangkuannya.


"Mas Bryan tahu dari mana?" Freya semakin duduk mendekat ke Bryan. Jiwa keponya tiba-tiba mendominasi dirinya.


"Dari mana cantik?" Bryan justru bertanya pada Maura.


"Saat Ayah sama Bunda nikah kemarin, Maura melihat Mama sama Paman robot bertengkar di dekat toilet."


"Dan Maura juga lihat Paman robot mencium bibir Mama."


Freya menutup mulutnya tak percaya mendengar perkataan Maura.


"Rendy juga melakukan hal yang sama saat kita melakukan di apartemen mu waktu itu."


"Dan akhirnya dia menghilang dua hari." imbuh Bryan.


"Rendy benar-benar keterlaluan." kesal Freya pada Rendy yang telah menodai sahabatnya, Mutia.


"Awas saja besok. Aku akan memintanya untuk bertanggung jawab pada Mutia." sambung Freya yang terlihat kesal dan marah pada Rendy.


"Sudah sayang, kamu nggak usah ngurus mereka."


"Biar Rendy selesaikan sendiri." tukas Bryan saat melihat Freya yang sudah emosi itu.


"Lebih baik kamu ambilkan air hangat untuk aku dan susu untuk Maura.


"Kita mau tidur, sudah malam." Bryan berdiri sambil menggendong Maura dan berjalan keluar dari ruang kerja.


"Maura malam ini tidur sama Ayah dan Bunda." ujar Maura dengan senang.

__ADS_1


"Oke cantik."


Freya menuju dapur dan membuatkan pesanan suami dan anaknya.


"Rumah segedhe ini tapi sepi seperti tidak berpenghuni." gumam Freya saat menaiki tangga menuju kamar.


...............


"Anelis ada disini." kata Papa Abri menatap Mama Lea yang duduk bersandar di tembok ranjang.


"Manda yang membawa wanita tak tahu diri itu kembali kesini." sambung Papa Abri.


"Mama sudah tahu." Papa Abri menatap tajam Mama Lea mendengar ucapan Mama Lea.


"Tadi Mama sudah bertemu dengan dia dan juga ngobrol bersama." imbuh Mama Lea.


"Apa yang Mama obrolkan dengan dia?" tanya Papa Abri tegas.


"Apa Ma?" bentak Papa Abri saat Mama Lea hanya diam saja.


"Jangan bilang Mama masih mau menjadikan wanita itu menantu Mama."


"Atau mungkin Mama masih berpihak pada dia.?"


"Apa Mama nggak ingat apa yang dulu telah dia lakukan pada Bryan."


"Dia hampir saja membuat Bryan bunuh diri,Ma."


"Papa nggak akan biarkan dia menemui Bryan."


"Bahkan Papa nggak akan biarkan jika dia sampai berani merusak rumah tangga Bryan melalui Mama."


"Mama akan tahu akibatnya nanti."


"Dan lebih parah dari sebelumnya.


Ancam Papa Abri yang begitu marah saat melihat istrinya diam saja itu.


"Tapi Anelis cinta pertamanya Bryan bahkan Anelis cinta matinya Bryan, Pa."


"Itu dulu. Dulu sebelum dia mengkhianati Bryan. Dan pergi begitu saja tanpa kabar dan membawa kabur uang Bryan."


"Sekarang Bryan cintanya cuma sama Freya tidak dengan yang lain."


"Tapi dia juga hamil anak Bryan, Pa."


"Bahkan anaknya sekarang sudah berusia 9 tahun."


"Cucu kita laki-laki,Pa."


"Cucu yang Papa inginkan."


TARRR


Mama Lea juga Papa Abri menoleh menatap pintu kamar saat mendengar suara benda pecah. Mereka saling pandang dan turun dari ranjang menuju pintu. Dibukanya perlahan pintu itu sama Papa Abri.


"Freya!!!"


🍁🍁🍁


have a nice day


thank's for like, vote , comment and gift

__ADS_1


big hug from far away 🤗🤗🤗


__ADS_2