
Bryan dan Freya sampai di apartemen Mama Marisa juga Anelis. Mereka berdua disambut begitu hangat oleh Mama Marisa seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya atau mungkin hanya pura-pura tidak terjadi sesuatu.
"Kalian tadi darimana saja?"
"Kenapa siang baru sampai disini?"
"Katanya tadi setelah mengantar Maura mau langsung kesini?" Mereka berdua di todong banyak pertanyaan sama Mama Marisa yang terlihat kesal karena Freya baru sampai, tidak sesuai dengan janji mereka tadi sebelum berangkat mengantar Maura.
"Maaf, Ma. Bryan telat mengantar Freya kesini."
"Tadi Bryan mengajak Freya untuk melihat rumah yang akan kami tempati nantinya setelah Maura pulang dari kompetisi." Bryan mengatakan dengan jujur pada Mama Marisa tanpa ada yang ditutupinya. Tapi hatinya sedikit was-was kalau saja dirinya tidak dapat maaf dari Mama Marisa mengingat Mama Marisa sampai detik ini masih begitu mencintai almarhum Bapak Armand.
Mama Marisa mengangguk paham, "Kalian tadi sudah makan siang belum? Tadi Mama masak sup buntut permintaan kamu, sayang." kata Mama Marisa tertuju pada Freya yang tadi memang ingin dimasakkan sup buntut sama Mama Marisa.
"Ahhhh yang benar Ma?"
"Kebetulan sekali Freya belum makan." Mama Marisa mengangguk mengiyakan dan tersenyum pada putrinya.
Bryan menggelengkan kepalanya mendengar Freya yang bilang kalau belum makan. Perasaan Bryan tadi saat perjalanan menuju apartemen Mama Marisa, Bryan membelikan dua potong cake sesuai request Freya dan sudah Freya makan sampai habis tanpa menawari Bryan sama sekali yang membelikan dirinya cake. "Bagaimana nggak makin tebal itu pipi kalau suka lupa kalau sudah makan." batin Bryan yang gemas dengan pipi Freya yang semakin chubby sudah hampir mirip dengan Maura.
"Pantesan dari tadi Freya mencium aroma wangi kuah sup."
"Freya kira hidung Freya lagi sensitif." Freya terkekeh sendiri sambil mengusap hidungnya yang memang semenjak hamil jauh lebih sensitif. Ternyata tidak hanya perasaan saja yang sensitif, hidung juga bisa sensitif saat hamil.
"Ya sudah ayo kita makan bersama."
"Ayo nak Bryan." ajak Mama Marisa sambil menggandeng Freya menuju meja makan.
"Mama tidak lupa kan?" bisik Freya pada Mama Marisa.
"Iya..sudah duduk, Mama panggilkan kakak kamu dulu." Freya mengangguk pada Mama Marisa namun tatapan matanya tertuju pada semangkuk besar sup buntut yang ada di hadapannya. Freya menelan salivanya susah payah. Aroma kuah sup nya benar-benar menggoda lambungnya untuk segera dicicipi.
"Perut kamu masih muat, sayang?" Freya memicingkan matanya menoleh pada Bryan yang duduk di sebelahnya. Pertanyaan macam apa itu, pikir Freya.
"Maksud Mas Bryan apa?"
"Ya jelas masih muatlah, Mas."
"Freya tadi kan belum makan." desis Freya sambil menyomot buah potong yang ada di piring dengan garpu.
"Yakin belum makan?" Freya mengangguk saja dengan terus mengunyah buah sebagai hidangan pembuka.
"Tapi kamu tadi sudah makan dua potong cake loh sayang sebelum kesini." kata Bryan yang ikut menyomot buah potong dan dimasukkannya ke mulut.
"Oh!!!"
"Itu tadi namanya ngemil dan sekarang baru makan."
"Mas Bryan harus bisa membedakan, mana yang namanya makan dan mana yang namanya ngemil."
"Kalau makan itu pasti ada nasi juga lauk pauknya, beda kalau ngemil."
"Kalau ngemil itu, kita makan snack ringan, roti atau kue juga buah. Itu baru namanya ngemil."
"Juga sejenis pizza, hot dog, burger, sandwich, ramen,_"
"Itu namanya kamu rakus."
"Sudah makan tapi bilangnya belum makan." sahut Anelis memotong perkataan Freya. Dia menarik kursi dan duduk di depan Bryan karena Mama Marisa duduk di depan Freya.
"Freya belum makan dan Freya baru ngemil."
"Nih lihat.." Freya menunjukkan potongan buah melon yang tertancap di garpu pada Anelis. Bryan hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat Freya yang tidak mau dibilang rakus itu.
"Sudah sudah ayo makan."
"Hentikan perdebatan kalian."
"Sini sayang piringnya, Mama ambilkan." Freya dengan senang hati memberikan piringnya ke Mama Marisa. Jarang-jarang dia mendapat perhatian khusus dari Mama kandungnya sendiri. Dan dia sendiri mengambilkan makan buat Bryan, suaminya itu. Freya tahu, suaminya tidak akan makan kalau tidak dia ambilkan. Manja, itulah Bryan kalau sudah berada di dekat Freya dan Freya menyukainya meski terkadang sedikit jengkel kalau suaminya sudah manja dan terlihat banget kalau bucin nya.
Freya begitu menikmati makan siang kali ini. Karena ini kali pertama bagi dirinya makan siang bersama suami juga Mama dan Kakaknya. Karena biasanya hanya dengan Mama Marisa saja kalau tidak begitu dengan suaminya saja. Tapi kali dia begitu senang karena bisa makan siang bersama orang-orang yang dicintainya meski Maura saat ini tidak bersama dirinya.
"Kenapa kamu dek? senyum-senyum sendiri tidak jelas seperti itu."
"Masih waras kan?" tanya Anelis yang melihat Freya senyum-senyum sendiri padahal tidak ada yang mengajaknya ngobrol ataupun sesuatu yang lucu.
Freya mendengkus tapi masih tersenyum menatap Bryan dan yang lainnya bergantian.
"Freya masih boleh nambah kan, Ma?"
"Lagian enak banget sup buntutnya."
"Rasanya persis seperti yang dulu sering Bapak buatkan untuk Freya."
Bryan yang tadinya akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya berhenti tepat didepan mulutnya yang sudah siap menerima suapan. Perkataan Freya barusan sungguh membuat nyalinya tiba-tiba menciut. Apa Mama Marisa juga Anelis sudah tahu kalau dirinya yang jadi penyebab meninggalnya Bapak Armand, pikir Bryan. Karena kalau Mama Marisa maupun Anelis sudah tahu, besar kemungkinan Bryan sedari tadi sudah dicueki atau mungkin sudah diusir dan dimarahi. Tapi ini beda, Mama Marisa bahkan mengajaknya makan bersama.
__ADS_1
"Ya boleh dong sayang."
"Tapi nasinya dikurangi, ambil sup nya saja."
"Dan memang ini adalah resep dari Papa kamu."
"Apalagi sekarang Mama lagi kangen sama Papa kamu dan kebetulan kamu juga minta Mama membuatkan sup ini."
"Jadi pas banget waktunya juga bertepatan dengan hari ulang tahun Papa kalian." mata Mama Marisa berkaca-kaca memandang Anelis dan Freya bergantian.
"Jadi kangen sama Papa."
"Apalagi dulu Papa pergi waktu Ane masih kecil."
"Bahkan Ane tidak pernah lagi melihatnya setelah kejadian itu."
"Dan baru tahu beberapa minggu yang lalu kalau Papa sudah meninggal dan pergi meninggalkan kita untuk selamanya." Mama Marisa memeluk putri sulungnya yang menunduk menangis itu. Bukan hanya Anelis saja yang merasa kehilangan, Mama Marisa juga. Tapi beliau harus tetap tegar dihadapan kedua putrinya. Beliau tidak ingin membuat Anelis ataupun Freya bertambah sedih kalau sampai dirinya terlihat rapuh.
Freya berdiri dan memeluk Mama juga kakaknya itu. Freya tersenyum dalam tangisnya saat sang Mama menatapnya sambil mengusap kepalanya lembut. Mereka bertiga saling memeluk untuk memberi kekuatan satu sama lain.
Dengan susah payah, Bryan menelan makanan yang belum sempat dikunyah dengan lembut. Tiga wanita didepannya saat ini benar-benar membuat rasa bersalahnya semakin menjadi. Apalagi melihat saat melihat istrinya, Freya yang berpura-pura kuat itu. "Maafkan kesalahan Bryan." batin Bryan.
Dapat Bryan lihat kalau Mama Marisa juga Anelis belum mengetahui kalau dirinya lah yang telah menabrak Bapak Armand hingga meninggal. Atau mereka hanya pura-pura tidak tahu seperti Freya tadi. Entahlah, yang Bryan inginkan saat ini adalah meminta maaf pada mereka dan mendapat maaf dari mereka. Dia tidak ingin berpisah dengan Freya. Apapun akan Bryan lakukan untuk Freya tetap berada disisinya walau nyawa taruhannya.
"Ekhem!!!" Bryan berdehem, membuat ketiga wanita di hadapannya itu mengurai pelukan mereka.
"Hm..Maaf nak Bryan. Kami sampai lupa kalau ada nak Bryan." ucap Mama Marisa yang sedikit menyesal telah mencueki dan melupakan menantunya itu.
"Tidak apa, Ma."
"Bryan mengerti dengan perasaan Mama juga Freya dan Anelis."
"Maaf sebelumnya."
"Apa boleh Bryan berbicara sesuatu sama Mama juga Anelis setelah selesai makan?" tanya Bryan sopan. Dia harus segera jujur dan meminta maaf sebelum akhirnya masalah semakin berlarut panjang.
"Mau bicara apa kamu?" tanya Anelis dengan ketus sambil mengusap air matanya yang masih terus saja mengalir.
"Ane, nggak boleh bicara ketus seperti itu." tegur Mama Marisa. Anelis mengangguk saja.
"Kita sudah selesai makan, lebih baik kita bicara sekarang saja."
"Ayo Ane!!!" Mama Marisa menarik pelan lengan Anelis untuk berdiri.
"Reya, habiskan makan mu dulu nggak udah buru-buru." Freya mengangguk dan mengacungkan jari jempolnya. Mulutnya baru saja dia penuhi dengan daging yang baru berhasil dia gigit.
"Iya Mas, Freya doakan semoga Mama juga Kak Ane memaafkan Mas Bryan."
"Semangat!!! Fighting!!! Ganbatte!!!" Bryan tersenyum tipis pada Freya yang membuatnya gemas itu. Diciumnya kening Freya sebelum menyusul Mama Marisa juga Anelis yang lebih dulu duduk di ruang tengah.
"Apa yang ingin kamu bicarakan nak Bryan?" tanya Mama Marisa yang duduk di sofa panjang bersama Anelis di sampingnya.
Anelis sendiri menatap sinis pada Bryan. Ingin rasanya dia tadi mengusir Bryan saat Mama Marisa memberi tahunya kalau Freya datang bersama Bryan. Namun di tahannya karena mengingat pesan yang dia dapat dari Freya tadi.
"Ekhem.." Bryan berdehem sebelum masuk ke pembicaraan untuk mengurangi kegugupan.
"Sebelumnya, Bryan minta maaf sama Mama juga Anelis."
"Bryan ing,_"
"Kenapa harus minta maaf sama kami?"
"Memang kamu buat salah apaaauuuchhhh" buru-buru Mama Marisa mencubit paha Anelis yang memotong pembicaraan Bryan.
"Kamu bisa diam dulu?"
"Biar Bryan selesaikan apa yang ingin dia bicarakan."
"Jangan kamu potong dan dengarkan saja dulu." Anelis mendengkus pelan, ingin rasanya dia berteriak dan mencaci maki Bryan.
Bryan melirik ke arah Anelis sebentar, dia tahu kemungkinan besar Anelis juga Mama Marisa sudah mengetahui apa kejahatan dan kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Mereka hanya pura-pura tidak tahu dan Bryan harus waspada soal itu.
"Boleh Bryan lanjut, Ma?" Mama Marisa mengangguk mengiyakan, karena dia sendiri juga ingin mendengar kejujuran langsung dari mulut Bryan selain dari Tuan dan juga Nyonya Abrisam.
"Bryan minta maaf."
"Maaf jika Bryan datang terlambat dan baru menyadarinya."
"Maaf, karena Bryan yang tidak becus dalam berkendara dan mengakibatkan mobil yang Bryan kendarai menabrak Bapak Armand hingga meninggal."
"Saya, Abrisam Bryan Alvaro sungguh tulus meminta maaf pada Mama Marisa juga kamu,Anelis." Bryan menatap Anelis. Dia yakin saat ini tak hanya Freya yang hatinya sakit. Pasti Anelis juga,mengingat Anelis yang ingin sekali bertemu dengan Papanya namun kenyataan yang ada Papanya sudah meninggal dan yang menyebabkan Papanya meninggal saat ini berada dihadapannya, adik iparnya, mantan pacar juga mantan tunangannya.
"Breng sek kamu Bryan." Freya yang baru saja datang langsung menangkap bantal yang Anelis lempar begitu keras kearah Bryan yang diam saja.
"Bicarakan baik-baik, tidak perlu baku hantam seperti itu kak." Anelis mendengkus menatap Freya yang membela Bryan.
__ADS_1
"Bisa ya kamu bersikap baik sama suami kamu sendiri saat sudah tahu kalau Papa meninggal karena ulah dia." Anelis terlihat begitu marah sama Freya yang dengan santainya duduk di samping Bryan sambil menggenggam tangan satu sama lain.
"Kenapa tidak bisa? Mas Bryan suami Freya, jadi wajar kalau Freya bersikap baik sama suami Freya sendiri."
"Freya juga tahu kalau Mas Bryan yang mengakibatkan Bapak kecelakaan dan meninggal."
"Tapi semua itu sudah takdir dari yang kuasa."
"Dan sesuatu yang hidup pasti akan mati."
"Dan Mama tidak akan pernah memaafkan kamu Bryan." Mama Marisa berdiri dan menarik Freya untuk menjauh dari Bryan.
"Pergilah dan jangan pernah temui Freya lagi." Freya menoleh cepat pada Mama Marisa. Dia begitu kaget, bukan ini yang dia ingikan tadi.
Bryan sontak berdiri dari duduknya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Mama Marisa.
"Ma..Bryan mohon jangan pisahkan Bryan dari Freya."
"Bryan tidak bisa jauh-jauh dari Freya, Ma."
"Mama boleh tidak memaafkan Bryan, tapi jangan pisahkan kami, Ma."
"Bryan akan melakukan apapun asal jangan pisahkan Freya dari Bryan."
"Bryan mohon sama Mama." Mama Marisa mundur selangkah saat Bryan bersimpuh di hadapannya.
"Pergilah, Mama sudah tidak sudi lagi melihat wajah pembunuh seperti mu." Mama Marisa membawa Freya masuk ke dalam kamar.
"Mas Bryan!!" Freya menangis, dia sudah tak kuasa saat Mama Marisa memegang lengannya kuat dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Freya!!" Anelis menarik tangan Bryan yang akan mengejar Freya.
"Pergi kamu dari rumah saya dan jangan pernah lagi menampakkan diri kamu di hadapan kami semua."
"Terutama dihadapan Freya."
"Dasar pembunuh." Anelis mendorong Bryan sampai di depan pintu.
"Anelis, aku mohon!!"
"Aku nggak bisa hidup tanpa Freya."
"Aku nggak bisa jauh-jauh dari Freya."
"Biarkan Freya tetap bersama ku."
"Aku mo,_"
BRAKK
Bryan memejamkan matanya saat pintu itu tertutup dengan keras dan rapat.
"****!!" Bryan meninju pintu unit apartemen. Ditempelkannya keningnya pada pintu dengan air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah juga. Bryan tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia hanya ingin Freya berada disisinya saat ini.
Bryan mengusap air matanya dan memencet pangkal hidungnya sambil menggeleng pelan karena sedikit pusing. Diambilnya handphonenya dan menghubungi nomor Freya.
"Sayang!! Hallo Freya!!" sapa Bryan saat panggilannya diangkat.
"Kamu jangan menangis. Aku janji akan berusaha untuk mendapatkan maaf dari Mama Marisa juga Anelis biar kita bisa berkumpul kembali."
"Kamu jangan nangis dan sedih."
"Ingat debay junior yang ada dikandunganmu."
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terjadi pada kalian berdua."
"Aku merindukanmu dan ingat kalau aku sangat mencintaimu." ucap Bryan lirih, dia tidak kuasa mendengar suara tangis istrinya disana.
"Sudah selesai kamu bicaranya." Bryan terkesiap saat mendengar suara Mama Marisa.
"Tanpa kamu beritahupun, Mama akan menjaga Freya juga calon cucu Mama."
"Dan jangan hubungi Freya lagi." tut..tut..tut..
Bryan mengusap wajahnya kasar. Dia menatap pintu unit apartemen dimana ada istrinya didalam sana. Mengambil nafas panjang dan dalam dan dihembuskannya perlahan, Bryan berlalu dari sana.
"Mama...Mama..." Bryan menaikkan sebelah alisnya saat menyadari sesuatu dan menyeringai jahat.
"Aku akan ikuti permainan kamu sayang."
"Kita lihat, siapa nanti yang bakal bertahan dan menyerah."
🍁🍁🍁
have a nice day
__ADS_1
thanks for like, vote, comment and gift
big hug 🤗🤗🤗