Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Mama sudah pergi.


__ADS_3

Sudah seminggu ini Freya berusaha menerima kenyataan bahwa dia masih memiliki seorang Ibu juga seorang Kakak. Dia juga berusaha melupakan masa lalu antara Anelis dengan Bryan, suaminya. Masa lalu bahwa suaminya adalah mantan tunangan dari Kakaknya sendiri yang baru dia ketahui.


Freya juga berusaha memberanikan diri untuk menemui Marisa dan Anelis namun dia tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu. Entah apa yang dia takutkan. Yang pasti Freya sudah seminggu ini men-stalking instagram milik Marisa juga Anelis secara diam-diam tanpa sepengetahuan Bryan. Dan dia juga tidak menemukan petunjuk apapun untuk mengetahui keadaan Marisa maupun Anelis. Mereka berdua seakan menghilang setelah dua hari paska meninggalnya Michel. Padahal dalam dua hari di awal dia mulai men-stalking mereka, Freya masih bisa melihat kegiatan Mama dan Kakak nya yang terlihat menyibukkan diri dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Dan selama dua hari itu Freya baru tahu kalau bakat memasak yang dia miliki, dia dapat dari sang Mama yang memang sering mengunggah vidio memasak ataupun hasil masakan yang diolahnya. Freya juga baru tahu kalau Mamanya itu juga seorang model.


"Pantas saja aku dulu selalu jadi pemenang saat ikut lomba fashion show dan selalu menjadi peran utama saat ada drama musikal di sekolah."


"Dan Bapak selalu memuji kehebatan ku dalam berakting yang katanya sangat mirip sama orang yang dikenalnya dulu."


"Dan aku baru sadar kalau yang Bapak maksud itu adalah Mama."


"Mama Lea juga Maura juga selalu memuji aku saat aku dijadikan model sama Mama Lea."


Freya tersenyum sendiri mengingat dirinya memiliki kesamaan dengan Marisa, sang ibu kandung. Selain dari wajah mereka yang hampir mirip dan bakat mereka juga sama. Sama-sama pintar memasak juga jago dalam dunia modeling.


"Ini sudah lima hari mereka berdua tidak memposting apapun di instagram."


"Mereka tidak apa-apakan?" Freya memandangi profil instagram Marisa Almeera dengan perasaan rindu bercampur cemas. Rindu ingin bertemu dan memeluk sang Mama dan juga cemas karena sudah lima hari ini Mama dan Kakaknya seperti menghilang di telan bumi.


"Aku mau bertemu Mama." mata Freya berkaca-kaca menatap foto sang Mama yang tersenyum begitu manis dengan pandangan menunduk menatap setangkai bunga mawar pink di foto profil instagram.


Freya menghapus kasar air matanya yang belum sempat menetes dan segera mengambil jaket yang Bryan belikan waktu liburan ke pulau Jeju kemarin selepas menikah. Dia membenarkan sebentar riasannya dan memasukkan handphone ke dalam tas. Dia segera keluar kamar dan menuju tempat tinggal sementara Marisa juga Anelis.


"Tunggu." Freya menghentikan langkahnya saat mengingat sesuatu. Dia menepuk keningnya pelan.


"Aku kan tidak tahu mereka tinggal dimana?" Freya terlihat berfikir sebentar. Hingga dia bertekad lebih baik datang ke kantor Bryan dan bertanya pada Bryan sekalian meminta sang suami untuk mengantarkan kesana.


"Itu jauh lebih baik dan aman." gumam Freya.


"Bunda mau kemana?" teriak Maura yang mau masuk ke ruang perpustakaan mini milik sang Ayah dan melihat Bundanya berpakaian rapi dan sepertinya akan keluar. Maura mengurungkan niatnya masuk ke ruang perpus dan mendekati Bundanya.


"Bunda mau kemana? Bunda mau ke kantor Ayah ya?" tanya Maura penasaran karena ini sudah menjelang siang.


"Iya sayang. Kenapa? Kamu mau ikut?" Freya tersenyum menatap Maura.


Maura menggeleng kepalanya cepat, dia menolak dengan tegas. "Tidak Bunda. Maura mau belajar saja karena sebentar lagi Maura akan ke Singapura mengikuti kompetisi."


"Baiklah, tapi jangan dipaksa belajarnya."


"Kalau sudah lelah istirahat. Oke!!" Freya mengusap rambut kepala Maura pelan yang di kepang dua.


"Oke Bunda" Maura memiringkan kepala dengan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum lebar.


Freya tersenyum kecil dan diciumnya puncak kepala Maura dengan sayang. "Bunda berangkat dulu ya sayang." pamit Freya dengan mengusap pipi Maura yang gembul.


Maura mengangguk, "Iya Bunda, hati-hati ya!!!"


Freya tersenyum dan berlalu keluar rumah, dia segera masuk mobil dan meminta sopir pribadinya mengantarkan ke kantor sang suami.


Freya segera turun dari mobil setelah mobil terparkir sempurna di depan lobby BRATA Grup. Dia lantas melangkahkan kakinya menuju lift khusus Presdir, CEO, dan Direktur. Dia ingin segera bertemu dengan suaminya dan meminta sang suami untuk mengantarkan dirinya bertemu dengan Mama juga Kakaknya.


Freya melirik meja Julian yang kosong dan hanya ada beberapa staff sekretariat yang ada di sana.


"Apa Mas Bryan rapat ya hari ini?" gumam Freya karena terasa sunyi di lantai dimana ruangan Wakil Presiden Direktur yang merangkap menjadi CEO dan staff nya terasa sepi.


Freya membuka perlahan pintu ruangan suaminya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Freya mengintip dan yang dia dapat suaminya sedang mengadakan rapat internal bersama sebagian staff nya. Buru-buru Freya kembali menutup pintu dengan pelan dan dia berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari meja kerja Julian dan ada di dekat jendela.


"Pantas saja sepi. Ternyata mereka sedang meeting internal."


"Kenapa juga harus di ruangan Mas Bryan? Kenapa nggak di ruang meeting saja." gerutu Freya yang sebenarnya sudah tidak sabar untuk meminta Bryan untuk mengantarkan dirinya bertemu Mama kandungnya.

__ADS_1


Dia kembali men-stalking instagram Marisa dan lagi-lagi dia tidak mendapatkan petunjuk apapun di instagram sang Mama. Di instagram milik Anelis pun sama saja dirinya tidak mendapatkan petunjuk.


"Mereka kemana sih sebenarnya." Freya merasa menyesal kenapa tidak dari kemarin-kemarin dia mau memaafkan Anelis juga mau menemui Marisa. Pasti sekarang dia tidak uring-uringan tidak jelas seperti sekarang ini. Dan entah kenapa hatinya saat ini tidak tenang dan ingin segera bertemu dengan sang Mama.


"Semoga Mama baik-baik saja."


"Maafkan Freya, Ma. Maaf Freya baru bisa menerima kehadiran Mama saat ini."


"Freya ingin bertemu Mama." Freya menunduk dengan mata terpejam meremas handphone nya dengan kedua tangan menahan sesak di dada karena dia begitu ingin bertemu dengan sang Mama untuk melepas rindu setelah sekian tahun lamanya dia tidak mendapat pelukan hangat dari Ibu yang telah melahirkannya.


"Sayang!!" Bryan mengusap rambut kepala Freya dengan lembut.


"Kamu sudah dari tadi disini?" tanya Bryan yang berdiri di depan Freya dan menundukkan kepala menatap Freya dari atas.


Freya mengusap air matanya yang hampir jatuh sebelum dia mendongak menatap Bryan dari bawah. Freya tersenyum pada suaminya dan berdiri dari duduknya.


"Baru saja."


"Sudah selesai meeting nya, Mas?" tanya Freya memastikan, karena kalau sudah selesai dia akan menyeret Bryan keluar dari kantor untuk mengantarkan dirinya.


"Baru saja selesai." jawab Bryan yang memang tadi sempat melihat Freya yang membuka pintu ruangannya namun ditutup kembali dan akhirnya dirinya memutuskan menunda meeting.


"Kenapa kamu kesini tidak bilang-bilang dulu sama aku."


"Dan kenapa kamu terlihat begitu sedih seperti ini?"


"Apa ada yang mengusik mu?" Bryan menatap wajah Freya yang terlihat sedih dan murung meski bibirnya memaksakan diri untuk memberikan senyuman untuk dirinya, namun sorot mata Freya tidak bisa membohongi Bryan kalau istrinya itu tidak dalam kondisi baik-baik saja dan itu membuat Bryan khawatir.


"Aku mau Mama." ucap Freya lirih dengan mata memerah menatap Bryan.


"Maksudnya???"


"Kamu ngidam ingin Mama. Begitu???" tanya Bryan yang belum paham keinginan Freya dan mengira istrinya itu sedang mengidam. "Aneh-aneh saja ngidam istri ku satu ini." batin Bryan.


"Oh mau bertemu Mama." Freya mengangguk cepat.


"Bukannya tadi pagi kamu sudah bertemu Mama sebelum Mama pergi menghadiri acara temannya di kota B." kata Bryan yang mengingat tadi pagi Freya selalu menempel pada Mama Lea sebelum Mama Lea pergi ke kota B.


"Mas Bryan ihhh...Kenapa nggak paham-paham sih dari tadi."


"Freya bukannya mau bertemu sama Mama Lea, tapi_"


Bryan mengangkat sebelah alisnya karena Freya menghentikan ucapannya. Dia masih menunggu kalimat apa yang akan Freya ucapkan karena Freya terlihat memberi jeda untuk mengambil nafas sejenak.


"Freya mau bertemu Mama Marisa." ucap Freya cepat dalam satu tarikan nafas panjang. Dia langsung memejamkan matanya karena akhirnya menyatakan keinginannya.


"Ohhh...Bertemu Mama Marisa." Bryan mengangguk-nganggukkan kepalanya baru paham akan keinginan istrinya.


Dia lantas duduk di sofa dan ditarik tangan Freya supaya ikut duduk dengannya. Disandarkannya punggungnya di sofa karena merasa lelah kakinya sudah capek berdiri terus, dan otaknya juga sudah penuh dengan pekerjaan dan masalah yang di hadapi perusahaannya saat ini. Ada yang menggelapkan dana perusahaan dan totalnya tidak sedikit. Saat ini dia sudah mulai meminta Rendy untuk mengaudit keuangan dalam jangka dua tahun terakhir ini.


"Memang siapa Mama Marisa itu?" tanya Bryan tanpa menatap Freya. Matanya terpejam memikirkan siapa yang telah berani menggelapkan uang perusahaannya saat ini. Jika sudah ketahuan orangnya yang man, Bryan tak akan segan untuk melenyapkan orang itu tanpa ampun. Entah itu orang yang dia kenal atau bukan, bahkan itu masih saudaranya dia tidak peduli. Karena menurutnya itu sudah tindakan kejahatan.


Mata Freya membola seketika saat suaminya itu tidak tahu atau mungkin lupa siapa Marisa. Freya yang kesal lantas melepas tangannya yang di pegang Bryan dengan kasar.


"Mas Bryan nyebelin." sentak Freya dan bergegas pergi dari kantor Bryan. Lebih baik pergi sendiri daripada minta Mas Bryan ngantar kesana, pikir Freya.


Bryan membuka mata memandang Freya yang sudah berjalan menuju lift. Keningnya mengkerut mencoba mengingat apa yang tadi dia katakan sampai Istrinya itu marah dan pergi.


"Mama Marisa?! Marisa!! Bibi Marisa!!"


"Astaga Bryan!!! Pantas saja istrimu marah." rutuk Bryan pada dirinya sendiri dan bergegas mengejar Freya yang hampir masuk lift. Bryan semakin melebarkan langkahnya sebelum lift itu tertutup. Dia baru ingat kalau dia tadi ada salah ucap pada Freya.

__ADS_1


"Shitt!!!" umpat Bryan saat pintu lift tertutup sempurna sebelum dirinya masuk ke dalam.


Bryan memencet beberapa kali lift khusus karyawan yang tak kunjung terbuka. Berbagai sumpah serapah dia lontarkan karena pintu lift tak kunjung terbuka. Dan dia juga kesal pada dirinya sendiri yang dengan bodohnya bertanya "siapa Mama Maris" pada Freya yang jelas-jelas ingin bertemu dengan Mama kandungnya.


Bryan akhirnya berhasil naik ke dalam lift dan langsung menuju lantai satu. Bahkan karyawan yang akan menggunakan lift tidak jadi masuk saat melihat CEO mereka ada di dalam sana. Mereka memilih mencari aman saja daripada mencari mati bila harus berdekatan dengan CEO dingin itu. Bisa-bisa tubuh mereka akan membeku seketika.


Bryan mempercepat langkahnya saat baru saja keluar dari dalam lift dan melihat istrinya itu menangis sambil menatap layar handphone.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Bryan khawatir kalau saja istrinya itu marah sama dirinya dan membuat wanitanya itu menangis.


"Heii lihat aku." di raihnya dagu Freya dan diangkat perlahan supaya dia bisa melihat dengan jelas wajah istrinya yang memerah karena menangis.


"Aku minta maaf. Aku benar-benar lupa."


"Maafkan aku ya, sayang!!" Bryan benar-benar menyesal karena telah membuat istrinya itu marah dan menangis. Direngkuhnya tubuh istrinya itu tanpa memperdulikan karyawan perusahaan yang melihat dirinya juga Freya. Masa bodoh saja, kan sudah nikah dan halal.


"Mama.." gumam Freya pelan dalam rengkuhan Bryan.


"Iya..Aku antar sekarang ke apartemen Mama Marisa." ucap Bryan dengan lembut.


Lebih baik menuruti keinginan istrinya terlebih dahulu dan urusan pekerjaan masih ada rendy juga Julian serta staffnya yang lain yang bisa dia percayai.


Freya menggelengkan kepalanya pelan. Dia mendongak menatap Bryan dari bawah.


"Mama sudah pergi." ucap Freya lirih dan suaranya sedikit serak.


"Maksudnya?" lagi-lagi Bryan gagal paham atau mungkin omongan Freya nya yang tidak jelas makanya dia tidak paham-paham.


Freya mengerahkan handphone nya pada Bryan. Supaya suaminya ini tidak gagal paham lagi dan segera paham supaya dia bisa bertemu Mama kandungnya.


Bryan melihat postingan di instagram Marisa Almeera. Profil itu mengunggah sebuah foto vidio singkat sebuah awan biru yang cerah dan juga terdapat awan putih yang bergerak perlahan.


Bryan membaca isi caption-nya.


"Even though we are in different places and very far away, but we are still under the same sky.


Mama loves you Freya, from the past, now and forever.


Goodbye my dear, Reya. 😘😘


Hug kiss from afar. 🤗"


"Mama pergi Mas...Mama pergi ninggalin Freya lagi."


"Ini semua salah Freya, Mas. Salah Freya."


Freya terus saja menyalahkan dirinya sendiri atas Mama Marisa yang pergi menjauh dari dirinya karena tak kunjung juga menemui sang Ibu dan mengakui kehadiran dan kebenarannya kalau Marisa itu Ibu kandungnya.


Bryan segera menghubungi Anelis untuk memastikan kebenaran kabar Marisa yang akan pergi dan kembali ke Spanyol atau Belanda, Bryan tidak tahu. Karena tidak ada nama tempat yang ditulis oleh Marisa. Bryan tidak ingin nantinya Freya akan terus menyalahkan dirinya sendiri akan Marisa yang pergi lagi untuk kedua kalinya dalam hidup Freya.


"Hallo Elis!!!"


"Apa Bibi Marisa benar sudah pergi dari sini?" tanya Bryan saat panggilannya diangkat oleh Anelis.


"Elis jawab!! Apa benar Anelis!!" bentak Bryan yang tak kunjung mendapat jawaban dari Anelis.


Dan itu semakin membuat Freya menangis semakin histeris.


"Setengah jam lagi berangkat."


🍁🍁🍁

__ADS_1


thanks for like, vote, comment and gift


big hug from far away 🤗🤗


__ADS_2