
Freya terlihat melamun saat menata dan memasukkan baju-baju dan perlengkapan Maura yang lain ke dalam koper. Entah kenapa dirinya merasa begitu berat melepas Maura untuk pulang ke tanah air dengan Opa dan Oma nya. Rasa kangen dan rindunya sama Maura belum terobati meski sudah bersama selama sebulan. Freya ingin Maura tetap tinggal lagi bersama dirinya dan Bryan untuk beberapa bulan lagi, tapi gadis kecil itu tidak mau.
"Maura ikut pulang sama Opa sama Oma juga Bunda. Maura nggak mau disini. Disini nggak ada temannya, terus nggak bisa sekolah seperti biasa. Maura ingin ketemu teman-teman Maura di sekolah. Maura kangen sama Afi sama Rindu sama Ifa sama Baim dan masih banyak lagi. Maura pokoknya mau pulang ke rumah, titik nggak ada komanya."
Freya menghembuskan nafas perlahan dan begitu berat. Maura sudah kekeh ingin pulang dan bertemu dan bermain dengan teman-temannya di sekolah dan itu membuat Freya akhirnya menurut saja meski hati terasa begitu berat untuk tinggal jauh dari sang putri.
"Astagfirullah!!!"
Freya beristigfar sambil mengusap dadanya saat sebuah tangan menepuk pelan pundaknya. Dia mendongak dan melihat ke samping siapa orang yang telah membuatnya kaget itu.
"Mas Bryan." ucap Freya lirih dengan senyum tipisnya dan terlihat begitu terpaksa. Dia mengalihkan pandangannya pada suaminya yang menatapnya dengan sorot mata penuh tanda tanya. Dia melanjutkan menata baju Maura ke dalam koper.
"Kenapa aku lihat dari tadi kamu melamun terus? Apa kamu tidak merelakan Maura untuk pulang besok?" tanya Bryan yang memang sedari tadi saat dirinya menimang baby Attar, dia melihat Freya melamun sembari menata dan merapikan baju Maura untuk dimasukkan ke dalam koper.
Freya hanya menggelengkan kepalanya dan tetap melanjutkan kegiatannya. Dia tidak berani menatap wajah bahkan mata suaminya karena saat ini matanya sudah mulai berembun dan mungkin sebentar lagi akan jatuh membasahi pipi mulusnya.
Bryan menghembuskan nafas kasar dan duduk di lantai di samping istrinya. Dipegangnya kedua pundak Freya dan ditariknya pelan menghadap dirinya. Bryan tersenyum tipis melihat istrinya yang menunduk tidak mau menatap dirinya itu.
"Jangan sedih." Bryan menangkup sebelah pipi Freya dan mengusapnya lembut.
"Kita hanya berpisah dua bulan saja dengan Maura dan habis itu kita kumpul lagi seperti dahulu. Kita kan bisa vidio call sama gadis kecil yang cantik dan cerewet itu." Bryan menghapus air mata Freya yang jatuh dari ujung mata sang istri sebelum air mata itu membasahi pipi mulus sang istri.
"Bukannya kamu sendiri kemarin yang akhirnya mengizinkan Maura untuk pulang? Kamu kasihan melihat Maura karena merengek sudah kangen sama teman-temannya di sekolah."
Freya mengangkat perlahan wajahnya menatap Bryan yang ada di hadapannya dengan tatapan sendu. "Tapi Freya juga masih kangen sama Maura." Air mata yang jatuh semakin banyak membasahi pipi Freya saat rasa kangen dan rindunya pada Maura belum sepenuhnya terobati.
Bryan menarik pelan tubuh Maura dan dibawanya ke dalam dekapannya. Diusapnya kepala dan punggung Freya dengan lembut dan tidak lupa Ayah dari dua orang anak itu menyapukan bibirnya beberapa kali di puncak kepala sang istri.
Jujur saja, Bryan juga merasakan hal yang sama seperti yang Freya rasakan. Dia juga belum puas melepas kangen dan rindu yang dimilikinya dengan putri cantiknya, gadis kecil dan cerewetnya, Maura.
Tapi sebagai seorang suami dan ayah, Bryan harus berusaha tegar dan tidak boleh bersikap lemah dihadapan anak dan istrinya atau nanti bakal membuat anak dan istrinya semakin sedih.
__ADS_1
"Iya aku tahu. Tapi apa boleh buat. Kalau kita tetap memaksa Maura untuk tetap tinggal bersama kita disini, yang ada Maura nanti tertekan dan banyak menuntut. Biarkan Maura pulang ke rumah. Kita bisa awasi putri kita dari sini. Hanya dua bulan, sayang. Kamu harus sabar ya." Bryan melepas dekapannya pada tubuh Freya.
"Sudah jangan menangis lagi, kasihan nanti baby Attar ikut menangis kalau Bundanya sedih terus ASI nya nanti keluarnya hanya sedikit. Kan Ayahnya jadi punya kesempatan untuk memijit squishy nya Bunda." goda Bryan dengan tangannya yang sudah berada di diatas salah satu squishy kembar milik Freya.
"Mas Bryan apaan sih. Modus aja." Freya menyingkirkan tangan suaminya sebelum tangan nakal itu meremas squishy nya.
"Modus sama istri sendiri kan tidak apa. Apalagi istrinya dengan suka rela memberikannya. Uhh..pahalanya langsung berlipat-lipat ganda." goda Bryan sambil mencolek dagu istrinya itu dan tidak lupa mencuri kecupan singkat pada bibir Freya yang selalu menjadi candunya.
"Iya nanti kalau Freya sudah suci lagi Freya akan dengan suka rela memberikannya kepada suami Freya. Tapi untuk saat ini kalau hanya atas saja rasanya kurang pu,_" Freya buru-buru menutup mulutnya. Dia merutuki mulutnya yang dengan lancarnya mengatakan suatu pernyataan yang membuat suaminya itu melebarkan senyumnya. Senyuman yang sungguh menjengkelkan untuk Freya saat ini.
"Kurang apa tadi sayang? Pu apa? Kalau bicara itu jangan setengah-setengah, dilanjutkan hayo. Pu apa tadi?" tanya Bryan dengan mengerutkan keningnya penasaran. Penasaran apa benar istrinya itu kurang pu-as kalau hanya di service bagian atas saja.
Freya mendengkus dan melanjutkan lagi kegiatan tanpa memperdulikan Bryan yang pura-pura tidak tahu arah pembicaraannya tadi. Sebenarnya dia begitu malu saat keceplosan mengatakan kalau dirinya kurang puas. Ahh...Kenapa juga harus keceplosan segala. Pasti saat ini suaminya itu tengah menertawakannya begitu puas.
"Ehh..Kok diam aja. Jawab sayang. Kurang apa?" tanya Bryan sekali lagi dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Freya.
"Kurang puas ya.." ledek Bryan dengan wajah songong nya yang membuat Freya semakin kesal sendiri karena malu sampai diejek suaminya sendiri.
"Mas Bryan ihhh..Nyebelin banget."
"Bunda!!"
Maura yang baru saja masuk kamar berjalan dengan langkah sempoyongan dan mata yang hampir terpejam menuju sang Bunda yang tengah duduk di lantai bersama sang Ayah.
"Maura ngantuk."
Maura langsung duduk dipangkuan sang Bunda dan meletakkan kepalanya pada dada sang Bunda sambil memeluk Bundanya erat. Matanya langsung terpejam dalam detik itu juga.
"Ayo tidur sama Ayah. Bunda masih menata pakaian Maura." tangan Bryan langsung ditepis sama Maura yang masih memejamkan matanya itu.
"Malam ini Maura mau tidur sama Bunda." Maura kembali memeluk Bundanya erat.
__ADS_1
Freya menatap Bryan dan langsung diangguki sama Bryan. Dia tahu maksud dari istrinya itu. Dia akan membiarkan Maura tidur bersama Bundanya dan sedangkan dirinya melanjutkan menata pakaian Maura yang tinggal sedikit yang belum dimasukkan ke dalam koper.
"Kakak bangun dulu. Bunda belum bisa gendong Kakak Maura." ujar Freya yang memang beberapa minggu yang lalu, sekitar dua minggu yang lalu jahitan bekas operasinya sempat mengeluarkan darah saat dirinya tidak sengaja atau mungkin lupa kalau dirinya baru saja operasi, wanita dari dua orang anak itu menggendong Maura.
Dan kejadian itu langsung membuat panik seisi rumah, terutama Bryan yang hampir saja memarahi Maura karena Maura yang menjadi penyebab istrinya pendarahan pada luka bekas jahitan operasi.
Dengan mata terpejam, Maura berdiri dari pangkuan sang Bunda dengan tangan memegangi tangan sang Bunda. Gadis kecil itu takut kalau sang Bunda membohonginya, karena beberapa hari yang lalu saat dirinya tidur bersama sang Bunda tapi saat bangun dirinya justru tidur bersama sang Ayah.
"Tolong lanjutin ya, Mas." pinta Freya setelah dirinya bangun dan berdiri dari duduknya.
"Ini dulu." Bryan menunjuk bibirnya minta dicium oleh istrinya itu.
Freya mencibir, namun tak urung wanita yang berstatus istri dari seorang Bryan Alvaro itu menuruti saja keinginan suaminya itu dan mencium bibir Bryan cepat sebelum suaminya itu meminta lebih
"Makasih istri cantikku." Freya hanya tersenyum saja menanggapi ucapan suaminya.
"Good night cantiknya Ayah. Nice dream."
Maura hanya mengangguk saja di pelukannya pada pinggang sang Bunda. Rasanya dia begitu berat untuk membuka mata dan mulutnya. Apalagi untuk berjalan, dia sudah begitu lelah dan mengantuk.
Freya membawa Maura menuju ranjang tidur dengan kakinya yang diinjak oleh putrinya itu. Dia bahkan sampai geleng kepala melihat Maura yang terlihat sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berjalan atau mungkin memang sudah malas untuk berjalan karena sudah sangat mengantuk.
"Sudah ayo tidur. Bunda akan menemani Kakak malam ini." Freya mengusap pelan kepala Maura dengan tangan satunya menepuk pelan pantat Maura.
Sedangkan Maura, gadis kecil itu terlihat begitu erat memeluk sang Bunda dalam tidurnya.
"Maura sayang Bunda."
Freya tersenyum mendengar gumaman Maura, putri kecilnya yang dulu selalu menguatkan dirinya tiap kali mendapat cemooh dari masyarakat sekitar karena hamil diluar nikah dan memiliki anak tanpa suami.
"Bunda juga sayang banget sama Maura. Putrinya Bunda yang sholeh, cantik dan pintar."
__ADS_1
Freya mencium lama kening putrinya yang tengah tidur dalam pelukannya itu.
"Selamat tidur putrinya Bunda."