Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Karena lupa, akhirnya jadi


__ADS_3

Sudah lima hari semenjak kembalinya Rendy ke rumah beserta membawa Rafa, anak santri yang dia adopsi. Dan selama lima hari ini juga Rendy juga Rafa tinggal di rumah keluarga Abrisam. Mengingat saat ini tidak ada yang bisa membantu dirinya kalau tinggal di rumahnya sendiri. Apalagi Mama Asti masih terbaring di rumah sakit, meski keadaannya jauh lebih baik semenjak melihat Rendy sudah pulang kembali.


Selama lima hari itu juga, Maura tidak mau berangkat sekolah. Dia mau menemani kakak Rafa yang ganteng, katanya. Takut kak Rafa kesepian di rumah sendirian.


Itu alasan yang Maura katakan, padahal di rumah keluarga Abrisam begitu ramai. Ada dua baby gemoy, baby Attar juga baby Candra. Jadi tidak mungkin Rafa akan kesepian. Apalagi Rafa juga terlihat begitu menyayangi kedua baby yang memiliki selisih umur delapan bulan itu.


Seperti hal nya pagi ini. Maura bangun tidur langsung mencari keberadaan Rafa karena tidak melihat kakak ganteng itu ada di dalam kamar yang ditempati Rafa dalam beberapa hari terakhir ini.


Maura berteriak-teriak memanggil nama Rafa, namun anak lelaki itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal Maura ingin sekali melihat wajah tampan kakak gantengnya itu. Meski sudah lima hari tinggal bersama, namun Maura belum puas bahkan tidak ada puasnya memandang wajah tampang dari seorang anak santri bernama Rafa yang begitu cuek pada dirinya.


"Kak Rafa!!! Kak Rafa dimana??"


Freya yang baru saja turun dari lantai dua sambil membawa dua botol kecil ASI hasil dari memompa ASI nya pagi ini. Dia terlihat menggelengkan kepalanya mendengar Maura yang berteriak mencari Rafa. Padahal saat ini Rafa diajak Rendy pulang ke rumahnya selepas subuh tadi, karena Rafa nanti sore sudah kembali lagi ke pondok pesantren untuk melanjutkan menuntut ilmu, juga mengejar beasiswa hafidz di Mesir.


"Kenapa sih kakak suka sekali berteriak-teriak. Ini masih pagi loh. Apa Kakak mau sekolah hari ini?" ucap Freya yang melewati Maura yang berdiri di antara ruang makan dan ruang keluarga. Dia terus melangkah menuju dapur bersih untuk menyimpan hasil pumping ASI nya.


"Maura kan sudah bilang Bun kalau Maura libur tidak masuk sekolah selama seminggu. Maura mau nemani kak Rafa. Kak Rafa kemana ya Bun?"


Maura mengikuti Bundanya yang terlihat menggeser dan menyusun botol-botol kecil yang berisi ASI. Disusunnya sesuai tanggal dan jam masuk botol ASI. Yang baru dimasukkan tadi di letakkan yang paling belakang.


"Tadi habis subuh Paman Rendy mengajak Kak Rafa pulang ke rumah. Kan nanti sore Kak Rafa kembali lagi ke pondok. Kak Maura lupa ya?"


Maura menghembuskan nafas kasar dengan wajah cemberut. Dia tidak lupa, dia sangat ingat kalau ini hari terakhir dirinya bisa melihat dan menatap wajah tampan Rafa. Tapi kalau Kak Rafa nya ada di rumah Papa Rendy, sudah dipastikan hari terakhirnya ketemu Rafa akan kurang puas.


"Kalau begitu Maura mau ke rumah Papa dulu ya, Bun." pamit Maura yang terlihat langsung berlalu pergi dari sana.


"Ehh sayang, kakak tunggu!!"


Freya mengejar Maura dan meraih tangan sang putri sebelum gadis kecil itu yang baru bangun tidur dan belum mandi mau pergi ke rumah Rendy yang jarak tempuh memakan waktu lima belas menit.


"Kenapa sih Bun? Maura mau ketemu Kak Rafa ini." rengek Maura dengan menggoyangkan tangannya yang dipegang oleh sang Bunda.


"Astaghfirullah, sayang dengarin Bunda. Maura boleh nanti pergi ke rumah Papa Rendy. Tapi nanti setelah kakak mandi dan juga makan, kalau tidak mau, kak Maura sekolah hari ini. Tidak ada penolakan."


Maura memberengutkan wajahnya mendengar perkataan Bundanya. Apalagi Bundanya saat ini tengah menatapnya begitu tajam dan tegas saat memberi dirinya peringatan. Mana berani gadis kecil membantah sang Bunda yang telah mengandung dan melahirkan dirinya juga menyusui dirinya selama dua tahun. Dia akhirnya mengangguk pelan.


"Dan ingat sayang." dengan lembut Freya mengusap kepala Maura. Tidak ada lagi tatapan tajam yang Freya berikan kepada sang putri. Dia berjongkok di depan putrinya.


"Kamu itu masih kecil, jalan hidup kamu masih panjang. Bunda tidak melarang kamu menyukai Rafa bahkan mengaku kalau kamu nanti bakal jadi calon istri Rafa. Tapi Bunda tidak mau putri cantik dan kesayangan Ayah dan Bunda ini nantinya kecewa kalau terlalu berharap. Apalagi kalian masih sangat kecil untuk merasakan itu. Bunda ingin kamu meraih cita dan impian kamu dulu. Dan selama itu juga, pantaskan diri kamu. Apa pantas kamu nanti bersanding dengan Rafa yang menjunjung tinggi agamanya itu. Apalagi Rafa nanti juga akan melanjutkan pendidikannya di Mesir. Bunda tidak ingin nanti putri Bunda yang cantik ini kecewa dan tersakiti."


Maura hanya diam menatap sang Bunda yang tengah memberikan dirinya petuah dan kuliah pagi yang begitu panjang. Dia meresapi dan mencerna semua kata yang keluar dari bibir Bundanya itu dengan seksama tanpa menyela maupun membantah.


"Lebih baik Kak Maura melanjutkan cita dan mimpi kak Maura selama ini yang ingin kuliah di Jepang. Jangan memikirkan Rafa nanti akan menjadi suami kamu apa tidak. Pikirkan itu nanti setelah kalian menyelesaikan pendidikan kalian masing-masing. Kalau Rafa memang jodoh sama Maura. Sejauh apapun kalian berpisah, nanti pasti akan bertemu juga. Seperti Ayah dan Bunda dulu. Perlu waktu lima tahun untuk kita bersatu menjadi suami istri."


"Jadi Bunda mohon sama kakak. Fokus ke sekolah dulu dan raih cita juga mimpi kamu, sayang. Nanti pasti ada waktunya untuk Kak Maura juga Rafa bertemu kembali dan menjalin hubungan. Biar Rafa melanjutkan pendidikannya dan kak Maura melanjutkan pendidikan juga. Mau kan sayang? Maura tidak mau kan membuat Bunda sama Ayah sedih dan kecewa?"


Maura masih menatap mata sang Bunda yang menatapnya penuh harap. Memohon dengan sangat kalau dirinya harus menurut dengan apa yang dikatakan oleh Bundanya itu. Sebenarnya apa yang Bundanya katakan itu memang benar dan itu memang yang terbaik untuk mereka. Tapi saat ini cita dan impian Maura sudah berubah. Cita dan impiannya saat ini adalah memiliki Rafa seutuhnya mulai sekarang. Tapi??? dia juga tidak mau melihat Ayah dan Bundanya sedih dan kecewa kalau tidak mau menurut. Apalagi dirinya masih terlalu kecil untuk memikirkan tentang cinta-cintaan.


Freya tersenyum tipis pada putrinya itu yang hanya diam menatapnya. Dia mengusap pelan pipi Maura dan berdiri dari duduknya. "Baiklah. Bunda tidak lagi mau mengurus kak Maura. Kak Maura sudah besar dan tidak mau menurut sama Bunda lagi." Freya berlalu menuju tangga untuk kembali ke kamar.


Maura menatap punggung Bundanya yang sudah hampir menaiki anak tangga pertama. Dia bingung, menurut Bundanya untuk melanjutkan pendidikan apa tetap mengejar Rafa untuk menjadi miliknya. Tapi mengingat usianya saat ini yang masih kecil, pasti perasaan yang dia miliki saat ini hanya perasaan sesaat. Bisa jadi nantinya bisa berubah saat melihat Lin Yi ataupun Xu Kai.

__ADS_1


"Maura mau mandi dan berangkat sekolah hari ini." teriak Maura setelah lama berpikir untuk memberi keputusan apa yang terbaik untuk dirinya. Dia berlari menuju lift, dia ingin segera sampai ke kamarnya dengan menaiki lift.


Freya menoleh dan tersenyum melihat pintu lift yang hampir tertutup dan ada Maura didalamnya. Akhirnya anaknya itu mau juga menurut pada dirinya. Bukannya Freya ingin melarang Maura untuk menyukai Rafa. Tapi dirinya takut nantinya rasa suka yang Maura miliki dari kecil pada Rafa berubah menjadi obsesi. Dan itu pastinya akan berdampak buruk pada putrinya kelak.


Biarlah waktu nanti yang akan menjawab. Jika memang Rafa dan Maura berjodoh, sejauh apa mereka berpisah dan saling menjauh. Kalau Tuhan sudah menetapkan mereka berjodoh pastinya akan bersama meski banyak rintangan yang akan mereka hadapi kedepannya.


Freya kembali melangkahkan kakinya menapaki anak tangga menuju kamarnya. Dia tersenyum saat melihat baby Attar sudah bangun dari tidurnya dan main dengan mainannya di box tidurnya.


Sambil melangkah mendekati baby Attar, Freya melirik diatas ranjang tidurnya yang sudah tidak ada sosok suaminya dan itu artinya suaminya sudah bangun dari tidur.


"Jagoan nya Bunda sudah bangun. Pintarnya tidak nangis." Freya mengusap kepala baby Attar yang ditumbuhi rambut yang cukup lebat.


Baby Attar hanya mendongak dan menatap sang Bunda sekilas. Baby gembul yang baru bangun dengan rambut acak-acakan itu kembali memainkan boneka brown miliknya.


"Yahhh...Bunda dicuekin." Freya berpura-pura sedih karena baby Attar terlihat asik dengan mainannya.


Baby Attar melihat Bundanya kembali dan melempar begitu saja boneka brown. Baby gembul itu berpegangan pada pagar box tidurnya untuk berdiri. Dia langsung merentangkan tangannya minta digendong sama Bundanya.


"Yah!!!"


Baby Attar menunjuk pintu kamar mandi yang ada di sebelah walk in closet.


"Iya Ayah lagi mandi. Adik mau mandi juga ya?" tanya Freya dan membawa baby Attar ke atas ranjangnya untuk melepas baju yang dipakai baby Attar.


"Yah..Nda Yah..."


Baby Attar terlihat tidak mau melepas baju tidur yang dipakainya. Dia terus saja menunjuk pintu kamar mandi.


"Yah!!!"


Hoeekkk


Freya menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu saat mendengar orang muntah didalam kamar mandi. "Mas Bryan kenapa?" batin Freya karena yang dia tahu didalam kamar mandi itu ada suaminya.


Dengan menggendong baby Attar, Freya mengetuk pintu kamar mandi saat kembali mendengar suara suaminya yang muntah.


Tanpa permisi, ibu dua orang anak itu masuk ke kamar mandi dan mendapati suaminya yang hanya memakai boxer dengan telanjang dada tengah berjongkok di depan closet.


"Mas Bryan kenapa?"


Freya mencoba membantu memijat leher belakang Bryan yang terlihat muntah. Tapi tidak keluar apapun, hanya cairan kuning yang keluar.


"Mas Bryan masuk angin? Kan Freya sudah bilang kalau tidur itu pakai baju. Jangan telanjang dada seperti ini, masuk angin kan jadinya."


Bryan hanya diam saja mendengar omelan Freya. Dia berjalan menuju wastafel dan mencuci mulutnya yang memang sudah sedari tadi dirinya muntah namun hanya cairan saja yang keluar.


"Kamu tega banget sih sayang omelin suami kamu saat seperti ini. Nggak kasihan apa."


Bryan merajuk, namun tubuh Bryan yang terlihat lemas itu tengah memeluk Freya padahal Freya saat ini tengah mengendong baby Attar.


Freya tersenyum tipis kala melihat suami nya yang merajuk. Dirinya mengusap punggung telanjang suaminya itu dengan pelan dan sesekali ditepuknya pelan.

__ADS_1


"Sayang!!! Kok aku merasa kamu sepertinya hamil lagi ya."


"Ngaco kamu, Mas." Freya memukul punggung Bryan karena tidak mungkin dirinya hamil, kan selalu pakai pengaman tiap kali mereka berhubungan.


"Eh sayang." Bryan melepaskan pelukannya pada Freya dan menatap istri dan anaknya itu berganti.


"Apa kamu lupa kalau kemarin aku sempat lupa tidak pakai pengaman karena sudah tidak tahan untuk masuk dan aku lupa mengelurkan nya di luar. Dan kamu waktu itu juga dalam masa subur-suburnya loh."


Freya membalas tatapan suaminya dengan kening mengkerut seperti tengah berusaha mengingat.


"Kamu tidak lupa kan? Sebentar lagi baby Attar akan punya adik lagi."


Bryan langsung mengambil baby Attar dari gendongan Freya. Baby gembul itu tertawa saat melihat Ayahnya yang tertawa dan berada di gendongan Ayahnya.


Freya menatap Bryan yang tengah menciumi wajah baby Attar. Dia segera membuka laci yang dekat dengan wastafel dan mencari benda yang dulu pernah dia simpan disana. "Semoga belum kadaluarsa." batin Freya.


"Kamu mau test sekarang, sayang?" tanya Bryan yang melihat Freya memegang benda pipih yang baru saja dibukanya.


"Iya..Aku takut dia sudah tubuh didalam. Apalagi aku masih menyusui baby Attar juga baby Candra. Aku takut saja yang didalam kekurangan gizi."


Bryan mengangguk paham dan menunggu istrinya itu melakukan test. Dia terus saja berdoa semoga feeling nya saat ini tepat. Karena beberapa hari ini otaknya sedikit lemot untuk diajak membahas sesuatu ditambah pagi ini dirinya muntah-muntah padahal dirinya merasa sehat saja. Dia merasa saat ini dirinya yang tengah mengidam.


"Sayang!!!"


Bryan melihat Freya yang menangis sambil memegang benda pipih panjang itu.


"Kenapa?? Negatif ya??"


Freya menangis kencang dan memeluk tubuh Bryan. Baby Attar juga ikut menangis karena melihat sang Bunda yang menangis.


Bryan meraih benda pipih yang dijatuhkan Freya ke lantai itu dengan kakinya. Matanya menyipit melihat hasil test dari benda itu. Kedua sudut bibirnya bergetar, terangkat keatas membentuk senyum yang begitu lebar.


"Aku akan punya anak lagi!!" seru Bryan yang begitu senangnya karena akan memiliki anak lagi.


"Ini salah Mas Bryan. Kenapa mengeluarkannya didalam dan tidak diluar, jadikan akhirnya." rajuk Freya yang masih menangis dipelukan Bryan. Dia tidak menyangka karena lupa akhirnya jadi.


"Maaf sayang. Namanya juga tidak tahan, kamu menggoda banget sih. Jadi lupa deh." Bryan tertawa saat mengingat dirinya sempat dimarahi Freya saat itu kala lupa mengeluarkan di dalam.


"Sudah jangan menangis lagi. Syukuri apa pemberian Tuhan saat ini, jangan mengeluh apalagi menyesal. Anak adalah titipan, anugrah dari Sang Kuasa. Bersyukurlah karena di beri titipan dengan mudahnya seorang anak oleh Allah. Karena diluar sana banyak yang masih menanti diberi anugrah, titipan seorang anak dari Allah."


Freya mengangguki perkataan suaminya itu. Dia sepatutnya memang harus bersyukur atas anugrah yang Allah berikan kepada dirinya saat ini.


"Alhamdulillah."


🍁🍁🍁


Masih lanjut ya, mungkin beberapa bab lagi baru end sungguhan dan ganti cerita baru...


Mohon dukungannya dan terima kasih untuk kakak-kakak semuanya


🤗🤗

__ADS_1



__ADS_2