
"Kapan sampainya, Paman? Kenapa lama banget tidak sampai-sampai? Maura sudah capek ini, mau rebahan di kasur yang empuk." keluh Maura yang sudah begitu lelah dalam perjalanan panjangnya untuk bertemu Ayah dan Bundanya.
"Paman Alex tidak bisa nyetir mobil ya. Lihat itu?!" Maura menunjuk jalan didepannya.
"Mobil Paman Bara sudah tidak terlihat lagi. Pasti Paman Bara sudah sampai rumah. Paman Alex lelet, tidak seperti Ayah, Paman Bara juga Papa Rendy yang begitu cepat kalau menyetir mobil, seperti pembalap yang handal." ejek Maura dengan mendengkus kesal dan bersedekap tangan, memalingkan wajahnya melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya.
Alex mendengkus mendengar celotehan Maura yang tidak ada habisnya sedari tadi. Kalau capek kenapa tidak diam dan tidur saja, pikirnya. Kenapa juga harus berceloteh ria tiada hentinya.
"Sabar Alex, sabar!!' Anak kecil memang seperti itu." ucap Alex dalam hati yang malas berurusan dengan Maura, yang ada nanti dirinya bakal ditendang sama Bryan dan tidak jadi mendapat mobil impiannya secara cuma-cuma.
"Maura, sini!! Tidur dulu dipangkuan aunty. Biar capeknya hilang meski hanya sedikit." kata Anelis yang duduk di kursi belakang Alex.
"Memangnya masih lama ya, Paman?" tanya Maura sambil menutup mulutnya karena menguap.
"Lumayan, sekitar setengah jam lagi." jawab Alex yang fokus dengan kemudinya.
"Benar sekitar setengah jam lagi, aunty Caca?" tanya Maura pada Caca yang duduk di belakangnya.
"Ih..Aunty kok tidur sih." Maura memukul jok mobil karena kesal melihat aunty nya tidur.
"Sudah sini, Maura sama aunty Ane saja. Istirahat sini." kata Anelis dengan mengulurkan tangannya untuk membantu Maura pindah ke kursi belakang dimana dirinya duduk.
"Paman!! Nggak boleh berisik, Maura mau tidur."
Alex hanya memutar bola matanya jengah. "Siapa yang berisik coba." batinnya. "Bukannya dia sendiri yang sedari tadi mengoceh terus seperti burung beo." gumam Alex dalam hatinya.
Alex melirik ke belakang karena sudah tidak terdengar suara apapun, "Tidur semua." batinnya. "Nasib jadi supir tidak ada yang ngajak ngobrol." gerutu Alex.
Mobil yang Alex kendarai terus melaju dengan kecepatan sedang hingga akhirnya sampai juga di tempat tinggal Bryan.
"Nona-Nona kita sudah sampai. Apa masih ingin tidur atau melanjutkan perjalanan lagi." kata Alex dengan suara lantangnya.
Anelis terbangun terlebih dahulu dan melihat sekeliling dan benar saja mereka sudah sampai ditempat tujuan.
"Ca!! Bangun Ca." Anelis membangunkan Caca terlebih dahulu sebelum turun dari mobil.
"Sudah sampai ya kak?" tanya Caca dengan suara serak khas bangun tidur dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
Anelis hanya mengangguk dan menggendong Maura turun dari mobil. Keponakannya itu terlalu lelap dalam tidurnya hingga tidak terganggu sama sekali.
Freya yang berada di dalam rumah bersama Mama juga kedua mertuanya yang baru sampai dan melepas rindu segera keluar rumah saat melihat mobil yang dikendarai Alex sudah tiba. Dia begitu rindu dengan anak perempuannya yang cerewet itu. Diikuti Bryan dibelakangnya, keduanya mendekat untuk menyambut putri mereka juga saudara perempuan mereka.
"Kak Ane kesini juga." tanya Freya dengan senyum bahagianya karena tidak menyangka kakaknya akan datang juga padahal lagi ada di Belanda.
"Tidak, ini hanya arwah ku saja." kata Anelis dan memberikan Maura pada Bryan. Sudah terlalu berat jika harus berlama-lama menggendong Maura.
Freya tertawa mendengar candaan Anelis. "Kak Ane bisa saja." Freya memeluk Anelis dengan eratnya untuk melepas rindu keduanya.
"Caca juga ikut berpelukan."
Freya juga Anelis tertawa melihat tingkah Caca yang seperti Maura padahal sudah lulus kuliah bahkan sekarang dia juga sudah bekerja bersama Mama Lea.
"Kak Ane janjian ya sama Mama? Kok sampainya barengan?" tanya Freya yang memang tidak mengetahui kalau Anelis akan datang juga ke Swiss.
"Iya..Dan aku meminta Mama merahasiakan dari kamu. Buat kejutan akhir tahun." kata Anelis dengan mengusap perut Freya.
"Iya..Dan aku terkejut banget dibuatnya." keduanya tertawa dan kembali berpelukan.
__ADS_1
"Brother!! Bantuin napa?!" seru Alex yang kesusahan membawa koper dari Nona-Nona yang tadi dijemputnya.
"Nggak lihat aku lagi ngapain." kata Bryan dengan menunjuk Maura dengan dagunya.
"Panggil saja itu si kompor meleduk." pinta Bryan karena tahu Bara saat ini tengah bersantai.
"Ayo kita masuk, diluar dingin." ajak Bryan pada Istri juga Anelis dan juga Caca.
Dengan kesal Alex menendang salah satu koper yang ada didekatnya saat melihat tidak ada satupun orang yang membantunya membawakan koper.
"Nyesel banget aku datang kesini. Kalau tahu hanya dijadikan kacung, mending melanjutkan liburan ku saja untuk bersenang-senang." gerutu Alex dengan kesal karena tidak bisa menikmati liburan panjangnya.
"Yang punya siapa, yang bawa siapa." Alex terus saja ngedumel sendiri karena kesal.
"Cantiknya Ayah capek banget sampai pulas banget tidurnya." kata Bryan setelah merebahkan Maura di atas ranjang.
"Dua bulan tidak ketemu, Maura kelihatan kurusan ya Mas." kata Freya yang duduk di sebelah Maura sambil mengusap surai Maura dengan pelan.
"Bukan Maura yang terlihat kurus, tapi kamu yang semakin berisi. Tambah semok.." Bryan menjembel lengan Freya dengan gemas.
"Freya seperti ini karena Mas Bryan. Semua ini karena Mas Bryan. Semua salahnya Mas Bryan." Freya menunjuk dada Bryan dengan kesal karena dibilang semok.
"Kok aku yang disalahin." protes Bryan yang merasa tidak memiliki salah apapun.
"Aku tidak punya salah ya, buktinya kamu selalu menikmati tiap kali aku ajak main sama 'Si Rosi'." goda Bryan dengan menoel pinggang Freya.
"Iya kan?? Kamu menikmatinya." Bryan terus saja menggoda Freya yang terlihat kesal bercampur malu itu. Dia begitu suka melihat Freya yang malu tiap kali membahas urusan ranjang.
"Mas Bryan sudah ih, nanti Maura kebangun." Freya terus saja menyingkirkan tangan Bryan yang tak hentinya menoel pinggangnya.
"Maaf, tidak sakit kan pinggangnya?" Freya menggelengkan kepalanya karena memang tidak merasakan sakit pada pinggangnya.
"Bunda!!" Maura terbangun dari tidur lelapnya.
"Sayang, putri Bunda yang cantik." Freya membantu Maura berdiri dan berpindah di pangkuannya.
"Maura kangen Bunda." Maura memeluk Bunda Freya dengan erat meski terhalang oleh perut Bundanya yang besar.
"Bunda juga kangen sama Kak Maura. Kangen banget." Freya mencium kening Maura cukup lama. Baru kali ini dirinya berpisah dengan Maura begitu lamanya sampai dua bulan. Biasanya hanya seminggu atau dua minggu saja.
"Kakak nggak kangen sama Ayah?" tanya Bryan sambil mengusap rambut kepala Maura dengan lembut.
Maura menggelengkan kepalanya, "Maura nggak kangen sama Ayah."
"Nggak kangen sama Ayah." Bryan mengulangi ucapan Maura dan diangguki oleh Maura.
"Jadi Kakak nggak sayang gitu sama Ayah?" lagi-lagi Maura mengangguk sambil menutup mulutnya untuk menyembunyikan tawanya.
"Sama. Ayah juga nggak kangen sama nggak sayang lagi sama Kakak Maura." Maura langsung membuka matanya dan duduk tegak sambil menatap tajam pada Ayah Bryan.
"Beraninya Ayah tidak sayang lagi sama Maura." protes Maura dengan berkacak pinggang juga mimik wajah yang terlihat garang.
"Kenapa? Bukannya Kakak juga tidak sayang lagi sama Ayah?" Bryan menahan tawanya saat melihat Maura yang ingin menangis. Mata putrinya itu sudah mulai berkaca-kaca dan hidung yang sudah mulai kembang kempis.
"Huwaaa!!!" Maura menangis dan berpindah pada pangkuan Ayahnya dan memeluk Ayahnya erat.
"Maura sayang sama Ayah. Maura juga kangen sama Ayah."
__ADS_1
"Ayah nggak boleh, Ayah harus sayang sama Maura. Huwaaa.."
Freya hanya tersenyum saja melihat Ayah dan anak yang saling merindukan dan saling sayang itu. Keduanya saling menggoda dan berakhir Maura yang selalu kalah, namun tetap saja menggoda Ayahnya.
"Bunda tidak dipeluk juga ini sama dedeknya." tanya Freya dengan tampang memelas.
"Tidak ada yang sayang ini sama Bunda."
Dengan sesenggukan Maura memegang tangan Bundanya, "Sayang Bunda. Maura sama Ayah sayang sama Bunda."
Ketiganya saling berpelukan melepas rindu dengan putri kecil mereka. Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk ketiganya saling berjauhan. Apalagi usia Maura bisa dibilang masih terlalu kecil untuk tinggal berjauhan dengan orang tuanya.
"Argghh...Aduchhh...Sakit banget!!" rintih Freya tiba-tiba membuat ketiganya melepas pelukan mereka masing-masing.
"Bunda!! Bunda kenapa?" Maura menangis lagi melihat Bundanya yang merintih kesakitan.
"Ayah, Bunda kenapa?" Maura menarik lengan Bryan yang terlihat panik sendiri dengan keadaan Freya yang kembali merasakan sakit.
"Sayang, kamu nggak akan melahirkan sekarang kan?"
"Jangan sekarang ya!? Ditunda dulu lahirannya, seminggu lagi saja lahirnya tidak apa atau dua hari lagi juga tidak apa." kata Bryan sambil mengusap perut Freya berharap Freya tidak melahirkan hari ini juga.
Freya yang mendengar perkataan Bryan begitu kesal dengan suaminya itu. Bukannya menenangkan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasa, justru mengatakan sesuatu yang membuatnya begitu kesal dan geram. Mana ada lahiran bisa ditunda? Memangnya jadwal penerbangan apa.
"Aduchh aduchhh aduchhhh!!!!" rintih Bryan kesakitan saat lengannya dicubit sama Freya.
"Sakit sayang." keluh Bryan sambil mengusap bekas cubitan pada lengannya.
"Mas Bryan itu nyebelin tahu nggak sih." protes Freya.
"Sudah tahu istrinya kesakitan, bukannya ditenangkan juga dihibur malah mengatakan yang bukan-bukan." sungut Freya dengan kesalnya.
"Ya maaf sayang." ucap Bryan
"Aku hanya tidak ingin saja apa yang aku siapkan buat malam ulang tahunmu nanti bakal sia-sia. Kan mubasir sayang."
"Apalagi aku juga mau menghabiskan malam tahun baru buat nengokin Bryan Junior." kata Bryan dengan santainya tanpa memikirkan Freya yang masih merasakan sakit pada pinggangnya.
"Tengok, tengok. Nggak ada acara tengok menengok." sarkas Freya dengan kesalnya yang menahan rasa sakit dipunggung.
"Ayah jauh-jauh dari Bunda." Maura mendorong Ayahnya yang akan mendekat pada Bundanya.
"Maura tidak mau Bunda kesakitan lagi kalau Ayah dekati." imbuh Maura dengan lantang.
"Ayo Bunda, kita keluar temui Oma sama Opa." Maura menarik tangan Bundanya dan diajak keluar dari dalam kamar.
"Terus gimana nanti malam, sayang? Aku sudah menyiapkan tempat dinner buat kamu nanti malam." kata Bryan yang masih duduk diatas ranjang dengan memandang anak dan istrinya yang tengah berjalan keluar.
"Bunda tidak akan kemana-mana. Nanti malam Bunda tidur bersama Maura, Ayah tidur sendiri saja."
”Maura tidak mau melihat Bunda kesakitan karena dekat dengan Ayah."
Bryan menganga lebar mendengar perkataan Maura yang seperti orang dewasa. Ditambah pasti Maura bakal posesif sama Freya, apalagi Freya saat ini tengah menahan sakit pada punggungnya.
"Gagal lagi dong!! Argghhh!!!" Bryan menggusar kasar rambutnya.
"Kenapa tiap kali mau dinner sama Freya selalu gagal, gagal, dan gagal terus?!!"
__ADS_1