
Rendy berjalan menyusuri lorong koridor kampus dimana Bryan mengajar sebagai Dosen di universitas yang Papa Abri dirikan. Dia terlihat tergesa-gesa dalam berjalan seperti ada sesuatu yang mendesak dan darurat. Rendy mengetuk salah satu pintu ruangan Dosen dan segera masuk setelah mendapat sahutan dari dalam.
"Maaf menggangu anda, Tuan Muda." kata Rendy setelah berdiri tepat di depan meja kerja Bryan.
"Hmm.." Bryan hanya berdehem matanya fokus dengan lembaran-lembaran kertas dan tidak menatap Rendy karena masih sibuk dengan makalah dari mahasiswanya.
Cukup lama Rendy berdiam tidak mengeluarkan suaranya. Dia tahu Bryan saat ini sibuk tapi ini juga hal yang mendesak yang harus Bryan selesaikan dengan segera supaya Freya cepat kembali pada Bryan dan Rendy sendiri bisa menyelesaikan misinya untuk merebut miliknya kembali yang hampir saja diambil oleh Alex.
Bryan menatap Rendy yang tak kunjung mengatakan apapun itu. Dan itu justru semakin membuat Bryan kehilangan konsentrasinya.
"Ada apa?" tanya Bryan yang melihat raut wajah Rendy yang terlihat tegang itu. Dia meninggalkan pekerjaannya merevisi beberapa makalah yang dibuat oleh mahasiswanya.
"Apa Freya sudah ketemu?" tanya Bryan lagi yang langsung berdiri dari duduknya dengan wajah serius menatap tajam pada Rendy. Dia berharap penuh Rendy menjawab "Iya, Tuan. Nona Freya sudah ketemu."
"Maaf Tuan, Nona Freya belum ketemu." jawab Rendy dengan menundukkan sedikit kepalanya. Tujuannya menemui Bryan di saat Bryan sibuk dengan kerjaannya bukan untuk membahas Freya, namun untuk membahas yang lainnya.
Bryan mengeraskan rahangnya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Rendy. Sudah lebih dari seminggu namun tidak ada titik terang keberadaan Freya. Sedikitpun jejak Freya tidak terlihat seperti hilang di telan bumi.
"Dasar tidak becus dalam bekerja." umpat Bryan kesal pada Rendy dan langsung mendaratkan kembali pantatnya di kursi dengan kasar. Nafasnya memburu mengingat semua anak buah yang di kerahkan oleh Rendy untuk mencari keberadaan Freya tidak satupun dari mereka yang menemukan jejak Freya.
"Maaf Tuan. Tujuan saya menemui anda bukan untuk membahas Nona Freya."
"Tapi membahas Tuan Andre yang sudah ada disini dan ingin menemui anda." ujar Rendy dengan tenang meski wajahnya masih sedikit ada ketegangan. Dia tidak ingin Bryan meluapkan amarahnya kepada Andre karena kepergian Freya. Apalagi saat ini Andre datang bersama Anelis, penyebab kesalahpahaman antara Bryan dengan Freya.
Bryan memicingkan matanya menatap Rendy. Apa nggak salah dengar aku tadi? Andre ingin menemui ku? Berarti Andre sudah kembali kesini? batin Bryan yang memang tidak mengetahui kabar terakhir Andre karena pikirannya saat ini dipenuhi oleh keberadaan dimana Freya saat ini.
"Andre kamu bilang?" tanya Bryan memastikan kalau dia tidak salah dengar. Andreas Dewa Pramudya, adik sepupunya, anak dari Marta Dyah Abrisam atau biasa Bryan panggil Bibi Arta dengan Samuel Pramudya.
"Benar, Tuan. Sekarang Tuan Andre ada di restoran seberang kampus menunggu Anda." ucap Rendy yang memang tadi mendapat kabar dari Andre langsung.
Bryan melirik tumpukan makalah yang belum dia revisi begitu banyak. Dia tadi tidak bisa konsentrasi karena dipikirannya hanya ada Freya, Freya dan Freya saja. Hingga membuatnya berulang-ulang dalam membaca. Dan pekerjaan itu sudah empat hari ini belum juga kelar. Biasanya dia hanya membutuhkan waktu dua hari saja. Tapi sekarang dia tidak bisa. Otaknya sudah dipenuhi oleh Freya.
Bryan menghembuskan nafas pelan, dengan terpaksa dia harus meninggalkan pekerjaan lagi yang belum kelar juga itu untuk menemui adik sepupunya. Dia harus segera menemui Andre untuk menyelesaikan masalah masa lalu dan berharap setelah itu Freya akan ketemu dan bisa hidup bahagia kembali dengan Freya. Meski baru dua tiga bulan mereka menikah, tapi Bryan merasa bahagia, nyaman dan damai saat bersama Freya. Dan bersama Freya lah dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.
"Antar kesana sekarang." Bryan berdiri dari duduknya dan mengambil handphonenya dan disimpannya di saku kemeja. Bryan juga tidak lupa mengambil jas yang dia gantung dan segera memakainya.
Mereka berdua segera keluar dari area kampus menggunakan mobil, Bryan malas kalau harus berjalan dan menyeberang jalan menuju restoran. Lebih baik naik mobil dan nanti bisa langsung pergi tanpa harus kembali lagi ke kampus.
"Dimana dia?" tanya Bryan setelah memasuki restoran dan menatap sekeliling namun tidak menemukan sosok Andre.
"Tuan Andre memesan ruangan privat, Tuan." kata Rendy dan mengantar Bryan menuju ruangan dimana Andre berada.
Bryan memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya masuk ke ruangan yang telah dibuka pintunya oleh Rendy. Dia masuk dan melihat dua orang yang langsung berdiri saat melihatnya masuk.
"Andre!! Anelis.!!" batin Bryan yang gemuruh menahan kesal dan amarah mengingat karena mereka lah Freya pergi meninggalkan dirinya. Karena mereka lah dirinya dan Freya terjadi kesalahpahaman. Terutama sama Anelis.
"Hai Kak!!" sapa Andre mendekat ke Bryan yang juga berjalan menuju ke arahnya.
"Lama tidak ketemu." dengan tersenyum Andre memeluk kakak sepupunya, Bryan.
Bryan hanya diam saja tidak membalas pelukan saudara sepupunya itu. Dia bukan marah karena Andre punya hubungan bahkan punya anak dengan Anelia. Dia hanya kesal dan marah karena mereka penyebab Freya pergi dari dirinya.
Sampai saat ini Bryan selalu menyalahkan Andre dan Anelia atas perginya Freya dari kehidupannya. Padahal disini yang salah tidak hanya Andre dan Anelis saja. Bryan juga salah karena sudah berani merangkul bahkan memeluk Anelis yang notabennya hanya seorang mantan disaat berduaan saja. Bryan sendiri terlihat tidak sadar akan kesalahan yang telah dilakukannya itu.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Ka Bryan?" tanya Andre setelah melepas pelukan yang tidak dibalas sama sekali oleh Bryan.
Bryan hanya melirik Andre dan duduk begitu saja tanpa peduli Andre yang tadi mengundangnya untuk bertemu.
Andre menghembuskan nafas pelan melihat kelakuan saudara sepupunya itu. Dia sudah terbiasa dengan sikap Bryan seperti itu karena mereka berdua tumbuh bersama sejak kecil. Andre melirik Rendy dan meminta asisten Bryan itu untuk ikut duduk juga.
"Apa yang ingin kalian berdua bicarakan dengan saya?" tanya Bryan tanpa basa-basi. Dia sebenarnya tidak berniat untuk menemui Andre maupun Anelis. Tapi mengingat Freya pergi karena mereka, Bryan akhirnya menyetujui ajakan Andre untuk bertemu dan ternyata ada Anelis juga di sana.
"Aku mau minta maaf sama Kak Bryan." kata Andre setelah terjadi keheningan beberapa menit. Andre akhirnya memberanikan diri untuk meminta maaf.
"Maaf???" Bryan memicingkan matanya menatap Andre.
"Maaf buat apa?"
"Memang kamu punya salah apa sama saya?" tanya Bryan dengan tenang seolah belum tahu apa-apa tapi dari nada suaranya saja sudah membuat ruangan itu semakin dingin sampai menusuk tulang.
Andre maupun Anelis hanya mampu menelan salivanya kasar untuk membasahi tenggorokannya. Bryan pura-pura tidak tahu, pikir Andre dan juga Anelis.
"Kalau seperti ini, aku yakin kak Bryan sudah benar-benar kecewa sama aku." batin Andre.
Andre melirik Anelis yang duduk disebelahnya dengan kepala menunduk sambil meremas kedua jari tangannya.
"Maaf aku telah berselingkuh dengan Anelis di belakang kak Bryan."
"Dan maaf juga aku telah menghamili Anelis." kata Andre memberanikan diri tetap menatap Bryan.
"Saya bukan siapa-siapanya wanita yang kamu sebutkan tadi setelah dia pergi tanpa ada penjelasan sedikitpun."
"Tidak ada gunanya."
"Sebaiknya kalian minta maaf dan jelaskan ke istri saya, bukan pada saya."
"Terutama kamu." Bryan menatap tajam pada Anelis. Tatapan setajam burung elang itu mampu menembus relung hati Anelis yang paling dalam hingga membuat hati Anelis terasa begitu sakit.
"Karena kamu menemui saya kemarin, Freya jadi salah paham dan akhirnya pergi entah kemana." geram Bryan dengan mengeraskan rahangnya juga mengepalkan tangannya begitu erat.
Anelis terkesiap, dia tidak tahu kalau Freya sampai pergi meninggalkan Bryan. Dia tidak bermaksud membuat Freya pergi meninggalkan Bryan. Dia menemui Bryan hanya untuk minta bantuan sama Bryan supaya Andre kembali untuk anaknya yang saat ini sedang kritis.
"Fre-Freya pergi.." suara Anelis terasa tercekat. Adiknya pergi meninggalkan Bryan karena dirinya. Dan kemana perginya Freya? batin Anelis yang merasa sedih karena membuat adiknya sakit hati dan salah paham.
"Nggak usah sok sedih kamu."
"Saya tahu kamu senang Freya pergi sesuai rencana mu dengan Manda." kata Bryan dengan nada dingin.
"Rencana sama Manda?" Andre menatap Anelis dan Bryan bergantian karena dia tidak tahu soal ini.
"Maksudnya apa ini?" tanya Andre dengan jiwa penasarannya yang tinggi. Karena setahu dia Manda itu wanita yang licik dan Manda itu dari keluarga Hertanto yang dimana sepupunya Manda telah membunuh Nesa, adiknya Bryan.
Bryan diam saja tidak menjawab pertanyaan Andre. Dia malas untuk menjelaskannya. Dia hanya ingin Freya sekarang, ingin bertemu dan memeluk Freya dan tidak membiarkan Freya pergi lagi dari dirinya.
"Bisa kamu jelaskan Anelis." kata Andre dengan tegas menatap lekat mata Anelis. Lebih baik bertanya pada Anelis daripada Bryan yang terlihat diam namun aura dinginnya masih saja melekat di wajahnya.
"Emm..Nn-nanti aku jelaskan, tapi tidak sekarang." ucap Anelis sedikit gugup. Gugup bukan karena takut sama Andre, tapi takut Freya kenapa-kenapa. Adik yang dulu selalu dia tanyakan keberadaannya kepada Mamanya hingga dia marah dan berakhir tidak mau mengakui Mamanya sendiri hingga memanggilnya Aunty.
__ADS_1
Sekarang dia sudah menemukan adiknya, tapi justru kehadirannya membuat adiknya terluka bahkan dia sempat menyebut kalau adiknya itu wanita murahan.
"Bryan...kemana perginya Freya?" tanya Anelis dengan mata berkaca-kaca menatap Bryan yang terlihat memikirkan sesuatu itu.
"Ren..kamu pasti tahukan Freya pergi kemana?" tanya Anelis pada Rendy karena tak kunjung mendapat jawaban dari Bryan. Dia yakin saat ini Bryan sedang memikirkan keberadaan Freya.
"Maaf Nona, saya tidak tahu."
"Saya sendiri juga sedang mencari keberadaan Nona Freya." ucap Rendy apa adanya. Tidak mungkin dia akan mengatakan sebenarnya. Bisa habis dia nanti dihajar Bryan karena berani membohongi dirinya dan kerjasama dengan orang rumah.
Anelis terlihat begitu sedih, bagaimana dia memberi kabar ini pada Mama Marisa. Padahal Mama Marisa ingin sekali bertemu dengan Freya dan meminta maaf pada putri bungsunya itu. Namun Freya tak kunjung mengiyakan permintaan Mamanya itu dan sekarang justru Freya pergi menghilang lagi.
Bryan berdiri dari duduknya, dia menatap Anelis dan Andre bergantian.
"Lebih baik segera selesaikan masalah kalian."
"Dan segera akhiri kerjasama mu dengan Manda." mata Bryan tertuju pada Anelis yang masih sedih karena mendengar kabar Freya pergi entah kemana.
"Setelah selesai segera jelaskan semuanya pada Freya supaya dia cepat kembali."
"Seminggu!! Aku kasih waktu buat kalian seminggu."
Bryan langsung bergegas pergi keluar dari ruangan privat itu diikuti Rendy. Bryan tidak kembali lagi ke kampus, dia minta Rendy untuk diantarkan ke apartemen pribadi milik Bryan.
"Buka pintunya, Ren!" Sentak Bryan saat melihat Rendy justru menghentikan langkahnya dan terlihat menahan kesal dan amarah melihat dua sejoli yang baru saja turun dari mobil. Siapa lagi kalau bukan Mutia dengan Alex yang akhir-akhir ini sering jalan berdua.
Rendy melanjutkan langkahnya dan memberikan kunci mobil pada Bryan.
"Tuan pergi saja sendiri."
"Dan lebih baik Tuan stop meminum alkohol."
"Segera juga meminta maaf pada Nona Freya dan jelaskan semuanya."
"Jangan lupa menyatakan cinta juga supaya Nona Freya bisa lebih percaya sama anda dan tentunya tidak akan berfikir yang bukan-bukan tentang anda."
"Saya izin mengurus masa depan saya terlebih dahulu."
Bryan menatap Rendy yang kembali masuk ke dalam restoran. Bryan diam sejenak mencerna perkataan Rendy barusan.
Bryan menghembuskan nafas pelan dan segera masuk ke dalam mobil dan dia kemudian sendiri tidak menuju ke apartemen melainkan menuju ke rumah orang tuanya yang selama ini dia tinggal di sana setelah menikah dengan Freya.
"Maura...Aku akan mendekati Maura lagi setelah itu meminta maaf pada Freya yang entah dimana dia sekarang."
🍁🍁🍁
Have a nice day
Thanks for like, vote, comment and like
Big hug 🤗🤗
dewi widya
__ADS_1