Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Kejutan yang justru membuatnya terkejut


__ADS_3

"Assalamualaikum!!!" salam Maura dan Caca dengan setengah berteriak.


Mereka baru saja kembali dari kampus Caca. Ya,Maura tadi ikut Caca ke kampus. Katanya ingin ketemu dosen ganteng yang jago Matematika selain Ayah Bryan tentunya dan Maura tadi juga merengek tidak mau ikut class home schooling. Bosen katanya,nggak ada teman yang di ajak bermain dan di jahili.


"Walaikumsalam." balas Mama Lea yang masih berada di ruang keluarga menunggu Freya yang tak kunjung keluar dari toilet.


"Kalian kok sudah pulang? Cepat banget." tanya Mama Lea.


"Ini baru jam sebelas loh." imbuh Mama Lea pada Caca yang tadi izin ke kampus untuk mengumpulkan tugas.


"Kan cuma ngumpulin tugas saja,Ma. Lagian aku nggak ada kelas jadi langsung pulang lagi." jelas Caca yang sudah mendaratkan pantatnya di sofa bersama Maura juga yang tengah makan coklat.


Tadi Caca dapat coklat dari seorang pria yang katanya penggemar rahasia Caca dari semenjak Caca masuk ke kampus. Caca menerima coklat itu tapi langsung diminta sama Maura dan dengan senang hati Caca memberikan coklat itu pada Maura di depan pria itu.


"Kenapa coklatnya dikasih ke adik kecil ini?" tanya pria itu menunjuk Maura.


"Kamu ikhlas nggak ngasih aku coklat?" tanya Caca balik.


"Ya ikhlas dong. Aku kan membelinya khusus buat kamu." kata pria itu.


"Coklatnya kan sudah aku terima." pria itu mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Ya pria yang memberikan Caca coklat itu pria kutu buku dan pemalu. Meski Caca akui kalau pria itu ganteng tapi kalau terlihat cupu Caca juga tidak mau.


"Jadi boleh dong coklatnya aku kasih ke adik aku."


"Coklat itukan sudah jadi hak aku."


"Jadi kamu jangan marah ya." Caca menepuk pelan pundak pria yang memberinya coklat sebelum akhirnya pergi dari sana bersama Maura.


"Thank you, uncle." ucap Maura sambil mengangkat coklat yang ada di genggaman tangan miliknya sendiri. Dia akhirnya ikut pergi bersama Caca setelah tangannya di tarik Caca untuk pergi dari sama.


"Bunda mana Oma?" tanya Maura yang tidak melihat Bundanya. Biasanya Bundanya kalau siang begini ada di dapur kalau nggak begitu pergi ke kantor Ayahnya, Bryan.


"Bunda Maura lagi di toilet." jawab Mama Lea dengan wajah yang terlihat gelisah. Dia menanti hasil test yang Freya lakukan di toilet. Apakah tebakannya benar apa tidak.


"Mama kenapa sih? Gelisah banget kelihatannya." tanya Caca menatap Mama Lea curiga. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Mamanya itu.


"Tidak!! Mama tidak apa-apa."


"Mama hanya kesal saja karena nggak ada duit buat keluar."


"Mama nggak bisa kumpul sama teman-teman Mama." kilah Mama Lea yang berusaha tenang. Padahal dipikirannya saat ini apakah Freya benar hamil apa tidak.


"Siapa suruh Mama menjadikan kak Freya modelnya Mama." cibir Caca.


Caca memicingkan matanya menatap sang Mama curiga. "Pasti Mama lagi menyembunyikan sesuatu." batin Caca yang merasakan ada sesuatu antara Mama dan kakak iparnya.


"Freya bagaimana?" tanya Mama Lea yang langsung berdiri dari duduknya saat melihat Freya yang sudah keluar dari toilet dan berjalan menuju arahnya.


"Bagaimana hasilnya? Sini Mama lihat?" Mama Lea terlihat begitu antusias ingin melihat hasilnya.


Caca dan Maura saling pandang melihat Mama Lea yang terlihat begitu akrab dan dekat dengan Freya. Karena mereka tahu Mama Lea tidak seakrab dan sedekat itu sama Freya. Dekat kalau ada maunya, contohnya untuk membuatkan makanan khas Belanda ataupun meminta Freya untuk di jadikan model. Baru Mama Lea akan mendekat pada Freya dengan sendirinya.


"Mana Mama mau lihat." ulang Mama Lea dengan menjulurkan tangannya ke pada Freya.


"Benarkan dugaan Mama?" tebak Mama Lea saat melihat wajah Freya yang terlihat bahagia namun dengan sorot mata kesedihan.


Freya tersenyum kecut dan menggerakkan tangannya yang memegang lima jenis macam tespek itu kepada Mama Lea yang sedang menjulurkan tangannya itu.


"Apa ini?" settt...Caca merebut kelima benda pipih dan panjang itu dengan cepat tanpa perlawanan dari Freya.


Senyum Caca mengembang, bibirnya ketarik semakin lebar saat mendapati kelima benda pipih dan panjang itu bergaris merah dua. Dia menatap Freya dan Mama Lea bergantian.


Aarrggghhhhhh


Teriak Caca dengan hati gembira memeluk Freya dengan erat sambil menggerakkan tubuhnya kekanan dan kekiri membuat Freya ikut bergerak kekanan dan kekiri juga.


"Aku akan dapat keponakan lagi!!" seru Caca dengan suara lantang hingga membuat Freya yang masih berada di pelukan Caca meringis merasakan telinganya yang mendengung. Suara Caca benar-benar merdu. Merusak dunia.


"Keponakan?" gumam Maura mengulang salah satu perkataan Caca.


Dia menatap Omanya yang wajahnya memancarkan kebahagiaan itu. Mama Lea terlihat senang, terbukti dia menyunggingkan senyum menatap kelima benda pipih dan panjang itu yang dia ambil dari tangan Caca.


"Oma!! Apa Maura akan punya adik?" tanya Maura dengan menarik baju yang Omanya kenakan dan mendongakkan kepalanya menatap Oma Lea.


Mama Lea menundukkan kepalanya menatap cucu perempuannya itu dengan senyum. Dia mengangguk membenarkan pertanyaan Maura.


"Iya!! Maura akan punya adik. Sebentar lagi Maura akan menjadi kakak." ujar Mama Lea dengan perasaan bahagia.


Maura yang senang ikut memeluk Bundanya yang masih di peluk Aunty Caca nya.

__ADS_1


"Terima kasih Bunda, akhirnya Maura punya adik." kata Maura yang memeluk Bundanya itu.


Caca melepaskan pelukannya pada kakak iparnya saat mendengar suara Maura.


Freya tersenyum dan mengusap rambut kepala Maura dengan sayang. Bahkan dia sampai meneteskan air mata kebahagiaan.


Mama Lea tiba-tiba memeluk Freya dengan erat. "Terima kasih sudah memberikan cucu lagi di keluarga Abrisam. Jaga cucu Mama dengan baik sampai dia lahir nanti."


Air mata Freya semakin deras jatuh ke pipi mulusnya saat mendapat ucapan terima kasih dari Mama Mertua dan juga mendapat pelukan yang begitu hangat. Pelukan seorang Ibu yang sudah hampir tiga tahun tidak dia rasakan semenjak Ibu Arini, Ibu yang merawatnya dari bayi meninggal.


"Mama.." suara Freya tercekat memanggil Mama Lea. Dia tidak menyangka kabar kehamilannya ini di sambut bahagia oleh Mama Lea. Bahkan Mama Lea langsung memeluknya begitu erat dengan usapan tangan yang begitu hangat. Juga ucapan yang langsung membuat Freya merasa menjadi menantu paling di sayang di keluarga Abrisam.


Mama Lea melepas pelukannya. "Nggak usah nangis dan sedih seperti ini. Kasihan nanti bayinya, dia masih kecil." Mama Lea mengingatkan Freya sambil mengusap lembut lengan Freya.


Freya mengangguk sambil menghapus air matanya dan sesekali dia tersenyum senang menatap Mama mertuanya itu yang terlihat begitu bahagia meski tadi awalnya nampak kecewa dan marah pada dirinya.


"Ayo kak, kita ke kantor kak Bryan dan memberi kabar ini pada kak Bryan." kata Caca dengan semangat mengajak Freya pergi ke kantor Bryan.


"Iya Bunda. Cepat kasih tahu Ayah."


"Kasih kejutan buat Ayah, Bunda." kata Maura yang juga terlihat antusias dengan kabar kehamilan Bundanya.


"Ayo kak!! Caca antar." Caca begitu semangat mengajak kakak iparnya itu untuk menemui dan memberi kejutan buat Bryan.


Freya menatap Mama Lea meminta persetujuan. Pasalnya dia saat ini dalam masa hukuman. Tidak boleh pergi kemanapun kalau bukan sama Bryan atau tanpa izin Bryan.


"Pergilah. Beri tahu Bryan dan nanti ajak Bryan sekalian untuk mengecek kandunganmu."


"Mama akan menghubungi anak teman Mama untuk mendaftarkan kamu. Dia Dokter kandungan."


Freya mengangguk menyetujui saran Mama Lea. Dia segera ke kamar untuk bersiap pergi ke kantor Bryan. Dia tidak sabar ingin memberi tahu langsung kabar bahagia ini sama Bryan meski hatinya masih ada keraguan apakah Bryan nantinya akan senang atau justru semakin menjauh dari dirinya.


"Ma,..kita pergi dulu ya." pamit Caca yang sudah berada diteras.


"Maura yakin nggak ikut?" tanya Freya pada Maura yang ingin dirumah saja tidak mau ikut.


"Iya Bunda. Maura di rumah saja menemani Oma."


"Maura juga mau tidur siang karena ngantuk." kata Maura dengan menguap dan mata memerah karena ngantuk.


Freya mengangguk dan segera masuk mobil setelah berpamitan pada Mama Lea dan Maura.


"Kak Freya kenapa?"


"Kak Freya memikirkan kak Bryan yang tak kunjung menyatakan perasaannya pada Kak Freya?" tebak Caca tepat mengenai sasaran.


Freya menoleh membalas menatap Caca dengan senyum kecut, Bagaimana Caca tahu pikirnya.


Caca tertawa kecil melihat ekspresi Freya yang memaksa senyum meski wajahnya nampak terkejut.


"Kak Freya nggak usah khawatir. Kak Bryan memang seperti itu orangnya."


"Dia tidak pernah mengungkap kan perasaannya secara langsung dengan perkataan melainkan dia tunjukkan langsung melalui tindakan dia terhadap orang yang disayang dan dicintainya."


"Dan kalau dilihat dari sikap dan sifatnya kak Bryan terhadap kak Freya itu sudah menunjukkan kalau kak Bryan itu sudah dan sangat mencintai kak Freya." jelas Caca sambil menatap Freya yang juga menatapnya itu.


"Apa benar Mas Bryan sudah mencintaiku seperti yang Caca katakan?" batin Freya bertanya-tanya.Karena Freya juga merasakan kalau Bryan sudah mulai mencintainya meski ada sedikit keraguan di benak Freya tentang itu.


"Sudah Kak. Percaya sama Caca."


"Ayo turun kita sudah sampai."


Mereka segera turun dari mobil dan segera menuju ruangan Bryan.


"Kak, aku ke toilet sebentar ya."


"Kak Freya duluan saja ke ruangannya kak Bryan,nanti aku nyusul." kata Caca yang langsung lari ke toilet setelah berpamitan pada Freya.


Freya hanya menggeleng pelan melihat kelakuan Caca yang sekilas mirip Mutia. Freya melanjutkan langkah kakinya menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas dimana ruangan Bryan berada.


Namun langkahnya berhenti saat melihat Bryan merangkul wanita lain menuju ruang pertemuan di lantai lantai satu. Bryan terlihat begitu dekat dengan wanita itu.


"Siapa wanita itu?" batin Freya.


Dia mengikuti Bryan. Ingin melihat siapa sebenarnya wanita itu. Karena Bryan menuju ke ruang pertemuan yang biasanya untuk dijadikan pendaftaran peserta karyawan baru ataupun acara dengan beberapa karyawan tanpa di dampingi Rendy. Hanya berdua saja dengan seorang wanita.


"Kenapa mereka berduaan di tempat sepi seperti ini?" gumam Freya.


Freya mengintip dan mencuri dengar perbincangan Bryan dengan wanita itu. Namun sayang, Freya tak bisa mendengarnya. Dia hanya mampu menahan tangisnya dengan memegang tali tasnya dengan erat saat melihat Bryan memeluk wanita itu dan menundukkan kepalanya seperti sedang berciuman.

__ADS_1


"Anelis!!!"


"Jadi Mas Bryan masih berhubungan dengan masa lalunya."


"Bahkan seintim itu berduaan saja." batin Freya yang mulai menangis.


Dengan berderai air mata, Freya segera meninggalkan tempat itu. Dia pergi keluar dari area kantor tanpa sepengetahuan siapapun. Hatinya terlalu sakit mengetahui kenyataan kalau suaminya masih berhubungan dengan masa lalu yang dimana masa lalu Bryan itu kakak kandungnya sendiri.


Caca keluar dari toilet dan mendapati Bryan berjalan merangkul Anelis menuju lobby untuk mengantar Anelis pulang. Dengan tangan mengepal erat dan tatapan penuh amarah dan kebencian, Caca berjalan cepat menuju kearah Bryan dan Anelis.


"Dasar wanita tidak tahu malu." Maki Caca sambil menarik kasar tangan Anelis sampai rangkulan Bryan lepas dari tubuh Anelis.


Plakkkkk


Anelis memegang pipi kirinya yang terasa panas saat di tampar dengan keras oleh Caca.


"Beraninya kau menggoda Kakak ku yang dulunya kau campakkan begitu saja, Hah." bentak Caca tanpa mempedulikan karyawan kantor yang baru kembali dari istirahat mereka.


"Apa yang kamu lakukan, Ca?" geram Bryan tertahan melihat kelakuan adiknya itu.


"Apa?" Caca menatap tajam pada Bryan.


"Kakak mau membela wanita ini begitu?" tanya Caca dengan suara lantang.


"Bahkan kakak dengan beraninya bermesraan dengan wanita lain di saat istri kakak datang untuk memberi kakak kejutan."


"Bagaimana perasaan Kak Freya melihat kelakuan kakak?"


"Kak Freya akan memberi Kak Bryan kejutan justru dia yang terkejut melihat kelakuan kakak."


"Freya datang kesini?" Bryan terlihat panik mengetahui istrinya datang ke kantor.


"Bahkan sampai asiknya bermesraan dengan wanita macam dia,-" Caca menunjuk Anelis dengan tatapan jijik, "-kakak sampai tidak tahu kalau istri sah kakak datang untuk menemui kakak."


"Kak Bryan benar keterlaluan."


Caca pergi meninggalkan Bryan yang berdiri mematung. Dia menubrukkan bahunya secara kasar pada Anelis hingga membuat tubuh Anelis mundur beberapa langkah. Caca memang dari dulu tidak menyukai Anelis. "Wanita penuh kepura-puraan." batin Caca.


"Kak Rendy..Dimana Kak Freya?" tanya Caca yang


melihat Rendy juga berada di lobby.


Rendy mengerutkan keningnya menatap Caca, "Saya tidak tahu Nona. Nona Freya tidak terlihat datang ke kantor hari ini." jawab Rendy yang memang tidak melihat sosok Freya berada di kantor.


Tanpa bertanya lagi pada Rendy, Caca langsung mendatangi Bryan lagi.


"Aku yakin kak Freya tadi melihat kemesraan yang kalian berdua lakukan."


"Caca benar-benar kecewa sama kak Bryan."


"Dengan teganya menyakiti hati wanita sebaik dan setulus kak Freya." Caca menatap Bryan dengan tatapan amarah dan kekecewaan. Dia lantas pergi dan mencari Freya, siapa tahu masih di sekitar jalan kantor.


"Bryan!!" panggil Anelis lirih, dia mendekat ke Bryan.


"Pulanglah!! Nanti akan aku urus semuanya." kata Bryan yang langsung pergi keluar dan memberi isyarat pada Rendy untuk mengikutinya.


"Kita cari Freya." kata Bryan setelah masuk ke dalam mobil bersama Rendy juga yang berada di balik kemudi. Dia yakin kalau Freya saat ini pasti sedang sedih kalau benar tahu kebersamaannya dengan Anelis tadi. Dan pasti Freya akan pergi untuk menenangkan diri.


"Aku yakin dia tidak langsung pulang."


"Minta orang mu untuk membantu mencari keberadaannya." pinta Bryan dengan tatapan kosong mengarah pada luar kaca mobil.


"Maafkan aku Freya."


"Aku mohon jangan pergi lagi."


"Aku tak sanggup."


"Karena aku...Aku sudah mulai mencintaimu."


🍁🍁🍁


have a nice day


thanks for like, vote, comment and gift


big hug from far away 🤗🤗🤗


dewi widya

__ADS_1


__ADS_2