
Disalah satu pondok pesantren modern yang merupakan pondok unggulan di kota M di pulau jawa bagian timur.
Terlihat ratusan santri putra keluar dari area masjid selepas sholat duhur dan kembali ke kegiatan mereka masing-masing. Ada yang kembali ke kelas, ada yang istirahat, ada yang kembali untuk menghafal Al-Qur'an dan masih banyak lagi yang mereka lakukan.
Diantara ratusan santri putra, terlihat pria dewasa yang tengah berjalan bersama salah satu santri putra yang kira-kira berusia dua belas tahun. Keduanya berjalan menuju ke belakang masjid. Entah mau kemana mereka berdua. Padahal yang lainnya tidak ada yang menuju kearah sana.
Mereka berdua terus melangkahkan kaki mereka hingga menjauhi masjid dan berhenti di sebuah tambak yang berisi ikan gurame. Dan tidak jauh dari mereka berhenti juga ada sebuah tambak yang lebih besar lagi yang berisi ikan nila. Keduanya berjalan mendekati gubuk yang tidak jauh dari tambak dan duduk disana.
Rendy, lelaki itu adalah Rendy. Suami dari mendiang Mutia yang hilang tanpa kabar setelah beberapa minggu istrinya dikebumikan. Ternyata si duda baru itu sembunyi di salah satu pondok pesantren di kota M. Padahal banyak yang mengira kalau si duda baru itu telah mengakhiri hidupnya sendiri selepas kepergian belahan jiwanya.
Dan untuk santri yang terlihat tampan dan memiliki wajah kebarat-baratan juga masih anak-anak itu? entahlah, tidak ada yang tahu siapa dia, kecuali Rendy, Tuhan dan Author. Hanya mereka yang tahu karena belum dijelaskan.
"Paman kenapa mengajak Rafa kesini?"
Terlihat, anak kecil yang menyebut dirinya bernama Rafa bertanya kepada Rendy. Dia menatap lekat lelaki dewasa yang duduk di sebelahnya dengan rasa penasaran yang begitu tinggi dan begitu mengaguminya. Lelaki yang mengajarkan ilmu bela diri kepada santri putra yang memang ingin belajar bela diri.
Lelaki yang katanya akan mengadopsi nya setelah dua bulan Paman itu tinggal disini. Dan itu berarti saat ini dirinya akan diadopsi dan menjadi anak angkat dari Rendy Yudha Pratama. Lelaki yang dia tolong dan temukan tergeletak di pinggir jalan karena habis dirampok dan dipukuli. Apa paman ini benar sungguh akan mengadopsi diriku, pikirnya.
Rendy melirik sinis pada anak kecil itu dan ditariknya leher anak itu dengan tangannya hingga kepala anak itu melesak tepat di ketiaknya yang berkeringat dan pastinya bau, karena Rendy tidak pakai deodoran. Tidak ada uang untuk membelinya dan dia hanya memakai sabun batangan milik santri lain yang pastinya satu untuk semua.
"Sekali lagi kamu manggil 'paman', aku pastikan kamu akan jadi santapan gurame." ancam Rendy yang begitu geram pada anak kecil itu yang selalu memanggilnya 'paman' dan tidak mau memanggilnya 'papa'. Alasannya hanya satu, karena dirinya belum sah mengadopsi Rafa.
__ADS_1
Dengan keberaniannya, Rafa mencubit pinggang Rendy supaya bebas dari pitingan tangan Rendy. Lagian ketiak Rendy bau asam, jadi Rafa tidak ingin pingsan hanya karena mencium bau ketiak. Bagaimana tidak mau pingsan. Aroma ketiak Rendy sungguh seperti bius yang bisa membuat orang langsung pingsan seketika.
"Paman tidak mandi berapa hari sih? bau banget." Rafa terlihat mengipasi hidungnya dengan kedua tangannya untuk menghilangkan bau yang sempat menyeruak di indera penciumannya. Dia bahkan juga terlihat membuang nafas kasar beberapa kali.
"Tiga hari." ketus Rendy dengan mendengkus kesal karena dikatai bau.
Rendy mengendus bau tubuhnya sebentar untuk memastikan kalau tubuh dan ketiaknya bau apa tidak. "Tidak bau!" gumam Rendy pelan. "Tapi ketiaknya saja yang memang sedikit bau." imbuh Rendy dalam hati karena memang ketiaknya tadi tidak pakai deodoran.
Rendy melirik anak kecil yang duduk disampingnya itu. Rafa, anak itu terlihat tidak lagi menyahuti ataupun mengejeknya lagi. Rafa terlihat diam saja menatap tambak ikan yang ada di depannya.
"Paman! Rafa kembali dulu ya. Rafa mau setor hafalan Rafa dulu sama Ustadz Ramli sebelum besok ikut Paman pulang."
Rendy mengangguk dan membiarkan Rafa pergi melanjutkan kegiatannya. Kemarin dia sudah memberi tahu Rafa kalau dirinya akan mengajak Rafa pulang ke rumahnya sebentar selama seminggu, karena Rafa harus kembali menuntut ilmu di pondok.
FLASHBACK ON
Entah karena sudah tidak memiliki semangat hidup lagi atau memang dia begitu terpukul dan tak rela atas kepergian, Mutia sang istri. Rendy melajukan kendaraannya tak tentu arah tujuannya hingga laju kendaraan yang Rendy kemudiakan waktu itu bisa menjauh dari tempat tinggalnya dan berakhir di kota yang belum pernah dia kunjungi sama sekali.
Mungkin karena kelelahan atau memang malas untuk berkelahi dan hidup. Saat dirinya dirampok oleh sekawanan perampok, Rendy terlihat diam dan pasrah saja sehingga mobil dan semua barang berharga yang dia miliki diambil oleh kawanan perampok itu.
Rendy yang tak sadarkan diri karena ulah perampok ditemukan oleh anak kecil yang bernama Rafa. Seorang santri di pondok yang tidak jauh dari tempat ditemukannya Rendy yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
Rendy membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali. Dia mengerutkan keningnya saat merasakan sakit dan sedikit pusing pada kepalanya.
Ishhh
Rendy meringis saat tak sengaja tangannya menyentuk luka yang ada di pelipisnya. Luka yang sudah diobati dan diperban.
"Aku dimana?"
Mata Rendy memindai tempat yang saat ini dia tempati untuk berbaring. Sebuah kamar yang berukuran sekitar 3X2 meter dengan ranjang single dan sebuah lemari satu pintu juga rak buku.
Sayup-sayup dia mendengar suara orang mengaji dari luar. Entah dimana dirinya saat ini, karena jarang sekali dirinya mendengar orang mengaji dengan suara jelas seperti saat ini.
Rendy segera turun dari ranjang dengan perlahan karena merasakan tubuhnya yang remuk redam. Salah dia sendiri yang tidak melawan saat dihajar oleh kawanan perampok. Akhirnya badannya memar semua dan terasa pegal.
Rendy mengerutkan keningnya, dia juga memicingkan kedua matanya setelah membuka jendela. Dia melihat dari kamar yang dia tempati saat ini. Dia melihat begitu banyak orang di sebuah masjid dan tak jarang juga ada orang yang berlalu lalang di sekitar bangunan tempat ibadah itu.
"Apa ini pondok pesantren? Kenapa semuanya lelaki? Tidak ada wanitanya?" gumam Rendy yang memang sedari tadi tidak melihat adanya wanita yang berkeliaran.
Rendy termenung mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang begitu menenangkan hati dan pikirannya. Sudah lama dia tidak membaca kitab itu. Bahkan saat nikah sama Mutia, dirinya juga Mutia tidak pernah menyentuh kitab suci. Mereka hanya sholat saja sebagai kewajiban mereka yang memang seorang muslim. Itupun masih ada bolongnya, tidak lengkap.
"Ya Allah, apa karena aku selalu mengabaikan perintah-Mu hingga membuat aku sulit untuk mengikhlaskan apa yang telah Engkau ambil kembali dari ku. Apa masih ada kesempatan bagi ku untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi, pribadi yang selalu mementingkan akhirat daripada dunia?"
__ADS_1
Tok Tok Tok