Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Saling menyuapi


__ADS_3

Tiga hari setelah Maura sadar dari tidur panjangnya selama dua hari paska menjalani operasi retak tulang tengkorak, dia sudah merengek ingin pulang pada Bunda Freya maupun Ayah Bryan. Alasannya apalagi kalau bukan sudah tidak betah tidur di rumah sakit.


"Sayang ayo makan dulu." Freya masih berusaha membujuk Maura untuk makan siang dan itu sudah hampir satu jam namun Maura masih enggan membuka mulutnya.


"Nggak mau, Maura nggak mau makan." tolak Maura dengan menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya.


Freya dapat melihat kalau Maura menatapnya dengan amarah. Bagaimana tidak marah, Maura ingin pulang namun tak kunjung diiyakan Freya maupun Bryan.


"Sayang, kamu tadi belum makan loh dari tadi pagi. Memang nya Maura tidak lapar?" tanya Freya dengan lembut.


"Maura mau pulang. Maura nggak mau disini." kata Maura dengan menghentak-hentakkan kakinya di balik selimut.


"Huwaaaa....sakit Bunda." tangis Maura saat merasakan sakit di kakinya yang keseleo.


Freya menghembuskan nafas lelah, dia meletakkan mangkuk di nakas dan melihat kaki Maura yang keseleo, dielusnya pelan.


Freya menatap Maura yang masih sesenggukan. "Kalau Maura gak mau nurut, Maura gak akan pulang hari ini atau besok. Mungkin masih lama lagi." kata Freya yang masih mengelus kaki Maura.


"Tapi Maura nggak mau di sini Bunda." ucap Maura dengan sesenggukan walau air matanya sudah tidak menetes lagi.


Freya membawa tubuh kecil putrinya kedalam dekapannya. Diusapnya pelan rambut kepala Maura yang botak sebagian di bekas operasi.


Kemarin saat tahu rambutnya sebagian ada yang botak, Maura menangis seharian hingga membuat Freya dan juga Bryan kewalahan. Bahkan Bryan sampai tidak bisa bekerja karena Maura hanya ingin di temani Ayahnya, Bryan dan tidak mau ditinggal.


Bahkan Rendy yang hanya ingin menanyakan Bryan untuk mendiskusikan pekerjaan atau hanya untuk menanyakan pendapat dimarahi Maura.


"Paman robot jangan ganggu Ayah Maura."


"Ayah Maura gak boleh diganggu hari ini."


"Titik." Maura menatap tajam pada Rendy kala itu.


"Paman robot pergi sana." usir Maura.


"Disini hanya boleh ada Ayah sama Bunda dan juga Maura saja."


"Kalau Maura gak mau di sini, Maura harus nurut apa kata Bunda atau Ayah juga kata Dokter. Maura harus dengerin biar cepat sembuh dan pulang." Freya menjelaskan dengan pelan dan lembut sambil mengusap bekas air mata yang tadi membasahi pipi putrinya.


"Sekarang Maura makan yah?" tawar Freya menatap manik mata biru milik Maura yang begitu mirip dengan Bryan membuat Freya menyunggingkan senyum tipis saat tiba-tiba teringat Bryan.


Apalagi beberapa hari terakhir setelah perbincangan mereka di cafetaria waktu itu Bryan semakin gencar mengejar Freya terang-terangan. Bahkan Bryan tak segan memanggilnya 'sayang' di depan Maura bahkan di depan Rendy juga Mutia.


Bryan tak hanya memperlihatkan ketulusannya akan niatnya untuk bertanggung jawab akan perbuatannya di masa lalu. Tapi dia juga memperlihatkan kalau dia benar tulus ingin menikahi Freya.


"Bisa nggak kamu gak usah berhubungan lagi dengan laki-laki jadian itu." kata Bryan yang kesal saat Freya masih berhubungan dengan Evan.


"Kenapa memangnya?" tanya Freya dengan polosnya.


"Aku nggak mau calon istriku berhubungan dengan pria lain selain Abrisam Bryan Alvaro." kata Bryan tegas.


"Memangnya aku mau jadi istri kamu." balas Freya cuek.


"Tapi aku sudah melamar kamu." kata Bryan mengingatkan Freya kalau dia sudah melamar Freya kemarin.


"Aku kan belum menjawabnya Tuan Muda Abrisam." ucap Freya yang merasa sudah jengah.


"Kamu akan menjawabnya sekarang."


Bryan menarik tangan Freya kasar membuat tubuh Freya membentur tubuh kekar Bryan. Tanpa memberi kesempatan Freya untuk memberontak, Bryan langsung merengkuh tubuh ramping Freya dan mencium dua belahan kenyal milik Freya yang selalu menggodanya setiap melihat Freya berbicara.


Bryan menyeringai saat melihat Freya tidak memberontak dan bahkan Freya memejamkan matanya saat Bryan menyesap lembut belahan kenyal itu bergantian. Bryan juga merasakan kalau Freya memegang ujung kemeja Bryan dengan erat.

__ADS_1


"Nafas sayang..." goda Bryan setelah mencium Freya dan mendapati Freya masih memejamkan matanya dengan menahan nafas.


Freya membuka matanya dan mendengkus kesal akan tindakan Bryan tadi.


Auchhh


Teriak Bryan saat lengannya di cubit sama Freya.


"Suka banget sih nyubit lengan." gerutu Bryan sambil mengusap lengannya yang di cubit Freya.


Freya tidak menanggapi Bryan, dia lebih memilih duduk di kursi di dekat Maura yang sedang tidur karena hari sudah malam.


"Sayang..Kamu sudah nggak trauma lagi?" tanya Bryan Karena tadi saat Bryan mencium Freya, Freya tidak memberontak ataupun histeris. Bryan duduk di brankar Maura menatap Freya dengan wajah berseri karena sudah mendapat vitamin C. Meski sejujurnya dia kurang namun dia mencoba untuk menahannya, takut kalau Freya marah dan menjauh darinya.


"Nggak tahu." jawab Freya cuek tidak mau menatap Bryan balik.


"Kita coba lagi gimana?" saran Bryan dengan menarik turunkan kedua alisnya dan juga menampilkan seringaian mesum.


"Coba saja kalau kamu memang benar-benar tidak ingin menikah denganku." tantang Freya dengan sikap tenangnya walau sebenarnya jantungnya masih berdebar sejak tadi waktu Bryan menciumnya.


"Baiklah-baiklah, aku kalah dan salah." ujar Bryan dan berdiri berjalan menuju sofa dan menjatuhkan tubuh kekarnya di sofa.


Freya tersenyum sendiri mengingat malam kemarin. Entah kenapa saat dia mulai memaafkan Bryan walau belum dia katakan secara langsung, dia sudah tidak begitu takut lagi jika Bryan mendekatinya.


"Bunda kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Maura menatap lekat Bunda Freya.


"Nggak apa sayang." jawab Freya yang masih menyunggingkan senyum.


"Maura makan, yah." tawar Freya lagi pada putrinya untuk makan.


"Maunya disuapin Ayah." ucap Maura penuh harap.


"Ayahkan masih kerja sayang." balas Freya


Maura lagi-lagi menolaknya dengen gelengan kepala juga menutup mulutnya.


Suara pintu terbuka dari luar, Maura melihat siapa yang datang begitupun Freya.


"Ayah!!!" pekik Maura saat tahu yang baru saja datang itu Ayahnya, Bryan dengan sang asisten nya juga tentunya. Dengan mata berkaca-kaca dia menatap Ayahnya yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Putri cantik Ayah kenapa? hemm." tanya Bryan setelah dia mendudukkan dirinnya disamping Maura.


"Maura lapar, maunya disuapin Ayah." rajuk Maura sambil memeluk Bryan posesif.


Freya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu. Semenjak Bryan memintanya untuk memanggilnya Ayah, Maura semakin dekat dengan Bryan dan semakin posesif juga tentunya pada Bryan. Meski Maura sebenarnya belum ingat betul kalau Bryan itu memang Ayah kandungnya.


"Tuan, Nona, saya permisi dulu." pamit Rendy setelah meletakkan beberapa paper bag berisi makanan juga buah dan minuman di meja.


"Paman robot, nanti jemput Mama kesini ya saat pulang kerja." pinta Maura pada asisten pribadi dari Ayahnya.


"Baik Nona Muda." jawab Rendy setelah itu pamit undur diri, dia tidak ingin mengganggu kebersamaannya Tuan Muda dengan Freya juga Maura.


"Putri cantik Ayah lapar?" tanya Bryan dan diangguki cepat oleh Maura.


"Suapin Ayah." kata Maura dengan puppy eyes nya.


"Baiklah..sesuai keinginan Yang Mulia Ratu." ucap Bryan sedikit bercanda.


"Kok Yang Mulia Ratu sih, Yah." protes Maura karena Bryan salah menyebutkan julukannya.


"Seharusnya Tuan Putri. Kalau Yang Mulia Ratu itu buat Bunda." Maura membenarkan ucapan Ayahnya

__ADS_1


"Berarti Ayah harus memanggil Bunda Freya, Yang Mulia Ratu juga begitu?" tanya Bryan melirik Freya yang diam saja menunduk sambil mengusap kaki Maura.


"Iya, Yah."


"Ayah memanggil Maura, Tuan Putri dan memanggil Bunda, Yang Mulia Ratu."


"Nanti kita manggil Ayah, Yang Mulia Raja." jelas Maura dengan semangatnya.


"Seperti sebuah kerajaan saja, dan Maura yang menjadi Tuan Putrinya." kata Bryan.


"Sudah ngobrolnya." tegur Freya pada Ayah dan anak itu. Bukannya menyuapi Maura justru asyik mengobrol.


"Ini suapi Maura." Freya memberikan mangkuk berisi sup ikan gabus untuk dimakan Maura supaya luka jahitan bekas operasi cepat mengering.


"Kamu sendiri sudah makan?" tanya Bryan setelah menerima mangkuk yang berisi sup ikan gabus untuk dimakan Maura.


"Belum sempat." jawab Freya cuek.


"Itu di meja ada beberapa makanan yang aku beli tadi sebelum kesini." Bryan menunjuk meja dekat sofa dengan dagunya. Tangannya sibuk menyuapi Maura.


"Kenapa belinya banyak banget?" tanya Freya setelah melihat isi paper bag yang begitu banyak makanan, buah dan juga minuman.


"Buat aku juga, tadi aku juga belum makan." jawab Bryan jujur.


Freya kembali ke tempat duduknya semula dengan sekotak makanan khas Jepang atau biasa disebut bento Jepang


Aaaaa


Freya mengayunkan sumpit yang berisi nasi juga daging teriyaki ke mulut Bryan. Namun Bryan bukannya membuka mulutnya, dia justru menatap heran pada Freya.


"Katanya tadi kamu belum makan, makan lah aku yang suapin." aaaaa


Bryan menyunggingkan senyum saat Freya dengan sendirinya berinisiatif menyuapinya tanpa ada yang memintanya.


"Kamu nggak makan?" tanya Bryan setelah menerima suapan dari Freya.


"Ini juga lagi makan." jawab Freya seraya memasukkan salad dan daging teriyaki ke dalam mulutnya.


"Saling menyuapi."


"Bunda nyuapin Ayah, Ayah nyuapin Maura, tapi Bunda makan sendiri." ucap Maura dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya supaya tawanya tidak terdengar.


Freya dan Bryan tersenyum menanggapi ucapan Maura. Dengan kompak mereka berdua mencium pipi Maura bersamaan membuat Maura tersenyum bahagia.


"Maura sayang Ayah sama Bunda." kata Maura membalas mencium Bryan dan Freya bergantian.


"Ayah sama Bunda lebih sayang sama Maura." ucap Bryan dengan senyum yang menawan terlihat begitu tulus menatap Maura dan Freya bergantian.


Seorang wanita terlihat mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar rawat Maura.


"Mereka terlihat seperti kelurga yang bahagia."


"Aku tidak pernah melihat Bryan tersenyum begitu tulus seperti tadi."


🍁🍁🍁


Have a nice day


beri like and vote ya kakak-kakak


juga komen untuk memberi masukan

__ADS_1


Big hug from far away 🤗🤗🤗


dewi widya


__ADS_2