
"Mas Bryan kok masih dirumah? Bukannya tadi mau menjemput Maura dan yang lainnya di bandara?" tanya Freya saat mendapati Bryan tengah mengerjakan sesuatu dengan laptopnya, padahal tadi bilangnya akan menjemput Maura juga yang lainnya di bandara.
"Nggak jadi, biar Alex sama Bara saja yang menjemput Maura."
"Tadi ada beberapa email yang Rendy kirim dan harus aku kerjakan segera." kata Bryan yang terlihat fokus dengan laptopnya.
Freya mengangguk mengerti dan duduk di kursi di sebelah Bryan sambil memakan puding yang tadi dia ambil di kulkas.
"Mas Bryan mau?" tawar Freya dengan menyodorkan sesendok puding taro di depan mulut Bryan.
Bryan melirik puding yang ada di depan mulutnya, lalu menatap lekat mulut Freya yang terlihat mengunyah puding.
"Kenapa? Mau tidak? Kalau tidak aku makan sendiri." kata Freya dan kembali memasukkan sesendok puding ke dalam mulutnya sendiri padahal tadi dikasihkan untuk Bryan.
"Kamu tidak lupakan apa yang dokter katakan kemarin waktu kamu periksa kandungan?" Freya menggeleng sebagai jawabannya. Dia tidak lupa sama sekali, dia mengingatnya dengan jelas apa yang dokter katakan tentang kandungannya.
"Coba katakan apa yang kemarin dokter bilang." Bryan bersedekap tangan dengan duduk menghadap kearah Freya.
"Hm..." Freya menunduk dan melirik Bryan sambil memakan pudingnya perlahan. Sesekali dirinya juga menggigit bibir bawahnya takut suaminya itu akan memarahinya.
"Apa? Coba katakan." ulang Bryan dengan menatap lekat istrinya yang tengah merasa bersalah itu.
Freya meletakkan wadah puding yang sudah hampir habis isinya itu diatas meja. "Tapi Mas Bryan janji tidak boleh memarahi Freya." kata Freya dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin, berharap suaminya itu tidak akan memarahinya.
"Katakan dulu apa yang kemarin dokter bilang." Bryan tidak menanggapi apa yang Freya katakan, dia kekeh ingin mengingatkan apa yang dipesan dokter kandungan untuk Freya.
"Tapi janji dulu nggak boleh marahi Freya." kata Freya dengan memegang lengan Bryan.
"Freya!!" ucap Bryan dengan tegas membuat Freya langsung melepaskan tangannya dari lengan Bryan.
"Maaf." ucap Freya lirih.
"Dokter kemarin sudah melarang Freya untuk berhenti makan yang manis-manis karena berat debaynya sudah diatas usianya."
"Tapi Freya suka sekali dengan puding dan debaynya sukanya makan yang manis." Freya menunduk sambil mengelus perutnya.
"Aku tahu kamu dari awal hamil suka makan yang manis-manis."
"Ini kurang beberapa minggu bahkan kurang hitungan hari lagi Bryan Junior akan lahir. Seenggaknya kurangi dulu makan atau minum yang manisnya."
"Aku kasihan sama kamu nantinya. Bukannya kamu ingin lahiran normal?" tanya Bryan dan langsung diangguki oleh Freya.
"Kalau mau lahiran normal, kurangi makan yang manis-manis. Makan manis sesuai kebutuhan tubuh saja, tidak boleh lebih." Freya kembali mengangguk patuh tanpa menatap Bryan, dia terus menunduk.
"Anak pintar." ucap Bryan dengan tersenyum tipis sambil mengusap kasar rambut Freya.
"Tunggu disini dulu, setelah ini akan aku tunjukkan sesuatu padamu." pinta Bryan dengan mengambil puding diatas meja untuk dihabiskannya.
Freya hanya diam saja duduk di samping Bryan dengan wajah tertekuk menahan kesal karena tidak bisa memakan makanan manis lagi dan sekarang diminta untuk menemani dan menunggu suaminya selesai kerja.
"Senyum dong sayang, jangan ditekuk seperti itu wajahnya. Tambah jelek ih." goda Bryan sambil menoel pipi Freya.
Freya mendengkus dan memalingkan wajahnya, moodnya benar-benar sudah dirusak sama suaminya hari ini.
Bryan tersenyum kecil melihat Freya yang terlihat kesal itu. "Ayo berdiri! Peternakan sapi kamu sudah menanti untuk kamu lihat."
Freya langsung berdiri dari duduknya dan menghadap kearah Bryan dengan menatap wajah Bryan dengan senyum sumringah. Wajah yang tadinya tertekuk dan terlihat kesal langsung hilang saat mendengar peternakan sapi yang dimintanya kemarin sudah menantinya untuk dilihatnya.
__ADS_1
"Yang benar Mas?" Bryan mengangguk saja, dia masih bingung dengan istrinya itu yang cepat sekali merubah raut wajahnya dari tertekuk kesal menjadi tersenyum dengan semangat.
"Ayo cepat kesana Mas, Freya sudah tidak sabar untuk melihatnya." Freya menarik tangan Bryan untuk segera berdiri dari duduknya.
"Iya pelan-pelan saja. Ingat kandungan kamu." Bryan sungguh tidak percaya dengan istrinya itu. Istrinya begitu semangat saat tahu peternakan sapi seluas dua hektar sudah dimilikinya sekarang sebagai kado ulang tahunnya. Sungguh berbeda dengan wanita-wanita yang ditemuinya.
Freya segera turun dari mobil saat sudah sampai di tempat peternakan sapi miliknya. Senyumnya semakin lebar saat melihat begitu banyaknya sapi di peternakan miliknya.
"Itu berapa Mas jumlah sapinya? Kenapa banyak banget?" tanya Freya yang melihat begitu banyaknya sapi yang berada di padang rumput.
"100 ekor sapi." Freya menatap tak percaya dengan jawaban yang Bryan berikan.
"100 ekor sapi, Mas." ulang Freya dan diangguki oleh Bryan.
"Mas Bryan tidak bercanda kan? Mana muat tanah seluas dua hektar buat ternak sapi sebanyak itu. Dua hektar hanya muat untuk kandangnya saja. Itupun ngepas banget." Bryan hanya tertawa mendengar celotehan istrinya. Direngkuhnya tubuh sang istri dan diajaknya berjalan mendekat ke peternakan.
"Lihat dan baca papan itu." Bryan menunjuk sebuah papan besar didekat pintu masuk peternakan.
Freya menutup mulutnya yang terbuka dengan lebar saat membaca tulisan yang ada di papan besar itu. "Du-dua pul-luh hektar." ucap Freya tergagap.
"Iya, aku membelikan dua puluh hektar tanah untuk peternakan sapi yang kamu mau beserta sapinya sebanyak 100 ekor sapi beserta pegawainya juga."
"Aku juga sudah menyiapkan tempat potongnya sekalian. Jadi hasilnya bersih milik kamu dan anak-anak kita nantinya."
"Kita nanti tinggal mengekspor hasil dagingnya saja." Freya menangis terharu mendengar penjelasan yang Bryan berikan kepadanya. Dia tidak menyangka suaminya akan membelikan lebih dari apa yang dia inginkan.
"Pasti Mas Bryan telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk membeli ini semua."
"Mas Bryan tidak habis merampok bank kan buat belikan Freya peternakan sapi ini?" tanya Freya menatap curiga Bryan yang dengan mudahnya menuruti keinginannya dalam sekejap.
"Kau ini ya." Bryan menyentil pelan kening Freya dengan gemas.
"Iya iya aku percaya, suami aku itu memang paling kaya, banyak uangnya, rajin menabung dan tidak sombong." Akkhhhh, teriak Freya saat pipinya ditarik oleh Bryan.
"Mas Bryan ih...Sakit tahu." keluh Freya sambil mengusap pipinya yang ditarik Bryan.
"Kenapa istriku suka sekali mengejek suaminya? Hmm." dengan gemas Bryan mencium pipi Freya yang tadi ditariknya.
"Kenapa diam saja?" tanya Bryan yang melihat Freya hanya diam menatapnya.
"Terima kasih. Terima kasih Mas Bryan selalu memberikan apa yang Freya inginkan meski terkadang ada yang tidak dituruti juga."
"Terima kasih banyak suamiku." ucap Freya dengan tulus.
"Terima kasih telah memberikan sebagian harta kekayaan Mas Bryan untuk Freya. Freya jadi semakin kaya sekarang." Bryan tertawa kecil mendengar pengakuan Freya yang menyatakan kalau dirinya semakin kaya.
"Kalau begitu, berterima kasih lah dengan cara yang benar." kata Bryan dengan tatapan mesumnya.
"Kebiasaan!" gumam Freya dengan tersenyum kecil menatap Bryan.
"Kalau begitu menunduk lah." pinta Freya yang memang tingginya hanya sepundaknya Bryan dan dia sudah kesusahan bila harus berjinjit.
"Sesuai permintaan Yang Mulia Ratu." Freya menertawakan Bryan yang memanggilnya Yang Mulia Ratu.
"Terima kasih suamiku sayang." Cup. Freya mengecup singkat bibir Bryan.
"Ssttthhhh!! Tahan dulu. Ini diluar ruangan." Freya meletakkan jari telunjuknya di bibir Bryan saat Bryan akan menahan dirinya untuk kembali berciuman.
__ADS_1
"Nanti malam saja saat ditempat dinner yang telah Mas Bryan siapkan untuk Freya." Bryan mengerutkan keningnya, darimana Freya tahu kalau dirinya telah menyiapkan tempat dinner untuknya, pikir Bryan.
"Tahu darimana kamu?" tanya Bryan, "dari Bara ya?" tebak Bryan.
"Hmm..." Freya mengangguk kecil sambil tersenyum.
"Terima kasih sudah menyiapkan kejutan ulang tahun buat Freya, juga sudah memberikan kado yang begitu luar biasa untuk Freya dan anak-anak." ucap Freya.
"Itu bukan kejutan namanya sayang. Kamu saja sudah tahu duluan, ya bukan kejutan lagi namanya." keluh Bryan yang selalu gagal memberi kejutan dinner buat Freya.
"Dasar Bara si kompor mleduk." umpat Bryan pada asistennya, Bara.
"Sudah nggak usah kesal begitu. Bara tidak memberi tahu semuanya, dia hanya bilang kalau dia diminta sama Mas Bryan untuk menyiapkan dinner buat istrinya."
"Sudah ayo kita lihat-lihat didalam. Freya ingin melihat kandang dan tempat pemotongannya." Bryan hanya mengangguk dan mengikuti langkah Freya yang masuk ke dalam peternakan.
"Bagusnya lagi kalau kita juga punya peternakan sapi perah juga. Susunya bisa di konsumsi masyarakat sekitar dan kita jual dengan harga terjangkau dengan kualitas yang bagus dan sehat juga tentunya." kata Freya saat melihat masih ada sedikit lahan yang bisa digunakan untuk ternak sapi perah.
"Bagus juga idenya." ucap Bryan yang menyetujui ide dari Freya.
"Nanti akan aku bicarakan dengan pengelola tempat ini. Dia orang Indo juga yang sudah lama tinggal disini dan aku minta dia untuk mengelola tempat ini buat kita." jelas Bryan pada Freya.
Freya mengangguk saja, karena dia percaya pada suaminya yang memang selalu bisa diandalkan dalam urusan bisnis. Suaminya itu selain cerdas juga pintar dan hebat juga kompeten dalam urusan bisnis dan mencari peluang usaha.
"Sayang, ayo kita pulang dulu. Papa telephone, katanya sudah dalam perjalanan menuju rumah." kata Bryan yang baru saja mendapat telephone dari Papa Abrisam.
"Tunggu dulu! Pinggang aku sakit banget." Freya meringis menahan sakit pada pinggangnya.
"Apa sakit banget? Apa seperti kamu saat mau melahirkan Maura dulu?" tanya Bryan dengan tenang meski batinnya terlihat begitu panik dan takut.
Freya menggelengkan kepalanya, "Tidak. Dulu saat Maura lahir, aku tidak merasakan sakit sama sekali." Freya mencengkeram erat lengan Bryan.
"Kita ke rumah sakit ya. Siapa tahu sebentar lagi akan lahiran." Freya hanya mengangguk saja karena tidak biasanya pinggangnya terasa sakit yang amat sangat perih sampai ke tulang.
"Tunggu Mas!" Freya mencegah Bryan yang akan menggendongnya.
"Kenapa?" tanya Bryan bingung.
"Sudah tidak apa, sakitnya sudah hilang." kata Freya.
"Kamu yakin?" Bryan menatap lekat pada Freya.
"Hmm..yakin." jawab Freya.
"Lihat!! Sudah tidak sakit kan." kata Freya sambil menggerak-gerakkan tubuhnya dan berjalan mengitari Bryan.
"Yakin sudah tidak sakit lagi?" Freya mengangguk.
"Kita pulang sekarang nih? Tidak perlu ke rumah sakit?" tanya Bryan.
"Iya suamiku sayang. Ayo!!" Freya menarik pelan lengan kanan Bryan.
"Pelan-pelan saja jalannya." Freya mengangguk saja dan melangkahkan kakinya perlahan menuju mobil.
"Freya tadi bilang kalau dia tidak merasakan sakit waktu melahirkan Maura."
"Ya Allah..Jadi benar, wanita yang hamil diluar nikah bakal dicabut nikmat sakitnya waktu melahirkan dan diganti dengan nikmat takut."
__ADS_1
"Astagfirullahaladzim, maafkan kami ya Allah."