
Hari minggu, waktu yang sering banyak orang lakukan untuk quality time bersama keluarga, pasangan, teman bahkan sahabat untuk mempererat rasa kasih sayang dan cinta antara satu sama lain. Mengenal lebih dalam lagi keluarga kita, pasangan kita, teman bahkan sahabat kita.
Seperti halnya apa yang tengah keluarga Bryan lakukan saat ini. Mereka juga quality time di rumah saja sesuai anjuran pemerintah untuk tidak berpergian ke tempat yang ramai. Dan untungnya di rumah keluarga Abrisam hampir semuanya ada. Jadi kalau untuk di rumah saja selama sehari dua hari itu tidak akan merasa bosan.
Terlihat Freya dan Mama Marisa juga Mama Lea yang berada di dapur tengah asik membuat camilan. Entah apa yang mereka buat, karena sejak tadi yang terdengar hanya canda tawa dari kedua Oma Kece.
Dan diruang keluarga juga terlihat mainan yang berhamburan dilantai, sofa bahkan diatas meja juga ada mainan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Maura dan baby Attar yang tengah aktif-aktifnya.
Tapi kemana baby Attar?
Kenapa tidak kelihatan?
Di ruang keluarga hanya terlihat Bryan dan Maura yang duduk diatas karpet dengan beberapa mainan disisi keduanya. Dan sepasang Ayah dan anak itu terlihat begitu serius mengerjakan sesuatu.
Sesekali terdengar suara tawa cekikikan dari Maura. Entah apa yang anak gadis itu tertawa kan. Kedengarannya menertawakan sesuatu yang lucu sekali.
"Ditaburi yang banyak Ayah bedaknya, biar putih."
Terlihat Bryan hanya mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan sang putri cantiknya. Dengan perlahan Ayah dua anak itu membubuhkan bedak yang begitu banyak di telapak tangannya.
"Mana lipstik Bunda yang Ayah minta tadi."
Maura langsung menggeser tubuhnya mendekati meja dan diambilnya barang yang tadi diminta sama Ayahnya yang dia letakkan diatas meja, lalu gadis kecil itu kembali mendekat dimana Ayahnya duduk.
"Ini Ayah. Maura tadi ambil warna merah sama warna pink. Maura juga ambil ini. Nggak tau namanya apa."
Bryan melirik Maura dengan kedua sudut bibirnya membentuk senyum puas akan apa yang Maura lakukan. Tanpa diminta ternyata sang anak sudah paham terlebih dahulu. Jadi apa yang diperlukannya sudah ada digenggaman nya saat ini.
"Good job!!"
Maura yang mendapat pujian dari Ayahnya langsung melebarkan senyumnya. Bahkan Gadis kecil itu juga membalas sang ayah dengan mengangkat kedua jempol tangannya.
"Hahahaha...Adik tertawa, Yah!"
"Sssttttt..Jangan kencang-kencang tertawanya. Nanti ketahuan Bunda."
Maura langsung menutup mulutnya dan melirik kearah dapur dimana Bundanya masih sibuk disana membuat cemilan untuk mereka.
"Nggak kedengeran Ayah. Bunda masih sibuk di dapur bersama Oma."
Bryan hanya mengangguk saja dan sesekali tersenyum saat melihat hasil karyanya yang sebentar lagi akan jadi.
TUT
__ADS_1
BROTT
"Ihh..Ayah kentut ya!"
Maura langsung menjauh dari sisi dimana Ayahnya duduk. Bahkan hidungnya langsung dia tutup dengan tangan kanannya.
"Ayah tidak kentut. Maura kali yang kentut. Maura tadi kan yang makannya banyak."
Bantah Bryan yang memang bukan dirinya yang kentut. Tak berselang lama hidungnya bergerak-gerak saat mencium aroma yang begitu menyengat. Seperti bau...???
"Adik pup!"
Seru Bryan yang langsung menjauh dari baby Attar yang ada diatas baby bouncer. Wajah Bryan sampai memerah, bahkan suami dari Freya itu sampai ingin muntah dibuatnya.
"Kak Bryan kena,_"
Caca tidak melanjutkan pertanyaannya pada sang kakak yang sepertinya ingin memuntahkan isi perutnya. Caca justru melebarkan kedua bola matanya dengan mulut terbuka lebar saat melihat baby Attar yang sungguh.
",_astaghfirullahaladzim!!! Kak Freya!!! Anak kamu kak!!"
Caca berteriak kencang memanggil Freya yang entah dimana kakak iparnya itu berada karena dia baru bangun tidur dan baru turun dari lantai dua. Dan dia mendapati pemandangan yang. Astaghfirullahaladzim.
"Kamu kenapa sih Ca teriak-teriak. Ini dirumah, bukan dihu,_"
Freya tidak jadi menegur Caca saat mendapati penampilan anak lelakinya yang begitu aneh dan seperti badut.
Freya menatap nyalang pada suami dan anak gadisnya. Sudah bisa dia tebak kalau semua ini ulah kedua orang berbeda generasi itu. Karena sedari tadi tidak ada suara yang terdengar dari ruang keluarga kecuali teriakan dari Caca.
Freya lantas menatap baby Attar dengan menghembuskan kasar. Mau marah tapi dia ingin tertawa juga saat melihat baby Attar yang terlihat tertawa dan bertepuk tangan.
"Haduchh...Kenapa kamu diam saja sih Attar? Kamu kan bisa protes begitu saat dikerjai Ayah sama Kakak kamu. Aduh...Mana pup lagi dan kamu masih saja bisa tertawa. Hmmm!!!"
Freya begitu gemas dengan baby Attar dan mengambil baby Attar dari baby bouncer. Dia berjalan melewati Bryan dengan menatap sinis pada suaminya itu.
"Sudah membuat wajah Attar cemong, tidak mau mengganti diapers nya lagi."
Freya mendengkus dan berlalu menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur untuk membersihkan bekas pup baby Attar.
Bryan hanya meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar sindiran dari Freya. Bukannya tidak mau mengganti diapers nya baby Attar. Dia hanya tidak tahan saja sama baunya atau lebih tepatnya memang dia tidak mau mengotori kedua tangannya dengan kotoran.
Oke, kalau diapers bekas pipis saja masih mau dia mengganti. Tapi kalau diapers bekas pup, Bryan angkat tangan. Daripada nanti Bryan yang pingsan dan membuat repot. Bukannya lebih baik biar Freya sendiri yang membersihkannya.
"Maura! Tolong ambilkan tas yang ada di laci depan itu."
__ADS_1
Dengan sigap, Maura mengambil apa yang diminta sang Bunda yang baru saja kembali dari kamar mandi. Daripada nanti dia dimarahi juga, lebih baik menurut saja apa yang diminta Bundanya. Biar Ayah saja yang dimarahi Bunda, Maura tidak mau dimarahi.
"Ini Bunda."
Maura langsung berlari ke dapur setelah memberikan apa yang diminta sang Bunda dan meninggalkan Ayahnya sendiri yang masih disana.
"Mas Bryan inilah keterlaluan. Masak anak sendiri didandani seperti badut kaya gini. Mentang-mentang anaknya diam saja tidak protes. Seenaknya sendiri mendandani jagoan Bunda yang paling ganteng sendiri ini."
Bryan hanya menelan salivanya susah payah mendengar omelan dari Freya. Mau membantah pun percuma. Pasti tetap dia yang disalahkan. Padahal tadi itu ide Maura dan dirinya yang merealisasikan apa yang Maura inginkan. Dan kenapa dia mau saja melakukan itu pada baby Attar yang masih bayi. Jadi marah kan Bundanya.
"Lihat ini. Wajah baby Attar sampai merah."
Bryan mendekat pada Freya yang masih sibuk membersihkan wajah baby Attar dengan air hangat. Dan benar saja, wajah baby Attar memerah.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?"
Bryan tidak menyangka apa yang dia lakukan tadi membuat wajah tampan putranya menjadi merah. Bukan merah karena lipstik, tapi memang benar benar merah.
"Karena kulit baby Attar masih sensitif dan Mas Bryan tadi memakai lipstik juga eyeshadow milik Freya. Ya jadi begini akhirnya. Kalau mau bercanda boleh saja. Tapi lihat dulu, bahan yang dipakai aman dan bagus tidak buat si bayi. Jangan asal nemplok aja."
Freya terlihat begitu kesal akan ulah suaminya yang membuat kulit wajah baby Attar memerah karena masih sensitif.
Bryan berpindah duduk di belakang Freya dan memeluk istrinya itu dari belakang dan menyembunyikan kepalanya pada pundak sang istri.
"Maaf sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Ayah janji."
Dengan menggunakan tangan kanannya, Bryan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. Dia bersungguh tidak akan mengulangi kejahilannya yang tadi. Tapi kalau dia khilaf dan mengulangi lagi ya tolong maafkan lagi.
Freya mencibir sebentar lalu tersenyum melihat wajah memelas dari sang suami. "Iya, tapi jangan diulangi lagi."
"Hmm..Terima kasih sayang." Bryan yang senang lantas memeluk erat istrinya itu.
"Sudah lepas dulu. Aku mau ngasih minum sama Attar. Kelihatannya di mulai haus."
Freya lantas memposisikan baby Attar dengan duduk dipangkuannya, menghadap dirinya.
"Hai, jangan dihabiskan sendiri. Ayah harus dikasih bagian juga."
Baby Attar menepuk tangan Ayahnya yang mengganggu dirinya yang tengah meminum susu langsung dari sumbernya.
"Baiklah. Kamu boleh habiskan yang itu dan yang ini bagian Ayah. Awas nanti kalau kamu ambil juga. Ayah berikan kamu susu sapi nanti."
Ancaman yang Bryan berikan terlihat tidak berpengaruh pada baby Attar. Bayi gembul itu justru melepaskan kenyo tannya pada pu ting sang Bunda lantas menjulurkan lidahnya sebentar sebelum akhirnya kembali menge nyot pu ting Bundanya. Bayi gembul itu seperti mengejek Ayahnya yang tidak bisa leluasa menguasai aset kembar milik Bundanya dimanapun berada seperti dirinya.
__ADS_1
"Wah..berani ngece Ayahnya kamu ya."
Freya hanya tertawa saja melihat kelakuan kedua lelakinya itu yang terlihat tidak mau mengalah dan menguasai kedua aset kembarnya. Masih bayi saja sudah saling mengejek, bagaimana besarnya nanti? Pasti akan membuat Freya semakin pusing.