
"Pemandangan pagi yang begitu indah." gumam Freya menatap suami juga putrinya dengan mata berbinar juga senyum yang menghiasi bibir mungilnya.
Dengan bertopang dagu dengan kedua tangannya, Freya memandang Bryan yang tengah memangku Maura sambil mengerjakan pekerjaannya sebelum pergi mengunjungi makam Bapak Armand. Dirinya duduk berseberangan dengan Bryan dan Maura yang hanya dipisahkan dengan meja.
Freya tersenyum sendiri melihat pemandangan yang begitu indah di hadapannya itu. Dirinya membayangkan kalau Bryan junior sudah hadir di dunia di tengah-tengah mereka, pasti akan semakin berwarna kesehariannya. Apalagi prediksi suaminya itu benar kalau bayi yang kini tengah dikandungnya itu berjenis kela min laki-laki.
Kemarin sebelum berangkat ke kota S, dirinya dan Bryan pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengecek kandungannya. Apakah sudah aman dan bisa diajak berpergian jauh menggunakan pesawat. Dan dokter pun mengatakan kalau kandungannya kuat dan bisa dibawa berpergian. Mereka berdua juga dapat bonus dari dokter saat melakukan USG. Mereka mendapatkan kabar yang begitu membahagiakan. Terutama untuk Bryan, karena prediksi suaminya itu tidak salah kalau bayi yang kini tengah dikandungnya itu adalah Bryan Junior. Laki-laki, seperti sang Ayah.
Maura yang tadinya fokus dengan laptop sang Ayah yang terdapat begitu banyak nominal angka hasil laporan keuangan, beralih menatap sang Bunda dengan memicingkan matanya saat melihat sang Bunda senyum-senyum sendiri tidak ada kawan untuk mengobrol.
"Ayah!!" panggil Maura dengan berbisik.
"Hm.." jawab Bryan dengan hanya berdehem saja, dirinya masih fokus dengan pekerjaannya yang seharusnya dia kerjakan tadi malam namun baru dia kerjakan pagi ini karena semalam dirinya diganggu Freya, atau lebih tepatnya semalam dirinya yang mengganggu Freya di ranjang.
"Lihat itu Bunda, Ayah!!!"
"Bunda kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu." bisik Maura dengan menatap Bundanya takut.
"Bunda tidak kesurupan kan Ayah?"
"Ini kan kita di tempat baru." imbuh Maura dengan memegang tangan sang Ayah hingga membuat Bryan tidak bisa melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit itu.
Bryan menghembuskan nafas perlahan dan melihat istrinya yang duduk di depannya yang hanya terhalang dengan meja. Dan benar saja, istrinya itu menatapnya dengan mata berbinar juga senyum-senyum sendiri.
"Ayah tidak tahu."
"Kelihatannya Bunda bukannya kesurupan, tapi Bunda lagi mengagumi ketampanan Ayah yang tiada duanya." ucap Bryan dengan bangganya. Dia menatap Maura dengan menyeringai sambil menaik turunkan alisnya juga kacamata anti radiasi yang dipakainya.
Huffttt
Maura mendengkus kesal, Ayahnya itu terlalu percaya diri. "Jelas aja Ayah paling tampan. Ayah kan laki-laki sendiri di sini." dengus Maura.
Bryan tertawa melihat Maura yang kesal pada dirinya yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Diusapnya rambut kepala Maura dan diciumnya dengan sayang.
"Mas Bryan kenapa tertawa?"
Maura juga Bryan menatap Freya yang terlihat sudah sadar akan lamunan panjangnya dan kini berubah dengan rasa penasaran.
"Bunda sudah sadar?" Maura turun dari pangkuan Ayahnya dan berjalan mendekati Bundanya. Ditatapnya Bundanya lekat, takut-takut kalau Bundanya masih kesurupan.
"Kenapa sayangnya Bunda bertanya seperti itu?"
"Bunda dari tadi sadar-sadar saja."
"Bunda kan tadi tidak pingsan." Freya memicingkan matanya melihat Bryan yang menertawakan dirinya.
"Apa yang Mas Bryan tertawakan?"
"Memang ada yang salah dengan apa yang Freya katakan tadi?"
"Freya tadi kan memang tidak pingsan." Freya begitu kesal karena ditertawakan dengan Bryan juga sekarang putrinya juga ikut menertawakan dirinya.
Bryan berdehem untuk menghentikan tawanya dan menutup laptopnya karena pekerjaannya sudah selesai dan sudah dikirimnya ke Julian juga Lisa. Dia berdiri dari duduknya dan pindah duduk di kursi samping istrinya.
"Bunda memang tidak pingsan tadi." kata Maura yang masih berdiri di samping Bundanya duduk.
"Iya, kamu tadi tidak pingsan."
"Tapi, kata Maura kamu tadi kesurupan." ucap Bryan berusaha untuk tidak tertawa.
Freya menatap Maura lekat meminta penjelasan, apa benar putrinya itu mengira dirinya tadi kesurupan.
"Maura tidak bilang begitu."
"Ayah tadi yang bilang Bunda kesurupan." Bryan membulatkan matanya mendengar pengakuan bohing dari putrinya. Bisa-bisanya putrinya itu membalikkan fakta yang sebenarnya.
"Kalau Maura tadi bilangnya Bunda seperti orang jatuh cinta."
"Bunda senyum-senyum sendiri menatap Ayah dengan mata berbinar."
"Bunda lagi jatuh cinta ya sama Ayah?" tanya Maura yang merasa tidak berdosa sama sekali telah memfitnah Ayahnya sendiri. Padahal Ayahnya ada disana juga dan sedang menatap tajam pada dirinya.
Freya tersenyum malu pada Maura dan melirik penuh kebencian pada Bryan yang telah mengira kalau dirinya kesurupan. "Awas saja, Mas Bryan nanti malam tidak akan dapat jatah sampai kita balik ke rumah." ucap Freya dengan berbisik dan menahan kekesalan pada suaminya.
Bryan hanya menelan ludahnya saja mendengar ucapan Freya. Mau menyanggahpun sama saja, nanti yang ada Maura justru yang nangis dan marah pada dirinya dan membuat Freya semakin marah pada dirinya.
"Memang Maura tahu apa itu jatuh cinta?" tanya Freya penasaran, darimana putrinya itu tahu istilah jatuh cinta karena dia sendiri belum mengajarinya dan suaminya belum tentu suaminya itu mengajari Maura apa itu jatuh cinta.
"Sebentar Bunda." Maura mendekati Ayahnya yang nampak acuh pada dirinya.
"Ayah pangku Maura, please!!" Maura memohon pada sang Ayah untuk memangkunya, tapi Ayahnya itu nampak acuh dan tidak peduli sama sekali. Bahkan sang Ayah tidak mau menatapnya.
"Bunda!!" Maura menatap Bundanya dengan mata berkaca-kaca juga hidung yang sudah kembang kempis menahan tangis.
"Mas!!!" Freya melotot pada Bryan yang terlihat acuh pada Maura. Dirinya tidak mau melihat putrinya nangis hanya karena Ayahnya yang marah tidak jelas.
Bryan mendengkus dan melirik Maura yang ternyata tengah meledeknya. "Kau!!!" geram Bryan dan mengangkat tinggi tubuh Muara dan dibawanya berputar-putar.
__ADS_1
"Ayah!!! Pusing Ayah!!"
"Stop Ayah!!!" teriak Maura dengan memejamkan matanya, dirinya bukannya takut ketinggian. Dirinya hanya takut jatuh saja, karena dia belum menemukan pegangan yang pas saat Ayahnya mengangkat tubuhnya tadi.
Dipindahkannya tubuh Maura, digendongnya di atas pundaknya. "Kenapa Maura tadi memfitnah Ayah? Dan kenapa Maura harus berbohong sama Bunda?"
Maura hanya menyengir saja, sambil menatap Bundanya yang masih duduk di kursi. "Maaf ya Bunda, Maura tadi berbohong." ucap Maura dengan tertawa kecil.
"Jadi maksudnya Maura tadi yang mengira kalau Bunda kesurupan?" Freya berjalan mendekati suami juga putrunya yang tengah berdiri di dekat jendela kamar hotel.
Maura tersenyum dan mengangguk. "Iya Bunda. Lagian Bunda tadi senyum-senyum sendiri. Maura kira Bunda tadi kesurupan." hehehe
"Kau itu ya, hemm." dengan gemas Freya menjewel paha Maura pelan.
"Sudah Ayah, kita tinggal saja Maura nya."
"Nanti sehabis dari makam kita jalan-jalan sendiri tanpa Maura." ucap Freya yang sudah mengambil tasnya bersiap untuk pergi ke makam Bapak Armand, Ayah kandungnya.
"Ayah nggak mau!!" seru Maura saat Bryan akan menurunkannya.
"Maura ikut. Maura tidak mau ditinggal. Maura mau jalan-jalan sebelum minggu depan masuk sekolah." Maura memegang erat tangan Ayahnya. Dia tidak mau ditinggal sendirian di dalam hotel. Dia ingin bersenang-senang sebelum masuk sekolah.
"Kalau tidak mau ditinggal, minta maaf yang benar sama Ayah juga Bunda."
"Maura tahukan kesalahan Maura apa?" tanya Bryan pada putrinya yang kini dia turunkan diatas sofa, meski awalnya tidak mau.
Maura menatap Ayah dan Bundanya yang berdiri dihadapannya. Dia menunduk dan memikirkan apa tadi kesalahan yang telah dia lakukan. Maura melirik Ayahnya yang terlihat merengkuh tubuh Bunda Freya. "Pasti Ayah lagi cari kesempatan dalam kesempitan." cibir Maura dalam hati.
"Ayo sayang. Apa kesalahan Maura tadi? Cepat katakan."
"Kita sudah ditunggu Oma Mama sama Aunty Ane." ujar Freya sambil bersandar pada bahu Bryan yang terasa begitu nyaman.
"Tapi Bunda sini dulu, jangan dekat-dekat sama Ayah." Maura menarik tangan Bundanya untuk duduk di sebelahnya.
Bryan mendengkus, putrinya itu memang tidak suka melihat dirinya berduaan saja dengan Freya. Pasti ada saja kelakuannya untuk mengacau dan merebut Freya darinya.
"Maura minta maaf sama Bunda."
"Maura tadi telah berbohong sama Bunda."
"Maaf ya Bunda, Maura tadi mengira kalau Bunda tadi kesurupan." ucap Maura dengan menatap sang Bunda yang duduk di sampingnya.
Freya tersenyum dan mengusap pipi kiri Maura dengan lembut, "Iya Bunda maafkan. Tapi Maura tidak boleh berbohong seperti itu lagi dan tidak boleh berpikir ataupun mengira yang bukan-bukan lagi."
Maura mengangguk dan memeluk Bundanya dengan erat. "Maura sayang Bunda sama dedek bayi." ucap Maura lirih dan mencium perut buncit Bundanya.
Maura menoleh dan melihat Ayahnya, dia menggelengkan kepalanya dan menjulurkan lidahnya.
"Kamu meledek Ayah!!" geram Bryan.
"Maura belum minta maaf loh sama Ayah." Bryan mengingatkan putrinya yang belum meminta maaf pada dirinya.
"Baiklah kalau tidak mau minta maaf, hari ini tidak ada jalan-jalan, besok pun juga. Kita di hotel saja, tiduran di hotel." Bryan mendudukkan pantatnya di sofa dekat Maura juga Freya duduk. Dengan bersandar dan tangan bersedekap di atas perut, Bryan memejamkan matanya. Dia pura-pura tidur dan malas untuk melakukan apapun.
"Tapi Maura ingin jalan-jalan Bunda." rengek Maura yang melihat Ayahnya terlihat malas dan tidak menepati janjinya yang kemarin mengatakan akan jalan-jalan di kota S.
"Kalau Maura ingin jalan-jalan, Maura minta maaf dulu sama Ayah."
"Bunda yakin Ayah akan memaafkan Maura dan akan mengajak Maura jalan-jalan keliling kota S." ujar Freya dengan lembut.
"Ayo sayang. Kita sudah ditunggu Oma Mama."
"Katanya Maura juga ingin mengunjungi makam kakek." imbuh Freya supaya Maura cepat meminta maaf sama Ayah Bryan, karena mengingat sekarang sudah jam 9 lebih hampir jam 10 pagi.
Maura menggelengkan kepalanya, dirinya tidak mau minta maaf sama Ayah Bryan. Ayahnya pelit, sudah jauh-jauh ke kota S bukannya diajak jalan-jalan justru berdiam diri di dalam hotel.
Freya menghembuskan nafas lelah melihat putrinya yang tak kunjung minta maaf sama Ayah Bryan. Dan itu juga suaminya justru enak-enakan tidur lagi padahal hari sudah hampir siang.
"Maura sini dech!! Bunda bisikin sesuatu."
"Bunda punya rahasia untuk Maura." Freya meminta Maura lebih mendekat lagi pada dirinya.
"Rahasia apa Bunda?" tanya Maura begitu antusias. Dirinya menggunakan lututnya untuk berdiri disamping Bundanya supaya telinganya lebih dekat dengan bibir Bunda Freya.
"Mama Mutia sama Paman Rendy beberapa hari lagi menikah." bisik Freya.
"Menikah Bunda??" Freya tersenyum dan mengangguk membenarkan.
"Kapan Mama cerita sama Bunda?" tanya Maura penasaran.
"Mama Mutia belum cerita, tapi Bunda sama Ayah semalam diberitahu sama Paman Bara."
"Jahat banget ya Mama Mutia tidak memberi tahu kita." Freya pura-pura sedih karena tidak dikasih tahu Mutia akan menikah, padahal dia benar-benar sedih karena Mutia sekarang sudah jarang bercerita masalah pribadinya dengan dirinya.
"Bunda jangan sedih. Nanti setelah pulang dari sini kita langsung saja marahi Mama." kata Maura dengan menanhkupkan kedua tangannya pada wajah Bunda Freya.
"Iyaa....Mama Mutia harus kita marahi."
__ADS_1
"Dan juga karena Mama Mutia tidak mau memberi tahu kita secara langsung, Mama Mutia harus kita kerjain." Maura mengangguk setuju untuk mengerjai Mama Mutia.
"Maura maukan kan besok setelah kita pulang, kita mengerjain Mama Mutia?" tanya Freya
"Mau Bunda. Tapi jangan Mama saja yang dikerjain, Paman Robot juga." kata Maura yang juga ingin mengerjai Paman Robotnya.
"Kalau begitu, Maura cepetan minta maaf sama Ayah."
"Biar nanti kita kerjain Mama Mutia juga Paman Robotnya sama-sama."
"Oke sayang!!" Freya mengedipkan sebelah matanya dengan seringaian liciknya.
"Oke Bunda!!" balas Maura juga mengedipkan sebelah matanya.
"Ayah!!"
Bughh
Maura langsung meloncat dan duduk dipangkuan Ayahnya yang ternyata benar-benar tertidur.
Bryan yang kaget seperti orang ling-lung, menatap Maura juga Freya bergantian. "Kenapa??" tanya Bryan dengan menguap karena terserang rasa ngantuk yang entah sejak kapan melanda dirinya.
"Maura mau minta maaf sama Ayah."
"Maafin Maura ya Ayah."
"Maura tadi memfitnah Ayah, bilang ke Bunda kalau Ayah yang mengira Bunda kesurupan."
"Padahal Ayahkan tadi bilangnya Bunda sedang terpesona pada ketampanan Ayah yang tiada tandingannya."
Bryan tersenyum mendengar permintaan maaf dari putrinya. "Ayah sudah memaafkan Maura dari tadi. Karena cantiknya Ayah tidak pernah berbuat salah, hanya khilaf saja."
"Itu mah sama saja Ayah." protes Maura
Bryan tertawa dan mencium gemas pipi Maura juga kening Maura.
"Ayo Ayah kita cepat ke makam Kakek, terus jalan-jalan supaya kita cepat pulang."
"Maura sudah tidak sabar untuk mengerjain Mama Mutia juga Paman Robot yang mau nikah tapi tidak bilang-bilang sama Maura yang cantik jelita tiada tara ini."
Bryan memicingkan matanya, darimana putrinya itu tahu, pikirnya. Padahal dirinya baru tahu semalam dan itu karena Bara keceplosan saat ngomong. Kalau bukan karena mulut Bara yang ember, dirinya juga tidak tahu kalau mantan asisten pribadinya itu sudah menikah dengan sahabat istrinya.
"Aku yang ngasih tahu." ucap Freya saat melihat kebingungan dari wajah Bryan.
"Iya Ayah, Bunda yang kasih tahu Maura tadi."
"Ayo Ayah cepat kita pergi biar kita cepat kembali lagi ke rumah terus mengerjain Mama juga Paman Robot."
Bryan mengangguk saja dan berdiri dari duduknya setelah Maura turun dari pangkuannya. Mereka akhirnya keluar dari kamar hotel dan menuju lobby dimana Mama Marisa juga Anelis sudah menunggu mereka bertiga disana.
"Kenapa kamu memberi tahu Maura?" tanya Bryan saat didalam lift. Dirinya begitu penasaran kenapa Maura begitu semangatnya untuk mengerjai Mutia juga Rendy.
"Tidak apa. Aku hanya ingin rencana kita untuk mengerjain dua orang tidak tahu diri itu berjalan lancar."
"Aku yakin dengan kita menggunakan Maura, rencana kita akan berhasil."
"Mutia kan begitu sayang dan tidak tega sama Maura."
"Dan Rendy, dia juga sayang sama Maura."
"Jadi kita manfaatkan Maura untuk kelancaran rencana kita semalam." jelas Freya dengan seringaian liciknya.
"Ternyata Bunda Freya jahat juga orangnya."
"Apalagi semenjak hamil."
"Tiada hari tanpa mengerjai orang."
"Jadi tambah cinta deh Ayah Bryan pada Bunda Freya." ucap Bryan dengan mencolek dagu Freya juga menaik turun kan kedua alisnya.
"Makasih!!" balas Freya dengan mengedipkan matanya juga senyum manisnya.
"Kalau tidak ada Maura sudah aku sikat kamu." Bryan dengan gemas menarik pinggang Freya lebih dekat pada dirinya.
"Cemen, Ayah Bryan penakut." ejek Freya saat Bryan tidak berani berbuat hal yang tidak senonoh dihadapan putrinya sendiri.
"Ayah jangan peluk Bunda terus."
"Maura juga ingin digandeng sama Ayah sama Bunda juga."
Bryan mendengkus saat Maura memaksanya untuk melepas rengkuhannya pada pinggang istrinya sendiri dan sekarang justru menggandeng tangan mungil Maura. Freya tersenyum saja dan juga menggandeng tangan Maura yang satunya lagi.
"Kelihatannya rencana kita besok berhasil, sayang." Freya hanya tersenyum menanggapi perkataan suaminya.
"Rendy..bersiaplah!! Tak akan aku biarkan kau hidup tenang besok."
"Beraninya merahasiakan hal sebesar ini dari bos kamu."
__ADS_1